Yang Dilupakan dari Kartini

Meneladani Kartini dengan hanya mengelorakan semangat emansipasi, membaca dan menulis itu tidak cukup. Penting kiranya menanamkan semangat berani melawan atas ketidakadilan dan penindasan yang menimpa masyarakat.

Pembukaan "Kartinischool" (Sekolah Kartini) di rumah Jalan Panaragan 19 Bogor pada 2 Mei 1915. (Foto : Tropenmuseum).

Terakota.id–Sejak saya menginjak bangku sekolah, yang saya kenal atau dikenalkan tentang Raden Ajeng Kartini adalah soal lagu nasional, sanggul, kebaya, dan perempuan. Bahkan secara hingar bingar selalu diperingati dengan memakai pakaian adat masing-masing daerah. Juga, diadakan upacara khusus untuk mengenangnya.

Kadang ada juga perayaan untuk mengenang dengan lomba-lomba  yang biasa dilakukan anak-anak perempuan. Sebagai sebuah perintah sekolah, saya juga mengikutinya dengan memperingati serta  memakai pakaian adat.

Dengan memakai pakaian adat orang sudah merasa memperingati hari Kartini. Hanya dengan pakaian adat. Sesekali juga dikenalkan tentang istilah “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang berasal dari buku karya Kartini yang diolah dari surat-suratnya. Oh ya, soal emansipasi juga dikenalkan tetapi nyaris hanya menjadi wacana indah dalam kelas atau soal ujian sekolah.

Ada hal penting yang selama hilang dari semangat kartini. Memang hilang atau sengaja dihilangkan? Entahlah, tetapi wacana yang terus didengungkan selalu sama dengan tanpa membekas ke dalam jiwa raga anak-anak muda.

Menyontoh Kartini  Muda

Biar tidak hilang jejak, kita lihat latar belakang Kartini terlebih dahulu. Ia lahir di Mayong, Jepara pada 21 April 1879. Pernah sekolah di kelas dua Belanda. Nikah dengan seorang Bupati Rembang (1903)  bernama Joyodidingrat. Nikahnya tidak lama karena Kartini meninggal tahun 1904. Ia pernah mendapat beasiswa untuk meneruskan sekolah di Belanda tetapi tidak diambilnya.

Kartini tahu bahwa saat itu negaranya sedang dalam penjajahan Belanda. Belanda memeras dan menindas. Hal itu diketahui dari buku kesayangannya yang berjudul Minnebrieven karya Multatuli. Ada buku lain karya NY. C. Goekoop yang membahas perjuangan Hylda van Suylenderb tentang pembelaan hak-hak wanita di Belanda. Buku selanjutnya berjudul  Vrouw en Sosialisme (Wanita dan Sosialisme) karya August Bebel.

Yang pasti, Kartini seorang yang rajin membaca, meski ia seorang perempuan yang mapan.  Buku-buku yang dia baca itulah yang mengilhami ide pentingnya perjuangan wanita yang kemudian populer disebut dengan emansipasi.

Ia tidak saja rajin membaca tetapi juga menulis. Tak saja surat-menyurat tetapi juga artikel. Bahkan artikelnya berjudul Van EenVergeten Uithoekje (Dari Pojok yang Dilupakan) mendapat sambutan hangat di Belanda dan dimuat sebagai pedoman tentang batik dalam sebuah buku De Batikunst in Nederlandsch en hare Geschiedenis.

pelajaran menggunakan papan tulis pada tahun pertama “Kartinischool” (Sekolah Kartini) Bogor 1920. (Foto : Tropenmuseum).

Yang monumental adalah surat-surat Kartini yang ditulisnya untuk teman-temannya di Belanda. Surat yang ditulis bukan surat biasa tetapi berisi pemikiran tentang pendidikan wanita. Surat-surat penting Kartini kemudian dikumpulkan oleh Mr. J. Abendanon diterbitkan dengan judul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang) pada tyahun 1911.  Perhatian Kartini pada pendidikan membuat ia juga mendirikan sekolah perempuan pertama di Rembang (saat ini menjadi Gedung Gerakan Pramuka).

Dalam surat-surat yang ditulis Kartini, pemikiran tentang kondisis sosial saat itu menjadi kegelisahannya. Terutama sekali soal nasib perempuan pribumi. Budaya Jawa juga dikritik karena dianggap menghambat kemajuan perempuan. Baginya, perempuan punya kebebasan untuk menuntut ilmu dan terus belajar, bukan hanya golongan ningrat saja.

Hal lain dan tak kalah pentingnya dalam surat-surat Kartini ada;ah berbicara tak saja soal Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan tetapi juga soal Kemanusiaan dan Nasionalisme (cinta tanah air). Hal itu tercermin dalam tulisan-tulisannya soal Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf-vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan Solidariteit.

Semangat Melawan

Kartini dikenal bukan lagi soal kebaya dan sanggul, termasuk emansipasi. Ia juga dikenal sebagai seorang pembaca dan penulis. Sebagai pembaca dan penulis ia memberikan contoh penting bagaimana seorang perempuan itu bisa berdaya dan bersaing dengan laki-laki. Semua harus dimulai dengan budaya membaca – termasuk menulis.

Yang tak kalah pentingnya Kartini memperjuangkan hak. Hak yang harus diperjuangkan sebagai bagian dari usaha untuk mengatasi ketertindasan dan eksploitasi Belanda. Ia mulai dari kaumnya sendiri. Jika kaum perempuan berdaya maka laki-laki tak akan bisa semena-mena terhadap kaumnya. Artinya, perjuangan atas ketertindasan juga akan mudah dilakukan.

Kotak kayu dan lukisan angsa karya Kartini dari Jepara dipublikasikan 1902. (Foto : KITLV).

Dari apa yang dilakukan Kartini itu sebenarnya kita bisa mengambil teladan bahwa soal hak harus terus diperjuangkan. Sebab, Belanda yang sudah mapan tak akan serta merta menyerahkan begitu saja kemapananya pada kaum pribumi. Belanda mewakili kelompok mapan, sementara Pribumi mewakili kelompok tertindas.

Selamanya kelompok mapan akan memperjuangkan dirinya sendiri dan kelompoknya. Membela hak tak lain memberikan semangat membela “kaum minoritas”, untuk tak mengatakan memberontak atas ketidakadilan. Ini semangat yang sering dilupakan atau sengaja dibuat lupa.

Pemerintah, melalui sekolah saya waktu itu, yang dikenalkan tentu bukan soal bagaimana kita mewarisi hak asasi yang pernah diperjuangkan Kartini. Bagaimana masyarakat selalu berada dalam kondisi ketidakadilan yang justru dilakukan pemerintahnya. Pemerintah dalam hal ini  mewakili kelompok mapan, sementara masyarakat kelompok terpinggirkan.

Karenanya, tak pernah ada wacana yang digaungkan oleh negara bahwa Kartini itu juga simbol pemberdayaan dan perlawanan pada kemapanan. Termasuk kemapanan yang dibuat negaranya. Kita sering hanya mendengar dan mengenal serta mengenal Kartini dari atribut fisik. Maka, menggelorakan kembali semangat Kartini  — termasuk diantaranya  adalah menanamkan semangat melakukan perlawanan atas ketidakadilan yang menimpa masyarakat — adalah penting.

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini