Warung Mak Tar, Memeram Rindu, Merekam Kenangan

Terakota.id–Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Malang pasti pernah mencicipi masakan di Warung Barokah : Mak Tar. Rasa nikmat, kenyang dan harga bersahabat menjadi salah satu pilihan mahasiswa. Warung persis berada di samping utara gerbang UIN Malang Jalan Sunan Ampel, di tepian jalan Gajayana Kota Malang.

Seporsi nasi lengkap dengan sayur, sambal, dan lauk tempe atau tahu cukup membayar Rp 5 ribu. Soto dan rawon seharga Rp 8 ribu per porsi. Aneka masakan lain juga tersedia antara lain nasi pecel, nasi ayam kecap, nasi campur, dan pecel lele. Tidak ketinggalan, secangkir kopi hitam kental seharga RP 3 ribu. Saban hari, warung buka mulai pukul 07.00 WIB sampai 21.00 WIB.

Wijiati, 73 tahun, lebih dikenal dengan nama Mak Tar, diambil dari nama suaminya sibuk melayani pembeli. Mengenakan kebaya dan kain jarik, berjilbab ungu, ia mondar mandir cekatan bekerja. Rambut berwarna putih keperakan menjembul dari balik jilbab ungu, guratan di wajah tampak jelas terlihat. Meski telah sepuh, tak menyurutkan semangat Mak Tar untuk tetap bekerja.

Berjalan agak bungkuk, cekatan Mak Par mengambil nasi dan lauk di atas sebuah piring, melayani pembeli. Mak Tar menjadi sosok legendaris bagi mahasiswa UIN Malang dan siapapun yang pernah singgah di kantin Ma’had putra UIN Malang. “Mulai berjualan sejak 17 tahun lalu,” tutur Mak Tar.

Waktu itu, katanya, kampus UIN Malang belum dipenuhi bangunan megah seperti sekarang. Pertama kali membuka warung di kantin kampus UIN Malang berbarengan dengan pembangunan gedung ta’mir Masjid. Warung makannya menjadi saksi pembangunan gedung al-Ghozali, Ibnu Sina, Ibnu Rusdi, Kholdun, al-Farobi, rumah dewan Kiai, dan halaqoh. Semua gedung itu kini bisa dijumpai jika berkunjung di seputaran Ma’had putra UIN Malang.

“Awal warungnya masih seperti gubuk derita.”

Dulu, katanya, kuli bangunan gedung kampus langganan makan siang ngebon di warung Mak Tar. Setiap pekan biasanya setelah mendapat upah mereka membayar tunai. “Ada yang nakal, habis bayaran nylintut gak mau bayar,” katanya.

Merekam Masa Lalu

Mak Tar menunjukkan foto kenangan semasa berjualan di kantin UIN Malang. (Terakota/HA. Muntaha Mansur).

Setelah dibangun kantin baru, Mak Tar terusir. Mak Tar menunjukkan sejumlah foto masa lalu, merekam peristiwa dan aktivitas di warung yang dikelolanya. Bingkai foto menjadi narasi suka dan duka Mak Tar mengelola warung makan di kantin UIN Malang

.”Bu Askur, Mas Jamal, Bu Kaji Syam, juga diusir bareng. Kalau tidak salah 2013,” kata Mak Tar menceritakan kepada Terakota.id.

Belasan tahun Mak Tar menggantungkan hidup dari berjualan makanan di kantin kampus UIN Malang terpaksa pindah. Tak ada pilihan lain kecuali angkat kaki. Bangunan kantin baru khusus diperuntukkan bagi keluarga, kerabat dan teman dekat pegawai UIN Malang. Meja dan kursi yang catnya baru kering terpaksa ditinggal.

“Lebaran kurang tiga hari, kami semua dipanggil. Pokoknya setelah Hari Raya harus pindah. Padahal baru saja ngecat meja dan kursinya,” ujar Mak  Tar menjelaskan.

Mak tar dan suami memeras otak mencari lokasi baru berjualan. Nyaris putus asa,  sampai menemukan sebuah rumah toko atau ruko dua lantai yang ditempati sekarang. Tarif sewa kepalang mahal, tak terjangkau. Ia harus merogoh dalam-dalam, senilai Rp 84 juta untuk sewa selama dua tahun. Sebelumnya di kantin UIN Malang, awalnya tariff sewa Rp 5 juta terus naik sampai Rp 18 juta.

Tiga tahun pertama, Mak Tar harus mengencangkan ikat pinggang. Penghasilannya saban bulan tak sampai separuh dari penghasilan saat berjualan di kantin UIN Malang. Sementara, ia harus membayar sewa ruko termasuk membayar listrik, air, dan gaji pegawai.

“Rasanya megap-megap. Mau tidak dilakoni terus aku nyambot gawe opo (kerja apa, Red.)?,” tanya Mak Tar. Ia mengaku terbiasa melayani para mahasiswa, tak enak kerja jauh. Sementara Mak Tar tak memiliki anak sehingga menjual makanan merupakan gantungan hidup baginya.

“Mak Tar, mboten punya anak. Gak ada yang dijaluki,” ujar Mak Tar menerangkan.

Ruko dua lantai itu selain menjadi warung sekaligus menjadi tempat tinggal. Keduanya tinggal bersama, suaminya saban pukul 03.00 WIB dini hari bersama berbelanja ke pasar untuk bahan masakan di warung. Para mahasiswa langganannya, tak pernah lupa cita rasa masakan, harga murah dan layanan Mak Tar seperti keluarga.

Setelah lulus, kadang para pelanggan sengaja balik ke Malang mampir ke warung Mak Tar. Sekedar bernostalgia atau mencicipi masakan Mak Tar yang lezat di lidah dan ringan di kantong. “Nek nang Malang mampir (Kalau ke Malang mampir). Pernah ada dari Aceh, Madura, Jember madosi (mencari) Mak Tar di kantin ma’had tidak ketemu. Akhirnya ketemu di warung yang baru,” tutur Mak Tar.

Ia berharap warungnya semakin ramai.  Siapapun yang pernah mengenal Mak Tar dan kebetulan berkunjung ke Kota Malang, silahkan mampir. Atau kebetulan sedang lewat di sekitar warungnya, silahkan sejenak singgah.

Mungkin, di balik wajah Mak Tar yang menua, terselip kerinduan untuk kembali muda dan menjadi mahasiswa yang penuh semangat. Tak hanya itu, di balik harga setiap menunya, bisa jadi terselip kenangan kala menjadi mahasiswa dengan isi dompet yang pas-pasan.

Bukankah kuliner juga berkelindan dengan kenangan?

 

 

2 KOMENTAR

  1. Dulu saat masih di area kampus. Warung mak par merupakan area produktif para mahasiswa untuk berdialek mesra bersama bendera masing-masing. Apa lagi kala maba tiba. Semua organisasi omek bakalan menyerbu nyepik maba agar kepincut aktif di organisasi tsb. Mulai PMII, HMI, IMM, hingga organisasi berbasis pesantren semacam HIMMABA, IKAPPMAM, HAMAM, PERMADA, dll.

  2. “wak tar pesen pecel campur rawon ” iku jare wak yenk teater k2 iain malang. dulu awal pembanganunan ma’had warung wak tar lah yang melayani para kuli bangunan untuk makan, sejak itu warung wak tar jadi bascamp ke 2 bagi anggota tk2 untuk cari inspirasi ada pudi, burhan, kancil,dewo, fatherlan, abu choir, dedi wah banyak kalau disebutkan. ya dari warung kecil hingga pindah beberapa kali samapi masuk kantin ma’had balo k2 tetap jadi pelanggan wak tar.

Tinggalkan Balasan