Yowis Ben, Ditonton Wong Sak Ndunyo

Bayu mengaku awalnya minder membuat film. Lantaran jika youtube cuma membuat video berdurasi lima menit, film berdurasi 1,5 jam sampai 2 jam. Ia terlecut setelah empat tahun lalu Youtuber Skinnyindonesian24 membuat naskah film layar lebar. “Kenapa dulu ditolak? Seharusnya berani saja. Akhirnya merintis lagi, nah ada film ini.”

Terakota.id–Film komedi Yowis Ben atau ya sudahlah diputar serentak di jaringan Gedung bioskop seluruh Indonesia. Skenario film yang lokasi syuting di Kota Malang, Batu dan Surabaya ini ditulis Youtuber Bayu Eko Moektito alias Bayu Skak. Sejumlah tempat yang menjadi lokasi syuting antara lain Alun-Alun Kota Malang dan Masjid Agung Jami’ Kota Malang, Gereja Katedral Ijen, kampung Tridi, SMA Dempo, museum angkut dan Alun-Alun Kota Batu. Syuting dimulai 15 Oktober 2017.

Membuat film sendiri adalah mimpi Bayu Skak sejak lama. Film yang diproduksi Starvision ini menargetkan penonton di atas 500 ribu pasang mata. Seluruh dialog memakai bahasa Jawa. “Pertama kali menyerahkan ke produser, produser kaget. Kok memakai bahasa Jawa. Sangat segmented, penonton hanya orang Jawa,” kata Bayu Skak.

Namun, ia optimistis penonton meledak lantaran populasi orang Jawa sekitar 40 persen dari penduduk Indonesia. Saat peluncuran trailer di Youtube juga menimbulkan pro-kontra dan perdebatan di media sosial. Bahkan, Bayu Skak turut mengomentari pandangan orang yang memojokkannya lantaran menggunakan bahasa Jawa. Trailer film yowis ben ditonton lebih dari 2 juta kali. Film disutradari Fajar Nugros, sedangkan co sutradara Bayu Skak.

“Sementara tahun kemarin ada film dari Makasar menggunakan bahasa lokal.  Tak ada pemeran artis dari Ibu Kota. Syuting di Makasar.” Film tersebut ditonton 500 ribu orang. Berapa banyak orang Makasar?, tanya Batu Skak, pemutaran film itu mendapat pemasukan Rp 6 miliar, sedangkan modal pembuatan film sekitar Rp 500 juta.

“Saya ingin menguji, apakah orang Jawa mau gak mendukung teman sendiri. Wong Jowo kan senengane maido kancane dewe (Orang Jawa kan suka mencela teman sendiri).”

Bayu Skak sebelumnya telah membintangi sejumlah film yang diproduksi komik Raditya Dika. Akhir 2013 Bayu diajak Raditya Dika bermain film berjudul marmut merah jambu. Setelah premier film, katanya, produser menyapa dan mengatakan videonya keren. “Produser menawari kalau ada naskah film bisa kerjasama.”

Ia juga pelan-pelan belajar membuat naskah dari Raditya Dika. Setelah membuat film pertemanya ini, Bayu Skak, juga bermimpin membuat rumah produksi sendiri.

“Masih harus belajar banyak. Masalah penayangan layar. Bisa bikin sendiri, didanai sendiri, ditayangkan sendiri. Sementara tak bisa. Kenapa diserahkan ke Starvision, kan ini rumah produksi lama sekali. Mereka sudah lama bikin film,” katanya.

Sementara memilih menyerahkan produksi ke rumah produksi Starvision karena sudah terpercaya memproduksi film layar lebar dan masuk ke sejumlah bioskop di Indonesia. “Kalau aku bikin film sendiri paling hanya diputar di beberapa layar bioskop. Itu butuh waktu sendiri.”

Proses Kreatif Bayu Skak

Bayu Skak menunjukkan poster film yowis ben di gawainya. (Terakota/Aries Hidayat).

Youtuber yang mengunggah video jenaka, lucu dan menggemaskan ini memiliki tim kreatif yang terdiri dari anak muda. Rumah berlantai dua di kawasan Sawojajar, menjadi markas sekaligus studio. Di lantai atas, sebuah kamar yang  menjadi studio untuk memproduksi sekaligus editing video.  Di dalam kamar, sebuah ranjang  berlapis sprei merah. Di sini, biasanya Bayu Skak berakting untuk memproduksi video.

Di sudut ruangan, sebuah komputer layar lebar tertata rapi di atas meja. Komputer ini biasa digunakan tim kreatifnya untuk proses editing. Sebuah tripot dengan kamera DLSR dan handycam menjadi senjata utamanya untuk memproduksi video. Penataan cahaya juga penting untuk proses video. Tiga buah lighting juga berjajar di “studio” sekaligus kamar pribadi  Bayu Skak.

Bayu Skak Kelahiran Malang, 13 November 1993. Anak pertama dari dua bersaudara anak pasangan Sudarmono dan Endri Ekowati ini mengawali membuat video dari keisengan sejak mengeyam Pendidikan di SMK Negeri 4 Malang. Saat itu, Bayu Skak berusia 17 tahun, kelas 2 jurusan animasi SMK Negeri 4.

Berbekal pelajaran videografi yang dipelajari di sekolah, dia iseng membuat video berjudul rumah sakit jiwa. SKAK, katanya, iseng singkatan dari Sekumpulan Arek Kesel. “Cerita lucu, sekolah kesel (Capek) saya dulu sekolah punya HP,  kameranya lumayan. Teman-teman usul membuat video. Sejak awal memang sudah gendeng. Dulu tak pernah tahu kalau Youtube itu menghasilkan uang.”

Sementara pada 2009-2010 pengguna internet paling banyak menonton video klip, melihat penampakan hantu, dan pocong. Awalnya dia mengunggah video di Facebook namun tak jalan. Bayu kemudian mengunggah video di youtube untuk percobaan kedua. Awalnya penonton adalah teman sekolah. “Penonton di Youtube itu meledak, sampai 1.000 viewer itu seneng. Sing nonton sewu, wong sak nduyo (Yang menonton seribu, orang seluruh dunia). Cuma sket doang, tak ada script.”

Mendulang Uang dari Youtuber

Bayu awalnya tak tahu Youtube bisa menghasilkan uang. Awalnya, Bayu termotivasi membuat video karena komentarnya bagus-bagus. Banyak yang mendukung dan meminta video lagi. “Ya bikin lagi. Padahal tak dapat penghasilan.”

Dia mengaku senang banyak yang melihat dan ia terus bisa berkarya. Dua tahun setelah diunggah di Youtube, akhir 2011 dia ditawari Youtube untuk monetisasi video. Saat itu sudah ada yang subscribe sekitar 20 ribu. Kini, Bayu Skak telah memiliki 1,4 juta subscribe dan mendapat penghargaan Gold Button dari YouTube Indonesia.

“Ya berawal dari situ. Akhirnya mau. Dapat uang. Pertama kali dapat 300 dolar sebulan. Bisa nyelengi (Menabung) membeli kamera,” tutur Bayu Skak.  Dulu ia memakai kamera HP sampai dia harus membohongi orang tua. Saat kuliah di jurusan Seni dan Desain Universitas Negeri Malang. Ada sebuah mata kuliah videografi sementara temannya menggunakan kamera DLSR.

“Saya bilang, Pak saya harus punya kamera untuk kuliah. Padahal itu untuk bikin video di youtube. Akhirnya dibelikan Handycam. Sudah bisa membeli kamera sendiri 2013.”

Bagaimana kabar teman-teman SMK Negeri 4 Malang yang bergabung di SKAK? Bayu menjelaskan SKAK berenam terdiri dari teman sekolah. Setelah lulus sekolah mereka memiliki kesibukan masing-masing. “Ada yang kuliah, menjadi tentara. Saya ajak lagi, mereka sibuk dengan dunia masing-masing. Ada yang mau satu, namanya Alfan Septi. Masuk lagi, kita bikin lucu-lucuan lagi.”

Kini, Bayu Skak popular dan terkenal terutama di kalangan anak muda. Sejumlah perusahaan melirik Bayu Skak, untuk mempromosikan produk menggunakan jasa kreasinya. Bahkan UNICEF juga mengontraknya untuk kampanye jangan buang air besar di sungai. Iklan tersebut dimasukkan di Youtube.

Untuk memproduksi film yang berkualitas Bayu Skak merekrut sejumlah anak muda kreatif. Mereka berasal dari lulusan SMK Negeri 4, yang memiliki keterampilan membuat video. Tim terdiri dari Rendy, Robby, dan Wahyu. Wahyu akhirnya keluar. “Tim dibentuk 2014. Kamera, komputer  beli yang lebih bagus bertahap.”

Sejak kecil, Bayu dikenal kreatif dan suka menggambar. Sehingga saat lulus SMP memilih sekolah di SMK Negeri 4. Utamanya untuk menghindari pelajaran matematika. Saat sekolah, ia mendapat banyak pengalaman dan ilmu yang dibutuhkan youtuber.

Dia mengaku sejak awal percaya diri, di jurusan animasi digembleng tak boleh malu. Bayu mengingat ada mata pelajaran menggambar gesture. Setiap siswa maju ke depan kelas, kemudian berjoget untuk model gambar teman-teman di kelas. “Gak boleh malu. Itu menjadi bekal.”

Dengan memproduksi film yowis ben telah mengantar ke dunia perfilman. Membuka pintu baru. “Saya sendiri yang menulis ceritanya. Tentang band sekolah,” ujarnya.

Tinggalkan Pesan