Ilustrasi : https://shutterstock.com
Iklan terakota

Terakota.id–Revolusi Industri 4.0 menjadi frasa yang populer untuk berbagai kegiatan di perguruan tinggi dalam beberapa tahun terakhir ini. Bukti dari melesatnya penggunaan istilah ini adalah banyak seminar digelar dengan tema yang selalu dikaitkan dengan Revolusi Industri 4.0.

Sebagai sebuah forum yang digunakan untuk memaparkan wacana oleh pembicara, lalu ditanggapi oleh peserta, penggunaan istilah Revolusi Industri 4.0 bukan suatu masalah. Masalahnya muncul ketika di masa pandemi Covid-19, perguruan tinggi tidak mampu menggelar pembelajaran secara daring dengan layak. Menunjukan semua itu masih sebatas wacana yang utopia.

Dengan berselancar di mesin pencarian Google, kita dapat dengan mudah menemukan berbagai seminar yang menggunakan istilah Revolusi Industri 4.0. Beberapa di antaranya mengaitkannya dengan generasi muda. Misalnya sebagai berikut, ‘Seminar Nasional Membangun Peran Generasi Muda untuk Tanggap Bencana di Era Revolusi Industri 4.0’, atau sebuah seminar lain berjudul ‘Membangun Generasi Muda yang Cerdas, Bijak dan Kreatif dalam Menghadapi Disrupsi Digital di Era Revolusi Industri 4.0.’

Ada pula seminar yang menekankan pada aspek pendidikan, seperti yang terlihat dalam tema ini, ‘Pendidikan Era Revolusi Industri 4.0, Antara Tuntutan, Perubahan, dan Kesiapan’.

Ada juga yang menggunakan Bahasa Inggris seperti ‘New Challenge of Industrial Revolution 4.0. Pemerintah Indonesia pun memilih menggunakan Bahasa Inggris dalam kebijakan peta jalan industri yang dipopulerkan pada tahun 2018 dengan nama Making Indonesia 4.0.

Tema-tema seminar yang berkelindan dengan Revolusi Industri 4.0 seolah memperlihatkan optimisme tinggi tentang kesiapan menghadapi era ini. Namun ketika pandemi, optimisme yang membuncah itu tiba-tiba menjadi senyap. Perguruan tinggi dihadapkan kepanikan untuk menyiapkan platform dan konten pembelajaran daring bagi mahasiswa karena tidak ada lagi kuliah tatap muka.

Hanya sedikit perguruan tinggi yang siap dan telah menerapkan pembelajaran daring sebelum terjadi pandemi. Sedikit yang mampu menggelar pembelajaran daring dengan layak. Umumnya segelintir perguruan tinggi itu telah menerapkan Sistem Pembelajaran Daring (SPADA).

Sebagaimana yang dipahami dalam berbagai retorika yang disampaikan oleh para pembicara di berbagai seminar tentang Revolusi Industri 4.0, bahwa Revolusi Industri 4.0 dipahami sebagai perkembangan teknologi yang mengarah pada otomasi dan pertukaran data terbaru dengan cara yang mudah dan cepat yang mencakup sistem siber-fisik, internet untuk segala (internet of things), komputasi awan (cloud computing), dan komputasi kognitif.

Otomasi yang dimaksudkan adalah teknik penggunaan mesin yang disertai dengan teknologi dan sistem kontrol yang ditujukan untuk memaksimalkan produksi dan pengiriman barang serta jasa. Melalui teknik ini, peran tenaga kerja manusia tak lagi mendominasi, karena kerja mesin-mesin robotik  yang mampu bekerja lebih cepat dengan hasil yang lebih baik dalam kuantitas maupun kualitas.

Jika merujuk pada pemahaman tentang Revolusi Industri 4.0 ini, maka seharusnya pelaksanaan kuliah daring di perguruan tinggi tidak lagi menjadi masalah. Otomasi dan pertukaran data dalam sistem pembelajaran daring bisa dilakukan dengan menggunakan internet, yang tentu saja dengan platform dan konten yang layak. Sistem pembelajaran ini juga berkaitan dengan administrasi dalam perkuliahan yang layak.

Bayangkan saja, jika presensi mahasiswa masih dilakukan secara manual di grup pada aplikasi percakapan WhatsApp, lalu dosen memasukan data presensi. Proses manual yang membuat waktu perkuliahan akan habis hanya di persoalan administrasi. Semoga saja pengandaian ini benar-benar terjadi, karena jika benar-benar terjadi maka betapa tertinggalnya perguruan tinggi dalam menerapkan teknologi digital.

Pandemi sesungguhnya menjadi tantangan nyata bagi perguruan tinggi. Untuk membuktikan kemampuannya dalam menerapkan beragam aspek dalam Revolusi Industri 4.0. Teknologi internet untuk segala hal (internet of things) seharusnya dimanfaatkan perguruan tinggi sehingga memungkinkan siber-fisik saling berkomunikasi serta bekerja sama dengan manusia secara sinergis.

Selain itu, adanya komputasi awan (cloud computing) seharusnya dimanfaatkan sebagai layanan internal, dan lintas organisasi yang tersedia. Serta dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak dalam beragam kolaborasi. Artinya, perguruan tinggi seharusnya saling berkolaborasi untuk saling mendukung dalam penyediaan fasilitas dan konten pembelajaran daring.

Fenomena yang terjadi selama masa pandemi ini adalah perguruan tinggi bergerak sendiri-sendiri dalam menyelenggarakan pembelajaran daring. Perkuliahan secara virtual seharusnya lebih memungkinkan mobilitas dosen untuk mengajar di lintas kampus. Sejurus pula mahasiswa seharusnya bisa mengikuti perkuliahan di kampus lain. Kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentang Merdeka Belajar, Kampus Merdeka (MBKM) semakin memuluskan kemungkinkan kolaborasi ini secara regulatif.

Pertukaran dan pemanfaatan konten perkuliahan secara kolektif bisa juga dilakukan untuk memperbanyak variasi konten pembelajaran bagi mahasiswa. Sebagai ilustrasi, ada 4 perguruan tinggi berkolaborasi memproduksi video pembelajaran di kampus masing-masing. Sejak pra produksi disepakati mencantumkan nama keempat kampus yang terlibat.

Naskah didiskusikan bersama saat tahap pra produksi. Setelah disepakati, lalu dilanjutkan produksi di kampus masing-masing. Pada tahap pasca produksi, logo keempat kampus yang terlibat ditampilkan sebagai bukti kolaborasi. Dengan sekali produksi, setiap kampus yang terlibat dalam kolaborasi akan mendapatkan empat video pembelajaran.

Semakin banyaknya video pembelajaran yang diproduksi, maka konten pembelajaran untuk mahasiswa juga akan semakin beragam. Konten di aplikasi pembelajaran daring tidak lagi hanya berupa power point. Selain video pembelajaran, konten bersama dalam berbagai bentuk, seperti modul, podcast, infografis dan sebagainya bisa diproduksi dengan mekanisme kolaborasi.

Revolusi Industri 4.0 adalah jalan pembuka bagi kolaborasi antarperguruan tinggi dalam menghadapi dengan menyediakan platform dan konten perkuliahan yang layak. Saatnya kolaborasi agar Revolusi Industri 4.0 tidak lagi lagi menjadi utopia.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini