Tuhan itu Memang Satu, Kita  Yang Tak Sama

Terakota.id–Hidup ini menjadi rumit atau tidak sangat tergantung pada persepsi seseorang. Kalau hidup dibikin ruwet maka sulitlah hidupnya. Jika hidup itu dianggap simpel akan mudah dan menyenangkan hidupnya. Cukup sederhana bukan? Kadang keruwetan itu kita sendiri yang membuat, tetapi sering mengatasnamakan diri atau menyalahkan orang lain.

Mengapa? Karena hidup itu kan soal persepsi saja. Tentu saja persepsi seseorang dengan orang lain bisa jadi beda. Persepsi itu akan dipengaruhi oleh berbagai multidimensi yang melekat pada diri seseorang.

Seseorang yang dibesarkan dalam keluarga yang “kasar” tentu akan punya persepsi lain soal perkelahian. Bisa jadi ia menganggap perkelahian itu buruk karena keluarganya sering melihat atau bahkan menjadi korban perkelahian itu. Tentu akan berbeda dengan seseorang yang dibesarkan dalam keluarga yang biasa saja. Jadi latar belakang keluarga menentukan bagaimana persepsi seseorang atas perkelahian.

Itu belum termasuk  pengetahuan, kepentingan, dimensi waktu, situasi dan kondisi. Banyak bukan yang memengaruhi persepsi seseorang? Apakah persepsi masing-masing orang itu salah? Tentu harus ada tolok ukur tertentu yang disepakati satu sama lain.

Misanya, bagaimana kriteria mahasiswa pinter itu? Apakah ditentukan oleh Indeks Prestasi Komulatif IPK)? Apakah ditentukan dengan jumlah perolehan sertifikat selama kuliah? Apakah berkaitan dengan pendekatan dengan dosen? Atau soal kejujuran yang didapatkan dari proses belajar mengajar? Atau apa? Tentu harus ada kesekapatan satu sama lain, bukan? Kalau tidak ada kriteria tentu tak akan pernah tercapai kesepakatan. Buntutnya tentu saling curiga dan mau memang sendiri. Tidak percaya? Boleh Anda buktikan.

Jika itu semua terjadi yang akan muncul kemudian adalah pemaksaan-pemaksaan karena kriteria dirinya sendiri yang dianggap benar. Akhirnya kriteria benar atau salah ini tak jarang berkaitan atau bersinggungan dengan sejauh mana kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki. Semakin seseorang kuat atau punya kekuasaan ia akan punya kecenderungan untuk memaksakan kehendaknya.

Seandainya itu terjadi, maka suasana kehidupan sosial di sekitar kita tak ubahnya dengan hiruk pikuk untuk saling melenyapkan karena pada dasarnya orang lain itu berbeda dan dianggapnya mengganggu.

Jadi soal rumit tidaknya kita dalam memahami sesuatu sangat tegantung pada persepsi seseorang. Sementara persepsi itu terus berkembang tergantung pada sejarah peradaban manusia dan kemajuan ilmu pengetahuan. Tentu persepsi seseorang tentang kekuasaan seorang raja zaman sekarang dengan zaman tahun 80-an sangat berbeda, bukan?

Tolok Ukur

Mengapa orang kampus berbeda dalam penelitian kuantitatif dan kualitatif? Itu semua menyangkut tolok ukur. Masing-masing mempunyai latar belakang dan kriteria sendiri-sendiri. Kriteria itu akan membawa konsekuensi pada hasil penelitian. Jadi baik  kuantitatif dan kualitatif itu semua bernama sekadar metode penelitian. Sekali lagi, ini menyangkut tolok ukur.

Mengapa kita harus berbeda pendapat soal ini dan saling ngotot satu sama lain pula? Metode itu sebuah pendekatan saja untuk menganalisis sebuah permasalahan. Tentu saja, masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Tergantung kita mau apa, tujuannya bagaimana. Untuk meneliti perilaku masyarakat tentu penelitian kualitatif akan lebih layak dilakukan.

merawat-kebhinnekaan-di-indonesia
ILustrasi : pinterest.com

Analoginya begini saja. Tolok ukur itu ibarat sebuah alat. Katakanlah alat potong. Alat potong itu ada pisau, belati, silet, gunting, kampak, pedang, samurai, keris dan lain-lain. Bagaimana menggukan alat-alat itu? Masalahnya kita mau apa? Mau potong rambut? Mau membunuh? Mau memotong batang kayu besar? Kalau mau potong rambut tentu memakai gunting, bukan? Apakah memakai keris itu bisa? Bisa sih bisa tetapi akan ditertawakan orang lain.

Paling tidak hasil yang dikehendaki tidak akan sesuai harapan. Keris itu memang alat potong ia juga bisa dipakai memotong rambut. Tapi jika bicara soal hasil pemotongan hasilnya tentu akan berbeda. Jadi sebenarnya cukup simpel bukan? Semua tergantung alat dan tujuan yang ingin dicapai.

Para Penyemai tuhan

Ada yang mengatakan bahwa agama itu ibarat air. Karenanya ia bisa berwujud air laut, air sungai, air kolam, air hujan dan lain-lain. Wujud airnya berbeda-beda, tetapi tetap namanya air. Kita tidak bermaksud mengatakan agama ini air sumur,agama lain air comberan. Tidak begitu. Saya hanya menunjukkan betapa ada banyak ragam dalam memahami agama, bukan?

Tuhan pun sebenarnya satu. Karena satu maka sumbernya juga satu, bukan? Pancasila dasar negara kita pada sila ke-1 saja sudah disebutkan, diyakini dan dideklarasikan untuk kemudian dilaksanakan. Ini saja masih timbul masalah jika berkaitan dengan masyarakat. Mengapa? Hal tersebut juga menyangkut soal sudut pandang. Repotnya, masing-masing mempunyai atau memaksakan sudut pandangnya sendiri.

Maka, Tuhan itu kan satu, kita saja yang tak sama. Mengapa tak sama? Kalau semua sama tentu hidup ini sudah selesai. Tuhan memang menciptakan manusia berbeda. Lihat bentuk wajah di sekitar kita. Beragam bukan? Itulah kekuasaan Tuhan yang tak dimiliki makhluk lain. Dan kita wajib percaya untuk itu. Itu pelajaran awal bahwa kita itu berbeda, tetapi sama-sama makhuk Tuhan bukan? Sumbernya sama bukan? Sebagaimana agama yang saya singgung di atas.

Dari sini seharusnya manusia belajar bahwa berbeda itu hal yang wajar. Tak bisa semua itu harus sama. Apa mau menyamakan wajah-wajah orang di sekitar kita? Ini sebuah perumpamaan sederhana saja.

Toleransi ditunjukkan umat beragama di Kota Malang saat salat Idul Adha tahun ini. (Terakota/Eko Widianto).

Tetapi mengapa Tuhan menciptakan manusia berbeda? Ya biar manusia belajar. Belajar saling menghormati, belajar menghargai, belajar untuk lebih dewasa, belajar untuk lebih baik dan sebagainya. Pokoknya tugas manusia itu belajar. Belajar untuk mengabdi kepada Tuhannya. Tentu dengan berbagai jalan. Tujuannyan tentu mengabdi.

Jika orientasi hidup manusia untuk mengabdi pada Tuhan, maka selesai sudah urusan hiruk pikuk di sekitar kita. Hiruk pikuk politik? Itu soal kecil. Jika orientasi individu itu untuk mengabdi pada Tuhan. Semua tujuan sama, hanya caranya saja yang beda. Jadi, Tuhan itu satu, hanya kita yang tak sama saja.

Oleh karena itu,  meskipun kadang membuat geram, kasus korupsi itu juga sebenarnya menyuruh manusia Indonesia untuk belajar. Belajar dari apa? Bisa belajar dari pengalaman. Bagi masyarakat biar punya cara untuk terus protes. Kalau tidak ada korupsi bagaimana masyarakat akan protes? Barangkali korupsi di Indonesia itu  terjadi biar semua saling belajar. Bahwa pemerintah itu tidak boleh ragu-ragu dalam pemberantasan korupsi. Masyarakat juga jangan takut untuk terus protes.

Mengapa selama ada terjadi polemik? Tentu saja, pemerintah tidak mau disalahkan soal korupsi. Jika menerima kesalahan, bisa akan dianggap “mencoreng” muka dirinya. Bahwa dirinya tidak sanggup menyelesaikan kasus korupsi. Ini dari sudut pandang pemerintah. Jika ini terjadi, cermin bahwa pemerintah tak berurusan dengan substansi isi masalah. Subtansi peberantasan korupsi lebih penting dari sekadar citra, wibawa dan semacamnya.

Sudut pandang masyarakat tentu lain lagi soal itu. Mengapa pemerintah harus risau atas protes RUU KPK beberapa waktu lalu jika memang itu sebenarnya baik untuk masa datang bangsa ini? Soal lain, mengapa juga ada gerakan yang dicurigai radikal? Biar pemerintah mempunyai tugas. Kelompok masyarakat yang tidak setuju radikalisme juga biar bisa terus berpikir dan memprotesnya. Jadi, ada keuntungan bukan? Ini bukan berarti saya setuju radikalisme itu. Bukan itu. Tapi ini menyangkut bicara soal yang substansial.

Radikalisme itu sebenarnya sudah selesai jika kita berpegang teguh pada bahwa Tuhan itu satu (hanya kita yang tak sama). Atau kembalikan pada dasar tujuan negara ini. Mengapa masih ada gerakan radikalisme? Tentu introspeksi pada diri kita sendiri. Jangan-jangan muatan radikalisme itu soal keadilan yang sudah agak susah diwujudkan di negara ini. Karena semua sibuk mengurusi “keuntungan diri dan kelompok”.

Saya yakin, radikalisme tidak akan menemukan perkembangannya di negara ini. Itu semua hanya pernik-pernik yang muncul karena akibat dari sebuah sebab kebijakan. Sekali lagi, ini tidak berarti bahwa saya pendukung radikalisme. Hanya kadang radikalisme itu sudah dipolitisir sesuai kepentingan kelompok masing-masing.

Yang dibutuhkan adalah sadar bahwa kita tidak sama. Semua sudah menjadi ciptaan Tuhan. Yang pasti kepercayaan pada Tuhan (sumber segala sumber hidup) yang satu tidak boleh berubah. Mengapa tetap bermasalah selama ini? Jangan-jangan tanpa sengaja kita telah memupuk dan menumbuhkan  tuhan-tuhan (selain segala kepercayaan atas sumber segala sumber hidup) dalam diri sendiri. Tuhan-tuhan yang kita ciptakan dalam diri itu kita paksakan pada orang lain yang  tidak “setuhan”. Pemerintah punya tuhan sendiri. Masyarakat punya tuhan sendiri. Para pendukung politik punya tuhan sendiri. Netizen apalagi.

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini