Umar Ismail, Film Nasional dan Yowis Ben

Sosok Usmar Ismail, memenuhi syarat mendapat gelar pahawan nasional. Dukungan berasal dari masyarakat Jakarta, Padang, Surabaya, Bandung dan Yogyakarta. Usmar Ismail sangat layak karena memiliki rekam jejak panjang dalam perjuangan kemerdekaan. Termasuk sebagai pioner perfilman nasional melalui film darah dan doa yang dinilai sebagai film pertama yang diproduksi orang pribumi. Serta dengan cerita dan tema perjuangan kemerdekaann.

Terakota.id–Ratusan orang berdiri meriung, sebagian mengeluarkan telepon seluler mengabadikan Presiden Joko Widodo alias Jokowi yang tengah berada di Malang Town Square. Presiden Jokowi bersama sejumlah pejabat dan tokoh perfilman menyewa studio 4 berjumlah 176 kursi. Antara lain Pramono Anung, Muhadjir Effendy, dan Luna Maya.

Mereka tengah menonton sebuah film karya sineas asal Malang sekaligus youtuber Bayu Skak. Presiden Jokowi menyambut kehadiran sineas muda yang kreatif memproduksi film. Seperti film berjudul Yowis Ben ini.

“Senang ada sebuah film berbahasa Jawa Timuran. Ada terjemahan bahasa Indonesia. Sehingga semua tahun lur ceritanya,” kata Presiden Jokowi usai menonton film di studio 4 CinemaXX Malang Town Square, Rabu malam, 28 Maret 2018.

Film yang diproduksi di Malang ini menarik perhatian Jokowi. “Film Anak muda, wajib ditonton anak muda.” Jokowi mengaku alur ceritanya bagus dan memancing penonton tertawa.

Selama dua tahun terakhir, produksi film dan jumlah penonton melonjak. “Terjadi lompatan jumlah penonton dan produksi film,” katanya. Gedung bioskop, katanya, bertambah 50 persen. Produksi film juga melonjak sampai 40 persen, dari sebelumnya 10 persen.

“Lompatan besar dalam kurun waktu dua tahun ini. Sampai kekurangan kru film. Jumlah penonton bagus. Membuat film untung,” ujarnya.

Penulis skenario sekaligus sutradara film Yowis Ben, Bayu Skak mengaku bangga Presiden Jokowi datang menonton bareng. Menurutnya, merilis film susah apalagi berbahasa daerah Jawa. Sehingga ia mengaku bangga diapresiasi Presiden Jokowi.

“Alhamdulillah berhasil. 100 layar dan ditonton 980 ribu orang,” kata Bayu. Film ini diluncurkan agar masyarakat tak melupakan bahasa Ibu. Saat ini, katanya, Bahasa Jawa mulai luntur.

“Kita mulai melupakan bahasa dan budaya daerah,” ujarnya.

Ia berharap kedepan bermunculan film berbahasa daerah ditayangkan di gedung bioskop. Sehingga bisa mengenali teman dan budaya daerah lain. Tetap ingat akar budaya dan bahasa Jawa. Bahasa Jawa itu, katanya, bahasa yang jujur.

Bayu akan membuat sekuel film Yowis Ben tahun depan. Saat ini masih ada lima kota yang memutar. Kepala pusat perkembangan perfilman, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Maman Wijaya menilai Presiden Jokowi telah membuktikan turut berkampanye menonton film. Guna mendukung industri film nasional.

“Kemendikbud tengah berkampanye ayo nonton fim di bioskop. Presiden memberikan contoh, tak sekedar pesan lisan.”

Usmar Ismail Bapak Film Nasional

Presiden Joko Widodo mengapresiasi film dengan karakter dan bahasa daerah seoerti Yowis Ben. (Terakota/Eko Widianto).

Memperingati hari film nasional, Kementerian Pendidikan secara simbolis mengajukan gelar pahlawan kepada Usmar Ismail. Dukungan mengajukan Bapak perfilman nasional ini berasal dari masyarakat di Surabaya, Padang, Bandung, Jakarta dan Yogyakarta.

“Di kota-kota itu jejak reputasi Haji Usmar Ismail ada. Di Surabaya ada jejaknya memulai jurnalistik perfilman. Syuting perdana film darah dan doa dimulai di Jawa Barat 30 Maret 1950,” kata Kepala pusat perkembangan perfilman, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Maman Wijaya.

Sosok Usmar Ismail, katanya, memenuhi syarat umum dan syarat khusus untuk mendapat gelar pahawan nasional. Awalnya dukungan dari masyarakat dari Jakarta, Padang, Surabaya, Bandung dan Yogyakarta. Lantas disepakati diajukan melalui Gubenur DKI Jakarta kepada Menteri Sosial.

Menurutnya, Usmar Ismail sangat layak karena memiliki rekam jejak panjang dalam perjuangan kemerdekaan. Termasuk sebagai pioner perfilman nasional melalui film darah dan doa yang dinilai sebagai film pertama yang diproduksi orang pribumi. Serta dengan cerita dan tema perjuangan kemerdekaann.

Ia berharap dewan gelar memberikan gelar pahlawan kepad Usmar Ismail. Sehingga diharapkan akhir 2018, Presiden mengumumkan dan menetapkan Usmar Ismail sebagai pahlawan nasional.

Memperingati hari film nasional, Kementerian Pendidikan memberikan penghargaan kepada sosok orang yang mengabdi dalm bidang perfilman. Tim seleksi terdiri dari Jajang C Noor, Ninik L Kariem, dan Slamet Rahardjo. “Ada 10 kategori di luar sineas seperti wartawan dan kolektor perfilman,” ujarnya.

Juga diberikan penghargaan kepada 11 film yang menyedot penonton sampai 1 juta lebih. Kesebelas film ini dihasilkan enam produser. Antara lain my big boss, pengabdi setan, dan cek toko sebelah. Selain itu penghargaan bagi film yang mendapat penghargaan di luar negeri. Total ada enam film salah satunya berjudul Marlina.

Kementerian Pendidikan juga menyerahkan sertifikat kepada asesor bidang perfilman. Sertifikat ini merupakan kali pertama diberikan kepada 39 asesor perfilman. Mereka yang akan bekerja menjadi asesor insan perfilman.

Total sebanyak 3 ribuan profesi perfilman. Sertifikasi dibutuhkan untuk bersaing dengan negara lain terutama kawasan ASEAN sesuai dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Sejumlah perusahaan film asing, katanya, akan merekrut sineas Indonesia yang tersertifikasi.

Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan industri film Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mendorong SMK mendirikan program film. Saat ini ada 18 SMK percontohan program studi film. Sedangkan 112 SMK yang mengajarkan perfilman, dengan jurusan seni budaya, dan broadcast.

Sedangkan program studi film akan dilengkapi dengan tenaga pengajar guru bersertifikasi dan sarjana perfilman. SMK Dr Sutomo Surabaya merupakan sekolah pertama di Indonesia yang mendirikan program studi film pada Juli 2017.

Malang akan ada didirikan program studi film. Selain Malang juga sejumlah daerah yang berpotensi mengembangkan industri film antara lain Bandung, Surabaya, Makasar, dan Jakarta.

Tinggalkan Balasan