Wayang Malangan dalam Skema Wayang Jekdongan (Bagian-1) Wayang Gagrak Malang

Terakota.id-Jawa Timur memiliki kesenian wayang kulit yang dikenal Wayang Jekdong. Pagelaran Jekdong awalnya dilakukan keliling rumah penduduk. Seorang dalang memimpin lima hingga enam penabuh gamelan yang disebut panjak, niyaga, pengrawit.

Dengan mengusung peralatan, mereka menjejakkan kaki dari desa ke desa. Bulan Maret hingga November membawa berkah sebab banyak penduduk gelar hajatan. Wayang Jekdong ditanggap untuk menghibur tamu dan sanak kerabat pemilik hajat.

“Jekdong itu dulunya karena ada interaksi khusus antara kebrak dan kendang. Pertama kali digunakan kala perang,” papar Ki , dalang dan budayawan asal Sidoarjo dalam Webinar Membaca Jawa Timur-(an) Lewat Wayang Malangan, Rabu, 3 November 2021.

Wayang Jekdong menjadi tradisi bersama masyarakat Jawa Timuran area pengguna dialek Arek. Meliputi Lamongan, Gresik, Surabaya, Pasuruan, Sidoarjo, Malang, Mojokerto, Jombang dan sebagian Kediri.

Sarasehan Nasional PEPADI (Persatuan Pedalangan Indonesia) pada 10 Januari 1999 memutuskan nama Wayang Jawa Timuran untuk menyebut kesenian wayang se-Jawa Timur, termasuk Jekdong.  “Dihadiri sebelas perwakilan dalang wetanan/pinggiran/jekgongan/pesisiran juga pengrawit, pesinden, wartawan dan pecinta wayang,” kata Ki Surwedi menambahkan.

Ki Surwedi menilai nama Wayang Jawa Timuran terlalu sempit untuk mewadahi beragam kesenian wayang kulit di berbagai wilayah di Jawa Timur. Menurutnya, penamaan Jekdong justru menjadi ciri khas wayang di Jawa Timur.

“Ciri khas Wayang Jawa Timuran menggunakan empat pathet, pathet wolu, sanga, sepuluh, serang . Ini merujuk pakem Ki Soleh, dalang Malang, sesuai tradisi Panji Sepuh,” tuturnya.

Persebaran dalang berpengaruh di berbagai wilayah mencipta sub-gaya pagelaran Wayang Jekdong. Terdapat Sub-gaya Mojokertan, Trowulanan, Lamongan, Gresikan dan Malangan.

Suwarno mengajarkan wayang kulit gaya Malangan kepada para bocah (Terakota/Aris Hidayat)

“Perbedaan sub-gaya pagelaran ditemukan di irama gending, lagu-langgam ujaran dan gerak mikro tokoh wayang,” tulis Wisma Nugraha Christanto dalam artikel ilmiahnya berjudul AMEN : Tatakelola Wayang Jekdon dalam Tradisi Jawa Timuran.

Dalang dengan keunikannya melafalalkan dialek lokal berpengaruh pada makin beragamnya pengucapan kata, tekanan, intonasi, hingga vokabulari lokal. Tradisi verbal ini diturunkan melalui pewarisan dengan sistem cantrik atau pendidikan tradisional pedalangan.

“Anak murid melanjutkan praktek mendalang gurunya. Terapkan proses copiousness, imitating sekaligus modelling,” tulis Wisma Nugraha Christanto menambahkan.

Pertunjukan wayang Jawa Timuran selain menggunakan dialek Arek, juga dialek Jawa Tengahan dan Madura. Di beberapa daerah, dalang bahkan gunakan Bahasa Madura.

Wayang Malangan dalam Skema Wayang Jekdongan

Wayang Malangan merupakan istilah untuk menyebut gaya atau gagrak wayang Malang. Ki Surwedi memaparkan iringan musik Wayang Malangan telah ada sejak era Kerajaan Sengguruh. Konon musik pengiring menggunakan tiga titi laras, siji (ji), enem (nem), lima (ma).

“Dikembangkan Panji Sepuh (Panji Asmarabangun) jadi laras Pelog. Berbeda dengan wayang di wilayah utara Jawa Timur yang menggunakan laras Slendro,” ujar Ki Surwedi menambahkan.

Para wali penyebar agama Islam mengembangkan tiga titi laras (neng, nong, gung) jadi lima titi laras Slendro. Siji (ji), loro (ro), telu (lu), lima (ma), dan enem (nem).

“Mengajarkan shalat 5 waktu sejumlah 17 rakaat. Digambarkan melalui 5 nada dan jika kelima nada dijumlah, totalnya 17 (satu tambah dua tambah tiga, tambah lima, tambah enam),” kata Ki Surwedi memaparkan.

Ciri khas lain Wayang Malangan secara kasat mata, bentuk wayang dibuat lebih gemuk, pundaknya tidak simetris. Ki Surwedi menambahkan Wayang Malang saling memberi pengaruh dengan wayang di wilayah utara Jawa Timur.

“Dalang Malang dan muridnya tahun 1980 hingga 1990-an kerap bertandang ke kediaman dalang loran (daerah utara Sungai Porong, Sidoarjo, Porong, Pandaan, Pasuruan, Surabaya dan sekitar). Begitupun sebaliknya,” ungkap Ki Suwardi sembari mengenang rekannya. Ki Sleman, Ki Toyib.

Mbah Suwarno, pengasuh Sanggar Taruna Krida Rasa (Takir). Mengajar para dalang cilik. (Terakota/Aris Hidayat)

Perbedaan gagrak wayang Malangan dan wayang loran justru menginspirasi masing-masing pegiat pedalangan. “Di Malang, dulu tempat berkumpulnya di Studio Senaputra. Diadakan pagelaran wayang Malangan dan Mataraman, terjadi diskusi dan akulturasi pakem wayang,” papar Ki Suwardi.

Suyanto, akademisi Jurusan Pedalangan ISI Surakarta memaparkan perbedaan wayang gaya Malangan dan Jawa Timuran terletak pada pakem pathet, garap gending, garap catur, garap sabet dan garap sulukan. Pathet dalam pagelaran wayang di Jawa Timur kebanyakan menggunakan 4 jenis. Sementara Malang menggunakan 5 jenis, yakni pathet sepuluh, pathet wolu, pathet sanga, pathet wolu miring dan pathet serang.

Suyanto menambahkan, garap gendhing yang digunakan di Jawa Timur memiliki nama dan bentuk gendhing sama, Gandakusuma, yang membedakan penggarapan di Malang lebih dinamis.

“Malang dekat kesenian topeng, sehingga gendhing jejer Gandakusuma lebih dinamis. Pelungan disertai dodogan sesuai irama kendang,” kata Suyanto menjelaskan. Pelungan yang menjadi pakem pewayangan juga dinamis. Gending playon di Malang menggunakan siak sirep, atau ngaso (beristirahat).

“Dalang sambil ura-ura. Menggambarkan kharakter rakyat lokal Malang,” kata Suyanto.

Siak menjadi fenomena unik dari kesenian wayang di Malang, sebab tak berlaku di daerah lain. Transisi antar adegan merunut gaya Surakarta dan Yogyakarta menerapkan sesegan atau sirepan. Siak-an menjadi salah satu ciri khas wayang Malangan.

“Janturan dalam gendhing Gandakusuma dinamis menyesuaikan lagu gending. Berdialek kental gaya Arek,” kata Suyanto. Akhir janturan di Malang menyesuaikan jatuhnya cengkok gending pada kenong 5 gatra kedua.

Pocapan Malangan terdiri dari Pocapan Gadingan dan Pocapan tanpa Gadingan. Pocapan Gadingan meliputi paseban jawi, satriya mlampah, satriya matakaji, alas-alasan. Pocapan tanpa Gadingan terdiri atas gapuran dan sigegan.

Sementara untuk sabetan, Suyanto mengatakan sabeting wayang winengku gendhing (sabet-nya wayang berdasar lagu). Hal ini menandakan dalang Malangan dituntut bisa memahami gendhing. Minimal bisa melungi dan njantur gendhing Gandakusuma sesuai pakem yang dianut. Dalang belum diperbolehkan tampil jika belum menguasai gendhing.

“Garap sabet perang kupu tarung menjadi ciri khas wayang Malangan. Namun cengkok dan ragamnya berbeda tiap wilayah,” paparnya.

Sedangkan suluk di Malang meliputi Sendhon dan Gurisa. Sendhon yang biasa digunakan yakni sendhon pathet wolu ageng, sengkan atur pathet wolu, sendhon pathet sanga ageng, sendhon pathet sanga wantah, palugangsa, prabatilarso.

Kondisi Terkini Wayang Malangan

Ki Surwedi  menyebut wayang Malangan kini sulit dicari, akan memprihatinkan. Sepeninggal Ki Matadi, dalang kondang asal Sengguruh, kru pagelaran wayang berkurang. Beberapa sinden, pengrawit dan lainnya sudah menua. Generasi penerus hampir tak ada.

“Harapannya dalang di Malang segera merapat, adakan sarasehan. Ditutup dengan pagelaran, sebab wayang sebagai hiburan harus sering dipertontonkan,” kata Ki Surwedi.

Mengingat wayang Malang perlu dilestarikan, kini penggiat pedalangan di Candi Jago adakan pertemuan bulanan literasi wayang. Anak-anak SMP hingga SMA diajari nabuh gamelan pengiring pagelaran wayang. Menariknya pondok pesantren sekitar tertarik belajar nabuh musik pengrawit.

Benang ruwet perlu diudhari (benang kusut perlu diluruskan). Malang perlu epic, seperti dulu,” ungkap Ki Surwedi.

Kilas Balik Kebudayaan Malang

Malang secara umum terdiri dari tiga komunitas pertumbuhan sosial budaya, yakni priyayi (Malang selatan), Wong Gunung (Malang timur), budaya Majapahit (Malang barat). Kelompok priyayi ini berakar pada budaya keraton, khusunya keraton Surakarta. Penduduk awalnya bermigrasi dari daerah Jawa Tengah, dikenal sebagai Wong Kulonan. Kelompok ini digolongkan sebagai Wong Kidul Kali (orang selatan sungai Lesti).

“Wong Gunung bermukim di sisi timur Malang, tersebar di lereng pegunungan Tengger, Bromo, dan Semeru. Budaya yang berkembang disana berasl dari era pasca-Majapahit, kebanyakan berlatar belakang religi Hindu,” tulis Musthofa Kamal dalam artikel ilmiahnya, Wayang Topeng Malangan : Sebuah Sajian Historis Sosiologis.

Kepercayaan animisme, lantas dipengaruhi religi Hindu dan Budha melahirkan bentuk pertunjukan tradisional seperti Sodoran, Ujung, Jaran Joged dan Tayub. Tinggal pula kelompok etnis Madura di sisi timur Malang. Kebanyakan mereka bermukim di lereng utara dan timur pegunungan Tengger (Pasuruan, Probolinggo dan Lumajang).

Keturunan etnis Madura berasimilasi dengan penduduk lokal, dikenal dengan Wong Padalungan. Budaya Islami yang dibawa dari tanah Madura berkembang menghiasi hidup keseharian mereka. Hadrah, terbang-jidor, kuntulan, pencak silat, samroh hingga sandur.

Suyanto  menyebut Malang secara geografis dibagi menjadi empat ragam etnis kebudayaan. Gaya Mataraman (Surakarta) diterapkan di wilayah selatan Malang hingga Kali Lesti di perbatasan Kecamatan Bantur. Wilayah timur Malang hingga Lumajang juga menggunakan gaya Mataraman.

“Dua wilayah lain, sisi utara yang berbatasan dengan kali Porong dan sisi barat yang berbatasan dengan Gunung Kawi menerapkan gaya Malangan, meski tak sama secara keseluruhan,” tambah Suyanto menjelaskan.

Soerjo Wido Minarto, dosen Jurusan Seni dan Desain, Universitas Negeri Malang menyebut Malang Raya menjadi sumber dari peradaban budaya. Konon Malang menjadi wilayah ‘geografis nan kental kearifan lokal mulai bahasa, logat/dialek, adat istiadat, kesenian hingga pakaian. Malang dengan topografinya pegunungan membangun kebudayaan agraris.

“Malang satu-satunya daerah yang jadi lima ibukota/kadatwan (pusat kerajaan) kerajaan besar. Kanjuruhan, Mataram Kuno era Mpu Sendok, Purwa, Tumapel, Sengguruh,” kata Wido.

Malang merujuk pada wilayah administratif Kabupaten Malang, Kota Malang dan Kota Batu. Menurutnya di era kerajaan, Malang meliputi wilayah yang lebih luas timbang sekarang. Wilayah yang kini secara administratif menjadi Blitar, Kediri, Tengger, Lumajang konon masuk area Malang. Bahkan hingga sebagian wilayah Kediri.

Wido menambahkan terdapat tiga pertunjukan klasik era kerajaan di Malang. Drama, sering disebut juga matapukan  (tari topeng), Matapelan, Marakat. Pertunjukan wayang disebut awayang/aringgit. Kesenian lain yakni widitra (kesenian musik) dan mangidung.

Multikulturalisme telah dijalin warga Malang sejak era kerajaan. Berbagai etnis kebudayaan tumbuh berkembang, membentuk karakter orang Malang nan toleran. Etnis Mataraman, Madura, Pandalungan, Tengger, Cina, Arab serta etnis budaya lain tumbuh dengan saling berpengaruh, kesenian yang heterogen dan dinamis.

Suyanto menghimbau tradisi dan kesenian yang berbeda tak lantas disikapi dengan perbandingan dan perdebatan. Menurutnya sudah menjadi kepastian, tradisi akan berbeda, dipengaruhi latar belakang masing-masing wilayah. Ulasan benar atau salah justru menimbulkan perpecahan.

“Seni tradisi mencerminkan nilai yang diyakini, original karya warga sesuai latar budaya. Sehingga tak bisa dibandingkan antar daerah atau lintas kesenian,” tuturnya.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini