Ziarah Budaya Air Lintas Masa pada Hari Air

Tirthayatra Pawitrasari (Bagian I, bersambung)

Oleh : *M. Dwi Cahyono

  1. Air Suci dari Gunung Suci

Ditilik dari kesuciannya, air dapat dikategorikan menjadi: (1) air biasa (profane). dan (2) air suci (sacral, holly). Air diyakini sebagai air suci (holly water) lantaran bermuasal dari tempat yang suci, atau bisa juga dari air biasa (profane water) yang kemudian disucikan melalui ritus dan media pensucian (sakalisasi), baik berupa bangunan suci ataupun pancuran iar (spuiyer) yang mensimbolkan kesucian dalam wujud arca dewata atau arca bianatang maupun tamaaman suci. Gamabaran demikian secara gamblang antara lain dapat diperiksa pada sistus-situs patirthan dan candi yang terdapat di lembah hingga lereng bawah Gunung Penanggungan, yang pada Mnggu tanggal 19 Meret 2019 akan jadikan wahana pembelajaran tdengan tema ‘Makna dan Fungsi Trta dalam Konsepsi Eko-Kultura Jawa Lintas Masa’. Lewat ‘Ajar Pusaka Budaya Tematis’ ini, diharapkan diperoleh gambaran dan pemahaman mengenai interelasi antara makna suci pada air dan urgensi dari air bagi kehidupan. Lantara urgen, maka air disucikan. Dengan mencukian air, maka urgensinya bagi keberlangsungan hidup makhluk hidup lebih terjaga. Semoga laku budaya yang akan dihelat minggu depan itu memberi makna bijak terhadap ‘Hari Air” yang pada tahun ini (2017) bakal tiba di Hari Rabu, 22 Maret 2017.

  1. Pawitra, Gunung Suci Bhumi Jawa

Pustaka gancaran (prosa) ‘Tantu Panggelaran” yang disurat pada akhir pemerintahan Majapahit mengikisahkan tentang pemenggalan puncak gunung suci (holly mountain) Meru di Jambudwipa (India) dan kemudian diboyong ke Jawadwipa untuk dijadikan sebagai pasak guna menstabilkan Jawa terhadap hempasan dahsyat ombak laut selatan. Banyak ahli mengidentifikasikan gunung tertinggi di Jawa, yakni Gunung Semeru atau Mahameru – yang serupa dengan sebutan arkhais (kuno) dari Gunung Himalaya – sebagai potongan kemuncak Meru yang dipasakkan ke Bhumi Jawa. Berbeda dengan W.F. Stutterheim, yang secara cermat-cerdas menangkap persamaan geomofologis antara Gunung Hilamalaya dan Penanggungan, yakni sebuah puncak utama yang dikelilingi dengan empat puncak ang lebih kecil di pemjuru mata angin pada lengeng tengahnya, sehingga dinyatakan bahwa Penanggungan adalah repilka dari gunung Meru (Himalaya). Jika benar bahwa Penanggungan merupakan replika Meru, yang dalam doktrin Hindu ataupun Buddhis dikonsepsikan sebagai gunung suci, maka dapat difahami bila Penanggungan konon juga dikonsepsikan sebagai ‘gunung suci’. Pensucian Gunung Penanggungan dibuktikan secara artefactual oleh adanya lebih dari serratus bangunan suci (punden berundak, gua pertapaan dan patirthan beserta perangkat upacaranya) pada lerang bawah hingga menjelang puncaknya. Tidak sedikit pula bangunan-bangunan suci di lembah sekitar Penanggungan yang diorintasi (kiblat)-kan ke arah puncaknya, yang diyakini sebagai tempat persemayaman dari para dewa (Kaindran) atau arwah leluhur yang diperdewa. Hal serupa juga diberitakan di dalam sumber data tekstual (prasasti dan susastra), yang menyatakan bahwa Pawitra (nama arkhais dari ‘Penanggungan’) sebagai sunung suci, setidak-tidaknya semenjak abad X hingga XVI Masehi. Bahkan, tradisi pensuciannya berlanjut hingga kini. Sebagai gunung suci, maka dimanapun tempat di kawasan Gunung Penanggungan adalah tempat yang diyakni suci. Tak terkecuali air yang keluar atau bermata air (ber-tuk) padanya dikonsepsikan sebagai air suci – dengan sebutan khusus ‘tirtha’. Bahwa nama arkhais Penanggungan adalah ‘Pawitra’ telah dipergunakan semenjak amat lama, setidaknya sejak abad X Masehi. Sejauh sumber data tekstual yang berhasil didapatkan, nama ‘Pawitra’ telah disebut dalam Prasasti Cunggrang A dan B yang beratrikh Saka 929, yakni satu diantara empat buah prasasti tertua dari Masa Pemeritahan Pu Sindok (Sri Isana) yang bertarikh sama – disamping Prasasti Turyyan di Turen dan Gulung-gulung di Singosari Kabupaten Malang maupun prasasti Kamsya di Kampak Kabupaten Trenggalek. Prasasti Cunggang memberitakan tentang perbuatan bhakti Pu Sindok dengan memperbaiki (umahaywa) karya raja pendahulunya dan sekaligus mertuanya, yakni Rakyan Bawa (Raja Wawa), berupa ‘pancuran i Pawitra’. Buah dharmma bhakti-nya tersebut sangat boleh jadi adalah apa yang kini dinamai ‘candi (tepatnya ‘patirthan’) Belahan’ atau disebut pula dengan ‘Sumber Tetek’, yang berkokasi di lereng bawah sisi timur laut Penanggungan, dengan jarak sekitar 5 Km dari lokasi Prasasti Cunggrang.

  1. Tirtha Pawitra sebagai Air Suci

Paparan diatas memberi gambaran bahwa dari gunung suci Pawitra keluarlah ‘Tirtha Pawitra’ atau ‘Pawitrasari’, yang dalam konsepsi Jawa sebagaimana tergambar pada suatu sebutan dalam pewayangan, yakni ‘banyu pawitro’. Sebenarnya, air dari gunung suci ini telah merupakan air suci. Namun, untuk lebih mensucikannya, maka air yang keluar daripadanya ‘disakralisasikan’ dengan mengalirkan melalui beragam bentuk arca pancuran (jaladwara), yang bentuknya secara simbolik bermakna kesucian, guna mengisi kolam air, parit keliling candi atau wadah air lainnya yang juga diyakni sebagai bangunan atau perangkat suci (patirthan). Sebutan itu berlaku untuk air suci dimanapun pada lembah dan lereng Penangungan, seperti tirtha pada parit keliling Candi Jawi, patirthan Belahan, patirthan Jedong dan patirthan Jolotundo maupun air pengisi sungai yang muasalnya dari gunung Penanganggungan. Empat situs inilah yang pada kegiatan ‘Pratipa’ (Minggu, 19 Maret 2017) bakal dijakan sebagai wahana pembelajaran tentang budaya air Masa Hindu-Buddha di kekeliling Ardi Pawitra (Penanggungan). Sebagai air suci, tirtha pada situs-situs keagamaan di sekeliling Ardi Pawitra dijadikan sebagai uborampe utama dalam ritus keagamaan, baik dalam agama Hindu, Buddha ataupun Agama Rsi. Air tersebut dimaknai sebagai air ‘air kehidupan’ atau ‘air keabadian’ (Tirtha Amreta), sekaligus air yang diyakni sebagai mengandung ‘daya penyubur, atau air kesuburan (vertility water)’. Oleh karena itu, luapan air yang mengalir daripadanya melalui sungai kecil (kalen, kali) dimanfaatkan oleh banyak orang bagi kepemenuhan kebutuhan air bersih dalam kehidupan rumah tangganya maupun untuk mengairi lahan yang dibudayakan dalam kegiatan agrarisnya. Manusia ataupun binatang yang mengkonsumsi airnya dan tamanan yang mendapatkan pasokan air daripadanya mendapatkan ‘zat penyubur’ dan sekaligus ‘pensucian’. Dalam konteks ini, tirtha dipergunakan sebagai media pensucian (diksa), dan dengan demikian dapat dinamai dengan ‘diksa air’, yakni salah satu bentuk pensucian diri dengan media air (tirtha) — selain api, tanah (debu), jelaga dsb. yang digunakan oleh beragama agama. Air suci (tirtha) yang menetes dari akar-akar pepohonan hutan (wana) pada lereng dan lembah gunung (giri) Pawitra dengan demikian bukan hanya berguna untuk kepentingan religis, namun secara praksis dimanfaatkan untuk beragam keperluan hidup manusia, binatang atau tanaman. Pandek kata, air tersebut adala unsur fisis alamiah penting yang bertalian dengan ragam hajat hidup dari makhluk hidup, utamanya manusia, dari dahulu hingga kini dan mendatang. Urgensi darinya itulah yang antara lain menjadi pertimbangan untuk mensucikannya. Air suci di gunung Pawitra tak bisa dipisahkan dari hutan yang tumbuh merimbun di lerengnya, sehingga tergambar adanya relasi antara ‘hutan (wana)-gunung (giri)-air (tirtha)’. Oleh sebab itu pelestarian terhadap airnya tak bisa dipisahkan dengan pelestarian terhadap gunung dan hutannya. (Bersambuh) *Arkeolog Universitas Negeri Malang

Tinggalkan Pesan