Kisah Sendangbiru dan Melestarikan Tradisi Jawa

Reporter : Givari Jokowali

Tarakota.idWarga Dusun Sendangbiru, Desa Tambak Rejo, Sumbermanjing Wetan tiap tahun menggelar ritual bersih desa. Sebuah upacara untuk mengucap syukur kepada Tuhan. Dilangsungkan setiap Juli. Ribuan warga sebagian mengenakan pakaian adat, perempuan berkain jarik dan berkebaya sedangkan laki-laki mengenakan kain lurik dan berpeci.

Mereka mengikuti arak-arakan menuju ke sendang biru. Arak-arakan diikuti para pelajar Sekolah Dasar, perangkat dusun dan Kepala Dusun setempat. Mereka membawa encek yakni sebuah nampan yang terbuat dari pelepah dan daun pisang. Nampan berisi tumpeng aneka makanan, lauk dan buah.

“Pelajar wajib ikut. Mereka generasi penerus dan mengikuti jejak leluhur,” ujar Ketua panitia bersih desa, Yaturi pertengahan Juli 2018. Selain itu, juga dilengkapi tumpeng dan jenang abang dan jenang putih atau bubur merah dan bubur putih.

“Perlambang ucap syukur seperti tradisi Jawa,” katanya. Ribuan orang meriung, duduk bersila. Di tengah-tengah berjajar tumpeng dan bubur. Tokoh agama setempat memanjat doa, menyampaikan ucap syukur atas kelimpahan hasil pertanian dan tangkapan ikan di Sendang Biru.

Sumber Sendangbiru menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat. Memasok untuk kebutuhan konsumsi, mencuci dan mandi. (Givari Jokowali)

Usai doa, seluruh tumpeng dan bubur dimakan bersama. Selain sebagai ungkapan syukur juga untuk berharap musim tangkapan mendatang ikan melimpah dan pertanian subur. Juga digelar ritual penyusian, Kepala Dusun membasuh sebagain badan dan tubuh dengan air sendang. Menurut sesepuh Dusun Sendangbiru,  penyucian ini diharapkan pemimpin memiliki pemikiran yang selalu jernih dalam memimpin.

Konon air di sendang selalu melimpah, tak pernah habis. Meskipun desa setempat kemarau berbulan-bulan dan mengalami krisis air. Masyarakat meyakini bahwa sendang merupakan sebuah anugerah yang besar bagi masyarakat Sendangbiru. Air dan rezeki melimpah.

Asal Usul Sendangbiru

Sendang biru terkenal sebagai tempat wisata di Kabupaten Malang. Sebuah pantai lengkap dengan pasir putih dan dermaga penangkapan ikan tuna di Malang Selatan. Asal usul Dusun Sendangbiru dari makna kata sendang (mata air) yang berwarna biru.

Sendang  berwarna biru ini menjadi salah satu sumber kehidupan warga. Semua kebutuhan dipenuhi dari air Sendangbiru terutama untuk mandi, mencuci hingga kebutuhan konsumsi setiap hari. Pakar arkeologi dan sejarah Universitas Negri Malang M. Dwi Cahyono menjelaskan jika biru bukan hanya berarti warna air yang biru, tetapi juga perlambangan kesucian.

“Sendangbiru bisa diartikan mata air yang suci.,” ujarnya. Dwi Cahyono menjelaskan jika sejarah Sendangbiru ditulis Mbah Pramilir dalam kronis sejarah Dusun Sendangbiru pada 1955. Setelah Pramilir meninggal,  diteruskan anaknya Mbah Puspita. Tercatat sejarah babad Desa Sendangbiru.

Warga Dusun Sendangbiru dan pelajar arak-arakan menuju sumber sendang biru. (Terakota/Givari Jokowali).

“Kawasan itu masih berupa alas gung (hutan besar).”

Waktu itu, katanya, datang utusan dari guru injil bernama Mbah Satiti bersama murid-muridnya. Dia tinggal di “pondok dulang” atau sekarang dikenal dengan Desa Sitiarjo yang terletak di utara Dusun Sendangbiru. “Mbah Satiti itu kakek saya. Bapak dari Mbah Pramilir” ujar Mbah Puspita saat bercerita di rumahnya.

Murid-murid guru injil antara lain Mbah Tiaji, Mbah Mintah, Mbah Setrong dan Mbah Wagimen. Mereka mendapat utusan untuk mencari tempat atau mensurvei tempat yang mengarah ke perbukitan sisi timur. Tujuannya mencari sendang untuk dijadikan sebuah desa.

Sebelum berangkat, mereka meminta restu kepada pendeta S.S Devriss. Selain itu juga mengurus perizinan ke pemerintahan belanda untuk membuka lahan baru di hutan. Survei awal dilaksanakan pada 1925 mengarah ke sendang arah barat.  Sekarang menjadi Desa Pal.

Selanjutnya mereka kembali ke Sitiarjo. Berbekal surat izin mereka bertemu petugas perhutanai zaman Belanda untuk mengecek tempat hasil survei. Ternyata hasilnya tidak antara lokasi dengan tempat yang diajukan dalam surat izin tersebut. Sehingga tempat itu langsung disegel pemerintah Hindia Belanda. “Dilarang ditempati.”

Pada 1927 kembali diberangkatkan tim survei. Kali ini berjumlah sekitar 15 orang. Tim dipimpin langsung Mbah Satiti, sekaligus berniat  membuka lahan atau babat alas. Survei mengarah ke bagian timur dari sisi sebelumnya. Bertemulah dengan sebuah sendang berwarna biru.

Di dekat lokasi sendangbiru itu Mbah Satiti bersama murid-muuridnya membuka lahan pemukiman dan pekarangan. Mbah Satiti mengizinkan masyarakat tinggal di lahan itu, asal memeluk agama Kristen. Masyarakat yang tinggal mendapat jatah tanah tempat tinggal dan lahan untuk bercocok tanam.

Tokoh Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Sendangbiru Pendeta Widi menegaskan jika keyakinan agama Kristen yang dianut warga Sendangbiru itu merupakan Kristen Jawi. Menganut filosofi tokoh bernama Coolen  yaitu tirtawening, yakni hidup untuk mencari sumber kehidupan.

“Tokoh Coolen merupakan salah satu pendeta yang masih menganut ilmu Jawa yaitu Dewi Sri Sedono. Tidak ada larangan umat Kristen memakai blangkon, wayangan, dan kesenian lainnya.”

Sendangbiru menjadi magnet masyarakat setempat untuk memanfaatkan bagi kehidupan. Lambat laun banyak ditemukan sumber air di sekitar Dusun Sendangbiru. Kini, menjadi pemukiman yang ramai meski permukiman dikelilingi hutan besar atau alas gung hingga zaman kemerdekaan.

Usai selamatan bersih desa, sebagai ungkap syukur masyarakat menggelar kesenian tradisional. Ditutup dengan pagelaran wayang dengan dalang kulit Ki Gondi Buwono. Masyarakat melebur bersama menonton kesenian tradisional dan dialog lintas umat.

Sendangbiru tinggal kini juga tinggal umat Islam. Kedua umat tetap hidup rukun bersama dan berdampingan.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini