Tuan Guru Pancor Pendiri ‘Kebangkitan Bangsa’

Terakota.id –Presiden  Joko Widodo menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada almarhum Tuan Guru Kiai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Ulama kharismatik asal Lombok, Nusa Tenggara Barat dikenal dengan sebutan Tuan Guru Pancor. Seorang ulama pendiri Nahdlatul Wathan.

Dilansir dari situs Nahdlatul Wathan, Tuan Guru Pancor  lahir lahir dari pasangan Tuan Guru Haji Abdul Madjid dan Hajjah Halimtus Sa’diyah, di Kampung Bermi, Pancor, Lombok Timur, 5 Agustus 1898. Wafat pada usia 99 tahun, pada 21 Oktober 1997 pada usia 99 tahun.

Tuan Guru Pancor menunaikan ibadah haji pada usia 15 tahun, sekaligus belajar di Madrasah As – Shaulatiyah Makkah. Mengeyam pendidikan agama selama tiga setengah tahun.  Pada 1934 memutuskan kembali ke tanah air, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid kemudian mendirikan Pondok Pesantren Al-Mujahidin.

Selanjutnya, pada 22 Agustus 1937 mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI)  khusus untuk murid lelaki. Berikutnya, pada 21 April 1943, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid mendirikan Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) untuk murid perempuan. Kedua madrasah itu merupakan madrasah pertama yang berdiri di Pulau Lombok. Selanjutnya menjadi cikal bakal berdirinya semua madrasah di bawah naungan Nahdlatul Wathan.

Pada zaman penjajahan Jepang, berkali-kali meminta madrasah yang didirikan TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid ditutup dan dibubarkan. Jepang beralasan kedua madrasah digunakan sebagai tempat menyusun taktik perlawanan. Argumentasi cerdas, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid mengubah nama madrasah menjadi “Sekolah Penghulu dan Imam”. Sehingga Jepang mengizinkan kedua madrasah tetap dibuka.

Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan dan Jepang takluk dari tentara sekutu, Belanda berupaya kembali masuk ke Indonesia. Netherlands Indie Civil Administrations (NICA) mendarat di Lombok. TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pun tak tinggal diam. Ia menjadikan dua madrasah yang didirikannya yakni NWDI dan NBDI sebagai pusat pergerakan.

TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid bersama guru – guru di dua madrasah itu membentuk suatu gerakan beri nama “Gerakan Al Mujahidin.” Gerakan ini bergabung bersama laskar rakyat lainnya di pulau Lombok untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada 7 Juli 1946, para pejuang menyerbu tangsi militer NICA Belanda di Selong, Lombok, NTB. Tiga pejuang gugur sebagai syuhada dalam penyerbuan itu.

Usai perjuangan mempertahankan kemerdekaan, madrasah – madrasah itu berkembang cukup pesat. Tercatat sebanyak 66 madrasah berdiri pada 1952. Demi memudahkan koordinasi dan pengembangan, maka pada 1 Maret 1953 TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid mendirikan organisasi Nahdlatul Wathan. Bergerak di bidang pendidikan, sosial dan dakwah islamiyah. Nadhlatul Wathan, dalam bahasa Indonesia berarti kebangkitan bangsa.

Dari tahun ke tahun, madrasah terus berkembang mulai tingkat taman kanak – kanak sampai perguruan tinggi. Termasuk lembaga sosial dan dakwah Islamiyah di bawah naungan Nahdlatul Wathan di seluruh pelosok Indonesia. Sampai tahun 2016, lebih dari 1000 madrasah telah didirikan.

TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, sang ulama karismatik itu dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh Presiden Joko Widodo pada Kamis, 9 November 2017. Penganugerahan gelar tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 115 TK Tahun 2017 tanggal 6 November 2017 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Upacara penganugerahan gelar berlangsung di Istana Negara, Kamis, 9 November 2017.

Ada tiga tokoh nasional lainnya yang dianugerahi gelar pahlawan nasional. Yaitu, Laksamana Malahayati, Sultan Mahmud Riayat Syah, dan Lafran Pane. Keempat tokoh itu dipilih berdasarkan jasa dan tindakan kepahlawanan mereka. Baik itu yang terlibat di medan perang maupun berjasa di bidang pergerakan.

TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, mendapatkan gelar Pahlawan Nasional karena mendirikan organisasi Islam Nahdatul Wathan. Sebuah organisasi yang memberikan perhatian kepada pendidikan dan agama.

Selanjutnya, Laksamana Malahayati berasal dari Aceh, berjasa di medan perang. Ia pernah memimpin armada laut Indonesia berperang melawan Belanda dan berhasil menewaskan Cornelis De Houtman di tahun 1559. Selain itu, pada 1606 Cornelis bersama Darmawangsa Tun Pangkat (Sultan Iskandar Muda) berhasil mengalahkan armada laut Portugis.

Sultan Mahmud Riayat Syah, berasal dari Kepulauan Riau. Dalam Perang Riau I di tahun 1782 – 1784, Sultan Mahmud berhasil mengalahkan Belanda yang ingin masuk ke Riau. Pada 1811, Sultan Mahmud berperan melawan ekspansi Belanda ke Sumatera Timur, Sumatera Selatan, dan Bangka Belitung.

Sedangkan Lafran Pane asal Yogyakarta, dianugerahi gelar Pahlawan Nasional karena berperan aktif dalam mendorong gerakan pemuda di Indonesia. Salah seorang pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada 5 Februari 1947.

Pahlawan nasional (Foto :wikipedia).

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini