Warisan dari Gang Tato

Gubuk baca dibangun para pemuda desa bergotong-rotong sejak setahun lalu. Sekitar delapan pemuda jengah dengan stigma negatif yang terlanjur melekat di kampungnya. Pemuda setempat dikenal sebagai anak nakal, suka mabuk-mabukan, tawuran dan sekujur tubuhnya dipenuhi tato. Sebagian bahkan harus berurusan dengan polisi, maklum gang tato hanya selemparan baru dari kantor polisi.

Semangat Sumpah Pemuda (3)

Terakota.id–Duduk bersimpuh, tangan Aril memegang buku pengetahuan alam. Pandangan mata siswa kelas empat sekolah dasar ini fokus menatap buku dan sesekali membaca dengan keras. Sementara empat teman sebayanya juga larut dalam buku bacaan, sebagian yang lain bermain permainan tradisional. Saban malam, sebuah gubuk dengan struktur bangunan bambu bernama ‘gubuk baca gang tato’ ramai. Anak-anak bermain, bermusik sekaligus membaca buku.

Gubuk baca gang tato terletak di RT 4 RW 2 Desa Kemantren, Jabung, Kabupaten Malang. Duduk di bangunan berbahan bambu ini nyaman bagi anak-anak, mereka bisa melahap aneka bacaan dan bermain bersama. Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam di gubuk baca. Sebuah rak buku yang menyimpan sekitar 200 eksemplar menjadi salah satu magnet.

Gubuk selebar dua meter dan panjang enam meter ini dilengkapi beragam ornamen dan hiasan yang menarik. Mulai kertas origami, aneka kerajinan bekas botol plastik sampai topeng karakter panji khas Malang berbahan kertas menempel di dinding.

Aril rutin saban hari mengunjungi gubuk baca bersama teman sebayanya. Kegembiraan dan keceriaan tersirat dari pancaran wajah mereka saat memilah buku di rak. Selain membaca buku, mereka juga mendapat bimbingan belajar. Sejumlah mahasiswa silih berganti datang untuk memberikan bimbingan. Agar para siswa bisa menyerap pelajaran sekolah dan menyelesaikan tugas sekolah.

“Senang, suka membaca majalah dan komik,” kata Aril. Dia biasa menghabiskan waktu di gubuk baca sepulang dari sekolah mulai pukul 13.00 sampai 16.00 WIB. Malam hari, usai salat isya dan mengaji mereka juga berkumpul di gubuk baca. Orang tuanya juga lebih tenang, mereka tak lagi bermain jauh dari rumah.

Kenakalan Warisan Turun Temurun

Anak-anak di Jabung, Kabupaten Malang memilih menghabiskan waktu di gubuk baca. Belajar sambil bermain.
(Terakota.id/Eko Widianto)

Gubuk baca dibangun para pemuda desa bergotong-rotong sejak setahun lalu. Sekitar delapan pemuda jengah dengan stigma negatif yang terlanjur melekat di kampungnya. Pemuda setempat dikenal sebagai anak nakal, suka mabuk-mabukan, tawuran dan sekujur tubuhnya dipenuhi tato. Sebagian bahkan harus berurusan dengan polisi, maklum gang tato hanya selemparan baru dari kantor polisi.

“Warga luar menyebut kampung ini dengan gang tato,” kata  Febri Firmansyah, 32 tahun, yang akrab disapa Lukas. Di dalam gang yang dihuni 45 keluarga ini, dulu pemuda desa menghabiskan waktu dengan minum-minuman keras termasuk merajah tubuhnya dengan tato. Tato tak dikerjakan tenaga profesional, mereka belajar otodidak membuat tato secara bergantian.

Lukas merajah sebagian lengannya dengan tato, dia tertarik membuat tato karena pergaulan. Lingkungan sekitarnya, kakak-kakaknya juga bertato. Gara-gara dianggap nakal itulah, dia kesulitan bergaul dengan anak yang baik. Dia kerap dipandang sebelah mata. Rata-rata pemuda desa tamatan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama.

“Kenakalan ini diwariskan turun-temurun. Sampai kapan akan terus begini?,”tanyanya. Lukas tak ingin mewariskan sesuatu yang buruk bagi adik-adiknya. Dia ingin memutus mata rantai kenakalan. Melalui jejaring media sosial, dia berkomunikasi dengan banyak komunitas termasuk penggagas Gubuk Baca Lentera Negeri, Fachrul Alamsyah yang akrab disapa Irul. Gayung bersambut, Irul rutin membuka perpustakaan keliling di desa sekitar jabung, akhirnya mampir di gang tato.

Menempati halaman rumah Lukas, digelar sekitar 100-an aneka buku untuk anak-anak. Puluhan anak-anak menyambut dengan suka cita, membaca semua buku yang tersedia. Anak-anak tak puas hanya membaca sehari, akhirnya Irul merelakan sebagian buku koleksinya ditinggal. Lantas Lukas dan pemuda desa lain berinisiatif membangun gubuk baca di halaman rumah Lukas.

Para pemuda yang bekerja sebagai buruh tani, sopir, dan pengamen ini meluangkan waktu di sela-sela kesibukannya bekerja. Mereka juga tak lagi menjamah minuman keras, tak tawuran maupun berjudi seperti sabung ayam jago. Dia mendapat tantangan, teman-teman tetangga desa yang sebelumnya akrab dengan minuman keras mulai menjauh.

“Sudah gak asyik lagi,” kata Lukas menirukan ucapan temannya. Belakangan, mereka memahami setelah mengetahui jika Lukas tengah mendirikan gubuk baca untuk anak-anak. Bahkan, sebagian membantu mereka seperti Khoirul Anam paling rajin dan giat membantu mendirikan gubuk baca.

Membaca, Bermain dan Bermusik

Lukas mengenalkan aneka permaianan anak-anak di gubuk baca gang tato. (Terakota.id/Eko Widianto).

Setelah gubuk baca berdiri, banyak komunitas yang memberikan membantuan seperti menyumbang buku, melatih keterampilan dan memberi bimbingan belajar. Lukas juga mengajak anak-anak bermain permainan tradisional, seperti egrang, dakon, dan petak umpet. “Belajar sambil bermain, seusia mereka kan masanya bermain,” katanya.

Lingkungan juga mendukung, anak-anak jarang bermain gawai atau gadget. Mereka lebih memilih bermain dengan teman sebaya untuk membangun karakter pribadi. Suprianto alias Kampret juga menggali alat musik tradisional seperti Karinding. Alat musik khas Sunda ini mereka mainkan di sela-sela anak-anak belajar dan membaca buku.

Suprianto membuat dan memainkan Karinding secara otodidak melihat video di YouTube. Lelaki yang bekerja sebagai pengamen ini memiliki keterampilan bermain musik, sehingga tak sulit membuat dan memainkan. “Di Tuban Jawa Timur juga ada alat musik serupa namanya Rinding. Hampir punah, tak pernah dimainkan dua generasi,” ujarnya.

Di tangan mereka, Karinding dipadukan dengan alat musik tradisi celempung dan Rain Stick asal Aborigin. Alat musik itu dimainkan untuk pengiring lagu dolanan anak maupun salawatan. Mereka kerap mengisi berbagai acara beragam komunitas dan penggerak literasi di Malang. Pemuda desa memberi pelatihan membuat alat musik karinding, celempung dan rain stick dan memainkan kepada anak-anak dan pemuda desa yang lain.

Mereka juga belajar membuat topeng Malang dan kerajinan dari barang bekas. Selama ini, mereka bergerak secara swadaya tak pernah mendapat bantuan dari pemerintah setempat. Tak hanya menerima bantuan, anak-anak juga diajak untuk berbagi. Setiap pekan mereka  diajak berkeliling dari desa satu ke desa satunya. Sambil membawa aneka buku bacaan, serta mengajari adik-adik kelas.

Dampaknya aktivitas gubuk baca lentera negeri dan gubuk baca gang tato telah memperngaruhi pemuda desa yang lain. Total ada 10 rumah baca yang berdiri di sekitar Jabung.  “Merintis dan berkembang bersama-sama.”

Fachrul Alamsyah berbangga gubuk baca yang dirintis dengan Lukas berkembang dan memiliki jaringan luas. Sejak awal, katanya, dia ingin membantu kebutuhan membaca anak-anak di gang tato. Mereka bergotong royong dan mendapat dukungan berbagai pihak. “Kami belajar dan berjuang bersama-sama menjadi lebih baik,” ujarnya.

Bupati Malang Rendra Kresna mengapresiasi perubahan yang terjadi di gang tato. Dia berharap gerakan serupa menular ke tempat lain. Pendidikan dan buku, katanya, merupakan sumber ilmu pengetahuan. “Gubuk baca gang tato bisa memotivasi kampung lain untuk melakukan gerakan serupa,” katanya.

Total saat ini berdiri sebanyak 90 perpustakaan di desa dari 378 desa di Kabupaten Malang. Pemerintah telah menyalurkan sebanyak 20 ribu judul buku, terdiri dari buku sastra, politik, sosiologi, dan pengetahuan agama.

Memperingati Sumpah Pemuda, Terakota.id menurunkan laporan tokoh pemuda yang menjadi pahlawan dalam bidang seni, budaya, sejarah dan pariwisata.

 

Tinggalkan Pesan