Wajah Buram 2016: Petani, Kriminalisasi dan Pemiskinan yang Menyejarah

“Orang yang tak pernah mencangkul tanah, justru paling rakus menjarah tanah dan merampas hak orang lain.” (Pramoedya Ananta Toer)

Oleh : Mahruz Multatuly*

Mari kita lihat persoalan agraria ini jauh ke belakang. Banyak terjadi konflik petani vs perusahaan/Negara, konversi hutan Negara menjadi hutan industri pertambangan/perkebunan beroriantasi ekspor, konversi lahan menjadi sistem perkebunan jangka panjang yang memiskinkan dan menjauhkan masyarakat dari lingkungan sosialnya, semua itu adalah akibat dari warisan sejarah ketimpangan agraria yang diciptakan dan dilestarikan sejak zaman kolonial sampai zaman kemerdekaan. Sehingga persoalan agraria sebenarnya adalah manifest dalam setiap Negara bekas jajahan.

Selalu menjadi warisan kolonialisme. Jika kita membaca pledoinya Soekarno di Landraad (Pengadilan Pribumi) di Bandung, sangat jelas Soekarno mengutuk imperialisme-kolonialisme-kapitalisme yang menguasai dan mengeksploitasi tanah-tanah Nusantara untuk bisnis kapitalisme perkebunan, yang dalam sejarahnya telah dan sampai saat ini banyak menciptakan proletarianisasi pribumi, yang Papa, sekaligus Buruh. Dalam istilahnya Haji Agus Salim dan Abdul Moeis tahun 1917 dalam kongres nasional Sarikat Islam, laku hidup demikian itu ia sebut sebagai Het Zondige Kapitalisme (Kapitalisme yang Berdosa/Jahat), yang menjadikan pribumi seperti “Sapi Perah” sebagaimana kecaman HOS.Tjokroaminoto.
Sejarah agraria kita adalah sejarah penghisapan. Isinya sama, hanya soal penghisapan, bajunya saja yang berganti, dari Feodalisme Kerajaan, ke-VOC, sampai ke-Kolonialisme Belanda, Isinya tetap sama, Penghisapan dan Pemiskinan. Menarik membaca risetnya Mc. Ricklefs, dia menceritakan perihal Negara kecil bernama Belanda, kecil tetapi memiliki armada laut yang sangat kuat, memiliki basis ekonomi yang kokoh di antara Negara-negara kolonial lainnya.

Semua itu tak lain tak bukan karena Kolonialisme Belanda mengeksploitasi sektor perkebunan Nusantara sebagai basis ekonominya. Namun, sayangnya kebijakan politik hukum kita justru memposisikan korporasi menjadi aktor utama untuk mengeksploitasi, dan Negara hanya menjadi penyedia regulasi untuk kepastian hukum.

Baca juga :  Belajar Dewasa dari Sejarah 1965 yang Kompleks

Lebih lanjut, bahkan, ke-defisitan APBN Kerajaan Belanda yang terkuras pasca perang Jawa 5 tahun melawan Diponegoro cepat dipulihkan melalui kebijakan ekonomi politik tanam paksa pertanian karya Van Den Bosch yang eksploitatif dan memiskinkan pribumi. Pemodal Kaya, Elit Lokal kaya, sementara rakyat menjadi abdi kemiskinan. Kelak, Sejarah Penjarahan itulah yang dikutuk dan dilawan oleh tokoh pejuang rakyat macam HOS.Cokroaminoto, Semaun, Tirto Adhi Soerjo, Haji Miscbah, Soekarno, Tan Malaka, dan lain – lain.
Berangkat dari narasi penjarahan tersebut, kita akan bisa melihat betapa persoalan agraria itu sangat menyejarah, mendarah daging. Sumberdaya alam melimpah, Tanah subur, Air melimpah, Hutan kaya.Namun kenyataannya sekarang yang melimpah adalah kemiskinan.Sumberdaya alam melimpah tapi Negara tak kuasa atasnya, Tanah subur tapi petani tak berhak atas kesejahteraan, Air melimpah tapi masyarakat dipaksa beli ke korporasi, Hutan kaya tapi rakyat melarat.Korporasi menjadi penguasa, Negara/politisi menjadi abdinya, tentara, polisi menjadi tukang pukulnya dan rakyat menjadi sasaran eksploitasinya.

 
Petani Blitar, Kediri, Jember, Banyuwangi, Bondowoso menjadi saksi bagaimana 166 HGU menjadi pengahalang kesejahteraan mereka dan hukum menjadi alat pengamputasi gerakan mereka. Petani Majalengka berlumuran darah menjadi saksi dan korban bagaimana serdadu itu tanpa ampun memukuli saudara sebangsa. Petani Kalimantan dan Sulawesi menjadi saksi dan korban bagaimana mereka diusir oleh jahatnya korporasi yang menguasai 8,9 juta Ha lahan sawit (40% PMA), Petani Kendeng menjadi saksi bagaimana penguasa sesunguhnya adalah pengusaha, alam hanyalah materi yang harus dieksploitasi, dan Negara hanyalah abdi untuk memuluskan agendanya.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini