Wirausaha ala Santri  Sidogiri

Terakota.id—“Waalaikum salam”, pelayan toko swalayan Basmalah sidogiri menyapa ramah setiap pembeli. Pelayan toko mengenakan pakaian khas pesantren, mengenakan sarung dan berpeci hitam. Pembeli tampak senang, tak hanya pelayanan yang ramah harga pun tergolong ramah. Manajemen swalayan menetapkan dua harga, yakni harga jual eceran dan grosir. Sebotol minyak wangi seharga Rp 10 ribu, tapi harga turun menjadi Rp 8 ribu jika membeli lima botol lebih.

“Omset sekitar Rp 8 juta per hari,” kata salah seorang pelayanan swalayan, Muchsin. Toko yang terletak persis di depan sebuah pabrik air mineral ternama di Pasuruan ini dibuka sejak setahun lalu. Awal dibuka, omset penjualan tembus hingga Rp 5 juta. Pelanggan, selain pekerja pabrik air mineral juga warga perumahan di sekitar pabrik.

Toko dibuka mulai pukul 6.00 WIB hingga 21.00 WIB. Beragam kebutuhan rumah tangga tersedia, pembeli bisa memilih langsung dan harga bersaing menjadi daya tarik pembeli. Toko swalayan siap beradu dengan waralaba usaha ritail sejenis yang kini menjamur di setiap kecamatan.

Bahkan, sekitar 20 an toko kelontong di sekitar toko swalayanan juga berbelanja dan kulakan barang. Harga dijual secara grosir, sehingga pemilik toko tetap mendapat keuntungan. “Beli minyak goreng, diapers dan rokok,” kata pemilik toko Zibro, Lailah.

Lokasi toko berjarak sekitar 200 meter dari toko swalayan Sidogiri. Lailah yang berjualan sejak 15 tahun berbelanja jika ada sejumlah barang yang habis. Sedangkan sebagian besar barang belanja di pasar Pasuruan.

“Konsepnya toko swalayan tak membunuh toko di sekitarnya,” kata Manajer Utama BMT MMU, Dumaini Nor. Kini total berdiri sebanyak 48 toko swalayan Basmalah Sidogiri tersebar di sejumlah daerah di Jawa Timur. Kopontren juga mengundang investor dengan sitem bagi hasil.

Baca juga :  Parade Film Malang, Geliat Sineas Muda

“Manajemen dan pegawai dari Kopontren,” ujarnya.

wirausaha-ala-santri-sidogiri
Toko swalayan Basmalah melayani para pembeli. (Foto : Theriset).

Dua pabrik roti juga didirikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar. Aneka jenis olahan roti dan donat beragam rasa tersedia, dipasok ke pasar dan swalayan serta pesanan pesta pernikahan.

Rata-rata roti berlabel Bimatara Bakery memproduksi 25 ribu potong per hari. Produksi meningkat saat musim hajatan pernikahan. Produksi akan terus ditingkatkan untuk memenuhi pasar sekitar Jawa Timur. “Tanpa pengawet dan pemanis buatan,” kata kepala pabrik roti Bimatara, Ahmad Jalaludin.

Koperasi Pondok Pesantrem (Kopontren) Sidogiri, Pasuruan juga mendirikan pabrik air minum dalam kemasan bermerek Santri dan Giriway. Awalnya Kopontren bekerjasama dengan pabrik air minum di Probolinggo sejak 2007. Setelah air minum merek Santri mulai mewarnai pasar, Kopontren bekerjasama dengan ivenstor mendirikan pabrik di Rembang Kabupaten Pasuruan 2008.

Namun, kerjasama tak berjalan mulus hingga pecah kongsi. Pada Januari 2010 diresmikan pabrik air minum oleh Gubernur Soekarwo. Pabrik yang terletak hanya selemparan baru dari sumber Umbulan. Pabrik air minum Santri memanfatkan sumber berdebit 20 meter kubik per jam.

“Total produksi 64.860 liter per hari atau 7 ribu karton,” kata Plant Manager, Guntur Saichun. Pabrik mempekerjakan 40 pegawai sebagian besar adalah alumni santri Pesantren Sidogiri. Budaya santri pun masih lekat di kawasan pabrik. Awal bekerja Agustus 2010, Guntur memantau sejumlah pegawai bekerja mengenakan sarung dan sandal jepit.

Lantas, Guntur mengajak para santri untuk mengenalkan standar keamanan bekerja di pabrik air minum. Ia berpengalaman bekerja memproduksi air minum selama 22 tahun berhasil mengubah perilaku kerja. Lambat laun, sistem kerja semakin teratur dan terencana.

Hasilnya, Februari 2011 berhasil meraih sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 dan SNI. Kualitas air pun dipantau di laboratorium, serta diuji di laboratorium terakreditasi Sucofindo. “Sumber air stabil tak terpengaruh cuaca,” katanya

Baca juga :  Belajar Menulis dari Sang Sastrawan

Bekerja dan Berdoa
Air minum Santri diperlakukan istimewa, setiap pekerja berwudhu dan berdoa sebelum beraktifitas. Setiap pagi, puluhan pekerja antre berjajar mengambil air wudhu. Lantas mereka masuk ke pabrik bagian produksi dan berdoa bersama dipandu pimpinan pabrik.

“Sepekan sekali melakukan gerak batin atau istighotsah,” kata Manager HRD, Mustain Mahdlori. Tak heran jika alumni Pesantren Sidogiri fanatik dengan air minum santri. Sejumlah pelanggan, katanya, menyebut air minum santri berhasil menyembuhkan berbagai jenis penyakit.

Distribusi air minum Santri memanfaatkan jaringan alumni dan wali santri. Seluruh wilayah di Jawa Timur telah menjadi pasar air minum Santri. Berdiri sebanyak lima depo untuk penyimpanan dan distribusi. “Hanya Mojokerto dan Jombang yang belum tergarap maksimal,” ujarnya.

Air minum Santri disajikan dalam beragam kemasan meliputi gelas 250  mililiter (ml), kemasan botol 600 ml dan botol 1.500 ml. Sedangkan merek Giriway disajikan dalam kemasan 200 ml. “Harganya lebih murah,” kata Mustain.

Pabrik air minum menggunakan empat mesin produksi, namun hanya tiga mesin yang operasional. Kini, tengah dipasang instalasi mesin untuk produksi air galon. Sejumlah warung makan di Pasurun memajang air minum Santri sejajar dengan air minum kemasan merek terkenal lainnya. “Segar dan nikmat,” kata pelanggan air minum Santri, Samsul Arifin.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini