Wani Silit Wedi Rai

Oleh : Nurudin*

Terakota.id–Jika Anda mendapatkan teman yang suka bicara kejelekan atau suka menggunjing orang lain saatnya perlu hati-hati. Mungkin Anda terhibur. Anda tertawa. Tetapi Anda perlu yakin, teman itu akan membicarakan kejelekan dan menggunjing Anda dengan orang lain pula. Untuk kali ini Anda perlu percaya saya dulu.

Juga, jika Anda mendengar atau bersama teman yang senang membuat guyonan dengan bahan guyonan teman yang lain, sekali lagi Anda juga perlu yakin. Suatu saat Anda akan dipakai contoh untuk membuat guyonan serupa.

Lalu, jika ada teman yang suka menyalahkan atasan dengan menghindar setiap persoalan yang sebenarnya salah teman Anda itu, Anda juga yakin suatu saat Anda akan disalahkan. Jika Anda berposisi anak buah, teman Anda itu bisa jadi dengan gampangnya menyalahkan pula.

Jika seseorang itu senang memuji atasan. Secara tidak langsung ada pelajaran penting; teman Anda itu juga senang dipuji. Jika ada teman yang suka memberikan hadiah pada atasan, maka dia sebenarnya juga sangat suka diberikan hadiah oleh bawahan. Dalam hal ini Anda perlu percaya terlebih dahulu pada saya.

Bisa jadi Anda menganggapnya biasa. Tetapi suatu saat, jika teman yang suka menggunjing itu tidak suka pada Anda, gunjingan akan lebih sadis lagi. Bahkan Anda akan dikorbankan untuk meraih kepentingannya. Orang tipe begitu akan dengan mudah “mengorbankan” orang lain untuk kepentingan diri.

Namun, orang-orang model di atas yang banyak omong itu biasanya hanya pinter omong. Artinya pula, dia hanya berani berbicara saat yang dijadikan “korban” tidak di depannya. Jika ia berhadap-hadapan, sangat mungkin ia akan menjadi orang yang penakut. Ini masuk dalam kriteria orang yang tak mau bertanggung jawab. Banyak omong sering mencerminkan diri jauh dari tanggung jawab atas omongannya.

Orang-orang model di atas, berani mengatakan banyak hal tentang orang lain itu. Tetapi sangat penakut jika bertemu langsung. Artinya, tidak akan mungkin bicara yang memojokkan. Kalau perlu justru memuji. Tak heran jika secara kasat mata ia baik, namun di belakang akan mudah menelikung.

Pengecut

Dalam bahasa Jawa, orang model seperti masuk dalam istilah “Wani Silit Wedi Rai”. Wani (berani), Silit (dubur), Wedi (takut), Rai (muka). Nah, peribahasa ini biasanya untuk menggambarkan sikap seorang pengecut. “Wani silit” bisa diartikan seseorang hanya berani dari belakang, tidak berani bertanggung jawab terhadap apa yang diperbuatnya. “Wedi rai” berarti takut mengakui kesalahan dan takut untuk bertanggung jawab pada apa yang telah diperbuat.

Tootbag dengan desain klasik bertulis Wani Silit Wedi Rai (Desain : IQRO kanacaraka).

Dalam perkembangannya, orang-orang model seperti itu akan mudah memanfaatkan orang-orang di sekeliling untuk menutupi kekurangannya. Dengan kata lain, menjadikan orang di sekelilingnya sebagai tameng. Maka, jika ada permasalahan seringnya dilimpahkan ke orang lain padahal dialah yang seharusnya bertanggung jawab atas semua itu.

Mental pengecut memang ada di sekitar kita. Atau bahkan kita sendiri terjangkiti gejala itu. Gampang menuduh, lari dari tanggung jawab, menimpakan kesalahan pada orang lain wujud dari mental pengecut. Itu tidak saja menunjuk pada sekelompok masyarakat,  tetapi juga sebagian elite politik. Inilah mental wani silit wedi rai.

Wani Rai Wedi Silit

Tentu sikap itu tidak elok. Seseorang tentu akan marah jika dituduh bermental wani silit wedi rai. Sementara perilaku sebenarnya menunjukkan sebagaimana  yang dituduhkan tersebut. Ini sama juga dengan seorang yang benar-benar terlibat korupsi dengan mengatakan, “Saya bukan koruptor” hanya karena hukum memutuskan dia tidak korupsi berdasar hukum positif. Sementara hati nuraninya mengatakan bahwa ia memang korupsi.

Itu juga salah satu bukti pengingkaran pada tanggung jawab. Tanggung jawabnya sebagai pejabat disalahgunakan dengan melakukan korupsi. Maka, ada ungkapan yang sering dianggap kebenarannya, bahwa untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada seorang calon politisi atau politisi yang sudah menjabat lihatlah apa yang tidak dikatakan.

Jika pejabat mengatakan ”Saya tidak korupsi”, “Saya profesional bekerja tak mencampuradukkan dengan urusan pribadi”, “Saya selalu mengikuti prosedur”. Itu semua tentu pernyataan pejabat secara lisan. Sementara itu yang terjadi sebenarnya bisa jadi sebaliknya.

Karikatur Gantung Koruptor di Monas (sumber : stemedcaucus2.org).

Sejak Orde Baru (Orba) hingga kini pejabat biasa melempar kesalahan pada anak buah. Namun jika anak buah benar, sering pejabat itu mengklaim sebagai program dan kebijakannya. Ini sudah jamak terdengar. Seolah pejabat memang enggan mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Buntutnya, banyak pejabat yang “merias” diri secara baik di hadapan “cermin” bernama masyarakat. Senyatanya tak sebagus apa yang dilihat dalam cermin. Para pemimpin pun sibuk membangun citra. Mengakui kesalahan masih menjadi barang mewah untuk dimiliki.

Perumpanaan “Wani Silit, Wedi Rai” agaknya masih akan menjadi “role model” perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari di masa datang. Justru itu dipertontonkan pula oleh sebagian para pemimpin. Bahkan tontotan itu dibiayai dan  diupacarakan. Harusnya bersemangat dalam Wani Rai, Wedi Silit.

Penulis bisa disapa lewat Twitter/IG: nurudinwriter

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini