Wayang Topeng Malang Berdarah Madura

Reporter : Givari Jokowali

Terakota.id–Puluhan orang duduk bersimpuh di Padepokan Glugu Tinatar atau Rumah Joglo, Landungsari, Dau, Kabupaten Malang. Sementara seniman topeng Malang, Cak Suroso tengah duduk bersila di tengah. Cak Suroso, merupakan cucu mendiang Maestro Topeng Malang, Mbah Karimun. Pelestari kesenian tari dan wayang topeng Malang asal Kedungmonggo, Karangpandan, Pakisaji, Kabupaten Malang.

“Saat ini Malang kembali gencar mengangkat topeng sebagai ikon Malang,” kata Cak Suroso membuka diskusi.

Ia menjelaskan sejarah kesenian tari topeng Malangan di Kedungmonggo. Kesenian tari topeng  dirintis Mbah Serun, yakni kakek buyut atau Cak Suroso. Dirintis mulai 1890-an, Mbah Serun mengalir darah etnis Madura bertubuh besar dan berkumis.

Mayoritas penduduk Dusun Kedungmonggo bagian timur mayoritas beretnis Madura. Namun, tak ada dokumen yang menjelaskan asal usul mereka. Salah satu ciri jika mereka beretnis Madura, adalah bahasa Madura yang menjadi bahasa keseharian anak dan cucu Mbah Karimun dan Mak Cilik.

Darah Madura yang mengalir ke tubuh Mbah Karimun mempengaruhi karakter tarian topeng Malang karya Mbah Karimun. Berlatar belakang Madura sehingga tarian dan gerakan terlihat lebih kasar ketimbang tari wayang topeng di Malang.

“Seperti dijelaskan peneliti Roby Hidayat bahwa tari topeng Malang bagian timur cenderung lebih halus” katanya.

Mbah Serun memiliki bakat seni yang terpupuk sempurna, berkat pamannya bernama Mbah Gunawan. Mbah Gunawan salah seorang yang memiliki keterampilan tari topeng sejak bekerja di perkebunan di Kalisuruk Lawang. Mbah Gunawan adalah murid Mbah Reni, seniman topeng Malang asal Polowijen, Kota Malang.

“Mbah Gunawan memiliki kesempatan belajar dengan Ki Reni.” Lantas keterampilan kesenian tari topeng dari Mbah Gunawan turun temurun diwariskan. Setelah mendirikan perkumpulan wayang topeng di Kedungmonggo. Diturunkan ke Mbah Serun dan berkembang kesenian wayang topeng Malang.

Mbah Serun meninggal 1930-an, perkumpulan diteruskan anak tunggalnya bernama asli Mbah Kiman alias Pak Priyo. Saat perang kemerdekaan keluarga Mbah Kiman mengungsi ke Ngajum. Selama pengungsian wayang topeng dan perlengkapanya dicuri dan sebagian rusak dimakan rayap.

Saat kondisi sulit itu, Mbah Kiman meninggal pada 1948. Kesenian wayang topeng dilanjutkan keponakanya Mbah Karimun. Pada 1950-an, Mbah Karimun beserta istrinya Juminah menghimpun penari dan pengrawit untuk menghidupkan kembali kesenian wayang topeng.

Dua tahun kemudian berhasil menyelnggarakan pementasan. Lambat laut banyak warga Malang yang mengundang wayang topeng saat hajatan. Tetapi sejak 1965 wayang topeng Mbah Karimun berhenti total. Lantaran gonjang-ganjing politik pasca tragedi 1965.

Pada petengahan 1970-an, Dusun Kedungmonggo memotivasi masyarakat untuk kembali mempelajari wayang topeng. Puncaknya pada 1978, kelompok wayang topeng menunjukkan aksinya di Istana Kepresidenan pada 1978.

Para seniman, mahasiswa, pegiat topeng dan akademikus membahas topeng Malang di Rumah Joglo. (Terakota/Givari Jokowali).

Kecelakaan lalu lintas menyebabkan Mbah Karimun tak bisa beraktivitas menari, lantaran kedua kakinya lumpuh. Namun, Mbah Karimun tetap memahat topeng berbagai karakter dalam budaya Panji. Mbah Karimun meninggal pada 2010. “Dilanjut cucunya, ya saya ini,” ujar Cak Suroso.

Pimpinan Padepokan Glugu Tinatar Cokro Wibowo Sumarsono menjelaskan sarasehan topeng diselenggarakan rutin setiap pekan. Tujuannya untuk mengajak warga Malang mengenal karakter dan tradisi topeng Malang dan epos Panji. “Rutin setiap minggu kita membahas topeng,” ujarnya.

Peserta sarasehan berasal dari berbagai daerah, tak hanya Malang. Bahkan warga Trenggalek, Kalimantan dan Nusa Tenggara Timur juga tertarik mengenal topeng Malang. Selain itu, peserta juga beragam profesi dan usia.

Sejumlah mahasiswa dari perguruan tinggi di Malang juga hadir menyimak sarasehan sampai selesai. Termasuk seniman dan para penari yang aktif melestarikan tari tradisi. Sarasehan diakhiri doa bersama.

 

 

 

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan