Wisata Maju, Rakyat Sejahtera Desa Wisata Pujon Kidul Bagian 2

wisata-maju-rakyat-sejahtera
Berkat desa wisata masyarakat miskin di Desa Pujon Kidul menurun. Pada 2017 jumlah rumah tangga miskin sebanyak 387, 2018 turun menjadi 257. (Terakota/Eko Widianto).

Advertorial

Terakota.idWisatawan hilir mudik, keluar masuk café sawah, di Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Sebagian besar rombongan keluarga, masing-masing membawa kudapan dan minuman. Termasuk kuliner khas pedesaan tinggal pilih ada pecel, nasi jagung, nasi goreng, sayur urap, bakso dan aneka lalapan. Selain itu juga tersedia minuman panas maupun dingin.

Harga relatif murah, tak bakal membuat kantong bolong. Harga mulai Rp 5 ribu sampai Rp 30 ribu. Tak hanya kulinernya yang menawan, udara dan pemandangan alam di sini juga memikat. Panorama alam pegunungan, hamparan area persawahan dengan aneka jenis tanaman sayuran.  Di sini, wisatawan juga bisa melihat petani melakukan aktivitas merawat tanaman.

Saat masuk café sawah cukup membayar Rp 8 ribu, Anda mendapat voucher seharga Rp 5 ribu. Voucher bisa dibelanjakan untuk membeli makanan, minuman, atau membeli oleh-oleh untuk buah tangan keluarga atau tetangga.  “Rata-rata setiap hari Seni sampai jumat 500 orang. Sedangkan akhir pekan sekitar 2 ribu pengunjung,” kata Manajer Marketing café sawah, Ibadur Rochman.

Masakan khas desa. Jarang orang kota menikmati makan di tengah sawah. Bahan baku masakan yang disajikan dipasok langsung dari sawah petani setempat. Dijamin masih segar dan sehat. Pengunjung bisa duduk santai.  Tinggal pilih di gazebo duduk bersimpuh atau duduk di bangku. Di tengah café sawah terhampar kolam ikan  berisi ikan koi, dan unggas, ada angsa, itik dan ayam.

Selain itu, juga ada tanaman sayuran mulai kubis, bawang, wortel dan selada. Wisatawan juga bisa memetik sayuran yang tersedia dan dibungkus dibawa pulang. Selain itu, juga bekerjasama dengan petani sekitar. “Harga lebih tinggi, sensasi memetik sayur sendiri di sawah. Kan beda,” ujarnya.

wisata-maju-rakyat-sejahtera
Buah dan sayuran bisa menjadi pilihan oleh-oleh dari Desa Wisata Pujon Kidul. (Terakota/Eko Widianto).

Bagaimana dampak industri wisita bagi bagi petani? Petani setempat merasakan manisnya pariwisata. Saat harga tomat jatuh sampai Rp 1000 per kilogram, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) mengarahkan wisatawan memetik tomat di ladang petani. Pengunjung membayar tomat seharga Rp 5 ribu per kilogram,.

“Petik sendiri di sawah. Pengunjung ramai,” katanya. Café sawah dibuka dibuka mulai 7.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB. Sedangkan akhir pekan bisa sampai malam. Rata-rata pengunjung setiap hari mulai Senin sampai Jumat sebanyak 500. Pada akhir pekan mencapai 2 ribu sampai 4 ribu orang. Pada libur Idul fitri bisa tembus hingga hampir 10 ribu orang.

Omzet Terus Melonjak

Omzet café sawah sepanjang 2018 mencapai Rp 14 miliar. Omzet belum dihitung dengan usaha wisata penunjang yang dikelola masyarakat secara individu. Tiap tahun, pendapatan terus meningkat.

Selain itu, juga tersedia paket edukasi budidaya tanaman. Wisatawan, bisa bersama petani mulai menyemai bibit hingga panen. Tak ketinggalan juga tersedia paket wisata sapi perah, wisatawan bisa memerah susu sapi dan langsung meminum. Juga pengolahan menjadi kerupuk dan susu pasteurisasi.

Sedangkan para pekerja di café sawah merupakan warga setempat. Mereka adalah putra daerah, sebagian besar merupakan anak putus sekolah dan dari keluarga miskin. Café sawah yang dikelola Badan Usaha Milik desa (BUMDes) mempekerjakan 167 orang. Selain itu, sejumlah tempat wisata di sekitar yang dikelola penduduk juga mempekejakan sebanyak 320 orang.

wisata-maju-rakyat-sejahtera
Panorama alam pegunungan, udara sejuk dan area persawahan menjadi magnet wisatawan ke Pujon Kidul. (Terakota/Eko Widianto).

Kepala Desa Pujon Kidul, Udi Hartoko mengatakan komitmen saat dipercaya memimpin Desa Pujon Kidul pada 2011. Komitmen memberdayakan masyarakat dan memanfaat panorama alam, budaya dengan konsep wisata desa. Para pemuda dikumpulkan, dibentuk tim. Lantas menganalisis beragam potensi yang ada di desa. Awalnya wisata edukasi pertanian, peternakan dan budaya.

Wisata edukasi dimulai 2012, ternyata jumlah pengunjung terbatas. Dalam sebulan, hanya beberapa kali kunjungan. Lantas 2016 banting stir, berubah menjadi wisata massal. Konsep café sawah dimatangkan dengan modal awal dana dari Pemerintahan Desa setempat sebesar Rp 60 juta. Pada 2017, kembali disuntik modal sebesar Rp 150 juta.

Tak disangka, konsep kuliner di tengah sawah menarik minat pengunjung. Bahkan pengunjung mengunggah beragam foto di media sosial. Spot untuk berswafoto disediakan untuk anak muda yang aktif di media sosial. Pengujung yang mengunggah foto di media sosial menjadi promosi gratis. Café sawah menjadi magnet, ribuan orang berkunjung menikmati panorama alam dan penganannya.

wisata-maju-rakyat-sejahtera
Pengunjung bisa berpetualang menunggang motor trail dan ATV di sirkuit Pujon Kidul. (Terakota/Eko Widianto).

Setelah café sawah dikenal luas, masyarakat setempat membangun fasilitas penunjang. Mulai wisata berkuda dengan konsep kampung cowboy, petualangan menggunakan motor trail dan ATV, kolam renang dan pasar oleh-oleh. “Ada 48 homestay. Semua dikelola warga,” ujarnya.

Kampung budaya juga menarik wisatawan. Menyajikan permainan tradisional, dan menonjolkan sanggar seni di desa. Wisatawan bisa berinteraksi bersama-sama warga. Mengikuti kegiatan berkesenian. Konsep ini menempatkan masyarakat sebagai pelaku wisata, pemilik dan pengelola. “Investornya ya warga. Tak ada pihak luar berinvestasi di sini,” katanya.

Mengoptimalkan Potensi Desa

Dari total 4.297 penduduk, sebagian besar bekerja sebagai petani dan peternak. Jumlah sapi perah mencapai 1.600 ekor, memproduksi susu saban hari 9.500 liter. Susu dijual ke industri pengolahan susu melalui koperasi setempat. Peternakan sapi dan pertanian di sini turut berpotensi menyedot wisatawan.

“Dulu tak ada yang mengolah susu. Kini, karang taruna berinovasi membuat stick dan kerupuk susu,” katanya. Olahan susu ini menjadi oleh-oleh khas bagi para pengunjung. Edukasi peternakan dan olahan susu juga memiliki pasar yang loyal. Para pelajar. “Paket wisata edukasi peternakan Rp 25 ribu,” katanya.

Masyarakat bersinergi dengan BUMDesa yang mengelola café sawah. Sehingga masyarakat sadar wisata, dan saling bersinergi. Untuk mengikat kolaborasi ini dituangkan dalam Peraturan Desa tentang perngembangan dan pembangunan desa wisata 2016.

Perdes pula yang mengatur agar mempekerjakan rumah tangga miskin dan anak putus sekolah di café sawah. Hasilnya angka kemiskinan menurun. Pada 2017 jumlah rumah tangga miskin sebanyak 387, 2018 turun menjadi 257. Dari total penduduk 4.297 jiwa, kini sekitar 20 persen bekerja di sektor pariwisata.

wisata-maju-rakyat-sejahtera
Wisata penunjang berkuda juga menjadi pilihan keluarga dengan kampung cowboy. (Terakota/Eko Widianto).

Udi juga mengundang anak muda yang tengah merantau untuk berkontribusi bagi desa. Seperti Ibadur Rachman yang dulu merantau menjadi atlet sepak bola Persipon Pontianak, PPSM Magelang. Setelah banyak media mengulas café sawah di desanya, ia memutuskan kembali ke desa ikut terlibat membangun pariwisata.

“Jadi pemain bola saya membawa nama daerah orang. Tak ada kontribusi ke desa sendiri,’ kata Ibadur Rachman. Lantas, ia memutuskan kembali dan berkontribusi mengembangkan pariwisata di desanya.

Seorang bocah berlarian mendekat kolam, mendekati angsa dan ikan yang berenang di kolam. Riang, ia melihat ikan menari di dalam kolam. Ibu dan kakaknya mendekat, mereka berfoto bersama dengan latar kolam ikan. “Asyik, sejuk dan panorama alam indah. Tak ada di tempat lain,” kata wisatawan asal Jombang, Sri Rahayu. (*)

wisata-maju-rakyat-sejahtera
Keindahan panorama alam, hamparan lahan pertanian sayuran dan taman elok menjadi magnet wisatawan ke Pujon Kidul. (Terakota/Eko WIdianto).

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini