Wisatawan Mancanegara “Serbu” Gunung Semeru

Para pendaki tengah beristirahat untuk melanjutkan pendakian ke Puncak Mahameru. (Terakota/ Abdul Malik).

Terakota.id–Wisatawan mancanegara antusias mendaki Gunung Semeru, pada hari pertama dibuka jalur pendakian setelah ditutup selama empat bulan. Jalur pendakian Gunung Semeru 3676 meter di atas permukaan laut (m.dpl) kembali dibuka, Senin 12 Mei 2019. Setelah pendakian ditutup selama empat bulan sejak 3 Januari 2019.

Hari pertama, sebanyak 25 pendaki yang mendaftar untuk mendaki Gunung Semeru. Sebanyak 14 pendaki di antaranya dari luar negeri. Terdiri dari pendaki yang berasal dari Singapura 11 orang dan Jerman 3 orang. Sedangkan 11 pendaki lainnya berasal dari berbagai kota di Indonesia. Para pecinta alam bisa menikmati keindahan alam gunung tertinggi di Pulau Jawa ini saat bulan puasa.

Para pendaki dari luar negeri antusias melakukan aktivitas pendakian Gunung Semeru. Terhitung sebagian besar merupakan wisatawan mancanegara. Sedangkan pendaki dalam negeri tak banyak. Bulan puasa menjadi alasan pendaki menahan diri tak mendaki gunung, dan akan melakukan pendakian pada lebaran mendatang.

Juru bicara Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Syarif Hidayat menjelaskan jika bulan puasa memungkinkan jumlah pendakian turun. Selain itu, diperkirakan sebagian pendaki belum mengetahui pembukaan jalur pendakian ke Gunung Semeru. Informasi pembukaan jalur pendakian belum tersebar luas kepada para pendaki dan pecinta alam di Nusantara.

Namun, saat lebaran diprediksi akan kembali melonjak. Sesuai kuota dan daya dukung alam, jumlah pendaki dibatasi maksimal 600 orang per hari. Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru banyak mendapat pertanyaan dari para pendaki menanyakan kapan dibuka pendakian. “Mereka mendaftar secara online,” katanya.

Berbagai komunitas dan mahasiswa pecinta alam berkomunikasi menanyakan pembukaan pendakian ke Semeru. Termasuk menanyakan persyaratan dan perlengkapan administrasi yang harus dipenuhi untuk keperluan pendakian.

Syarif berpesan kepada para pendaki agar memperhatian aturan dan mengikuti jalur utama. Lantaran ia khawatir jika menggunakan jalur lain, pendaki bisa tersesat dan salah jalur. Para pendaki juga diminta mempersiapkan fisik dan perlengkapan yang memadai. Lantaran pendakian ke Semeru tergolong cukup berat.

Bekalan makanan dan peralatan pendakian juga tak boleh diabaikan. Bekal harus sesuai dengan standar pendakian. Termasuk perlengkapan dan peralatan pendakian. Petugas BBTNBTS telah memasang papan informasi, papan peringatan dan papan petunjuk jalur pendakian. Agar memudahkan pendaki menapaki jalur yang aman.

Para pendaki dilarang membuang sampah sembarangan. Sampah yang dihasilkan para pendaki, katanya, harus kembali dibawa turun. Jangan meninggalkan sampah, katanya, karena Gunung Semeru bukan tempat sampah.

Kawasan taman nasional, katanya, sebagai bagian dari ekosistem yang harus diberi kesempatan waktu untuk memulihkan secara alamiah. Sehingga pendakian ditutup agar proses pemulihan secara alamiah optimal. Jika tak ada jeda, katanya, dikhawatirkan bakal menganggu ekosistem dan lingkungan di kawasan Gunung Semeru.

Pengelola TNBTS berkoordinasi dengan para pihak untuk menjaga keamanan dan keselamatan pengunjung. Mereka juga mempersiapkan diri untuk mengantisipasi bencana alam gunung melestus. Mengingat Semeru merupakan gunung aktif yang saat ini dalam status waspada. Termasuk melibatkan potensi SAR dan badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) di kawasan sekitar Semeru.

Para pendaki diingatkan agar mentaati prosedur atau peraturan pendakian. Bagi pecinta alam yang akan mendaki bisa mendaftar secara daring melalui sistem virtual account . Informasi lengkap mekanisme pendakian bisa mengunjungi laman www.bromotenggersemeru.go.id

Tiket masuk Gunung Semeru naik, bagi pengunjung nusantara pada hari kerja semula Rp. 17.500 naik menjadi Rp. 19 ribu. Sedangkan hari Libur awalnya Rp. 22.500 naik menjadi Rp. 24 ribu. Sementara tiket untuk wisatawan mancanegara tak berubah lantaran asuransi juga tak mengalami kenaikan.

Tarif disesuaikan dengan kebutuhan asuransi kecelakaan bagi para pengunjung. Premi asuransi naik semula Rp 2.500 menjadi Rp. 4.000. “Penyesuaian premi asuransi berdasar survei kepuasan pengunjung. Sebagian besar berharap nilai santunan dan perawatan lebih besar,” katanya.

Penyesuaian premi diikuti nilai manfaat meliputi santunan meninggal karena sakit semula Rp. 20 juta naik menjadi Rp. 25 juta. Santunan meninggal karena kecelakaan dari Rp. 60 juta menjadi Rp. 75 juta. Sedangkan santunan cacat tetap sebelumnya 60 juta menjadi Rp. 75 juta. Sedangkan santunan biaya perawatan kecelakaan sebelumnya Rp. 6 juta naik menjadi Rp. 7,5 juta.

Sesuai Undang Undang Nomor 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan menyebutkan setiap wisatawan berhak memperoleh perlindungan asuransi untuk kegiatan pariwisata berisiko tinggi. Wisata alam di Bromo dan Semeru kategori berisiko tinggi. Sehingga harus dilindungi asuransi yang memadai.

Data BBTNBTS pengunjung Gunung Bromo dan Semeru selama kurun waktu 2016 sampai Mei 2019 tercatat 10 orang korban meninggal karena sakit, 9 orang meninggal kecelakaan, 62 orang terluka karena kecelakaan dan 23 orang dilakukan tindakan evakuasi. Total 104 orang korban kecelakaan di kawasan BBTNBTS.

Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, katanya, menjadi obyek wisata alam favorit yang dikunjungi. Selama 2018 menyumbang pendapatan negara bukan pajak sebesar Rp. 26,1 miliar.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini