Vaksinasi Cacar, Vaksinasi Pertama di Indonesia

Seorang mantri melakukan vaksinasi cacar terhadap balita pada 1928. (Foto : Koleksi Perpusnas).

Terakota.idPemerintah memulai melakukan vaksinasi untuk mencegah penularan Covid-19. Presiden Joko Widodo (Jokowi) merupakan orang pertama yang menerima suntikan vaksin Sinovac, Rabu 13 Januari 2021. Vaksinasi merupakan salah satu cara untuk mencegah atau preventif terhadap penyakit karena virus, termasuk Covid-19.

Sebelum vaksin Covid-19 dari Sinovac, vaksinasi penyakit cacar merupakan vaksin pertama yang dilakukan di Nusantara. Upaya preventif dilakukan dengan vaksinasi atau dikenal dengan istilah pencacaran. Satrio dalam buku Sejarah Kesehatan Nasional  Indonesia I, 1978 menyebutkan vaksin cacar merupakan usaha preventif tertua dalam pelayanan kesehatan di Indonesia.

“Pengendalian awal dilakkan kepada pribumi yang sering kontak dengan orang Eropa,” tulis Satrio.  Kebijakan kesehatan pemerintah kolonial pada abad ke 19 dan 20 dipengaruhi politik etis. Politik etis dalam bidang ekonomi banyak dikupas, tapi politik etis dalam kesehatan tak banyak diperhatikan.

Pengajar sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM) Baha’ Uddin dalam Jurnal Humaniora Nomor 3 Volume, 18 Okober 2006 menulis artikel berjudul “Dari Mantri  hingga Dokter Jawa : Studi Kebijakan Pemerintah Kolonial dalam Penanganan penyakit Cacar di Jawa. Dalam  artikel tersebut, Baha’ menjelaskan pada 1779 seorang dokter muda J van der Steege melakukan uji coba pertama variolasi atau proses pemindahkan virus cacar ke manusia sehat di Batavia.

Tujuannya untuk memberikan kekebalan terhadap virus cacar. Variolasi pertama dilakukan terhadap 13 orang, beberapa diantaarnya anak anak. Sampai 1781 dilakukan variolasi terhadap 100 penderita cacar. “Variolasi menyebabkan seorang anak penderita cacar meninggal,” tulis Baha’.

Sedangkan vaksin cacar ditemukan akhir abad 18 dan digunakan vaksinasi di Indonesia pada abad 19 untuk mengendallan cacar. Vaksi cacar perama kali tiba di Batavia Juni 1804 dengan kapal Elisabeth dari Pulau Isle de France (Timur Madagaskar). Vaksin ini berasa dari pusat pengembangan vaksin di Jenewa.

Namun, selama tiga tahun vaksinasi sering mengalami kehabisan vaksin.  Sehingga pemerintah Belanda pada 1870 mendirikan perhimpunan untuk memproduksi dan mendistribusikan vaksin cacar. Secara rutin setiap 2-3 bulan dikirim ke Batavia.

Pada 1852, Residen Bagelen melaporkan Feldman seorang officer gezonheid atau petugas kesehatan berkebangsaan Jerman melakukan percobaan selama enam bulan. Ia berhasil melakukan retro vaksinasi atau menghasilkan vaksin cacar dari anak sapi di Desa Kecewan, Wonosobo. Retro vaksinasi menghasilkan vaksin cacar yang langsung digunakan vaksinasi.

Keberhasilan retro vaksinasi ini, akhirnya vaksin menyebar digunakan vaksinasi di sejumlah tempat. Pada1854 dilakukan vaksinasi di residensi madiun , Kedu, Pasuruan, Kediri, dan Priangan. Dengan pendekatan kulturan, mengerahkan mantri dan dokter Jawa yang memiliki peranan besar dalam proses vaksinasi cacar di Jawa.

Keduanya mampu masuk ke dalam kelomok masyarakat dalam menjalanan tugas. Secara tak langsung, tulisnya, dokter Jawa dan mantri turut melakukan transfer pengetahyun kesehatan kepada masyarakat di pedesaan.

Pada 1879 pemerintah kolonial Belanda mendirikan Parc Vaccinogene memproduksi vaksin cacar di Batu Tulis, Bogor. Dipimpin dr kool berhasil memproduksi vaksin pada 1884. Parc Vaccinogene pada 1912 memproduksi vaksin cacar hewani, sehingga vaksin cacar humani atau dari manusia tak diperlukan.

Penyakit cacar di Jawa ditemukan sejak awal abad 17, yang menyebabkan kematian. Pada 1781 diperkirakan dari 100 penduduk yang terserang cacar, 20 diantaranya meninggal. Sementara pada abad 19 dari 1.019 bayi yang dilahirkan 102 ditemukan meninggal karefna cacar. Willem Frederik Wertheim dalam Masyarakat Indonesia dalam Transisi : Studi Perubahan Sosial, 1999 menulis tingginya mortalitas atau kematian dalam populasi cukup tinggi.”

Mortalitas anak di bawah usia 14 tahun mencapai 10-30 persen,” tulis Willem. Penyakit cacar masuk ke Jawa pada 1633, diawali di Batavia.  Kemudian menyebar ke sejumlah wilayah di Jawa. Pada 1780 cacar menyerang penduduk di Priangan, Bogor, Semarang. Pada 1786 merembet ke Banten dan Lampung. Puncak penyakit cacar di Jawa terjadi pada 1820, 1835, 1842, 1849, 1862, dan1870.

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini