Yuk, Nikmati Pertunjukan Teater di Pabrik Tahu

Terakota.idKamateatra Art Project menggelar pertunjukan teater dengan pendekatan teater antropologi-industri. Kamateatra menunjukkan hubungan antara industri dengan manusia. Industri banyak mengambil alih peran manusia hingga menciptakan pola produksi masal dan instan dalam jangkauan dan konsumen.

Pimpinan produksi Kamateatra Art Project, Elyda K. Rara menjelaskan sebuah pertunjukan kesenian tidak pernah lepas dari kondisi sosio kultural masyarakatnya. Bagaimana masyarakat berkembang, bersama dengan itu pula pertunjukan kesenian bergerak. Begitu pula pertunjukan teater dengan mengambil isu kondisi lingkungan sekitar.

Ada yang menarik dalam fenomena industri yang berkaitan erat dengan sistem ekonomi, sosial, dan psikologi masyarakat. Ketiganya saling mempengaruhi dan membentuk budaya tertentu dalam masyarakat. Seni seringkali berkembang dari kondisi budaya masyarakat dan akan menarik saat pertunjukan dihadirkan di tengah kegiatan industri.

Kamateatra Art Project mengangkat pabrik tahu dengan isu tahu di dalamnya berjudul Anatomi Tahu. Tahu dianggap sebagai makanan murah dan merakyat. Namun, mengalami kontradiktif harganya yang murah dengan fenomena bahan baku kedelai yang harus impor. Tapi, tahu terus menjadi makanan murah di negara sendiri. Sedangkan di luar negeri rupanya menjadi makanan yang “tidak murah”

Pertunjukan dilangsungkan di pabrik tahu RDS Klampok, Singosari. Dipilih pabrik tahu RDS yang berkomitmen membuat tahu organik. Menjaga kesterilan pekerja tahu dan strategi pembuangan limbah yang seringkali dianggap mencemari lingkungan. “Namun di pabrik ini ada strategi industri yang menarik,” kata Elyda K. Rara dalam siaran pers yang diterima Terakota.id.

Pertunjukan berangkat dari riset proses pengolahan tahu langsung di pabrik tahu RDS Klampok, Singosari. Riset dilakukan tim Kamateatra Art Project terdiri atas pemimpin pertunjukan, sutradara, hingga aktor, dibantu pemilik pabrik tahu sebagai narasumber dan produser pertunjukan.

Pada saat pengolahan adegan, sutradara bersama para aktor mengangkat isu seputar impor kedelai yang sempat disinggung presiden Joko Widodo. Sehingga harga tahu yang tidak pernah naik. Kemudian bagaimana para pekerja di pabrik tahu dieksplorasi dalam adengan-adengan minim kata dan lebih banyak eksplorasi gerak.

Penonton akan banyak menikmati pola gerak aktor dan bahasa simbolik. Isu lain adalah seputar sosok kapitalis yang dianggap mampu memberikan kesejahteraan di balik produksi tahu dan nyatanya hanya menjadi angan-angan semu. Hingga akhirnya digambarkan masyarakat pembuat dan konsumen tahu terus berkubang dalam permasalahan di balik produksi tahu yang tak pernah selesai.

Proyek Kamateatra Art Project ini menggandeng sosok pebisnis muda yang pernah menerima penghargaan berskala nasional “Mandiri Award” sebagai wirausahawan muda paling berbakat 2010. Sebuah kolaborasi melalui sosok wirausahawan muda ini jalan berkesenian langsung di pabrik tahu terbuka. Serta menggandeng pengurus Ansor Ranting Desa Klampok.

Bagi penonton yang ingin menyaksikan pertunjukan ini diimbau segera memesan tiket, kuota terbatas. Pertunjukan dihelat pada Ahad, 4 Juli 2021 pukul 19.00 WIB di pabrik tahu RDS, Klampok, Singosari. Harga Tiket Masuk Rp 25 ribu. Pemesanan melalui 085230800787 (Mia) atau 081944908806 (Elyda).

Tim pertunjukan Rudik Setiawan (produser); Anwari (sutradara); Elyda K. Rara (pemimpin produksi); Ma’rifatul Latifah, F.N. Bagaskara, Moenir Khan, Azizah Novi, Allan Fikri, dan Bahauddin (pemain); Dodot (penata lampu); Akmal Rahmat Firdaus (penata artistik); Julieta Anta (manajer administrasi); dan Arrington de Dionyso (penata musik), serta sejumlah relawan.

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini