Mewujudkan Desa Wisata Toleransi

Ritual upacara bersih Desa Sukodadi, Wagir, Kabupaten Malang. Doa dipanjatkan dalam lintas iman. (Foto : http://wisikk.blogspot.com)

Terakota.id–Penduduk Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang memiliki beragam agama dan kepercayaan. Setidaknya berkembang tiga agama terdiri dari Islam, Hindu, dan Katolik. Serta aliran kepercayaan. Mereka merawat keberagaman dengan hidup berdampingan.

Kepala Desa Sukodadi, Susilo Wahyudi menjelaskan kehidupan masyarakata harmonis. Mereka menjalankan kehidupan sehari-hari tanpa membeda-bedakan agama. Mereka juga berperan aktif dalam lingkungan pergaulan di masyarakat.

“Praktik ini telah berjalan puluhan tahun,” katanya. Ketika terjadi konflik di lingkungan, segera diselesaikan secara budaya. Sikap toleransi dan saling menghargai terasa di sini. Meski urusan toleransi bukan perkara mudah karena menyangkut hati dan keyaninan. Namun atas dasar kekeluargaan toleransi tetap terjaga.

“Toleransi terwujud atas dasar kekeluargaan,” kata Kepala Desa yang telah menjabat selama enam tahun.

Keunikan Desa Sukodadi menarik perhatian akademikus. Para akademikus yang tergabung dalam doktor mengabdi menggagas Sukodadi menjadi desa wisata edukasi toleransi. Ketua tim doktor mengabdi, Nur Chanifah mendorong mengembangkan potensi desa yang ada.

“Bisa dibranding Desa Sukodadi menjadi desa wisata edukasi tolerasi,” katanya. Program doctor mengabdi merupakan bagian dari pengabdian civitas akademik Universitas Brawijaya.  Mendorong potensi desa untuk dikembangkan agar berguna bagi masyarakat secara luas.

wujudkan-desa-wisata-toleransi
Tim Doktor Mengabdi dan masyarakat Desa Sukodadi, Wagir, Kabupaten Malang menyiapkan konsep desa wisata edukasi toleransi. (Foto : Al Muiz Liddinillah).

Aanggota tim doktor mengabdi Prisca Kiki Wulandari menyampaikan konsep dasa toleransi bersifat edukasi. Mencontoh di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Desa wisata edukasi toleransi ini bakal menjadi tujuan peneliti, dosen, guru, mahasiswa dan pelajar se-Malang Raya dan Jawa Timur.

Para wisatawan bisa berinteraksi langsung, berkomunikasi dan belajar kepada warga setempat. Mengenai pentingnya hidup rukun di tengah perbedaan agama dan keyakinan. Wisata edukasi toleransi ini perlu didorong peran pemuda seperti karang taruna. Selain itu PKK juga dilibatkan.

Pemuda karang taruna bakal dilatih agar mengerti konsep pariwisata. Mengenal potensi wisata desa edukasi, pengelolaan, membuat paket wisata hingga promosi wisata. Untuk promosi bisa mengoptimalkan media sosial. Lantaran selama ini anak muda lebih akrab dengan media sosial.

“Media sosial bisa dioptimalkan sebagai ajang promosi wisata,” kata Prisca. Sedangkan anggota PKK bakal dilatih membuat batik toleransi. Yakni kerajinan batik tulis yang menggunakan motif toleransi. Mereka dilatih membuat motif batik yang menggambarkan toleransi lintas agama.

Batik Lereng Rarem serta Batik Kertokusuma akan menjadi produk unggulan. Pelatihan bakal dilangsungkan dua bulan mendatang. Tindaklanjut dari program doctor mengabdi ini bakal mendorong masyarakat desa sadar wisata. Serta diharapkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Menekan angka kemiskinan.

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini