Wayang Cina, Dalang Jawa

Tujuh dalang wayang potehi di Indonesia, semuanya warga pribumi. Antara lain Ki Purwanto, Sonny Frans Asmara, Ki Subur, Ki Mujiono, Ki Slamet, Ki Pardi dan dirinya. Semuanya berkumpul di Klenteng Hong San Kiong, Gudo, Kabupaten Jombang. Mereka bergabung dalam kelompok Fu Ho An di bawah kepemimpinan Toni Harsono seorang pengusaha warga keturunan Thionghoa di Jombang. Rata-rata para dalang berusia lanjut, mulai 45 tahun sampai 60 tahun.

Terakota.id–Sebuah tenda berdiri di halaman kelenteng Eng An Kiong, Jalan Basuki Rachmat Kota Malang. Kursi berderet di bawah tenda, di depan sebuah bangunan kayu berbentuk rumah-rumahan menjadi panggung. Panggung dengan donimasi warna merah mencuri perhatian setiap pengunjung kelenteng.

Panggung setinggi tiga meter, berbentuk rumah-rumahan itu merupakan panggung pertunjukan wayang potehi. Widodo Santoso, 45 tahun, merupakan salah satu dalang atau Sehu dari tujuh dalang wayang potehi yang ada di Nusantara. Saban tahun baru Imlek, dia kebanjiran order pementasan di sejumlah tempat.

Widodo merupakan bagian dari kelompok wayang potehi dari kelompok Fu Ho An, Jombang. Kelompok wayang potehi Fu Ho An pimpinan Toni Harsono alias Tok Hok Lay seluruh pemain mulai dalang dan pemusik warga pribumi, beragama Islam. Ada akulturasi budaya dan agama. “Saya Islam dari Suku Jawa. Pemimpinnya warga keturunan Thionghoa,” tutur Widodo.

Tahun ini, dia menggelar pertunjukan di Kelenteng Eng An Kiong khusus memperingati tahun baru Imlek. Wayang potehi khas kesenian Thionghoa biasanya digelar selama sebulan, pementasan non stop setiap hari. Sehari dua kali tampil, pukul 16.00 WIB dan 19.00 WIB. Masing-masing dua jam.

Pagelaran wayang potehi di Malang sangat ditunggu masyarakat, dulu digelar saban tahun saat Imlek. Namun vakum selama lima tahun, dua tahun terakhir pagelaran wayang potehi kembali aktif. “Pementasan wayang potehi untuk ikut melestarikan seni tradisi,” katanya.

Wayang potehi yang dalam serapan Bahasa berdialek Hokkian artinya boneka atau wayang kantong. Widodo belajar menjadi dalang wayang potehi sejak usia 20 tahun. Berawal dari kegemaran Widodo menonton pertunjukan wayang potehi pada 1980-an. Lelaki asal Blitar ini menonton wayang potehi di kelenteng yang terletak di depan rumahnya.

“Dulu tak banyak hiburan, penonton berjubel,” katanya. Usai pementasan, ia mendekati panggung bertemu sejumlah pemain wayang potehi. Berkenalan hingga semakin akrab. Mulai 1993, ia belajar mendalang. Lantas Widodo ditawari untuk belajar memainkan

Di balik panggung, Widodo Santoso memainkan wayang potehi diiringi para pemusik. (Terakota/Eko Widianto).

Karena suka dan tertarik wayang potehi, Widodo semangat belajar bermain wayang potehi. Dia mengawalinya sebagai asisten wayang. Menyiapkan wayang sesuai karakter yang dibutuhkan dalang. Menjadi asisten dalang, dia semakin mengenal karakter wayang potehi sesuai tuntutan cerita.

Belajar langsung ke dalang semakin mempercepat proses belajar, Widodo juga semakin mantap belajar mengenal wayang boneka khas negeri tirai bambu ini. Saban hari dia ikut pementasan, karakter dan cerita dia hafal. Ada 155 karakter dalam 25 cerita.

Termasuk belajar Bahasa Hokkian yang selama ini asing bagi lidah yang hanya akrab dengan Bahasa Jawa sebagai bahasa ibu bagi Widodo. Setelah sekian lama menjadi asisten, pada 2011 dia dipercaya untuk menjadi dalang. Aktivitas berkesenian wayang potehi tak hanya melestarikan tradisi Thionghoa, sekaligus juga menjadi pekerjaan utama baginya.

Kini, dari ketujuh dalang wayang potehi di Indonesia, semuanya warga pribumi. Antara lain Ki Purwanto, Sonny Frans Asmara, Ki Subur, Ki Mujiono, Ki Slamet, Ki Pardi dan dirinya. Semuanya berkumpul di Klenteng Hong San Kiong, Gudo, Kabupaten Jombang.

Mereka bergabung dalam kelompok Fu Ho An di bawah kepemimpinan Toni Harsono seorang pengusaha warga keturunan Thionghoa di Jombang. Rata-rata para dalang berusia lanjut, mulai 45 tahun sampai 60 tahun.

Kelompok Fu Ho An didukung para pemain musik, total berjumlah 40 orang. Saat Imlek seperti saat ini, mereka menyebar bermain di beberapa daerah. Namun, karena keterbatasan seniman wayang potehi setiap kelompok harus bermain kompak.

“Jika salah satu pemain berhalangan, sakit misalnya, kita sulit mencari pengganti. Apalagi pementasan di daerah yang jauh,” katanya.

Kehilangan Penerus

Wayang potehi mulai kehilangan penerus untuk regenerasi. “Semarang tinggal satu orang. Tapi sudah tak aktif lagi, faktor usia.”

Sebagian besar dalang dan pemain terikat dalam tali persaudaraan. Seperti Widodo, dia juga mengajak kakak dan adiknya untuk bermain wayang potehi. Lantaran kesulitan mencari pengganti atau orang lain untuk belajar wayang potehi.

Padahal, setiap pementasan dalang terbuka siapapun untuk belajar dan bermain wayang potehi. Terutama warga yang berada di sekitar kelenteng. Namun, jarang anak muda yang bersedia belajar. Apalagi anak muda keturunan Thionghoa, nyaris tak ada regenerasi.

“Warga keturunan sendiri kurang minat. Pemerintah juga tak mendukung. Padahal saya terbuka bagi siapa saja yang mau belajar,” katanya. Untuk mendekatkan ke tradisi Jawa, Widodo tengah berusaha menciptakan wayang potehi ludruk. Yakni wayang potehi dengan karakter dan cerita ludruk yang menjadi legenda masyarakat Jawa Timur.

“Pementasan dengan cerita ludruk, agar bisa diterima masyarakat luas,” ujarnya.

Ia bersyukur bisa menjadi dalang selain turut melestarikan seni tradisi Thionghoa sekaligus mengenal berbagai karakter di berbagai daerah. Widodo telah keliling Indonesia bahkan juga menggelar pementasan Jepang, Taiwan dan Cina. “Memakai Bahasa Indonesia, ada penerjemah,” katanya.

Berangsur-angsur, pementasan wayang potehi mulai terbuka. Masyarakat kembali menyukai wayang potehi. Pagelaran wayang tak hanya di kelenteng, tetapi juga di rumah ibadah lain, perusahaan dan atas permintaan perseorangan. Mereka juga bisa memesan atau menyodorkan jalan cerita yang harus dipentaskan.

Meski seorang muslim dan berasal dari suku Jawa, sebelum pementasan ia senantiasa memakai ritual dan sesaji. Seperti tiga jenis buah yang selalu ada selama pementasan. Sedangkan jika pementasan di kelenteng, pengurus kelenteng memulai dengan ritual yang diyakini umat Khonghucu setempat.

“Istilahnya memohon izin agar pentas berjalan aman dan selamat. Setiap kelenteng memakai ritual.” Maklum, pementasan digelar selama sebulan penuh dan dilakukan saban hari. Sehingga tak ada alasan untuk meniadakan pementasan, setiap hari harus tetap menggelar pertunjukan.

“Saya muslim dari Jawa. Siapa saja yang mau belajar wayang potehi.” Ia menyebut terjadi pembauran suku dan agama dalam kesenian wayang potehi. Kesenian yang berumur 3 ribu tahun ini sekarang telah menjadi perekat kebhinekaan. Setelah sejak orde baru, semua kesenian berlatar Thionghoa dilarang dipentaskan di depan umum.

Membangkitkan Warisan Leluhur

Tangan dingin Toni Harsono yang mengembalikan kesenian yang jarang dipentaskan sejak orde baru. Setelah reformasi, Toni mengumpulkan teman dan para seniman wayang potehi yang tersebar di Blitar, Kediri, Tulungagung, Malang dan Surabaya. Dia membangkitkan kembali kesenian yang diwarisi dari kakeknya Tok Su Kwie. Kelompok wayang poteni Fu  Ho An ini tak aktif setelah Tok Su Kwie meninggal.

Mereka juga memperbaiki dan membuat boneka wayang potehi sesuai dengan karakter yang dibutuhkan. Ada tiga pekerja yang bertugas membuat boneka wayang potehi di Gudo. Wayang potehi masuk ke Jawa diperkirakan jauh sebelum Kerajaan Majapahit berdiri pada abad XII-XIV. Kesenian peranakan Thionghoa ini bertahan karena kuatnya toleransi dan usaha merawat keberagaman.

Sejarawan Universitas Negeri Malang Mudzakir Dwi Cahyono menjelaskan jika sebelum 1965, kesenian tradisi marak karena ada bingkai politis tak hanya kompetitif antar kesenian. Setiap partai politik saat itu, katanya, mendirikan lembaga seni budaya tujuannya untuk mencari pengaruh guna mendulang suara dalam Pemilu.

Kesenian juga dianggap efektif untuk menyampaikan pesan ideologi partai politik kepada calon pemilih. Selain itu, Presiden Sukarno juga sosok tokoh yang mencintai kesenian tradisi. Sehingga beragam kesenian tumbuh subur.

Akulturasi budaya Cina-Jawa juga memicu persilangan budaya. Wayang potehi atau wayang titi, kesenian tradisi Cina dimainkan oleh orang Jawa. Termasuk Liang Liong, kesenian ini sering dipertunjukkan oleh orang Jawa dalam setiap perayaan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia.

Aroma harum dupa menyeruak di areal kelenteng Eng An Kiong. Widodo akan tetap menggelar wayang potehi, meski penonton hanya segelintir. Selama pembuka pementasan, ia menggunakan bahasa Hokkian sebagai pakem bermain wayang potehi. Selanjutnya, pertunjukan menggunakan Bahasa Indonesia.

Wayang potehi rutin digelar saban hari meski minim penonton. (Terakota/Eko Widianto).

Wayang potehi berjudul Hong Kiauw Lie Tan sering dipentaskan. Kisah perjalanan dinasti Tong Tiauw sering disajikan dalam pementasan. Cerita disajikan secara bersambung. Widodo akan memulai pementasan di kelenteng Eng An Kiong 19 Februari 2018 mendatang.

 

Tinggalkan Balasan