Wing Santot Irawan Memilih Fokus Bermusik dan Bersepeda

Reporter : Imam Rosyadi

Terakota.idWing Santot Irawan biasa disapa Wing. Musisi dan penjelajah bersepeda asal Lombok mulai belajar musik sejak mengenyam pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Bermain gitar dan mengembangkan secara otodidak. Menulis dan menciptakan lagu serta memulai mengikuti festival musik rock saat SMA.

“Awal belajar bermain gitar diajari kakak,” kata Wing. Awalnya lelaki kelahiran Magelang, 8 Agustus 1965 ini menciptakan lagu bernuansa percintaan. Lagu yang tengah marak saat itu, Seperti lagu berjudul kisah kasih di sekolah karya Obbie Messakh.

“Lagu-lagu bertemakan percintaan itu cepat selesai, sudah tidak menarik lagi,” ujarnya. Wing  menilai persoalan lingkungan dan sosial lebih menarik untuk ditulis menjadi lagu selain percintaan. Dalam proses kreatif, Wing menciptakan sebuah lagu dengan melihat sesuatu di lingkungan sekitar. Memulai dari yang sederhana seperti daun jatuh, pohon, kucing, dan sesuatu yang tampak di depan penglihatannya.

wing-santot-irawan-memilih-fokus-bermusik-dan-bersepeda
Wing Sentot Wirawan, 53 tahun, berkeliling Asia Tenggara dengan bersepeda mulai dari Mataram sejak 6 Januari 2012. (Terakota/Eko Widianto).

Semua, katanya, bisa diciptakan menjadi sebuah lagu. Wing mengaku menulis tidak pernah mengarang-ngarang tetapi menulis sesuatu yang ada di depan mata. Ditulis dan terciptalah lagu.“Persoalan karya menjadi tafsir baru itu soal belakangan. Kadang kalau sudah kehabisan ide saya membaca puisi karya orang lain. Untuk mencari inspirasi.”

Hampir semua lagu yang diciptakan Wing membicarakan isu sosial dan lingkungan. Mencipta lagu, katanya, sesuai pengalaman dan apa yang dilihat. “Apresiasi terhadap puisi, lagu dan film tidak tungga. Mungkin bisa berbeda.”

Wing yang menamatkan pendidikan Jurusan Bahasa Indonesia di Universitas Mataram ini menciptakan lagu untuk menyampaikan pesan tentang lingkungan dan persoalan sosial. Serta melihat reaksi pendengar terhadap karya-karyanya.

“Ini yang menarik dalam dialektika berkesenian,” kata Wing  menjelaskan. Indahnya berkesenian, ujarnya, tergantung kekerasan, seperti intan. Meski tak semua karya seperti intan.”

Wing  beberapa kali bersepeda berkeliling Nusantara dan sejumlah Negara di kawasan ASEAN. Bertemu dengan komunitas dan pegiat lingkungan atau pecinta alam. Wing memilih mundur sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) mengajar di sebuah SMP Lombok.

Wing memutuskan berhenti mengajar dan fokus menjadi musisi, berkesenian hingga saat ini. Bersepeda keliling Nusantara dimulai 2006. Sepanjang perjalanan Wing mengaku menikmati berinteraksi dengan banyak komunitas. Berinteraksi dengan beragam komunitas seperti komunitas vespa, sastra, peduli lingkungan dan sebagainya.  Banyak menadapat cerita selama berinteraksi dengan komunitas.

Saat melawat ke komunitas-komunitas itu ia disambut dengan baik. Wing tak ketinggalan mengenalkan lagu-lagu yang diciptaannya sepanjang perjalanan. Wing memiliki lebih dari 100 lagu hasil karya ciptanya. Lagu ditulis berdasarkan pengalaman hidup, persoalan dan apa yang dilihat.

Dari banyak lagu yang diciptakan, Wing telah melahirkan sebuah album berisi sembilan lagu. Kesembilan lagu menceritakan siklus kehidupan mulai dari lahir, menikah, hingga mati. Album berjudul Tabebuya, diambil dari nama sebuah pohon asal Brazil. Sebuah pohon pelindung atau peneduh yang ditanam di sepanjang jalan.

Tabebuya dipilih lantaran Wing menulis dan membuat lagu di bawah pohon yang mirip pohon Tabebuya. Sementara menurut bahasa Sasak mayoritas suku di Lombok, tabe artinya permisi dan buya sebuah sebutan untuk pemuka agama Islam di Lombok. Album diluncurkan Februari 2018 di studio temanya yang sederhana.

Tinggalkan Pesan