Ritual Yadnya Kasada dan Fenomena Alam Gunung Bromo

Sebagian masyarakat Tengger mengais rezeki, berebut sesaji yang dilabuhkan ke kawah Gunung Bromo. (Terakota/Eko Widianto).

Terakota.idRibuan masyarakat adat Tengger berkumpul di Pura Luhur Poten, lautan pasir Gunung Bromo, Dusun Cemoro Lawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Masyarakat bersama pemuka adat Tengger tengah menyiapkan upacara Yandya Kasada, Rabu dini hari, 18 Juli 2018. Mengenakan tutup kepala, dan berselimut kain sarung untuk mengusir hawa dingin.

Bahkan, sebagian membakar ban atau arang untuk menghangatkan tubuh. Puncak upacara ritual Yadnya Kasada berbarengan dengan cuaca ekstrem. Bahkan, pada dini hari suhu mencapai minus tiga derajat celsius. Sehingga embun membeku dan menciptakan bunga es atau frost. Namun, masyarakat adat Tengger telah lama bersahabat dengan suhu dingin.

“Sudah terbiasa. Di ketinggian 1.800 meter di atas permukaan laut (m.dpl), memang dingin,” kata Kepala Desa Sedaeng, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Sukarji. Ia menyiapkan beragam perlengkapan dan makanan agar masyarakat terutama calon dukun tetap hangat. Seperti minuman hangat, dan makanan untuk menjaga suhu tubuh.

“Calon dukun tak boleh kedinginan,” katanya. Keempat calon dukun Wagiri, Maridinto, Jais dan  Indrianto bakal menggantikan dukun Sukariono yang meninggal dua tahun lalu. Malam ini merupakan saat yang paling ditunggu masyarakat Sedaeng, lantaran keempat calon dukun tengah bakal mengikuti ujian japamantra. Jika sang calon dukun kedinginan, dikhawatirkan akan menganggu konsentrasi para calon dukun.

Ujian calon dukun dilaksanakan sebelum upacara Yadnya Kasada, dipimpin Rama Pandita Supomo. Sebanyak tujuh calon dukun yang akan diuji japamantra dari tiga desa yakni Sedaeng Kabupaten Pasuruan, Ledokombo dan Gubuklakah, Poncokusumo Kabupaten Malang. Dari total 37 desa adat Tengger yang tersebar di Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Malang dan Lumajang.

Masyarakat adat tengger mengantar calon dukun untuk mengikuti ritual Mulunen, yakni wisuda samkara atau upacara ujian sekaligus pengukuhan dukun baru. (Terakota/Eko Widianto).

Setelah lulus ujian japamantra, ketiga dukun terpilih bakal dikukuhkan sebagai dukun adat untuk melaksanakan ritual adat di masing-masing desa. “Selama dua tahun resah. Tak ada dukun untuk melaksanakan acara adat. Malam ini kami bahagia, besok sudah memiliki dukun. Ini yang kami tunggu-tunggu,” kata Sukarji.

Seusai keyakinan masyarakat Tengger, pengukuhan dukun desa dilangsungkan sebelum puncak ritual Yadnya Kasada. Tahun lalu, Sedaeng gagal mengukuhkan dukun desa lantaran bertepatan dengan tahun pahing, Menurut sesepuh, katanya, tak boleh memilih pemimpin adat.

“Selama dua tahun upacara adat, sementara dipimpin  dukun dari desa tetangga terdekat,” katanya.

Dukun berperan penting dalam adat dan keyakinan Hindu Dharma setempat. Mulai melaksanakan upacara adat desa, pernikahan, dan mengatur sesaji. Termasuk entas-entas yakni upacara adat untuk memperingati 1000 hari kematian keluarga.

Para calon dukun akan diuji japamantra, “Mandarakulun.” Jika ditulis, katanya, mantra tersebut sampai selembar kertas. Mereka meminjam kitab yang hanya dipegang Rama Pandita, dan menghafalkannya. Setelah ada calon dukun yang lancar dan hafal japamantra, Kepala Desa mengusulkan kepada Rama Pandita untuk mengikuti ujian.

Kadang, meski sebelumnya lancar dan hafal ternyata saat ujian di Pura Luhur Poten terhambat. Ada saja calon dukun yang tak bisa mengucapkan japamantra secara lancar. Sehingga gagal dikukuhkan. “Kami meyakini, yang menguji Rama Pandita. Tapi yang menentukan mbah buyut atau nenek moyang,” katanya.

Dikukuhkan Tujuh Dukun Adat Tengger

Kamis dini hari, 18 Juli 2019 Pura Luhur Poten dipenuhi masyarakat adat Tengger. Mereka membawa sejumlah bunga layu atau ongkek yang berisi aneka sesaji. Terdiri dari ayam goreng utuh atau ingkung, bubur, jadah, pasung dan pepes yang terbuat dari jagung. Serta aneka hasil bumi sayur mayur dan buah-buahan.

Bunga layu diletakkan berjajar di Pura Luhur, masing-masing dipimpin seorang dukun desa setempat. Bergantian mereka membakar kemenyan, dan dupa sembari merapal mantra. Aroma wangi dupa dan kemenyan menyeruak di Pura Luhur Poten. Para dukun memanjat doa, agar proses Yadnya Kasada yang bertepatan dengan bulan purnama berjalan lancar.

“Kami berharap segera memiliki dukun sebagai pemangku adat, hajatan doa, pernikahan, selamatan desa dan nyewu untuk mengantar arwah ke nirwana,” katanya warga Sedaeng, Iswantoro.

Disusul Rama Pandita Sutomo tampil di podium, dia duduk bersila. Mengenakan safari putih, bawahan kain jarik khas Tengger dan mengenakan udeng khas adat Tengger. Rama Pandita atau ketua dukun Tengger, Sutomo memulai dengan membaca sejarah Yadnya Kasada dalam bahasa Tengger. Dilanjutkan merapal mantra dan doa, serta pujastuti para dukun.

Lantas, Pandita Sutomo menguji para calon dukun dalam prosesi ritual Mulunen, yakni wisuda samkara atau upacara ujian sekaligus pengukuhan dukun baru. Hasilnya ketujuh dukun dinyatakan lulus dan berhak dikukuhkan sebagai dukun desa setempat. “Dua dukun keturunan, sisanya bukan keturunan dukun,” kata Sutomo.

Para dukun merapat doa dan mantra sebelum upcara puncak Yadnya Kasada yang dipimpin Rama Pandita Sutomo. (Terakota/Eko Widianto).

Dilanjutkan makapat penutup dan melayani umat yang akan labuhan. Para dukun memanjat doa dan dilanjtutkan labuhan bersama ke kawah Gunung Bromo. Bergantian, para dukun dan masyarakat adat Tengger memikul bunga layu yang berisi sesaji.

Mereka berjalan beriringan dengan penerangan obor minyak. Bunga layu dilempar ke dalam kawah, masyarakat yang tengah memiliki janji atau juga melempar kambing, uang koin dan hasil pertanian ke kawah. Mereka berharap hasil pertanian mendatang semakin baik dan hewan ternak sehat.

Kepala Desa Sedaeng, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Sukarji menjelaskan makna upacara Yadnya Kasada bagi masyarakat Tengger. Gunung Bromo atau masyarakat menyebut Mbah Bromo, merupakan gunung aktif yang disakralkan umat Hindu Dharma setempat. Mereka rutin berkirim sesaji.

“Hasil kerja setahun, sisakan sebagian kirim ke Mbah Bromo,” katanya. Meski terjadi erupsi pada 28 Desember 2010, mereka tetap mengirim sesaji ke kawah Bromo. Para dukun yang berkomunikasi dengan alam gaib, penjaga Gunung Bromo meminta agar dikirim sesaji.

“Selain Sang Hyang Widi disebut dalam setiap doa. Juga berkirim sesaji ke Mbah Bromo,” katanya. Agar, kesejahteraan masyarakat meningkat. Hasil pertanian melimpah, terhindar dari hama dan penyakit. Serta yang memiliki hewan ternak, mendapat rezeki berlipat.

Dua hari sebelum upacara Yadnya Kasada, mereka mengambil air di Sumber Widodaren. Sumber yang berada di dalam goa itu juga berfungsi sebagai tempat pemujaan. Selain itu, air dari Sumber Widodaren memiliki khasiat untuk obat tanaman.

Menurut legenda masyarakat Tengger, mereka keturunan Roro Anteng dan Joko Seger. Tak memiliki anak setelah bertahun-tahun menikah, keduanya bertapa dan berdoa kepada Tuhan. Mereka berjanji mengorbankan salah satu anaknya untuk persembahan ke kawah Gunung Bromo.

Akhirnya mereka dianugerahi 25 anak, tetapi lupa dengan janjinya. Semua anaknya menolak dikorbankan, namun si sulung Jaya Kusuma bersedia dikorbankan menemui sang Dewa Brahma atau Bromo untuk melunasi janji kedua orangtuanya.

Jaya Kusuma menyampaikan agar masyarakat keturunan Roro Anteng dan Joko Seger (Tengger) memberikan persembahan hasil bumi ke kawah Bromo pada tanggal 14 bulan Kasada sesuai penanggalan Tengger. Para pengunjung khidmat mengikuti proses Yadnya Kasada. Sebagian mendokumentasikan dalam bentuk foto dan video.

Bahkan, sebagian berswafoto untuk dipajang di media sosial menunjukkan kepada publik dunia maya. Keriuhan Yadnya Kasada, menjadi momentum memadukan antara melestarikan adat tradisi dengan pertunjukan wisata. Tak hanya wisatawan nusantara, wisatawan mancanegara juga ramai mengikuti ritual Yadnya Kasada.

Suhu dingin membekap tubuh para pengunjung Gunung Bromo. Temperatur udara empat derajat celsius. Para pengunjung berdesakan melihat ritual Yadnya Kasada sembari mengenakan berjaket tebal untuk melindungi dari suhu dingin. Seperti mahasiswa Universitas Mahendradatta, Denpasar, Bali yang datang secara berombongan.

Mereka mengunjungi Gunung Bromo untuk melihat ritual dari dekat Yandnya Kasada. Berombongan sekitar 70 mahasiswa, menumpang dua bus. “Masyarakat Tengger mimiliki adat yang mirip dengan Bali,” kata Ketut Karmadi Putra.

Masyarakat adat suku tengger mengirim sesaji berupa hasil bumi selama setahun ke kawah Gunung Bromo. (Terakota/Eko Widianto).

Ia tergerak melihat Yadnya Kasada setelah melihat agenda Yadnya Kasada di media sosial. Lantas bersama teman kuliah, ia melihat dari dekat ritual khas yang dilakukan masyarakat adat Tengger tersebut. Apalagi, cukup mudah untuk memesan travel dan penginapan di Gunung Bromo.

“Banyak travel yang menyediakan paket wisata ke Bromo. Mudah, semua ada di gawai. Hanya menggerakkan satu jari,” katanya. Suhu dingin tak dirasakan, mereka tekun mengamati ritual masyarakat Tengger. Mulai di Pura Luhur Poten sampai melabuh sesaji di kawah Gunung Bromo di ketinggian 2.329 m.dpl.

Matahari Terbit dan Fenomena Bunga Es di Bromo

Selain ritual puncak upacara Yadnya Kasada, matahari terbit tetap memikat wisatawan yang berkunjung ke Gunung Bromo. Mereka berebut untuk melihat fenomena alam, yang bisa dilihat di kawasan penanjakan, Wonokitri, Kabupaten Pasuruan. Pengunjung rela berangkat dini hari dan antre untuk melihat matahari terbit.

Padang pasir terhampar, sepeda motor dan mobil menapaki kawasan lautan pasir. Roda-roda menggilas, pasir menjadi padat sampai ke jalur menuju kawah Gunung Bromo. Lautan pasir ini merupakan bagian dari Kaldera Tengger Taman Nasional Bromo Tengger Semeru seluas 6.290 hektare. Saban hari ribuan mobil jip dan sepeda motor melintas mulai pagi buta.

Kendaaraan hilir mudik, mengangkut wisatawan menuju kawasan penanjakan untuk melihat matahari terbit. Seperti wisatawan asal Mojokerto, Ridho Saiful yang dating berombongan bersama keluarga. Saiful telah beberapa kali berwisata di kawasan gunung aktif Gunung Bromo. Mereka menumpang mobil jip melalui Tosari, Kabupaten Pasuruan. Sekitar pukul 04.00 WIB, rombongan tiba di kawasan penanjakan untuk melihat matahari terbit.

“Dingin, kata warga setempat jam 13.00 sampai 5 pagi suhu sampai tiga derajat celsius,” ujarnya. Untuk menikmati fenomena matahari terbit, mereka rela harus antre berjam-jam.

Matahari mulai mengintip di balik gunung. Matahari terbit dilihat di kawasan penanjakan Wonokitri, Pasuruan. (Foto : Ridho Saiful).

Pengelola juga membangun area parkir yang memadai dengan merevisi kawasan zona rimba menjadi zona khusus. Jeep yang mengakut wisatawan kini bisa leluasa parkir dan tak menumpuk di satu titik. Daya tampung Penanjakan telah ditingkatkan dari 400 orang menjadi 700 orang per hari, sedangkan Bukit Cinta kini dapat dikunjungi 200 orang dan Lautan Pasir hingga 5.000 per hari.

Untuk memecah kepadatan di kawasan kawah Bromo dan penanjakan, tersedia beberapa titik wisata alternatif di sekitar Bromo. Antara lain Taman Edelweis, Bukit Cinta, dan Bukit Kingkong.

Usai menikmati matahari terbit, rombongan menuju ke lautan pasir. “Di lautan pasir kesiangan. Cuaca cerah, jangan lupa memakai masker. Debu vulkanik halus dan pasir beterbangan,” ujarnya. Ia juga mengingatkan pengujung lain untuk mengenakan pakaian hangat. Serta waspada dan berhati-hati, lantaran wisata Gunung Bromo merupakan salah satu objek wisata ekstrem.

Keluarga Ridho Saiful berswafoto dengan latar Gunung Batok dan kawah Gunung Bromo. (Foto : Ridho Saiful).

Cuaca dan medannya, kata Saiful, ekstrem. Seperti di lautan pasir, suhu udara dingin. Sejumlah warga suku Tengger lainnya menawarkan kepada wisatawan berkeliling menunggang kuda. Berada di lautan pasir, namun suhu udara dingin menusuk tulang. Menjadi sensasi tersendiri. Bahkan udara dingin menyebabkan embun membeku, dedaunan dan rumput menempel “bunga es”yang terbentuk dari suhu udara ekstrem.

Embun membeku juga terhampar luas di kawasan lautan pasir. Tepatnya berada di sisi timur, sinar matahari tertutup deretan bukit yang membentang dari utara ke selatan. Sehingga embun membeku lebih lama. Sekitar pukul 07.30 WIB, masih terhampar “salju” di atas lautan pasir. Terhampar putih, tipis menyelimuti lautan pasir. Fenomena ini banyak beredar di dunia maya, melintasi lini masa di media sosial.

Sayang sebagian wisatawan tak menyadari kehadiran embun membeku yang hanya selemparan batu. Mereka asyik mencengkrama dan menikmati pemandangan alam di kawasan lautan pasir. “Tak tahu, saya tiba pukul 8.30 di lautan pasir. Sudah tak menemukan embun membeku,” katanya

Sebagian kendaraan berhenti, mereka memarkir jip berjajar. Berderet seolah membentuk barisan. Para wisatawan turun, untuk berswafoto atau sekadar melihat lanskap lautan pasir di kawasan tropis. Sejumlah warga suku Tengger menjajakan minuman panas, kopi, teh atau  jeruk. Minuman panas cocok untuk mengusir hawa dingin, meski lautan pasir hawa dingin menusuk tulang.

Sejumlah warga suku Tengger lainnya menawarkan kepada wisatawan berkeliling menunggang kuda. Berada di lautan pasir, namun suhu udara dingin menusuk tulang. Menjadi sensasi tersendiri. Bahkan udara dingin menyebabkan embun membeku, dedaunan dan rumput menempel “bunga es”yang terbentuk dari suhu udara ekstrem.

Bunga es menempel di rumput dan dedaunan di kawasan padang sabana Gunung Bromo. (Terakota/Eko Widianto).

Fenomena embun membeku terjadi sejak 18 Juni tersebar di sekitar Gunung Bromo dan Gunung Semeru. Sedangkan di lereng Gunung Semeru mulai di Ranupani, Ranukumbolo dan Ranuregulo. Sedangkan rmbun beku di kawasan Bromo meliputi lautan Pasir, padang sabana dan Cemoro Lawang, Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Probolinggo dan kawasan penanjakan di Kabupaten Pasuruan.

Kepala Seksi Wilayah 1 Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS), Sarmin menjelaskan masyarakat adat Tengger memegang kuat adat dan tradisi. Semesta berbicara, katanya, sehingga semua harus sinkron dengan adat budaya setempat. “Mereka terbiasa beraktivitas dalam suhu dingin,” katanya.

Sarmin menganjurkan pengunjung mengenakan pakaian tebal untuk mengantisipasi suhu dingin. Selain itu mengenakan kacamata dan masker untuk menghalau debu vulkanis dan debu di lautan pasir.

Fenomena frost, katanya, bukan fenomena baru. Frost atau embun beku terjadi saat musim kemarau saban tahun. Masyarakat menyebut dengan embun upas lantaran embun membeku merusak tanaman sayur. Tanaman sayur menjadi kering dan mati.

Bunga es tipis menyelimuti hamparan pasir di lautan pasir Gunung Bromo. (Terakota/Eko Widianto).

Embun beku tersebar di padang sabana, lautan pasir, dan daerah berlembah sekitar Gunung Bromo. Jumlah pengunjung pada hari biasa antara 1.000 sampai 2 ribu, sedangkan saat akhir pekan mencapai 3 ribu sampai empat ribu. Termasuk saat upacara Yadnya Kasada, pengunjung membludak sampai 4 ribu orang.

Fenomena Alam Menyedot Wisatawan

Wakil Bupati Probolinggo Timbul Prihanjoko berharap seluruh masyarakat setempat mendukung dan menjaga alam sekitar. Lantaran panorama alam menjadi salah satu daya Tarik wisata di Gunung Bromo. Selain ritus budaya seperti Yadnya Kasada. “Kini Gunung Bromo layak menjadi obyek wisata internasional,” katanya.

Selain itu, juga semua pihak diminta menjaga keamanan dan kenyaman wisatawan. Selain itu, juga kebersamaan untuk mempromosikan wisata dan menjaga budaya dan adat masyarakat adat Tengger.

 

East Java Ecotourism Forum (EJEF) menyebutkan wisatawan mancanegara tertarik dengan fenomena alam yang tergolong langka. Ketua EJEF, Agus Wiyono mengatakan wisatawan mancanegara datang ke Gunung Bromo lantaran sulit menemukan fenomena semacam langka tersebut.

Kunjungan wisatawan mancanegara dari Eropa ke Gunung Bromo cukup tinggi. Tiap tahun terus meningkat. Data Balai Besar TNBTS menyebutkan jumlah wisatawan mancanegara pada 2017 sebanyak 23.568, 2018 wisatawan, 2018 meningkat 25.076 wisatawan mancanegara. Sementara wisatawan nusantara pada 2016 sebanyak 451.976 orang, 2017 naik menjadi 623.994 wisatawan 2018 meningkat 800.130 wisatawan.

Mobil jip mengangkut wisatawan melintasi padang sabana menuju kawasan Gunung Bromo. (Terakota/Eko Widianto).

Sementara kunjungan wisata yang melalui tour operator dari jaringan EJEF juga terus meningkat. 2017 sebanyak 1.400 wisatawan, 2018 naik menjadi 1.900 wisatawan. Tahun ini diperkirakan bakal terus melonjak. Kunjungan wisatawan mancanegara, kata Agus, terjadwal. Mereka membeli paket wisata setahun sebelumnya. Proses transaksi dilakukan secara daring, kerjasama dengan tour operator di Eropa.

Ketua Association of The Indonesian Tours and Travels Agencies (Asita) Malang Gagoek S Prawito menjelaskan wisatawan yang  berkunjung ke Gunung Bromo terencana. Mereka datang untuk ,engamati fenomena alam vulkanik Bromo. Keamanan  Wisatawan tak datang khusus untuk mengamati erupsi.

Wisatawan mancanegara menumpang becak keliling Kota Malang. (Terakota/Eko Widianto).

Gunung Bromo menjadi salah satu tujuan utama wisatawan mancanegara ke Jawa Timur selain kawah Ijen di Bondowoso. Biasanya wisatawan mancanegara diawali dengan perjalanan wisata ke Yogyakarta, dilanjutkan naik kereta ke Malang. Selama di Malang mereka melakukan city tour keliling Kota Malang untuk melihat arsitektur masa kolonial.

Malam terus ke penanjakan melihat matahari terbit dilanjutkan menikmati kawasn Gunung Bromo. Usai dari Gunung Bromo mereka melanjutkan ke kawah Ijen. Tujuannya untuk melihat fenomena blue fire atau api biru di kawah Ijen. Serta aktivitas penambangan belerang di sana. Selanjutnya wisatawan mancanegara melanjutkan berwisata ke Pulau Dewata, Bali.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini