Wabah Corona dan Serangan Monyet Ekor Panjang

Oleh : Bachtiar Djanan*

Terakota.id–Wabah virus corina Covid-19 yang merebak saat ini melumpuhkan berbagai lini. Dunia pariwisata adalah salah satu sektor yang terdampak besar. Banyak negara memberlakukan larangan berwisata maupun larangan menerima wisatawan untuk mencegah penyebaran virus.

Beberapa waktu ini viral berseliweran di medsos, video serangan monyet ekor panjang (macaca fascicularis) di Lopburi Thailand. Tampak kawanan monyet melakukan ekspansi mencari makan di jalanan kota layaknya gerombolan preman, dan membuat warga ketakutan.

Dengan sepinya pariwisata Thailand akibat corona, ribuan monyet di Lopburi yang terbiasa mendapatkan makanan dari wisatawan, menjadi kelaparan, dan mencari makan dengan cara apa saja ke pemukiman warga, bahkan menyerang manusia.

Lopburi, kota kuno dengan sisa-sisa peninggalan Khmer, tiap tahun pada bulan November di sini diselenggarakan festival Lopburi Monkey Banquet, tradisi memberi “sesajen” untuk pesta ria bagi ribuan monyet. Tempat ini merupakan satu dari beberapa destinasi wisata di Thailand di mana aktivitas interaksi manusia dengan monyet menjadi salah satu “atraksi” wisata.

Ada lagi di Khao Yai National Park, taman nasional terbesar ketiga sekaligus taman nasional tertua di Thailand, sorga bagi aneka satwa liar, terutama gajah dan monyet. Di Thailand barat, ada habitat monyet di lingkungan air terjun Erawan yang berada di Taman Nasional Erawan.

Destinasi lainnya adalah habitat monyet di Monkey Beach, Pulau Koh Phi Phi Don, di kepulauan Phi Phi, Phuket, tak jauh dengan Maya Bay, lokasi syuting film Leonardo Di Caprio “The Beach”, yang membuat destinasi ini kebanjiran wisatawan (dan nyaris tak terkendali).

Satu lagi yang cukup terkenal yaitu Khao Tang Kuan, sebuah bukit di daerah Songkhla, dengan kuil Royal Pagoda megah berdiri di puncaknya, lengkap dengan atraksi monyet di sekitar kaki bukit.

Saat mengunjungi Monkey Beach dan Khao Tang Kuan pada waktu low season pariwisata di tahun 2015, saya masih menjumpai lebih dari seribu turis membanjiri destinasi-destinasi tersebut. Bagaimana saat high season, apalagi di waktu peak season..?

Ya, memang bila kita baca data jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Thailand sangatlah besar. Pada tahun 2018 mencapai angka 38,28 juta, dan pada tahun 2019 meningkat menjadi 39,8 juta wisatawan (bandingkan dengan Indonesia, tahun 2018 kunjungan wisatawan mancanegara 15,81 juta, dan di tahun 2019 menjadi 16,11 juta wisatawan mancanegara).

Kembali tentang monyet. Memang berinteraksi dengan satwa liar seperti monyet sangatlah menarik, membuat mereka mau berfoto bersama kita dengan “imbal balik” memberi makan mereka, seolah hal yang sepele dan tidak menjadi masalah.

Namun tahukah kita, bahwa dengan banyaknya pengunjung yang melakukan hal tersebut, akan berdampak buruk bagi satwa liar. Lambat laun satwa liar akan berubah perangainya, terbiasa mengemis pada pengunjung dan mengalami ketergantungan, serta kehilangan naluri mencari makan secara mandiri di alam.

Makanan yang diberi oleh pengunjung seringkali bukanlah makanan alami satwa liar, seperti roti, kue, soft drink, yang bisa menyebabkan satwa sakit, obesitas (kegemukan), bahkan merubah pola makan dan bentuk makanan yang tentu tidak bisa ditemukan di habitat alami mereka.

Kebiasaan mendapatkan makanan dari pengunjung juga menyebabkan satwa liar menjadi agresif, suka merebut benda yang dibawa pengunjung, karena mengira itu adalah makanan untuk mereka.

Belum lagi resiko bahwa satwa liar bisa menularkan penyakit-penyakit yang berbahaya bagi manusia, seperti rabies dan hepatitis, yang bisa menular melalui gigitan atau cakaran, saat pengunjung memberi makan.

***

Beberapa hari yang lalu, bersama Tim Bina Desa dan Inkubator Universitas Pembangunan Panca Budi Medan, saya dan Om Tri Andri PN berkunjung ke Danau Siombak, sebuah danau buatan bekas galian tanah timbun pengerjaan proyek pembangunan jaln tol, yang berada di Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan.

Danau yang kini banyak ditumbuhi mangrove jenis nipah (nipah fritican) dan api-api (jenis Avicennia), dan beberapa jenis mangrove lainnya ini, menjadi tempat tinggal bagi beragam burung air, tempat persinggahan burung migran, dan habitat monyet ekor panjang (macaca fascicularis).

Berkembangnya mangrove di Danau Siombak tak lepas dari peran aktif Wibi Nugraha, aktivis konservasi nominator penghargaan Kalpataru nasional, beserta komunitasnya, termasuk peran dari Erlianto, pengelola Taman Wisata Danau Siombak.

Menjadi sebuah PR bersama, bagaimana danau buatan yang kini telah berkembang sebagai salah satu destinasi wisata di kota Medan ini bisa dikawinkan dengan sebuah kepentingan besar konservasi ekosistem mangrove, lengkap dengan burung air, burung migran, dan monyet-monyetnya.

Tentu menjadi sebuah agenda sangat urgen, bagaimana mensinergikan beragam kepentingan, serta “menjahit” berbagai potensi agar bisa berkolaborasi bersama, untuk berbuat yang terbaik bagi masyarakat dan lingkungan hidup.

Panca Budi luhur dan mulia
Kita hayati dan amalkan
sepanjang masa…
Bakti pada Yang Esa..
Pada negeri dan bangsa..
Pada nusa dan dunia..
Panca Budi gelora jiwaku
Meraih cita-cita..
Beriman, berilmu dan berkarya
Membangun Indonesia..
Panca Budi luhur dan mulia
Kita hayati dan amalkan
sepanjang masa…
Bakti pada Yang Esa..
Pada negeri dan bangsa..
Pada nusa dan dunia..
Panca Budi gelora jiwaku
Meraih cita-cita..
Beriman, berilmu dan berkarya
Membangun Indonesia..

(cuplikan lagu “Hymne Panca Budi”, ciptaan Nuskan Syarif)

*Pecinta alam dan pelaku wisata 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini