Tubuhmu Bukan (Sepenuhnya) Milikmu

Set of kids singing and dancing illustration

Terakota.id–Sekarang-karang ini, hampir setiap kali bertemu baik secara fisik maupun virtual dengan saudara atau sahabat, salah satu pertanyaan wajib yang saya ajukan adalah “Sehat ya?” Kalau sudah akan berpisah pun, wasalam saya biasa berupa harapan, “Jaga kesehatan ya!” atau “Tetap sehat!” Dulu, sebelum pandemi, saya biasanya hanya bertanya secara umum, semisal, “Apa kabar?”

Kesehatan, dalam hal ini kesehatan badan atau jasmani, memang menjadi konsen sebagian besar dari kita di masa pandemi ini. Jika pada masa ‘normal’ atau prapandemi, kesehatan sudah dianggap penting (siapa sih yang secara sadar ingin sakit, misalnya?) di masa pandemi ini, kesehatan, terutama kesehatan jasmani, meningkat menjadi genting.

Memang, tubuh merupakan aset fisik yang sangat langka. Setiap manusia memiliki hanya satu tubuh yang dihidupinya dari sejak berupa janin sampai meninggalnya. Sampai sekarang, belum ada teknologi yang cukup canggih yang memungkinkan orang memilih tubuhnya sendiri atau pindah ke tubuh lain ketika tubuh lamanya rusak. Entah di masa yang akan datang. Karenanya, ketika tubuh itu berhenti berfungsi, berhenti jugalah kehidupan organik yang disokongnya. Ketika salah satu organ atau bagian tubuh rusak atau tidak berfungsi baik, salah satu solusinya, jika si empunya memiliki cukup kapital, terutama kapital ekonomi dan sosial, adalah mencangkoknya dari tubuh lain.

Begitu pentingnya tubuh sehingga (1) banyak orang yang bersedia menjaga dan merawatnya dengan sebaik-baiknya lewat beragam cara, mulai dari yang sifatnya preventif seperti berolahraga, istirahat, dan mengonsumsi sesuatu yang sehat, sampai kepada yang kuratif, entah lewat cara medis positif maupun lewat cara-cara pengobatan alternatif. Mereka juga rela mengeluarkan uang untuk mendandaninya, jika dirasa perlu. Intinya di sini adalah adanya kesadaran yang mendalam akan pentingnya tubuh.

Namun demikian, dalam kajian budaya, tubuh bukan sekadar merupakan atau tidak berhenti sebagai aset pribadi yang pemiliknya rawat, jaga, dandani, dan seterusnya. Tubuh adalah (2) arena kontestasi atau persaingan antarberbagai kuasa serta panggung pertunjukan kekuasaan itu sendiri. Setidaknya, begitulah yang diproposisikan oleh Michel Foucault (1926-1984), filsuf berkebangsaan Prancis.

Kontestasi atas tubuh berarti bahwa tubuh manusia merupakan arena untuk show off kekuasaan atau untuk menguasai satu sama lain demi kepentingan tertentu. Tubuh adalah juga sarana atau panggung untuk menunjukkan siapa yang lebih berkuasa (dalam pengertian seluas-luasnya, yang bisa meliputi tetapi tidak terbatas pada yang lebih langsing, lebih indah, lebih bahenol, lebih sehat) atas tubuh lain.

Tubuh Sosial dan Kultural

Kembali ke masalah tubuh. Kita menginginkan tubuh yang ideal, yang dalam pengertian ‘objektif’ berarti, misalnya, yang BMI (body mass index)-nya sempurna, organ-organ dalam dan luarnya sehat serta dapat berfungsi dengan baik.

Setelah fungsi-fungsi dasar tubuh ini tercapai, kita menginginkan yang lebih. Kita menginginkan tubuh yang tidak hanya sehat, tetapi juga indah dan menarik, yang dapat dipamerkan dan mengundang decak kagum dari orang lain yang melihatnya. Kita ingin tubuh yang terlihat sempurna saat didandani. Pada titik inilah, keadaan menjadi lebih problematis dan sangat menarik untuk dikaji.

Definisi (tubuh yang) sehat atau normal adalah sesuatu yang sejatinya tidak objektif dan netral seperti banyak dipercaya dan diyakini, setidak-tidaknya jika kita mengikuti cara pandang Foucault. Ke-normal-an atau kesehatan tidak pernah berdiri sendiri. Di dalamnya berkelindan konsep dan cakar-mencakar kekuasaan. Untuk membongkarnya, kita perlu menguliti siapa yang mendefinisikan atau berhak mengategorisasikan sesuatu sebagai normal atau sehat. Siapa yang menetapkan BMI dan berat ideal. Siapa yang menentukan postur tubuh yang baik.

Jika kita tarik ke belakang, ‘kenormalan’ seperti yang kita pahami dewasa ini bisa jadi dianggap sebagai sesuatu yang kurang atau tidak normal di masa yang berbeda, atau di sistem kebudayaan yang berbeda atau di masyarakat yang tata nilainya berbeda dari yang kita hayati. Bahwa tubuh yang normal atau sehat adalah yang langsing, dengan BMI sekian-sekian, adalah hasil atau pandangan atau keyakinan suatu rezim yang lantas ‘dipaksakan’ pada kelompok yang lebih besar.

Saya masih ingat bahwa pada suatu masa, orang dikatakan sehat dan ‘normal’ jika tubuhnya gemuk atau chubby. Bisa jadi karena badan yang gemuk atau chubby adalah pertanda bahwa dia cukup makan di tengah masa di mana makanan adalah sesuatu yang langka.  Sebaliknya, jika tubuh seseorang langsing mendekati ceking, itu dianggap tidak menarik dan tidak sehat.

Perubahan cara memandang tubuh serta cara mengategorikan mana tubuh yang sehat, yang normal, yang menarik, yang indah, yang seksi, dan seterusnya jelas bukan sesuatu yang tiba-tiba datang kepada umat manusia sebagai wahyu atau sebagai hasil penelitian ilmiah positivistik nan objektif. Di balik atau di belakang cara-cara memandang atau modes of gazing itu terdapat suatu ideologi, lengkap dengan aparatus atau rezim yang mendukung atau menggangsirnya.

Pada masa ketika Jerman dipimpin oleh Nazi, pemerintah melalui departemen kesehatan menetapkan tentang ciri-ciri dan ukuran ideal dari tengkorak manusia, bentuk hidung, bentuk rahang, warna kulit, warna mata, warna rambut, dan seterusnya. Jika seseorang pada masa itu memenuhi ciri-ciri dan ukuran tersebut, dia masuk dalam golongan warga negara. Di luar itu adalah non-warga negara. Hal ini bisa kita saksikan di Holocaust Museum di Washington, DC.

Keinginan untuk memiliki tubuh yang sehat, yang normal, yang menarik, yang indah, yang seksi, dan seterusnya, karenanya juga tidak dapat dipandang sebagai sebuah keinginan yang lahir secara naluriah atau apa adanya. Hal-hal tersebut kita pelajari seiring pertumbuhan dan perkembangan diri kita, mulai dari masa bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, hingga tua. Dan cara pandang itu, kita internalisasi dari keluarga, lingkungan, gereja atau kelompok religius lain, sekolah, dan juga negara. Mereka memanfaatkan kuasanya atas kita dengan mengenalkan kita, mengedukasi kita, dan pada akhirnya menilai kita menurut ukuran mereka.

Selain mempertanyakan atau mengulik genealogi cara pandang dan cara menilai tubuh, pemikiran Foucaultian juga melihat bagaimana tubuh, lewat presentasi atau penampilan publiknya, adalah sarana kontrol dari penguasa atau rezim. Tubuh diatur untuk tunduk, untuk seragam, untuk mengenakan pakaian x dengan cara y. Kontrol atas tubuh menjadi sarana atau pintu masuk untuk mengontrol pikiran dan cara hidup. Dengan pendisiplinan tubuh yang keras dan tegas, cara berpikir pun diarahkan sesuai dengan kehendak atau kepentingan penguasa.

Menjelang masuk dan berkuasanya kembali kelompok Taliban di Afghanistan pada awal Agustus lalu, banyak kaum perempuan di negara tersebut membanjiri toko-toko pakaian untuk memborong burkha. Tubuh yang ditutup dengan burkha adalah tubuh yang diinginkan oleh penguasa politik baru di negeri itu, sehingga jika ingin selamat, kaum perempuan harus tunduk dan patuh pada cara pandang atau ideologi Taliban. Lewat tubuh dan cara berpakaian, warga negara didudukkan pada posisi sebagai liyan atau the others dari penguasa.  

Sebegitu suramkah keadaan kita? Memang, kenyataan ini tidak dapat disangkal. Tetapi sisi terangnya, kita rasanya tidak perlu sepesimis atau sesinis Foucault dalam memandang realitas relasi kuasa ini. Sejujurnya, walaupun didukung oleh kepemilikan kapital sosial, intelektual, kultural dan ekonomi yang dominan (meminjam terma yang diperkenalkan oleh Pierre Bourdeau), penguasa atau rezim tidak akan pernah mampu sepenuhnya mengontrol atau mengooptasi ruang gerak dan kreativitas warganya.

Mereka tidak akan pernah mampu menutup secara mutlak kanal-kanal subversif yang terus berevolusi dan seperti air yang merembes ke sela-sela tembok yang paling rapat. Tubuh dapat didisiplinkan pada skala makro dan mikro, tetapi di skala nano akan muncul ruang gerak yang memungkinkan agensi pemiliknya muncul.Secara khusus di era yang sangat digital ini, di mana kontrol tidak mungkin seutuhnya terpusat pada satu inti, ada sebaran-sebaran ruang yang dapat diambil dan digunakan oleh pemilik tubuh untuk mensubversi modes of gazing yang ditetapkan oleh penguasa.

Meskipun Foucault sendiri melihat non-sentralitas kuasa ini justru sebagai diversi dari kuasa agar dirinya semakin sublim dan tidak mudah diidentifikasi, ruang yang sama membuka kemungkinan-kemungkinan baru untuk melawan, menentang, atau sekadar memarodikan kontrol atas tubuh. Parodi atas cara yang dipaksakan rezim adalah sebuah sindiran subtil terhadap rezim yang ingin menguasai tubuh. Bisa jadi bentuknya sesederhana memakai jas yang dipadu-padan dengan kain batik, atau maskara di balik burkha yang tertutup. Siapa tahu.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini