Wing Chun Bailong, Seni Pertarungan Jarak Dekat

Pendekar itu menyamar sebagai tukang sapu di Kelenteng Eng An Kiong. Ia hanya mengajarkan beladiri Shaolin Selatan dengan nama kuntao kepada kerabat-kerabatnya yang laki-laki serta Wing Chun kepada putrinya bernama Vivi Tan Gian. Pendekar itu dikenal bernama She Han Giok Gian. Kemungkinan besar bukan nama sebenarnya. Giok Gian kelahiran Cina. Ia lari ke Indonesia karena diburu tentara Jepang yang waktu itu menginvasi Cina. Ia menyembunyikan jati dirinya.

Terakota.id–Seni beladiri Wing Chun Bailong atau Wing Chun Naga Putih merupakan salah satu seni beladiri yang berkembang luas di Indonesia. Seni bela diri Wing Chun Naga Putih berawal dari Kota Malang. Tetap menjaga ciri khas, dan menjaga pakem Wing Chun tradisional dan ortodoks.

Cukup sulit menemukan alamat rumah master Wing Chun Naga Putih. Beruntung, hujan mengguyur tepat sesaat setelah Terakota.id tiba di depan rumah yang terletak di deretan paling pojok salah satu perumahan di Lawang, Kabupaten Malang. Sisi kanan pagar, bergantung lambang Yin dan Yang berukuran besar terpacak di sebuah tirai bambu.

Tirai bambu itu sekaligus menutup beranda rumah yang terhubung langsung dengan pagar. Tiga orang duduk bersila di beranda rumah. Bercakap sembari meminum kopi, asap rokok memenuhi ruangan, dua piring kudapan dan sepiring buah jeruk ikut menemani. Meski sekalipun belum pernah bertemu, mudah sekali mengenali seorang ahli beladiri ada di antara mereka bertiga.

Bertubuh gempal, rambut dicukur habis berkalung batu giok berwarna hijau. Ketika bersalaman, dengan jelas pangkal jari tangan kanan tampak kapalan. Menunjukkan jika ia sering menggunakan tangan untuk push up atau berlatih pukulan.

Pria bernama Gatut Suwardana ini merupakan master Wing Chun Naga Putih. Pria kelahiran Malang Mei 1964 ini akrab dipanggil master Dana.  Pada 1987, ia merantau ke Jakarta dan kini menetap di Bogor. Di sana, ia menetap dan sekaligus sebagai padepokan Perguruan Wing Chun Naga Putih. Meski begitu, setiap empat bulan sekali ia pulang ke Malang.

“Ya bisa dikatakan rumah ini rumah singgah kalau pas ke Malang,” ujar Master Dana mengawali cerita kepada Terakota.id, pekan lalu.

Para tetamu berpamitan, tinggal kami berdua. Master Dana mulai berkisah perkenalan dengan Wing Chun dan mengembangkan beladiri ini di nusantara. Saat berusia 10 tahun, pada 1974 dia dikenal badung dan suka berkelahi. Melihatnya peringainya, kakeknya, R.M Kusnadi mengikutkan berlatih kuntao untuk mengurangi kenakalan.

Kuntao merupakan seni beladiri dalam bahasa Hokkien, diciptakan oleh komunitas Tionghoa di Asia Tenggara. Khususnya kepulauan melayu. Kuntao sendiri punya arti, seni pertempuran. Kini lebih dikenal dengan istilah kungfu.

Sang kakek mempertemukannya dengan seorang pendekar kungfu yang tinggal di sekitar Kelenteng Eng An Kiong, Kota Malang. Awalnya, kata master Dana, pendekar itu tidak mau mengaku. Pendekar itu menyamar sebagai tukang sapu. Ia hanya mengajarkan beladiri Shaolin Selatan dengan nama kuntao kepada kerabat-kerabatnya yang laki-laki serta Wing Chun kepada putrinya bernama Vivi Tan Gian.

Master Gatut Swardana tengah berlatih menggunakan mok yan jong atau boneka kayu. (Terakota/HA. Muntaha Mansur).

Pendekar itu dikenal bernama She Han Giok Gian. Kemungkinan besar bukan nama sebenarnya. Giok Gian kelahiran Cina. Ia lari ke Indonesia karena diburu tentara Jepang yang waktu itu menginvasi Cina. Ia menyembunyikan jati dirinya.

“Kalau ditanya soal jati dirinya, pasti dia menjawab “kamu mau membunuh saya?” Dulu tidak berani mengejar dengan banyak tanya. Karena murid,” kata Master Dana mengenang.

Master Dana aktif latihan kepada She Han Giok Gian mulai 1975 sampai 1987. Kungfu selatan yang ia pelajari diawali dengan latihan fisik. Setelah itu, dilanjutkan teknik dasar. Baik kungfu maupun Wing Chun.

“Latihan fisik, mulai pemanasan, kuda-kuda, pukulan dan tendangan saja hampir tiga tahun,” ucap Master Dana kepada Terakota.id.

Orde Baru kala itu melarang keras apapun yang berhubungan dengan etnis Tionghoa. Karena itu, latihan kungfu pun dilakukan sembunyi-sembunyi. Tidak boleh orang tahu.  “Kalau ditanya orang latihan apa? Tidak boleh ngaku. Atau bilangnya umum saja. Kalau ketahuan bisa dibubarkan,” terang Master Dana.

Wing Chun Naga Putih

Sejarah Wing Chun melekat dengan sejarah Shaolin ketika zaman Dinasti Qing. Wing Chun merupakan teknik beladiri yang diciptakan oleh Bhiksuni Ng Mui. Waktu itu, ia bersama dengan keempat pendekar Shaolin lainnya. Tujuannya, mempersiapkan para Bhiksu Shaolin menghadapi serangan pasukan Dinasti Qing.

Kala itu, sebagian besar pendekar Shaolin masih pada level menengah. Mereka secara fisik sangat kuat, namun, teknik bertempurnya belum matang. Hingga akhirnya, kelima pakar beladiri tersebut memformulasikan sebuah teknik yang efisien, efektif, namun sangat mematikan.

Saat itu teknik tersebut belum mempunyai nama. Beberapa tahun kemudian, Bhiksuni Ng Mui mengajarkan teknik tersebut kepada Yim Wing Chun. Teknik yang semula tak bernama ini dinamakan Wing Chun, sesuai dengan nama pendekar perempuan tersebut.

“Wing Chun itu nama pendekar wanita. Beladirinya, ringkasan jurus panjang kungfu menjadi pertarungan jarak dekat. Terjadilah seni perang jarak dekat. Namanya, chi sou, fight sou atau tui sou,” terang Master Dana.

Awalnya, perguruan ini bernama Perguruan Kuntao Shaolin Naga Hitam. Waktu itu masih di bawah asuhan Grand Master She Han Giok Gian sampai meninggalnya sekitar tahun 1987. Setelah itu,  karena konotasi negatif masyarakat terhadap kata “hitam” maka diubah menjadi Kungfu Wing Chun Naga Putih. Filosofinya, kesucian dan naga simbol dari raga.

Secara de jure, Wing Chun Naga Putih berdiri tahun 1990. Universitas Gunadarma, Depok, merupakan cabang pertama kali. Menurut Master Dana, Wing Chun Naga Putih berusaha mempertahankan Wing Chun yang berasal dari China daratan yang berbeda dengan style Wing Chun pada umumnya yang berasal dari Hongkong.

Hongkong menjadi tempat pelarian Yip Man dari Foshan karena penjajahan Jepang. Sehingga, ada juga Wing Chun beraliran Yip Man. “Karakternya terletak pada pukulan satu  inci, pukulan setengah inci, hentakan satu inci dan hentakan  setengah inci. Dan tetap menjaga keasliannya dengan tidak mencampurkan dengan seni beladiri lainnya, Jet Kun Do misalnya,” ujar Master Dana menjelaskan.

Teknik Wing Chun tradisional dan orthodox, katanya, amat efektif dan mematikan. Teknik pertarungan jarak dekat ini didominasi oleh sekitar 75 persen pukulan dan hanya sekitar 25 persen tendangan. Wing Chun Naga Putih terdapat sekitar 80-an macam pukulan.

Hanya tiga macam tendangan rendah, Chuai TuiDeng Tui depan, Deng Tui serong, dan Du Li Bu – Deng Tui, serta satu tendangan tinggi, yaitu Li He Tui. Tendangan-tendangan itu menyasar persendian-persendian. Titik-titik penting yang mematikan.

Selanjutnya, pukulan dan tendangan tersebut dapat dikombinasi dengan empat macam kuda-kuda. Ma BuDing XieGai Bu, dan Du Li Bu. Dari sana dapat menghasilkan 500-an kombinasi gerakan. Bahkan serangan bisa ditutup dengan kunci-kuncian.

“Kalau untuk tangkisan, ada 25 macam pertahanan. Sebenarnya yang asli ada 50. Tapi tidak semua saya ajarkan. Khusus untuk militer dan anak buah saya yang dapat dipercaya,” jelas Master Dana.

Ia selama ini memang membedakan latihan umum dengan khusus. Umum ini berkaitan dengan pertandingan atau prestasi, beladiri, dan kesehatan. Sedang khusus adalah berkaitan dengan militer, tidak dipertandingkan

Wing Chun Naga Putih tidak hanya mengajarkan jurus tangan kosong. Tetapi juga kelihaian dalam menggunakan senjata. Mulai dari golok kembar, tifan, toya, naca, dan ruyung. Termasuk menggunakannya dalam kuncian.

Master Gatut Swardana berpose dengan mok yan jong atau boneka kayu. (Terakota/HA. Muntaha Mansur).

“Kuncian itu ada dua. Bisa lepas dan tidak bisa lepas atau mematikan. Bisa lepas ini untuk jalur prestasi, pertandingan atau umum. Yang tidak lepas diajarkan untuk militer. Karena kunciannya praktis, taktis, cepat, tepat, dan mematikan. Baik tangan kosong maupun kuncian senjata,” jelas Master Dana.

Wing Chun tidak bisa dilepaskan dengan mok yan jong atau boneka kayu. Dari sana teknik dan jurus dipelajari. Rumus dasarnya ada 10 pukulan. Mulai kepal sampai tangan terbuka. Dari pukulan kepada boneka kayu ini, juga dapat diketahui style Wing Chun-nya. Apakah ia menggunakan hentakan atau tidak.

Master Dana berdiri dan mencontohkan. Ia menunjukkan letak hentakan satu inci atau satu inci itu. Pukualannya tidak kosong. Setiap hendak memukul terlihat ia mengatur pernapasan. Dan itu lah yang menurutnya bagian dari qi gong (yin dan yang).

Wing Chun Naga Putih kini berpusat di Rumah Master Dana, Jalan Kenanga 5 Nomor 19, Perumahan Atsiri Permai, Citayam. Dan telah ada 25 cabang. Diantaranya; Malang, Bogor, Tangerang, Cibinong, Depok, Bandung, Malang, Sidoarjo, dan lain sebagainya.

Pendaftarannya mudah. Mengisi formulir pendaftaran di setiap cabang, membayar pendaftaran Rp 250 ribu, dan membayar seragam. Selanjutnya tinggal latihan rutin dan membayar iuran bulanan sebesar Rp 150 ribu. Digelar ujian setiap 4 bulan sekali. Latihan dimulai dari tingkat dasar sampai mencapai tingkatan tao atau sabuk hitam-merah.

“Sejauh ini belum pernah dapat murid yang sampai sabuk hitam. Paling tinggi murid sabuk merah. Sebenarnya, kalau serius delapan tahun bisa selesai. Rutin satu minggu dua kali dengan durasi latihan empat jam,” jelas Master Dana.

Langit kenbali cerah, hujan telah berhenti.  Senja itu, kami berpamitan setelah selama dua jam berbincang mengenai perkembangan Wing Chun.

Tinggalkan Pesan