AJI : Perhatikan Pengalaman Traumatik Keluarga Penyintas Pesawat Sriwijaya Air

Ilustrasi : CNBC Indonesia

Terakota.id-Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menilai tahapan proses peliputan dan pemberitaan pesawat Sriwijaya Air SJ-182 rute Jakarta–Pontianak (PNK) tidak sesuai Kode Etik Jurnalistik (KEJ). AJI menyontohkan sejumlah jurnalis mencerca pertanyaan kepada keluarga penyintas pesawat jatuh 9 Januari 2021 pukul 14.40 WIB di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta itu dengan pertanyaan yang tak sesuai.

“Ada yang bertanya bagaimana perasaan Anda, apa Anda punya firasat sebelumnya?,’ kata Ketua AJI Indonesia, Abdul Manan dalam keterangan tertulis yang diterima Terakota.id, 11  Januari  2021.

Selain itu, juga ada media yang mengangkat topik soal gaji pilot pesawat nahas. Sehingga mengesankan jurnalis dan media kurang menghormati pengalaman traumatik keluarga korban dan juga publik. “Ada juga media yang menulis ramalan kejatuhan pesawat, narasumbernya peramal,” ujarnya.

“Sikap menghormati pengalaman traumatis korban memang tidak disebut eksplisit dalam Pasal 2 KEJ, terdapat penjelasannya,” ujar Manan. Pada pasal 2 KEJ tertulis, “wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik”. Salah satu bentuk dari sikap profesional itu, katanya, menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto, dan suara.

Menghormati pengalaman traumatis narasumber merupakan impementasi dari prinsip minimizing harm atau meminimalkan kerusakan yang ditimbulkan dampak kerja jurnalistik. Prinsip ini pula yang menjadi dasar penyamaran identitas anak pelaku kejahatan dan korban kejahatan susila sesuai pasal 5 KEJ.

“Beberapa prinsip penting KEJ adalah fungsi jurnalisme untuk mencari kebenaran, bekerja untuk kepentingan publik, dan berusaha menjaga independensi,” ujar Abdul Manan.

Melihat fenomena tersebut, AJI Indonesia menyerukan agar jurnalis dan media menghormati pengalaman traumatik keluarga korban Sriwijaya Air. Antara lain dengan tidak mengajukan pertanyaan yang bisa membuatnya lebih trauma, termasuk dengan pertanyaan bagaimana perasaan Anda dan semacamnya.

Jurnalis harus mengormati sikap keluarga korban jika tidak bersedia diwawancara atau menunjukkan sikap enggan digali informasinya. Tugas jurnalis memang mencari informasi, yang seharusnys memperhatikan hak narasumber. Sebagai bagian sikap penghormatan hendaknya tidak mengeskploitasi informasi, foto atau video yang bisa menimbulkan trauma lebih lanjut bagi keluarga dan publik.

Jurnalis dan media hendaknya tetap memegang prinsip profesionalisme seperti diatur dalam pasal 2 KEJ. Salah satu prinsip bekerja secara profesional adalah menggunakan sumber informasi yang kredibel dan kompeten. Pemilihan sumber tetap harus mempertimbangkan kredibilitas dan kompetensinya. “Menggunakan sumber seorang peramal sebagai bahan berita kecelakaan adalah tindakan yang kurang patut,” kata Sekretaris Jenderal AJI Indonesia Revolusi Riza.

Media sebaiknya fokus menjalankan fungsi informatif dan kontrol sosial. Akan lebih bermanfaat jika jurnalis dan media fokus memberi informasi terbaru tentang peristiwa sehingga bisa membantu publik, termasuk keluarga, dalam bertindak. Jurnalis dan media juga perlu lebih mengungkap soal aspek tanggungjawab dari perusahaan dan otoritas penerbangan. Soal keamanan dan kalaikan pesawat, agar bencana serupa tak terulang di masa mendatang.

Jurnalis juga perlu tetap mengikuti protokol kesehatan dalam liputan kecelakaan Sriwijaya Air. Tetap memakai masker dan menjaga jarak fisik yang aman untuk menghindari penularan Covid-19. Selain soal kesehatan, yang juga tetap harus diperhatikan aspek keselamatan dalam liputan.

“Jurnalis yang bertugas dalam liputan pencarian korban dan puing pesawat di Kepulauan Seribu, hendaknya menggunakan alat keselamatan seperti baju pelampung,” ujar Revolusi Riza.

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini