Wabah Pes Menyerang Blitar 1911-1923

wabah-pes-di-blitar-1911-1923
Stasiun Kereta di Wlingi, pada 1890. Foto Shelfmark KITLV 106158).

Oleh : Jeffry Dwi Kurniawan*

Terakota.id–Pada masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda di nusantara dalam bidang kesehatan, sebagian besar kebijakan yang diambil hanya bersifat insidentil dan tidak terencana sehingga tingkat kesehatan masyarakat bumiputra bisa dikatakan terabaikan. Hal ini bisa kita lihat pada saat nusantara memasuki awal abad ke 20 ketika ada penyakit menular yang menyerang penduduk Jawa seperti kolera, malaria, pes, typhus, cacar dan disentri yang memakan ratusan ribu korban jiwa baik dari penduduk bumiputra, Eropa maupun timur asing.

Sebagai contoh, wabah pes mulai terjadi ketika Jawa bagian timur mengalami krisis pangan akibat kekeringan dan serangan hama yang mengharuskan pemerintah kolonial Hindia-Belanda mengimport beras lebih banyak lagi dari Rangoon Myanmar. Kapal pengangkut beras yang masuk lewat pelabuhan Surabaya tidak sengaja membawa tikus yang terinfeksi pes pada tanggal 3 Oktober 1910. Beras-beras tersebut kemudian didistribusikan ke berbagai daerah di Jawa Timur melalui jalur kereta api dari Surabaya pada tanggal 5 November 1910.

Pada saat kereta api dari Malang menuju Wlingi gagal berangkat akibat akses jalan terputus karena banjir. Hal ini menyebabkan kereta api yang mengangkut beras dari Surabaya tertahan di stasiun Malang dan beras-beras tersebut kemudian disimpan di gudang beras di daerah Dampit, Turen, Singosari, Blimbing, Malang, Batu, Kepanjen, dan Gondang Legi (Luwis, 2008).

Beras dan tikus yang terinfeksi pes kemudian menyebar di bulan Maret 1911. Inilah awal mula kasus wabah pes terjadi di Malang yang kemudian menyebar keberbagai daerah di Jawa Timur seperti Surabaya, Bangil, Tutur, Pasuruan, Kediri, Blitar, Tulungagung, Nganjuk, Kertosono, Madiun, Magetan, Ponorogo dan Ngawi. Agar dapat mengaktifkan imajinasi pembaca, berikut ditampilkan foto stasiun Wlingi dan jembatan penghubung wilayah antara Malang dengan Wlingi.

Brug over de Lekso te Wlingi bij Blitar Circa 1915

Jembatan Kereta di Wlingi Blitar pada 1915. Foto :Shelfmark KITLV 154776)

Pes di Blitar

Blitar resmi menjadi gemeente pada 1 April 1906 berdasarkan peraturan Staatsblad van Nederlandsche Indie No. 150/1906.  Dalam kurun waktu 13 tahun sejak dibentuk menjadi gemeente, gemeente Blitar mengalami kekosongan pejabat setingkat walikota (burgemester). Baru pada tahun 1919 seiring dengan pemulihan daerah Blitar dan sekitarnya pasca letusan Gunung Kelud ditunjuklah ThJ. Cathero sebagai Burgemester pertama di Gemeente Blitar tahun 1919-1929 sedangkan untuk regentschap Srengat dan regentschap Blitar pada masa itu dijabat oleh KPH Sosro Hadinegoro masa jabatan 1896-1917 dan digantikan oleh KPH Warso Hadi Ningrat 1918-1943.

Pada bulan Maret 1911 masyarakat Malang mengalami pesakitan yang diakibatkan penyebaran wabah pes. Dari Malang inilah wabah pes kemudian menyebar ke berbagai daerah di Jawa Timur. Namun hingga awal bulan Mei 1911, Blitar belum terdampak wabah pes. Hal ini diberitakan oleh Het vaderland 01 Mei 1911 yang mana perusahaan kopi A. F. Rremer di Haarlem telah menerima informasi dari perwakilannya di Kediri bahwa Blitar benar-benar terbebas dari wabah pes. Selain itu, mengetahui wabah pes menyebar di daerah Malang maka dewan pemerintah Blitar langsung menutup akses dari Blitar ke Malang ataupun sebalik serta memerintahkan masyarakat untuk mencari dan memusnahkan tikus.

Penutupan akses dari Blitar ke Malang ataupun sebaliknya nampaknya tidak berjalan efektif karena penyebaran pes di Blitar bukan berasal dari Malang melainkan dari Tulungagung. Penyebaran pes pertama kali diberitakan oleh Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië edisi 16 November 1911 dan diberitakan kembali dengan lebih detail oleh Het vaderland edisi 27 Desember 1911.

Adapun isi berita itu menjelaskan bahwa seorang perempuan Tionghoa dari Tulungagung datang dan meninggal di Blitar dengan gejala yang mencurigakan. Oleh sebab itu asisten Van Deventer langsung memerintahkan anak buahnya untuk mengisolasi kediaman perempuan Tionghoa dan polisi langsung menutup akses rumah tersebut.

Dokter Van Lissa diperintahkan untuk mengambil sampel darah dan mengirimkannya ke laboratorium untuk didiagnosis penyebab kematian perempuan Tionghoa tersebut. Kemudian, rumah itu langsung didesinfeksi dan lingkungan sekitarnya langsung ditutup agar wabah pes tidak menyebar kemana-mana. Berikut ditampilkan laporan kasus pes tahun 1911 diluar afdeeling Malang.

Laporan Kasus Pes Tahun 1911 Diluar Afdeeling Malang

 

Daerah ∑Penduduk Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des
Surabaya 146.944 0 25 0 1 1 1 2 1 0
Kediri 19.489 15 20 14 22 3 9 2 3 0
Madiun 21.168 0 7 0 0 1 12 0 12 0
Tulungagung 14.390 19 28
Blitar 9.590 1 0

De Pest Op Java dorr Dr. J. J. Van Loghem, arts Privaatdocent de Universiteit van Amsterdam

Dari tabel diatas cukup jelas bahwa selama tahun 1911 di Blitar terdapat 1 orang warga yang terinfeksi pes. Selain pes, dalam pemberitaan kesehatan masyarakat oleh Algemeen Handelsblad pada 07 Oktober 1913 menjelaskan bahwa masyarakat Blitar yang terkena pes dan cacar di Blitar sejumlah 11 orang warga dengan jumlah 2 orang mengalami kematian. Adapun daerah yang banyak terdampak musibah tersebut terdapat di daerah Wlingi yang mana merupakan daerah dengan tingkat kematian tertinggi jika dibandikan dengan daerah lainnya di Blitar pada saat itu.

Terdapat kasus pes yang cukup menggemparkan karena kematian gadis Eropa yang diduga terinfeksi pes di Kediri pada tahun 1914. Koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië edisi 23 Maret 1914 memberitakan bahwa ada gadis tujuh belas tahun bernama nona De Haan yang tinggal di Blitar kemudian bersama keluarga pindah ke Kediri meninggal karena wabah pes.

Koran tersebut menjelaskan kronologi kematian nona De Haan yang dimulai pada tanggal 11 Maret, dia mengalami sakit kepala. Pada hari Kamis, dia merasa tidak enak badan dan pada hari Jumat dia mengalami demam yang tinggi. Para dokter mengalami kesulitan dalam mendiagnosis penyakit yang dideritanya.

Pada hari Senin 16 Maret pukul empat sore para dokter memutuskan untuk mengirimnya untuk masuk ke barak pes agar mendapat perawatan yang maksimal namun keesokan harinya dia meninggal pukul dua siang. Kematian nona De Haan langsung membuat gempar masyarakat Blitar bahwa penyakit pes ini menyerang semua orang tanpa mengenal usia, status ekonomi, status sosial dan darimana mereka berasal.

Peristiwa mengejutkan terjadi di regentschap Srengat pada tahun 1915 hal ini dikarenakan terdapat kasus pes pertama kali di regentschap Srengat yang diberitakan oleh koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië edisi 20 Maret 1915 dengan headline berita De pest te Blitar. Adapun berita tersebut menjelaskan bahwa beberapa orang di regentschap Srengat sudah terjangkit pes yang membuat masyarakat setempat resah karena mereka takut kalau orang-orang yang terinfeksi wabah pes akan keluar rumah dan menyebarkan virus pes ke Blitar.

Selama bulan Juni 1915 di Blitar terdapat 10 orang terinfeksi pes hal ini diberitakan oleh Nieuwsblad van het Noorden edisi 22 Juni 1915 dan Arnhemsche courant edisi 23 Juni 1915 sedangkan untuk bulan November terdapat 1 orang penderita pes dari Blitar yang diberitakan oleh Leeuwarder courant edisi 05 November 1915. Nampaknya pada tahun 1915 ini di Blitar mengalami peningkatan korban pes dari tahun sebelumnya.

Pada bulan Agutus 1916 di Blitar terdapat 1 orang terinfeksi pes yang diberitakan oleh Arnhemsche courant edisi 16 Agustus 1916 sedangkan selama bulan September, di Blitar terdapat 3 orang terinfeksi pes dan hal ini diberitakan oleh koran Het vaderland edisi 12 September 1916 dan Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië edisi 14 September 1916. Pada tahun 1915-1916 pemerintah kolonial Hindia-Belanda mencatat di Koloniaal Verslag Van 1916 sebagai berikut

Ikhtisar Paruh Kedua 1915 dan Paruh Pertama 1916 Dari Terinfeksi pes hingga Meninggal

Daerah Paruh kedua tahun 1915 Paruh pertama 1916
Terinfeksi Meninggal Terinfeksi Meninggal
Blitar 18 16 9 9

Koloniaal Verslag Van 1916. I. Nederlandsch (Oost)-Indie

Dari tabel diatas dapat kita ketahui bahwa 98% lebih orang yang terinfeksi pes pasti meninggal. Akibat tingkat kematian yang tinggi maka pemerintah kolonial Hindia-Belanda

membentuk lembaga khusus untuk menangani wabah pes di berbagai daerah yang terinfeksi wabah pes atau biasa disebut Dienst der Pestbestrijding pada tahun 1915.

Lonjakan dan Penanganan

Memasuki tahun 1921 terjadi lonjakan tajam masyarakat Blitar yang terinfeksi pes setelah tahun 1919 dan tahun 1920 tidak ada masyarakat yang terinfeksi pes. Hal ini dapat kita lihat dari laporan Mededelingen van Den Dienst der Vorlksgezondheid In Nederlandsch-Indie Anno 1927 Dell II.

Kematian yang disebabkan wabah Pes

  1919 1920 1921 1922 1923 1924
Blitar 57 5

Mededelingen van Den Dienst der Vorlksgezondheid In Nederlandsch-Indie Anno 1927 Dell II.

Terjadinya lonjakan masyarakat Blitar yang terinfeksi pes pada tahun 1921, dewan pemerintah mengikuti himbuan dokter de Vogel untuk melakukan sosialisasi kepada penduduk bumiputra terkait wabah pes dan gejala penyakitnya, membasmi tikus sebagai penyebar pes, memisahkan pasien pes dengan lingkungan sekitar, membersihkan rumah-rumah pasien pes yang ditinggalkan (karantina atau meninggal), sosialisasi tindakan pencegahan di sekolah-sekolah, memberitahukan cara, melakukan tindakan pencegahan di rumah-rumah gadai dan memberikan vaksinasi (Luwis, 2008)

Selain itu, dewan pemerintah melibatkan dinas perumahan rakyat, controleur dan wedana untuk membersihkan, menyemen lantai rumah dan menutup semua lumbung padi agar tikus-tikus tidak dapat berkembang biak serta mengeluarkan kebijakan untuk tidak memberikan Surat Pas Jalan (SPJ) atau Surat Izin Berpergian (SIB) kepada warga (Kur’anania & Rahayu, 2019).

Selanjutnya, Bataviaasch nieuwsblad edisi 08 Desember 1921 memberitakan bahwa masih banyak kasus wabah pes terjadi di Blitar padahal dewan pemerintah sudah bertindak sekuat tenaga namun masih juga terdapat tujuh kasus baru terjadi dalam seminggu terakhir sehingga membuat dewan pemerintah melakukan tindakan kuncitara.

Gedung bioskop yang dibangun dari bambu dihancurkan, sementara semua pertunjukan di masyarakat dilarang oleh dewan pemerintah karena dianggap terlalu berbahaya jika banyak orang berbondong-bondong datang melihat pertujukan dan pesta St. Nicholas di Sekolah Eropa tidak diijinkan dengan alasan yang sama dan pada akhir Desember ada penambahan 10 orang terinfeksi pes yang diberitakan oleh Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië edisi 21 Desember 1921.

Berdasarkan laporan Mededelingen van Den Dienst der Vorlksgezondheid In Nederlandsch-Indie Anno 1927 Dell II. Dengan berbagai cara yang dilakukan dewan pemerintah, akhirnya pada tahun 1922 Blitar mengalami penurunan drastis orang terinfeksi pes yang pada tahun 1921 terdapat 57 orang terinfeksi pes, pada tahun 1922 turun menjadi 5 orang yang terinfeksi pes.

Hal ini membuktikan bahwa mengikuti himbauan dokter de Vogel, kesungguhan dan kesanggupan dewan pemerintah, kebijakan kuncitara serta masyarakat Blitar yang taat pada aturan sangat berhasil dalam membasmi pes sehingga pada tahun 1923 dan 1924 di Blitar tidak terdapat orang terinfeksi pes. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa memasuki tahun 1923 Blitar terbebas dari wabah pes yang menyebabkan kematian puluhan orang meninggal dunia.

 

Daftar Pustaka

Algemeen Handelsblad. 07 Oktober 1913

Arnhemsche courant. 23 Juni 1915

Arnhemsche courant. 16 Agustus 1916

Bataviaasch nieuwsblad. 08 Desember 1921

Brug over de Lekso te Wlingi bij Blitar Circa 1915. KITLV. Diakses pada 1 April 2020

De Pest Op Java dorr Dr. J. J. Van Loghem, arts. Privaatdocent de Universiteit van Amsterdam

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië. 16 November 1911

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië. 23 Maret 1914

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië. 20 Maret 1915

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië. 14 September 1916

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië. 21 Desember 1921.

Het vaderland. 01 Mei 1911

Het vaderland. 27 Desember 1911

Het vaderland. 12 September 1916

Koloniaal Verslag Van 1916. I. Nederlandsch (Oost)-Indie

Kur’anania1, S & Rahayu, SDIKS. 2019. Upaya Penanggulangan Penyakit Pes Di Afdeeling Kediri Tahun 1911-1933. VERLEDEN: Jurnal Kesejarahan. Vol. 15 (2) 2019:268-283.

Leeuwarder courant. 05 November 1915

Luwis, S. 2008. Pemberantasan Penyakit Pes Di Wilayah Malang 1911-1916. (Skripsi). Depok: Universitas Indonesia.

Mededelingen van Den Dienst der Vorlksgezondheid In Nederlandsch-Indie Anno 1927 Dell II.

Nieuwsblad van het Noorden. 22 Juni 1915

Station te Wlingi bij Blitar Circa 1890. KITLV. Diakses pada 1 April 2020

*Sejarawan penulis buku Perjuangan Todung Sutan Gunung Mulia: Dari Volksraad hingga Menteri Pendidikan

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini