Upacara Bendera Tempo Dulu di Slorok

Petugas upacara mengibarkan bendera di Desa Slorok, Kromengan, Kabupaten Malang. (Terakota/ Imam Rosyadi).

Reporter : Imam Rosyadi

Terakota.id–Ratusan warga Slorok, Kecamatan Kromengan Kabupaten Malang berbaris di punden desa setempat. Mengenakan pakaian tradisional mamakai baju lurik dan blangkon. Sebagian mengenakan pakaian baju safari dan pakaian pejuang tempo dulu. Warga setempat tengah menggelar upacara bendera memperingati hari kemerdekaan, 17 Agustus 2018.

Berbaris rapi, upacara berlangsung sederhana namun khitmad. Terutama saat pengibaran bendera, tiga petugas pengibar bendera mengibarkan bendera. Paduan suara mengiringi saat pengibaran bendera merah putih.

Saat mengheningkan cipta, terasa haru seluruh peserta menundukan kepala. Suasana semakin khitmad ketika detik-detik proklamasi. Inspektur upacara membacakan teks proklamasi. Susana terasa layaknya upacara kemerdekaan tempo dulu.

Ratusan warga Slorok, Kromenangan Kabupaten Malang mengikuti upacara bendera tempo dulu. (Terakota/Imam Rosyadi).

Inspektur upacara yang juga Kepala Dusun Samsul Arifin bepesan kepada para pemuda untuk mengingat perjuangan para pejuang. Para pemuda diharapkan mengisi kemerdekaan dengan hal positif, demi membangun bangsa dan Negara.  “Kita tinggal merayakan, tak ikut susah payah merebut kemerdekaan. Mengorbankan harta, darah dan nyawa.”

Upacara bendera serupa dilakukan tahun lalu. Panitia sengaja mewajibkan peserta mengenakan pakaian tempo dulu. Tujuannya untuk menghadirkan suasana upacara seperti saat Presiden Soekarno memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia. Sehingga memotivasi pemuda tidak melupakan perjuangan para pendiri bangsa.

Tidak seragam, kostum tempo dulu yang dikenakan peserta berbeda-beda. Sehingga menunjukan meski berbeda-beda, Indonesia tetap satu. Sesuai semboyan bangsa Indonesia Bhineka Tunggal Ika.

Ratusan warga Slorok, Kromenangan Kabupaten Malang mengikuti upacara bendera tempo dulu. (Terakota/Imam Rosyadi).

Punden dipilih sebagai tempat upacara bertujuan menghormati leluhur Desa Slorok. Punden ini merupakan petilasan pembedah kerawang atau orang yang membuka Desa Slorok. Untuk mengenangnya para pemuda dan pejabat desa memilih tempat ini menjadi tempat upacara kemerdekaan.

Dulu petilasan atau punden ini sempat dihancurkan pemuda ormas Islam pada 1965. Lantaran dianggap menjadi tempat musyrik dijadikan tempat pemujaan. Namun kini punden dijadikan tempat mengenang perjuangan para leluhur sehingga petilasan dibangun kembali.

 

 

 

 

2 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini