Andang Bachtiar : Manusia Bagian dari Bumi, Manusia itu Kecil

"Prinsip saya sih manusia itu bagian dari bumi. Nah, kecil sekali kita ini. Aku belajar sejak 1978, kalau dihitung sekarang sudah 43 tahun. Pencapaian puncaknya dalam konteks ini ya memahami Geologi, memahami bumi, memahami diri sendiri akhirnya. Kayak filsafat gitu."

Andang Bachtiar tengah menyelesaikan rekaman di Pondok Musik Kota Malang akhir Desember 2020. (Foto : ADB Project).

Terakota.idAndang Bachtiar dikenal sebagai geologist atau ahli geologi merdeka. Lahir di Malang, 7 Oktober 1961, mendiang ayahnya Mas Achmad Icksan dosen sastra Indonesia dan Rektor IKIP Malang (Sekarang Universitas Negeri Malang) 1978-1986. Mendirikan teater Putih di SMA Negeri 3 Malang. Masa remaja dihabiskan dengan bermain teater, membaca puisi, bermain musik. Serta mengikuti beragam kegiatan kesenian di Malang, dan Surabaya, selama 1976-1977.

Sempat mengenyam pendidikan di IKIP Malang selama tiga bulan. Lantas memilih kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada medio Maret 1978. Saat masuk, kampus tengah diduduki tentara karena demo anti Soeharto. Diterima di ITB, bingung memilih jurusan. Ketika dalam keadaan bingung, ia melihat sejumlah mahasiswa gondrong di salah satu pojok belakang kampus ITB. Gondrong, berjaket, tampang agak seram, tapi bukan mahasiswa Seni Rupa.

“Enak sekali, mereka nyanyi terus.. Sepanjang waktu,” tulis Andang dalam blog pribadinya. Sehingga ia memilih jurusan Geologi, sama seperti mahasiswa gondrong. Menempuh pendidikan Geologi ITB lulus Maret 1984. Setelah lulus saya bekerja di perusahaan minyak, HUFFCO Indonesia, sampai November 2000.

Memimpin tim penemuan (discovery) 24 sumur minyak dan gas (migas) dangkal kedalaman 50 meter di Cekungan Kutai dari data lubang seismik 3 D 1996-1998. Menjadi Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) selama dua periode mulai 2000 sampai 2005. Sejak 2000 mendirikan perusahaan konsultan geologi Geosains Delta Andalan dan memproklamirkan diri sebagai Geologist Merdeka. Pada 2007 mendirikan Exploration Think Thank Indonesia (ETTI).

Selama 17 tahun menjadi konsultan geologi dengan berkeliling ke hampir seluruh penjuru dunia. Myanmar, Kanada, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, Australia, Qatar, Sudan, Iran, Aljazair, dan Amerika. Mulai 2009 hingga 2017 mengajar jurusan Geologi Institut Teknologi Medan (ITM), 2011-2017 mengajar Magister Geofisika Reservoir FMIPA Universitas Indonesia (UI).

Bersama Danny Hilman, ahli gempa LIPI, Andang Bachtiar membentuk Tim Peneliti Katastrofi Purba 2012 yang difasilitasi Staf Khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Andi Arief. Berperan sebagai Koordinator geologi lapangan dan pemboran sampai akhirnya tim itu berevolusi menjadi Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) Gunung Padang. Meneliti Gunung Padang sempat menjadi kontrofersi sampai akhir 2014. Menjadi anggota Dewan Energi Nasional (DEN) masa bakti 2014 – 2019. Mundur secara resmi dari keanggotaan DEN September 2017.

Di luar aktivitas sebagai geologist, ia menjadi produser album Hitam Putih Orche Konser Rakyat, Leo Kristi. Album diluncurkan pada 2014 berlabel “Andang Bachtiar & LKers”. LKers adalah istilah yang disematkan pada kelompok penggemar lagu-lagu Konser Rakyat Leo Kristi. LK atau Leo Kristi meninggal 21 Mei 2018

Sejak 2018 tinggal dan bekerja di Paris. Bekerja merencanakan dan mengeksplotasi migas di 10 Negara di Eropa, Kanada, Amerika Latin dan Afrika bersama perusahaan Maurel et Prom, Perancis. Kini, Andang Bachtiar yang biasa disebut inisial ADB tengah membuat musikalisasi puisi. Di tengah proses pengerjaan album berang bandi indie Splendid Dialog di  Pondok Musik Malang.

Jurnalis Terakota.id mewawancarai Andang Bachtiar di sela-sela rekaman di Pondok Musik, 27 Januari 2020. (Foto : ADB Project).

Jurnalis Terakota.id, Eko Widianto dan Wulan Eka berkesempatan wawancara di sela proses rekaman album “Melembutkan Batu” di Pondok Musik 27 Desember 2020. Sekitar 13 puisi dari ratusan puisi yang ditulis digubah menjadi lagu. Puisi diaransemen oleh band indie Splendid Dialog. Wawancara bersama ADB, produser pelaksana Redy Eko Prastyo, operator recording Andika dan personil Splendid Dialog Charles Jalu, Endri Wahyu. Mereka tergabung dalam ADB project. Berikut petikan wawancaranya :

Anda seorang ahli geologi, bagaimana menggabungkan sains dan seni?

ADB : Menjadi geologist sekolah teknik, padahal latar belakangku ndisik (dulu) seni, sastra. Nggak teknik-teknik banget, Geologi itu ilmu sejarah. Selain sejarah juga ilmu deskripsi seni. Memahami fisik bumi itu seperti apa dan sejarah pembentukannya bagaimana? Lebih melihat  fenomena yang ada. Misal melihat batuan, o iki ndisik diendapno ndek laut, kapan diendapno (Dulu diendapkan di laut, kapan diendapkan)? Sekian juta tahun yang lalu. Sebagaimana prosesnya?

Makanya seringkali orang Geologi itu suka ke alam. Selain melihat batu juga melihat proses alam, ndek pantai iku yak opo (Di pantai bagaimana)? Pasir diendapno ngene (Pasir diendapkan). Ndek gunung, gunung api meletus, terus dadi lava (Di gunung, gunung api meletus, terus menjadi lava). Sepuluh tahun kemudian lava membeku. Proses-proses itu yang dipahami sekarang, dulu juga terjadi. Sehingga ketika memahami batu ini, kita tahu sejarah bumi, apalagi disitu ada fosil kan? Bekas makhluk hidup atau arkeologi dan paleontologi. Itu bagian ilmu Geologi juga.

Arkeologi lebih ke sejarah manusia. Paleontologi sejarah bumi dikaitkan dengan kehidupan yang ada di situ, fosil. Sehingga kita belajar sejarah bumi. Dilihat, direkam dalam bentuk batu. Terus direkontruksi. Setiap tempat kan berbeda. Makanya tak ada ahli geologi menguasai seluruh dunia. Itu nggak mungkin, hanya terbatas pada tempat-tempat tertentu.

Latar belakang ilmunya teknis, senengan e (Sukanya) sastra, nggak teknis-teknis banget sebenarnya, ilmu sejarah. Hubungannya sama seni di filsafat, puncaknya kan filsafat. Pemahaman tentang bumi,  The Grandeur of Earth, kebesaran bumi, ya kebesaran Tuhan juga akhirnya. Jadi umur bumi yang sekian miliar tahun, 4-6 miliar tahun, sementara manusia ada baru 10 ribu tahun terakhir menurut arkeologi.

Prinsip saya sih manusia itu bagian dari bumi. Nah, kecil sekali kita ini. Aku belajar sejak 1978, kalau dihitung sekarang sudah 43 tahun. Pencapaian puncaknya dalam konteks ini ya memahami Geologi, memahami bumi, memahami diri sendiri akhirnya. Kayak filsafat gitu.

Terus kenapa orang Geologi banyak yang bekerja di tambang? Yah arena dengan pemahaman tentang bumi, strukturnya seperti apa, emas iku onok ndek endi,minyak iku onok ndek endi, eruh dadine (Jadi tahu emas di mana, minta itu ada di mana). Kapan terbentuknya dan bagaimana cara mencarinya itu udah aplikasinya yaitu industri ekstraktif. Yang kedua apa? Industri ekstaktif perbumian itu mineral, minyak, batu bara, uranium, tambang, emas, dan sebagainya.

Tanpa pemahaman tentang fisik bumi dan sejarahnya itu susah untuk mencarinya. Hanya sekadar ahli tambang, ahli minyak. Itu didasari pada ahli geologi yang tahu sejarah bumi. Dulu ahli tambang juga ahli geologi juga mestinya. Dia tahu di mana tempatnya, baru menambang. Selain itu dia juga harus tahu karakternya untuk bisa menambang. Selain itu ilmu geologi lingkungan, biologi teknik tata lingkungan. Dalam konteks melindungi lingkungan dari kehancuran, pemahaman proses alam juga geologi. Namanya geologi tata lingkungan.

Misalnya kasus ibukota negara, bangun-bangun di situ kan aku yang teriak pertama kali setahun yang lalu persis malam tahun baru. Aku posting di mana-mana bahwa eh ini kok aneh membangun ibukota Negara yang katanya air berlimpah segala macam, terus ditulis, viral dimana-mana bahwa ibukota negara itu airnya susah. Ya itu tadi karena pemahaman geologinya kurang waktu itu. Sekarang mereka mulai lebih bagus lah untuk membangun. Bukan berarti nggak bisa dibangun. Tapi kita harus bangun dengan kondisi geologi yang ada, terus bisa direkayasa. Itu untuk Geologi Teknik Tata Lingkungan itu.

Selain untuk ekstraksi, geologi tata lingkungan, melindungi lingkungan juga digunakan untuk kebencanaan. Jadi memahami proses geologi yang mengakibatkan bencana karena manusia ada di situ. Kalau proses geologi tanpa ada manusia terlibat di dalamnya nggak ada bencana. Tanpa ada kepentingan manusia terlibat di dalamnya, nggak ada bencana.

Misalnya patahan-patahan di dasar laut yang longsor tapi nggak ada trunami dan nggak kena di pantai. Di pantai juga mungkin kena tapi nggak ada orangya namanya bukan bencana. Ya proses geologi biasa. Gunung api bawah laut, gunung di daerah kutub yang nggak ada orang atau tanah longsor di Papua, longsor gede, ganok wonge (Tak ada orang) ya bukan bencana, yo biasa ae (Ya biasa saja). Nah jadi bencana ketika ada kepentingan manusia. Jadi bencana ketika ada manusia jadi korban, kepentingan manusia yang terhambat dari situ (Proses geologi).

Pemahaman tentang proses geologi, struktur alam itu menjadi penting. Banyak geologist yang berperan di situ, kayak misal Dani Hilman yang ahli gempa, memprediksi di mana gempa akan terjadi lagi dan seberapa besar? Terus apa yang harus dilakukan manusia untuk memitigasinya, menurunkan efek dari bencananya?

Selain itu juga untuk kepentingan sains sendiri, yang saya bilang untuk pemahaman tentang filosofinya. Bukan berarti karena saya 40 tahun lebih mendalami itu terus akhirnya jadi filosof geologi atau apa. Tapi semua saya lakukan. Saya sendiri juga lagi kerja di Eropa, mengerjakan eksplorasi minyak dan gas di banyak negara di sana. Tapi ya dari dulu kerjaan saya ya begini, selain mengerjakan ekstraksi juga menulis, menulis puisi, riset, mengajar waktu itu. Saya udah tiga tahun nggak ngajar karena di luar negeri.

Selama mengajar, saya ajari mahasiswa bahwa ilmu geologi itu bukan sekadar untuk memuliakan manusia karena kebutuhan fisiknya. Tapi akhirnya juga kamu akan paham sendiri betapa kecilnya kamu di bumi.  Kayak proses gunung api meletus, kelihatan indah dari jauh, tapi sebenarnya kan hancur semua. Tapi itu proses bumi untuk healing sebenernya. Kalau ada manusia jadi bencana. Kalau nggak ada nggak papa sebenarnya.

Berjuta-juta tahun kayak itu bumi ini. Pemahaman tentang itu kalau dituliskan jadi indah bagi saya ya, nggak tahu kalau bagi orang lain.Ha…ha…ha…. Saya banyak menulis dari dulu itu. Nulisnya kayak gitu itu, gara-gara kecampur geologi sama puisi.

Puisi itu ditulis di sela-sela pekerjaan utama ?

ADB: Saya hampir tiap hari nulis. Sambil nulis laporan, mengevaluasi seismik atau apa, terus menulis di buku catatan. Biasanya tulisan saya even bahasa inggris pun rimanya seringkali sudah ada. Kecuali menulis laporan ilmiah, beda ya, nggak boleh kayak gitu. Di catatan saya sejak lima sampai 10 tahun terakhir sudah lebih sering di gawai. Kadang-kadang kehilangan juga kalau gawai hilang.

Terus daripada kececeran tak kelumpuk-kelumpukno wes (Saya kumpulkan). Terus mau menerbitkan kumpulan puisi lima tahun yang lalu, sudah jadi. Tapi belum keluar-keluar. Terus ketemu anak-anak ini (Splendid Dialog) di Paris. Sisan dadekno ngene ae, sisan onok musike (Sekalian dijadikan begini, ada musiknya). Ternyata begitu aku mengalami, komunikasi sama arek-arek (Anak-anak) ini ternyata musik itu memperkuat artikulasi puisinya. Yang menarik itu, pengalaman baru bagi saya. Dari dulu saya bermusik juga, nyanyi juga. Tapi membuat musik, lagu dari puisi kolaborasi dengan orang, jadi lebih kaya.

Ada berapa puisi yang sudah diciptakan?

ADB: Waduh gak eruh (Wah, tak tahu), ratusan bisa sampai.

Terus dipilih 13 puisi saja?

ADB: Dipilih 14 atau 15, mungkin yang keluar 15.

Apa pertimbangan dipilih belasan puisi itu?

ADB: Nggak tau. Pertimbangannya yang banyak filsafat geologinya bagi saya. Kenapa saya bikin itu pertama kali dulu itu bukan belum pernah ada. Banyak sih geologist menulis puisi di luar negeri terus jadi satu kumpulan puisi. Terus catatan harian dia pergi ke lapangan terus ada puisinya. Ada beberapa, saya ada referensinya. Tapi saya mau bikin puisi khusus yang bisa dinikmati selain mahasiswa geologi juga bisa dinikmati masyarakat umum terutama tentang yang kaitannya dengan filosofi hidup. Kaitannya dengan ilmu bumi, posisi kita di alam semesta, dan sebagainya.

Terus ketika ketemu anak-anak ini. Saya bilang ini ada puisi-puisi yang bagi saya punya karakter, warna geologi. Mereka mungkin belum tahu warna geologi kan trus saya kasih paling gampang puisi Volcanologi Rindu. Berbicara tentang bagaimana gunung api yang saya gambarkan seperti sensualitasnya, ia meletus terus meleler, bentuknya indah, sensualitas, saya melihatnya jadi indah. Puisinya keluar gitu aja, terus saya jelasin, saya kasih ke anak-anak, ini bagus nih. Saya kasih lain deh, ada empat atau lima waktu itu. Terus mereka balik dengan satu lagu berjudul Sajak Orang Biasa. Bagus ini aku bilang. Jadi lebih kuat pesannya, bagi saya lho ya, lebih kuat nyampainya. Barulah saya pilih yang penting-penting.

Tujuan saya sih dua sisi. Tadinya hanya untuk lebih dominan ke internal komunitas saya di geosains, geologist, geofisisis, geografer, bangsa orang-orang bumi lah, oceanografer, orang lingkungan, dan sebagainya. Tapi setelah begitu diformat dalam bentuk lagu ternyata ada aspek lain yaitu keindahan lagunya dan musiknya bisa dinikmati orang. Sehingga ketika ia menikmati itu terus ngeliat ini apa sih ini syairnya?, mereka akan mengetik liriknya.

Jadi aspeknya jadi dua. Entar rencana kalau sudah jadi sih mau roadshow. Tapi pertama kali mau saya prioritaskan ke perguruan tinggi yang ada geosainsnya lah, geologi, geofisika, geografi, geodesi, oceanografi, dan ilmu tanah. Dari situ terus ke masyarakat umum. Kalau lagu-lagu mereka menarik untuk mendendangkan wih enak iki (Wah enak ini), tapi kok kalimatnya aneh-aneh, ada granit, lava, vulkano, field, macem-macem.

***

Kapan bertemu Splendid Dialog?

ADB : Waktu mereka tour ke Eropa, setahun lalu awalnya.

Setelah itu intens komunikasi?

ADB : Aku diundang anak-anak Indonesia di Paris ke KBRI. Ada pertunjukan musik ini, Splendid Dialog, dari Malang. Kudu teko iki arek Malang (Harus datang, ada anak Malang). Wah musik e asyik iki, enak. Saya dulu pengemar music-musik balada kayak Leo Kristi, Lemon Tree’s, Gombloh. Ini begitu aku dengar, kayak lagunya Lemon Tree’s ini pertama kali aku ngomong arek-arek. Aku ngomong gayamu, gaya Lemon Trees’s iki, rungoknomu (Dengarkan) enak. Wes nginep ndek nggenku ae, tak wacakno puisi, isok gak koen dadekno lagu (Menginap di rumahku, aku bacakan puisi, bisa gak menjadikan lagu). Isok sakjano (Bisa sebenarrnya). Setelah itu komunikasi. Selama pandemi komunikasi, setelah itu saya pikir ya diseriusi saja.

Nanti selesai satu album, akankah keluar album berikutnya?

ADB :  Nggak. Embuh dadi opo albume (Entahlah jadi apa albumnya), terus ketemu Redy sekalian. Sejak awal saya pikir-pikir, Redy ini udah sejak 6-8 tahun yang lalu ngurusi urusan Leo Kristi sama aku. Dia ini juga bisa multimedia selain musik, lagu, puisi, juga teater.

Berarti nanti akan ada perform gitu ya?

ADB: Mungkin juga. Ya idealisasiku performnya Pink Floyd lah. Lagunya, musiknya sendiri, puisi, performnya apalagi. Tata artistiknya. Tapi kalau di kampus-kampus kayak e enggak, kalau di balai sidang bisa. Ha..ha…ha….

Isi lagu, apa yang disampaikan? Selain filosofi? Bencana?

ADB : Ada gempa dan tsunami. Ada salah satu judul “Gempa dan Tsunami itu Seperti Mati”. Yang selalu saya kampanyekan dari 2004-2005 dulu waktu jadi ketua IAGI lima tahun. Memimpin sekitar 5000 orang, gerak organisasi untuk menyebarkan ilmu geologi, membuat metode rumusan-rumusan baru, mengembangkan ilmu. Salah satunya yang susah itu menerangkan ketidakpastian geologi kepada pengambil keputusan, terutama yang berkaitan dengan bencana, konteknya kapan terjadinya bencana.

Kalau seberapa besar gempa bisa diprediksi, tapi kalau kapan terjadinya itu kan tabu untuk dibicarakan. Karena kalau sudah tahu kapan kejadiannya terus mau apa kamu? Kalau (hasil prediksi) dalam sekian tahun bisa kita persiapkan begini..begini… Tapi kalau besok terjadi terus gimana? yang lebih penting dari itu, sebenarnya saya selalu bercerita kepada pengambil keputusan, gempa dan tsunami itu seperti mati, seperti kematian.

Gempa dan tsunami di Indonesia itu seperti kematian sebenarnya. Kematian itu pasti. Gempa dan tsunami di Indonesia sepanjang jalur Aceh sampai Lampung, Jawa, Ujung Kulon sampai Bali, Maluku terus ke Sulawesi  itu semua adalah jalur gempa dan tsunami. Itu pasti terjadi. Bisa 200-300 tahun untuk setiap tempat. Itu udah fakta geologi sudah. Sudah jutaan tahun kayak gitu terus. Manusianya saja yang tinggal disitu jadi bencana. Seperti di California itu, San Andreas Fault  itu, di situ ada orang terus  merekayasa jalan layang. Jika ada gempa hanya bergeser. Rekayasa manusia seperti itu. Mereka tinggal di situ ya risikonya begitu.

Sama seperti di Indonesia. Itu yang sudah untuk disadarkan kepada pengambil keputusan. Ya sudah kita punya tempat seperti ini ya kita harus siap hidup dengan kemungkinan kejadian-kejadian itu. Kita harus siap beradaptasi, jalur itu dikosongi. Walaupun bukan di tempat jalur gempanya, tapi  jarak 100 kilometer bisa goyang kan? Di situ disebut kecepatan tanah, ada petanya. Semuanya diteliti, sehingga membangun itu nggak boleh lebih dari tingkat tujuh di daerah sini. Itu yang seharusnyaa dilakukan pemerintah.

Masyarakat diwakili pemerintah untuk mengantisipasi gempa dan tsunami. Seperti mati itu. Gempa dan tsunami pasti datang ke kita. Tidak perlu menanyakan kapan gempa dan tsunami akan datang tapi persiapkan riset-riset kebencanaan, jalur evakuasi, dan bangunan tahan gempa, upaya preventif anak-anak jika ada bencana.

Itu hanya satu dari 13 lagu. Tapi tidak semua lagu seperti itu juga (temanya). Ada yang pencarian jati diri, filosofi geologi, Dewi Ruci, siklus batuan yang mengajarkan manusia bahwa siklus hidup kita itu siklus naik turun.

Andang Bachtiar tengah menyelesaikan rekaman di Pondok Musik Kota Malang akhir Desember 2020. (Foto : ADB Project).

Simbol-simbol, banyak dialektikanya di situ?

ADB : Iya dialektika, filsafat sebenarnya. Lingkaran misalnya, aku bicara judul lagu Lingkaran. Ini kaum bumi datar bahwa kamu itu berjalan di dalam lingkaran itu nggak ada depan nggak ada belakang. Depan kamu itu belakang kamu. Kalau kamu berjalan kesana terus itu kamu akan balik lagi ke belakang lagi. Kaya begitu. Ada di situm judulnya lingkaran. Apalagi ya? Macem-macem lah, kayak gitu lah, urusannya sama bumi, sama geologi.

Terpikirkan membuat lagu setelah bertemu Splendid Dialog?

ADB : Dulu nggak pernah terpikir. Bikin puisi terus menerus. Makanya mau menerbitkan buku, sudah siap lima tahun lalu, nggak terbit-terbit ini. Terus ketemu anak-anak ini, bikin lagu. Aku baru belajar sebulan dua bulan terakhir atau enam bulan terakhir gitu ya. Mereka kirim lagunya. Begitu lagu contohnya dari puisi yang aku kirim ke mereka, temen-temenku ngerasa “bagus nih”, bagusnya bukan cuma isinya, tapi juga musiknya enak lagunya enak. Jadi lebih kuat penyampaian pesannya.

Anda bernyanyi di album ini?

ADB :  Nggak, macem-macem, onok bojoku (Ada istri), onok Jalu. Aku dewe nggak iso nyanyi, bengok-bengok iyo (Saya sendiri, bukan menyanyi. Teriak-teriak). Jalu akhirnya yang nanyi. Nanti ada yang ngisi suara.

Nanti ada bentuk fisik?

ADB : Belum tahu, terserah Redy sajalah. Zaman saiki mahasiswa nggak onok sing duwe CD (Zaman sekarang tak ada anak yang memiliki cakram padat), serius. Kabeh wes sportify, makane platform e iku (Semua di sportify, makanya platformnya itu). Wong tueek koyo aku ae sing nggawe VCD (Orang tua seperti aku yang pakai CD).

Kemasan khusus untuk souvenir?

ADB : Iya untuk souvenir, bener, selebihnya sportify saja. Sebagai media online penjelasannya. Karena salah satu lagi yang sedang saya siapkan setiap lagu itu ada penjelasan geologinya. Atau mungkin ada filmnya atau videonya.

Jadi lengkap nanti ya?

ADB : Iya, nggak tanggung-tanggung lah.

Filmnya filmnya dokumenter?

ADB : Iya, dokumenter.

Redy : Footage dari Pak Andang waktu di lapangan. Footage itu yang akan kita rangkai.

Kalau soal energi ada juga? Lagi ramai kan?

ADB : Kalau energi ada nggak ya? Rodok sensitif iki (Sedikit sensitif). Sik durung mlebu iki (Belum masuk ini). Onok se lagu-lagu sing rodok nyentil-nyenyil thitik (Ada lagu yang sedikit menyentil).

Maksudnya nyentil apa?

ADB : Ada-ada. Jalu juga rodhok miris. Hahahaa.

Jadi lengkap?

ADB : Ada lah ada, jadi ada selengekannya sedikit. Tapi meskipun kritik, ada kritik geologinya juga. Masih banyak kok itu. Ada satu lagu, Belajar dari Batu. Saya rencanakan jadi lagu kebangsaan dari mahasiswa Geologi Indonesia. Semua harus hafal, enak itu lagunya.

Kenapa? Ada cerita dibaliknya?

ADB : Ada ada cerita bahwa kita harus belajar dari batu. Belajar diam dari batu. Belajar dari air. Belajar dari simbolisasi-simbolisasi itu. Lagunya enak, mudah dicerna. Anak-anak geologi suka lah, ya mudah-mudahan aja.

Kaitan dengan Leo Kristi? Selain menggemari kan ada sesuatu, jadi produser, kan effort-nya luar biasa untuk Leo Kristi?

ADB : Ya nggak tau ya, kalau buat orang itu luar biasa. Kalau bagi saya itu bagian dari yang saya lakukan, mengalir saja. Orang juga bingung ngapain kamu bikin kayak gitu. Ya nggak tau, aku cuma pengen aja. Ini juga lagi rencana mau bikin shelter satu tempat di Jakarta sana buat tempat ngumpul orang-orang yang punya preferensi kesenian, lagu, musik, art, yang mirip-mirip dengan modelnya Leo Kristi, non mainstream lah. Ya kalau kamu tanya kaitannya dengan Leo Kristi ya Leo Kristi adalah bagian dari perjalanan hidup saya. Zaman sekolah di sini. Saya remaja, SMA, terus masuk perguruan tinggi, Leo Kristi lagi top-topnya lah, folk song gitu lah. Tahun 1976-1977.

Seberapa berpengaruhnya lagu-lagu Leo Kristi?

ADB : Nggak tahu ya, aku nggak bisa (ngukur). Malahan kalau lagu Leo mah ya aku suka lagunya Leo Kristi. Tapi apakah ini kan jadi genrenya Leo Kristi? Nggak juga. Nggak bisa lah kita niru Leo nggak bisa lah, somebody punya karakter tersendiri. Cuma yang banyak gabungannya kan non mainstream lah, nggak ngepop, nggak ini.

Ada nilai-nilai dari setiap lagu?

ADB : Ya, nilai-nilai keindahan, pemilihan kata, puisi. Lagu-lagu Leo Kristi kan puisi, cuma cara dia mengartikulasikan dalam lagu itu kan. Saya juga menyenangi Pink Floyd, bangsa kayak gitu, ya puisi juga kebanyakan isinya. Pada zamannya dan sampai sekarang.

Mahasiswa geologi antusias saat Andang Bachtiar memberi perkuliahan di lapangan. (Foto : dokumen pribadi).

Pendengar album ini nanti beragam ya tak hanya kalangan mahasiswa?

ADB : Ya, komunitas geologist sudah pasti lah. Saya mau mereka juga menikmati keindahan dari jargon-jargon geologi yang saya berikan. Mudah-mudahan bisa membuka cakrawala baru, wah bisa indah juga ya geologi. Selain itu ya masyarakat luar dari komunitas geosains. Mudah-mudahan bisa juga menerima. Karena keindahan kan kalau disebarin lebih luas kan banyak manfaatnya lebih bagus.

***

ADB :Wes kesel nyambut gawe, arep gawe lagu wae (Sudah lelah bekerja, ingin membuat lagu saja). Gawe lagu malah tambah mumet (Membuat lagu malah pusing). Haha.

Tapi prosesnya lancar kan?

ADB : Yo lancar-lancar, lara kabeh (Ya lancar, ya sakit semua). Baru ngerasain juga. Dulu nungguin Leo Kristi nggak iku berproses di dalamnya, cuma urusan di luarnya. Ternyata sakit ini. Proses kreatif ini sakit, tapi sakit-sakit nikmat.

Komunikasinya gimana? Aransemen dan puisi yang dibikin?

ADB : Seringe kebatinan. Wong autis kabeh iki.

Lagu pertama? Katanya enak?

ADB : Lagu pertama, Sajak Orang Biasa.

Bagaimana proses kreatifnya? Temen-temen?

ADB : Ya gak eruh (Ya tak tahu). Moro-moro ketemu kek gitu (Tiba-tiba ketemu). Wah asyik iki, lebih berbunyi gitu. Terus tak timpali puisi tak wacakno,  woh apik (Saya bacakan puisi, wah bagus). Bagiku yo? Konco-koncoku pas lebaran wingi tak kirimi (Lagu ini saya kirim te teman saat lebaran). Kabeh sing tak kirimi mohon maaf lahir batin, woh asyik iki (Semua yang saya kirimi bilanga asyik ini).

Berapa lama Mas Jalu bikin satu karya lagu yang menarik?

Charles Jalu : Nggak ada batasannya, ada yang lama, sangat lama.

Lagu pertama tadi? Langsung tiga lagu?

Charles Jalu : Itu ada yang sebulan ada yang setengah hari. Mikire sing jeru (Memikirkannya dalam). Begitu nyekel gitar gitu langsung metu (Begitu memegang gitar langsung keluar inspirasi). Aneh Mas.

ADB : Tapi begitu ketemu keluar modifikasi karena keluar ceritanya.

Redy : Karena cara penyampaian kita kan nggak sama penyampaiannya Mas Andang. Mas Andang baca puisi aja wes lain sama tangkepan kita kan? Terus setelah selesai, baru Mas Andang baca puisi kan oiyo iki wes (Oh iya, seperti ini saja).

Charles Jalu : Kadang logikanya terbalik, kadang ada yang memang kurang feel bikinnya. Nggak ketemu-ketemu feel-nya. Pandangan kita kan subjektif. Sesuatu yang baru tentang batu, filsafat batu. Iki  opo? (Ini apa?) Setelah ketemu baru dijelaskan, seperti tadi. O… Mangkane gak dadi-dadi (O….Makanya tak jadi-jadi). Hahaha. Gak gelem areke (Tak mau anaknya).

Redy : Menyamakan frekuensi.

Setelah tahu, paham yang dimaksud, belakangan makin mudah ya?

Charles Jalu : Mungkin karena tahu personalnya, mencari preferensi musik Mas Andang, masa kecilnya seperti apa? Bagaimana Mas Andang di usia yang sekarang membuat lirik yang seperti itu? Pasti ada sejarahnya. Akhirnya oh ngono toh (Oh, begitu ya). Jadi kita nggak makai perspektif kita sendiri. Sampai sekarang ada 1 lagu yang belum selesai, tinggal dua hari lagi Mas Andang di sini.

Mungkin itu gongnya Mas

Charles Jalu : Gongnya. Itu bukan cuma yang dialami Mas Andang, tapi semua orang.

ADB : Lagu tentang kematian. Ketok e ganok (Kelihatan tak ada) Geologinya.

Redy : Mangkane uangel (Makanya sulit).

Charles Jalu : Iku ceritane tentang reuni, trus onok koncone sing seda. Berkurang (Ceritanya tentang reuni, terus ada remannya yang meninggal. Berkurang). Kebetulan kami habis kehilangan satu personil. Format e wes dadi (Format sudah jadi) tapi kalau nyanyi pasti kepedhot-pedhot (Terhenti-henti). He…he……

Judulnya apa Mas?

ADB : Ode. Ode itu lagu duka. Ode, satu persatu pergi.

Jadi sudah berapa persen dari 13?

ADB  : Ya 60-70  persen lah, tinggal 2 hari lagi di sini. Prosesnya sih terus.

Charles Jalu : Biarkan makin gelisah di sana. Kita sih di sini ketawa-ketawa.

 

2 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini