Wisata Unik dan Pesan Damai dari Malang

Terakota.id–Puluhan orang bersalat dzuhur di Masjid Jami’ Kota Malang. Usai salat mereka bergegas berjalan melintasi trotoar jalan di samping Alun-alun Kota Malang. Mereka menuju Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Imanuel. Letaknya hanya selemparan batu dari Masjid Jami’. Mereka adalah rombongan wisatawan yang tertarik menyusuri wisata unik di Malang.

Dua tempat ibadah itu berada di barat Alun-alun Kota Malang. Menjadi simbol kerukuran antarumat beragama di kota ini. Jopie Latuminase pengurus GPIB Imanuel berdiri di antara rombongan wisatawan. Telaten ia menceritakan sejarah gereja dan hubungan mesra dengan pengurus masjid.

“Gereja ini berdampingan dengan Masjid Jami’. Kami sudah terbiasa bekerjasama dengan pengurus masjid,” kata Jopie, Rabu 23 Mei 2018.

Pengurus masjid dan gereja saling berkoordinasi. Terutama jika peringatan hari besar keagamaan jatuh di hari yang sama. Kerap saling mengatur jadwal agar tak digelar bersamaan. Biasa pula bekerjasama penggunaan lahan parkir di depan tempat ibadah. Sehingga, tak pernah sedikitpun ada gesekan antara dua umat beragama.

“Kita semua bersaudara. Saling menghormati dan berkomunikasi antar satu dengan lainnya,” ujar Jopie menjelaskan kepada para wisatawan.

GPIB Imanuel dibangun 1861. Di masa pendudukan Jepang, gereja sempat dijadikan gudang penyimpanan beras. Arsitektur gereja ini hampir tak banyak berubah sejak masa kolonialisme Belanda. Bangku di dalam gereja juga peninggal era itu. Dua injil terbitan 1864 dan 1715 tersimpan rapi di almari.

Sedangkan Masjid Jami’ Kota Malang didirikan pada 1890 dan kembali disempurnakan bangunannya pada tahun 1903. Bangunan masjid berbentuk bujur sangkar berstruktur baja dengan atap tajug tumpang dua. Keaslian bangunan tetap dipertahankan sampai hari ini. Arsitektur masjid menggabungkan dua gaya, yakni Arab dan Jawa.

Wisata Unik Kota Malang
Umat muslim beribadah salat Ied. Jamaah meluber sampai di sepanjang jalan dan halaman GPIB Immanuel. (Terakota/Eko Widianto).

Jelajahi Keunikan Malang

Usai mengunjungi Masjid Jami dan GPIB Imanuel, rombongan wisatawan itu kembali melanjutkan perjalanan mereka. Menuju Kampung Heritage Kayutangan, ke Kampung 1000 Topeng dan berakhir di Kampung Wisata Religi Ki Ageng Gribig. Mereka adalah rombongan peserta Family Trip atau Fam Trip Kota Malang.

Peserta Fam Trip memulai perjalanan dari Museum Mpu Purwa, berlanjut ke Kampung Go Green Glintung dan Kampung Tempe Sanan. Seluruh tempat itu diharapkan benar-benar mengesankan sebagai identitas Malang sesungguhnya. Menggambarkan keunikan Malang dalam bingkai wisata sejarah, religi dan pendidikan.

Kepala Seksi Promosi Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang Agung Buwana mengatakan, pilihan lokasi yang dikunjungi dalam Famtrip ini menonjolkan kekuatan Malang sesungguhnya.

“Harapannya, mereka bisa melihat keunikan wisata di Malang. Termasuk toleransi dengan masjid dan gereja yang berdiri berdampingan,” kata Agung.

Kota Malang lahir di masa kolonialisme Belanda. Karenanya banyak bangunan bersejarah maupun kawasan heritage yang layak dikunjungi. Selain itu saat ini juga muncul 17 kampung tematik yang menarik untuk dijadikan tujuan wisata. Fam Trip ini sebagai upaya mempromosikan segala keunikan dan kekhasan Malang.

“Di Fam Trip ini baru beberapa kampung tematik yang dikunjungi. Diupayakan akan ada kegiatan lanjutan menyasar ke kampung lainnya,” ujar Agung.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang akan bekerjasama dengan pelaku industri pariwisata. Menyiapkan paket wisata ke kampung tematik. Tak lupa mengunjungi sejumlah tempat ibadah berarsitek khas dan berusia ratusan tahun. Sebagai wisata alternatif sekaligus pesan damai.

 

1 KOMENTAR

Tinggalkan Pesan