Usaha Membaca Film

Analisis Semiotika Film dan Komunikasi
Foto : Najih

Judul Buku      : Analisis Semiotika Film dan Komunikasi
Penulis            : Arif Budi Prasetya
Penerbit          : Intrans Publishing
Ukuran Buku   : 15,5 x 23 cm
Ketebalan       : xx + 132 halaman
ISBN              : 978-602-6293-71-8
Harga P. Jawa : Rp 65.000

Terakota.id–Ilmu tentang tanda semula memiliki dua sebutan. Ferdinand de Saussure, pakar linguistik Swiss, mengajukan sebutan semiologi. Sedangkan filsuf pragmatis, Charles Sanders Peirce, menyebutnya sebagai semiotika atau semiotic. Thomas Sebeok mengawali penggunaan istilah semiotika dan di kemudian hari istilah tersebut yang diinternasionalisasikan.

Saussure berpendapat jika semiotika adalah ilmu yang lebih umum sedangkan linguistik hanyalah bagiannya. Meski pada mulanya semiotika belum dioperasionalkan untuk bidang ilmu-ilmu lain. Dari Saussure pula lahir tradisi semiotika diadik, berstruktur dua: penanda dan petanda.

Penanda (signifier) bisa dibaca sebagai sesuatu yang memberikan makna. Atau memberi status terhadap simbol sehingga simbol itu memiliki arti dan bisa dimaknai. Sedangkan petanda (signified), merupakan hal atau konsep general di mana makna tersebut diberikan pada suatu simbol. Konsep ini dinamakan pertandaan atau signifikansi.

Semiotika menjelajah ke berbagai bidang di luar linguistik beberapa dekade kemudian. Misalnya, Levi-Strauss mengoperasionalkan semiotika untuk memperkaya kajian antropologi. Mitos budaya massa didedah Roland Barthes dengan semiotika. Jacques Lacan menafsir ulang psikoanalisis Freudien juga dengan semiotika.

Kita mafhum tidak semua orang tertarik mengkaji simbol dan makna yang terkandung di dalamnya, meski setiap saat bergelut dengannya. Simbol dan makna itu seolah menari-nari, menggoda otak kita untuk menafsirkan apa yang dimaksud. Bukankah otak hanya berhenti menafsirkan apa yang dilihat mata saat kita terlelap tidur?

Semiotika berkaitan erat dengan ilmu komunikasi. Makna yang muncul dari setiap simbol merupakan inti utama dalam proses komunikasi. “Ketidakstabilan makna yang muncul dalam sebuah simbol dipengaruhi oleh konsep budaya di mana simbol tersebut digunakan,” tulis Arif Budi dalam pengantar bukunya. Lebih jauh, semiotika menempatkan cultural studies, yang berbasis dari tradisi ilmu sosial Eropa yang filosofis dan kritis.

Pada abad ini, banyak intelektual yang menjelaskan bagaimana media telah berperan menjadi representasi dari realitas. Fakta sudah diselimuti citraan sedemikian rupa. Bahkan, sering kali citraan atau representasi sudah menjadi realitas itu sendiri. Namun cerita-cerita dongeng, mitos, legenda, kabar burung pada zaman dulu juga sudah menyelimuti manusia. Hal-hal tersebut sering beredar dari mulut ke mulut lalu bergerak untuk menutupi fakta sebenarnya.

Hari-hari ini, tatkala budaya visual semakin menampakkan wujudnya, ketika hidup manusia kontemporer dekat dengan media massa. Maka memakai kacamata semiotika untuk melihat tanda-tanda zaman sungguh diperlukan. Terutama untuk membaca dan membedah berbagai permainan tanda di sekitar kita.

Buku ini menggunakan semiotika sebagai pisau analisis. Arif Budi secara khusus menggunakan model analisis semiotika ala Roland Barthes untuk membaca teks berupa film. Sebab, model analisis itu dianggap paling operasional untuk penelitian.

Penulis buku juga menyajikan contoh penerapan analisis semiotika Barthes untuk membuktikan keoperasionalan model analisis itu. Film-film yang dianalisis berjudul The Maleficent, Chennai Express dan Demi Ucok. Tiga film itu dipilih untuk mewakili film Hollywood, Bollywood dan Indonesia. Analisis tiga tahap John Fiske digunakan pula agar pembahasan lebih detail.

Buku ini sebuah usaha untuk mengisi kajian tradisi semiotika dalam studi komunikasi. Bagaimanapun, kajian semiotik banyak berasal dari filsafat bahasa yang tergolong memiliki abstraksi tinggi. Sehingga buku bacaan seperti ini akan menstimulus pembaca agar lebih mudah memahami kajian semiotika.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini