Tukang

Terakota.id–Coba kita perhatikan saat sebuah rumah yang sedang dibangun. Siapa saja orang-orang yang terlibat? Beberapa diantaranya ada kuli, tukang, dan mandor. Tentu masih ada lagi yakni pemilik rumah yang membayar pengerjaan rumahnya. Ini saya berbicara pengerjaan rumah pribadi, bukan untuk perumahan

Diantara mereka yang terlibat langsung dalam pengerjaan rumah, kuli menduduki posisi paling rendah. Biasanya orang-orang yang menjadi kuli ini tidak membutuhkan keahlian khusus. Yang penting mereka  secara fisik bisa melakukan pekerjaan. Bisa angkat batu, membuat campuran (semen, pasir, kapur) untuk melekatkan bangunan. Kadang  disuruh membeli ini dan itu sifatnya tidak utama untuk keperluan lain bangunan.

Para kuli ini bekerja sesuai perintah. Kelompok ini bisanya hanya bekerja sesuai perintah. Saat secara fisik sehat, maka kuli bisa mengerjakan apa saja sesuai arahan. Ia tidak tidak peduli apa omongan orang lain. Mereka setia dengan menjalankan fungsinya sebagai kuli.

Kemudian ada tukang. Kelompok ini dianggap punya keahlian. Karenanya posisinya di atas kuli. Ia profesional karena memang keahliannya. Tetapi ia ahli karena lebih berdasar pengalaman. Kelompok tukang juga awalnya bisa berasal dari kuli. Setelah lama bekerja, punya pengalaman lapangan yang mencukupi,  ia bisa alih profesi menjadi tukang. Dalam beberapa kesempatan tukang juga bisa merangkap menjadi kuli.

Tukang ini hanya bisa mengerjakan atas instruksi mandor. Bisa juga ia langsung berhubungan dengan pemilik rumah. Jika yang dibuat hanya satu rumah, misalnya, tukang menjalankan instruksi dari pemilik rumah. Jika ia membangun perumahan, misalnya, ia akan berhubungan dengan mandor. Mandor sediri dibawah instruksi pengembang dan kontraktor. Ini jika kita mengamati pembuatan rumah sejenis perumahan dalam jumlah yang banyak.

Kuli dan Tukang

Kita tak usah membedakan pembangunan perumahan dengan jumlah bangunan banyak atau rumah pribadi dengan jumlah sedikit. Di sini kita akan berbicara soal mereka yang terlibat yakni  dalam banguan; kuli, tukang, dan mandor.

Sekarang kita analogikan kuli, tukang dan mandor itu dalam lingkup yang lebih luas, misalnya negara. Bisa jadi analogi ini tidak seratus persen benar, tapi tak sepenuhnya salah. Tetapi minimal mendekati. Kuli pekerjaanya tentu saja menuruti perintah. Ia hanya melaksanakan. Mandor pekerjaannya mengatur sesuai keinginan yang punya uang.

Kalau seorang pejabat pekerjaannya hanya melaksanakan perintah atasannya, maka ia bisa disebut dengan kuli. Mungkin ia hanya seperti robot. Hanya melaksanakan perintah, dan seringkali tanpa keahlian. Seorang buzzer (pendengung) yang bekerja hanya menuruti perintah saja bisa masuk dalam kategori ini. Sebab, mereka bisanya hanya bekerja dan menjalankan perintah. Persoalan apakah yang dilakukan itu bermanfaat bagi banyak orang tidak diambil pusing.

Lalu ada mandor. Mandor hanya menjalankan perintah yang punya uang. Jika seorang pejabat hanya mengikuti keinginan yang punya uang, maka ia berposisi sebagai mandor. Seorang pejabat pemerintah yang harusnya bekerja melaksanakan amanat rakyat tetapi hanya mengikuti keinginan pemodal ia bertindak layaknya mandor.

Tetapi mandor ini tetap bergengsi. Ia masih punya anak buah yakni tukang dan kuli tadi. Mereka yang bekerja hanya menuruti keinginan pemodal, dalam bahasa politik disebut kaum oligark, maka ia telah memasukkan dirinya sebagai mandor. Tugasnya hanya menjalankan instruksi pemilik modal itu kemudian dia mendistribusikan pekerjaannya ke tukang dan mandor.

Tukang Intelektual

Lalu bagaimana dengan tukang sendiri? Tukang itu kelompok masyarakat yang mempunyai keahlian. Perhatikan tukang bangunan. Tentu saja, ia punya keahlian terkait membuat bangunan. Ia punya ilmu yang mencukupi.

Namun sehebat-hebat tukang ia tetap berada dalam instruksi seorang mandor. Bahkan tukang bisa juga berhubungan dengan pemilik rumah. Pemilik rumah bisa menginstruksikan kebijakan tertentu terkait rumahnya pada tukang itu. Tentu saja dalam saat-saat darurat. Tukang ini juga bisa memberikan saran pada pemilik rumah. Tentu berdasar pengalamannya saat membuat banyak rumah. Tak sembarang menjadi tukang. Bayarannya tentu lebih besar dari kuli meskipun bisa jadi tetap dibawah mandor.

Bagaimana dengan tukang dalam tubuh pemerintahan? Sebagai sebuah bangunan —  entah sedang dibangun atau direnovasi — tukang ini juga dibutuhkan. Lalu siapa tukang yang masuk dalam kelompok ini?  Kelompok tukang dalam pemerintahan ini bisa terdiri dari intelektual kampus atau orang-orang yang punya pengalaman mumpuni di bidang keilmuan. Penguasaan ilmu ini bisa disamakan dengan pengalaman seorang tukang bangunan yang punya pengalaman dalam membangun. Bedanya tukang bangunan profesional di bidangnya karena pengalaman lapangannya.

Mengapa mereka bisa disebut sebagai tukang? Karena memang tugasnya melaksanakan, memberikan masukan dan legitimasi kebijakan pemerintah. Tetapi ia hanya sebagai tukang. Karenanya ia bekerja menuruti keinginan “pemilik kebijakan dan modal”.

Setiap pemerintahan tentu mempunyai para tukang ini. Hal demikian pernah dikatakan cendekiawan Soedjatmoko, “Setiap rezim punya kuli intelektualnya sendiri-sendiri”. Kalau saya lebih senang menyebut tukang, bukan kuli.  Kalau kuli nadanya agak kasar dan kuli hanya bekerja kayak robot tanpa pengetahuan dan dasar ilmu tertentu. Sementara tukang memakai keahliannya. Meskipun keahliannya ini hanya digunakan untuk mendukung kebijakan pemerintah.

Para intektual tukang ini bisa bertugas dengan memberikan masukan atau bahkan terjun langsung ke lapangan. Karena sudah menjadi tukang maka ia rela juga menjadi martil pemerintah. Jika ada kebijakan pemerintah yang dikiritik ia akan tampil membela di depan dengan ilmu pengetahuannya. Tentu saja ia membela habis-habisan karena memang dia bekerja untuk itu.  Ia tidak peduli lagi dengan reputasi ilmunya. Apakah akan dihujat masyarakat akademis tak jadi soal. Ia bekerja untuk “majikannya”.

Apakah posisi itu salah? Tidak juga. Hanya posisinya sebagai kelompok ilmuwan sudah tercoreng. Wibawanya sebagai seorang ilmuwan tentu sudah turun. Wibawanya bisa jadi sebatas karena ia bisa mendekat ke kekuasaan. Para tukang ini tentu akan mendekat  pada siapa yang  bisa memberikan “kemakmuran”. Bisa jadi intelektual tukang akan berpindah dari satu rezim ke rezim lainnya.

Menjadi intelektual tukang juga tetap bergengsi karena menjadi pejabat. Apalagi, masyarakat kita masih menganggap profesi pejabat sebagai pekerjaan yang bergengsi tinggi. Perkara ia hanya menjadi tukang pun masyarakat sering tak mempertimbangkan soal itu. Tahunya orang tersebut sudah menjadi pejabat, meskipun hanya tukang.

Tukang bangunan bekerja untuk kepentingan mandor dan pemilik rumah. Perkara yang dibangun itu tidak sesuai dengan keinginan dirinya, ia tak peduli. Intinya dia hanya melaksanakan keinginan atasan dalam jenjang struktur pembuatan rumah. Ia menuruti selera yang punya rumah. Yang penting dia tetap digaji, dapat gengsi anak istri di rumah hidup senang dan berkecukupan, meskipun “dipisuhi” oleh sebagian orang.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini