Urgensi Literasi Lingkungan Menyongsong 2050

urgensi-literasi-lingkungan-menyongsong-2050
Sekitar 200 karya busana yang memanfaatkan bahan baku daur ulang dengan motif bunga meramaikan Malang Flower Carnaval (MFC) 2018 berlangsung ,di Jalan Ijen Kota Malang,(Terakota/Abhi Wardana)

Terakota.idIndonesia diprediksi akan menjadi negara maju pada tahun 2045, hal itu dikalkulasi berdasarkan piramida penduduk Indonesia yang surplus usia produktif pada 2045. Meskipun demikian, kemajuan ini tidak ada artinya apabila lingkungan yang ditinggali mengalami kerusakan. David Wallace Wells, salah seorang jurnalis yang juga sering meliput tentang lingkungan memaparkan data-data mencengangkan dalam bukunya berjudul The Uninhabitable Earth (2017). David mengatakan bahwa saat ini kita hidup pada zaman yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Prediksi kedepan tentang lingkungan bukan malah membaik tapi selalu pada prakiraan yang buruk. Dia bahkan memprediksi bahwa suhu bumi akan meningkat sebesar delapan derajat pada tahun 2.100. Padahal, apabila suhu bumi meningkat satu derajat saja, maka produksi bahan makanan dapat menurun sepuluh persen. Apabila suhu bumi naik dua hingga empat derajat maka banyak penduduknya yang mati muda.

Kenaikan suhu bumi juga membuat es di kutub mencair sehingga muncul berbagai penyakit dan tangkapan nelayan akan berkurang. Kota-kota di dunia yang berada di dekat pantai juga terancam tenggelam, belum lagi pembangkit listrik, pangkalan kereta, tambak ikan, sungai, dan rawa, semua dapat tenggelam. Berbagai penyakit baru dan wabah dapat muncul ketika suhu bumi meningkat.

Kekurangan air bersih hingga kekurangan bahan makanan sehat berdampak pada ambruknya perekonomian secara global. Oleh sebab itu dibutuhkan untuk menanamkan kesadaran lingkungan pada generasi muda.

Pertanyaan yang timbul adalah sudahkah generasi muda Indonesia yang digadang-gadang mencapai masa keemasan pada 2045 ini juga merasa terancam pada lingkungan hidupnya?

Literasi Lingkungan

Gerakkan literasi atau gerakkan meningkatkan kecakapan merupakan gerakan untuk memberikan wawasan sekaligus kesadaran pada manusia. Sejak tahun 2016, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sesungguhnya telah menggelar gerakan literasi nasional. Gerakan literasi tersebut melibatkan trias pendidikan yaitu sekolah, keluarga, dan masyarakat. Kolaborasi tiga domain pendidikan ini akan sangat membantu membuat anak menjadi literat sejak dini.

Literasi dasar yang disasar oleh Kemendikbud sendiri ada lima yaitu literasi baca-tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, dan literasi budaya dan kewarganegaraan. Literasi lingkungan masih secara eksplisit ditutipkan dalam  beberapa literasi dasar yang ditegaskan oleh kemendikbud.

Aspek literasi menjadi bagian penting dan didengungkan kembali dalam dunia pendidikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Gagasan Merdeka Belajar yang dia berikan kembali menjadikan literasi sebagai tujuan dalam pembelajaran. Namun literasi yang sering disebut agaknya lebih condong pada literasi numerasi atau kemampuan membaca data.

Smart Degester mengantarkan siswa SMPN 23 menyabet medali emas dalam kompetisi Innovation Promotion Association (Innopa) kategori lingkungan di Bali September 2018. (Terakota/Eko Widianto).

Literasi numerasi sangat baik, tapi alangkah baiknya jika literasi lingkungan juga menjadi aspek penting dalam setiap tindak laku pembelajaran baik formal maupun informal. Kemampuan membaca data terkait dengan pencemaran udara, wabah penyakit, dan krisis air bersih harus disajikan pada anak sejak dini. Data-data tersebut membuat mereka sadar bahwa bahaya sesungguhnya sedang mengitari mereka. Bahkan apabila mereka tidak segera bertindak, bukan tidak mungkin jika lingkungan tempat mereka tinggal nanti akan menjadi sangat suram.

Literasi Lingkungan di Sekolah

Literasi lingkungan di sekolah dapat dilakukan dengan mendiskusikan dan melakukan perdebatan tentang dampak perubahan iklim. Menyediakan literatur dalam majalah dinding maupun perpustakaan sekolah berkaitan dengan dampak perubahan iklim merupakan cara agar siswa memiliki akses literasi yang banyak dalam menanggapi perubahan iklim.

Sekolah juga dapat memberikan proyek-proyek yang mendukung untuk menghambat terjadinya perubahan iklim secara drastis. Gerakan yang sederhana tapi membudaya akan berdampak besar daripada gerakan yang dilakukan secara sporadis. Budaya membuang, memilah, hingga mengelolah sampah adalah cerminan sederhana yang dapat dilakukan. Meskipun sepele, tapi apabila tidak dilakukan dengan maksimal maka akan dapat menimbulkan budaya yang destruktif khususnya dalam menjaga lingkungannya.

Aneka kerajinan hasil daur ulang dari sampah plastik dan kertas karya siswa SMP Negeri 10 Kota Malang. (Terakota/Eko Widianto).

Penilaian hingga kompetisi yang diselenggarakan oleh sekolah yang bertema lingkungan juga dapat menjadi penggerak kesadaran siswa untuk peduli lingkungan. Embel-embel sekolah Adiwiyata bukan jaminan jika sekolah tersebut sadar lingkunganya. Mobilisasi siswa dan warga sekolah sebelum penilaian jauh lebih buruk daripada menyelenggarakan kompetisi rutin internal sekolah tentang lingkungan meskipun hadiahnya minim.

Langkah terakhir yang dapat dilakukan adalah penugasan dari guru dan pemberian bahan ajar hingga evaluasi pembelajaran yang dikaitkan dengan lingkungan. Metode terakhir ini dapat dilakukan agar siswa atau generasi muda mau tidak mau harus berproses dengan melibatkan skemata tentang lingkungan yang dimilikinnya.

Literasi Lingkungan di Masyarakat

Pada massa bercocok tanam, literasi lingkungan sesungguhnya sudah terjadi dalam masyarakat. Ritual pada alam dan segala bentuk pemujaan merupakan contohnya. Namun seiring dengan pesatnya revolusi industri terlebih revolusi digital, literasi lingkungan lambat mengalami progres.  Literasi lingkungan dalam masyarakat sesungguhnya dapat dilakukan dengan melibatkan teknologi.

Memviralkan kegiatan yang pro lingkungan serta cepat tanggap terhadap bencana merupakan salah satu wujudnya. Temuan baru yang mampu mengubah sampah menjadi barang berguna juga seharusnya dilakukan. Proses daur ulang secara manual maupun secara automatis dapat dikembangkan semaksimal mungkin sehingga mengurangi sampah, khususnya sampah plastik.

urgensi-literasi-lingkungan-menyongsong-2050
Sampah domestik rumahtangga diolah menjadi kompos di TPST 3R Mulyoagung. (Terakota/Eko Widianto).

Gerakan literasi lingkungan dalam masyarakat juga dapat dilakukan mulai dari tingkat terkecil seperti RT/RW. Kewajiban menanam satu rumah satu pohon merupakan kewajiban yang baik untuk dibudidayakan. Kesadaran membuang sampah dan ketersediaan tempat sampah yang memadahi juga merupakan bentuk nyata literasi lingkungan. Pemerintah kota dan darah juga menyediakan bank sampah guna mengapresiasi warga yang mau memilah sampahnya dan ini tentu dapat enjadi pemasukan bagi wilayah yang mau menyetorkan sampahnya pada bank sampah.

Lomba-lomba daalam peringatan hari kemerdekaan dan juga peringatan hari besar juga harusnya didasari pada kesadaran lingkungan. Selain itu warga juga dapat membentuk komunitas lingkungan seperti pecinta satwa atau pecinta tumbuhan dan berbagai komunitas budidaya dan ternak guna mengedukasi masyarakat yang lain untuk terlibat aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Literasi Lingkungan di Keluarga

Literasi lingkungan yang paling nyata untuk dilakukan adalah lierasi lingkungan dalam keluarga. Menyediakan tempat sampah di dalam rumah dan membiasakan setiap anggota keluarga untuk menjaga kebersihan rumah adalah salah satu wujud nyata membiasakan sadar lingkungan dalam keluarga. Keluarga yang memiliki kesadaran lingkungan tinggi dapat menanam pohon, toga, hingga tanaman buah dalam pot atau tabulampot di rumah.

Pada akhir 2019 ada tren untuk menanam pohon dalam pot. Tren seperti ini harusnya dapat dikembangkan bagi keluarga yang memiliki kesadaran lingkungan tinggi. Kreasi-kreasi serupa juga dapat divariasikan mulai dari bentuk desain interior rumah ramah lingkungan hingga penataan halaman yang asri.

SEJUK. Kampung Glintung berubah menjadi kawasan layak huni. Sejuk dan sepanjang gang dipenuhi tanaman mulai sayuran sampai tanaman hias. (Terakota/Eko Widianto).

Gerakan literasi keluarga hendaknya menjadi pangkal bagi penanaman kesadaran lingkungan. Ketika seorang anak sudah sadar lingkungan sejak dalam keluarga, maka dia akan membawa kebiasaan itu dalam masyarakat dan sekolahnya. Indonesia butuh generasi yang sadar lingkungan seperti ini agar misi mewujudkan generasi emas 2045 bukan hanya menjadi impian dan angan angan belaka, dan pada tahun 2050 mereka masih memiliki akses lingkungan hidup.

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini