Tradisi Mencuci, Kini jadi Lebih Diyakini Digdayagunanya “Cuci Tangan”

Pementasan tari di Candi Jolotundo. Candi ini menjadi salah satu bukti kecanggihan teknologi tata kelola air era lampau (Terakota/Aris Hidayat).

      Enam Langkah cuci tangan

     Mari kita lakukan

     Telapak punggung tangan

     Sela-sela jarinya

     Jangan lupa kuncinya

     Juga ibu jarinya

     Jangan lupa kukunya

     Yang kanan dan yang kiri

Catatan : Lirik lagu diulang 2  X

Lirik lagu “6 Langkah Cuci Tangan”

Oleh : Tim PPI RSPC

Arti Perkataan “Cuci Tangan”

Terakota.id–Ndok, jangan lupa untuk :

       “Cuci tangan sebelum makan,

       Cuci kaki sebelum beranjak tidur,

       Cucilah kaki sebelum masuk rumah,

       Cuci-sucikan diri sebelum beribadah”,

begitulah pitutur Bunda.

Nasihat itu, barangkali pada beberapa waktu lalu “terabaikan”. Kini, ketika Covid-19 merebak, perihal “bercuci” kencang untuk disuarakan. Malahan, Hand sanitizer kini jadi barang yang banyak diburu, kian langka, dan melambung harganya. Sampai-sampai, hand sanitizer di sebuah Rumah Sakit daerah Tuban pun menjadi sasaran maling. Pada tempat-tempat publik, set alat cuci tangan bergegas dilengkapkan dan warga riil mempergunakannya. Penyemprotan dengan disinfektan digiatkan di penjuru negeri untuk kepentingan sterilisasi.

Sementara itu, media TV, video unggahan di FB, dan di berbagai kesempatan rajin disampaikan mengenai “tata cara cuci tangan secara baik dan benar”. Pendek kata, tema aktual yang viral adalah “cuci tangan”. Sekarang orang menjadi tersadarkan bahwasanya bercuci itu benar berguna. Oleh sebab,  kondisi bersih-sehat setelah bersuci dinyakini bisa menbantu terhindar dari virus ganas itu.

Ada sejumlah pemakaian kata “cuci”, antara lain menggabungkan dengan kata- kata yang berkenaan dengan organ tubuh, seperti : cuci  mata; cuci otak, cuci perut, cuci mulut, cuci tangan, cuci darah, cuci hati, dsb. Atau bisa dengan hal-hal lainnya, seperi : cuci gudang, cuci nama, cuci kasus, dan. Salah satu kata gabung itu adalah “cuci tangan”, yang punya dua kemungkinan arti, yaitu : (1) membasuh tangan dengan gan air, (2) tidak turut campur pada suatu masalah walaupun mengetahuinya, dan (3) tidak mau terlibat dalam kesalahan yang dibudibuat orang lain (KBBI, 2002;222).

Pada kasus Corona yang dibicarakan ini, kata gabung “cuci tangan” tidak digantikan secara metaforis (alternatif arti 2 dan 3), melainkan dalam arti lugas (alternasi arti 1). Mencuci tangan paling tidak dilakukan sebelum dan sesudah makan. Syukur bila dilakukan pula sehabis pegang sesuai di luar rumah, sebab bersih/kotornya benda itu tak ada jaminan

Kata Jawa Baru untuk “cuci” adalah : wasuh atau basuh, wijik, umbah, dan bilas“. Adanya sejumlah sebutan pada bahasa etnik Jawa itu menandakan bahwa bercuci merupakan kegiatan bersih-bersih yang telah familer di masyarakat. Sebagai suatu istilah, kata “cuci” tidak kedapatan dalam bahasa Jawa Kuna, Jawa Tengahan maupun Jawa Baru, alih-alih terdapat istilah “wasuh (varian sebutannya “waseh”), dalam arti : cuci. Adapun kata jadiannya “mawasuh, angwasuh, winaduhan“, yang berarti : mencuci, membersihkan (Zoetmulder, 1995: 1401).

Dalam kitab Kudung Sri Tanjung (5.108) disebut terang mencuci kaki “areren ang wasuh suku”  Kata krami darinya dalam bahasa Jawa Baru adalah “wijik”. Disamping itu terdapat kata “umbah” dan “kumbah”, yang berarti : mencuci. Kata jadiannya “ang umbah, kinumbah, dan kakumbah (Zoetmulder, 1995: 534) Salah satu organ tubuh yang perlu untuk disucilkan adalah kuku (kanaka). Kitab Tantri Kadiri (4 33) memuat kalimat “kanaka mangkyapulang ragad lwir- nya kanakan juga kumbah”. Kini lazimnya kata “kumbah” dipakai kaitan dengan benda atau barang, seperti perkataan “ngumbah klambi (baju), ngumbah montor., dan sebagainya”, meskipun sesekali dalam kaitan dengan organ tubuh seperti “ngumbuh moto” 

Tradisi Bercuci di Kehidupan Sosio-Budaya

Media  terbaik dan tersedia cukup untuk bercuci adalah air, khususnya “air yang mengalir (banyu mili)”. Air itu bisa berupa air bersih dari alam, atau air yang terlebih dulu disucikan (sakralisasi) dengan mentransformasikan dari air biasa (profan) menjadi air yang suci (sakral). Dalam konsepsi Hindu dan Buddhis, air suci diistilahi dengan “titha”.

Acapkali pula antara “bercuci” dengan ” bersuci (clean and sacre)” disalingkaitkan. Lantaran telah dicuci bersih, maka menjadi sucilah dirinya. Dalam ritual Islam, bercuci untuk besuci itu tampak pada wudlu untuk membersihkan dari hadas kecil, dan mandi junub (mandi besar) untuk membersihkan hadas besar.

Dengan berwudlu atau bermandi junub, maka diri menjadi bersih-suci. Meski dalam wudlu tidak seluruh organ tubuh dicuci, namun ada sejumlah organ tubuh yang dicuci, antar lain cuci tangan, cuci kaki, cuci muka, cuci mulut, cuci hidung, dan basuh rambut. Dalam sehari umat Muslim melaksanakan kurang lebih 5 kali berwudlu, berarti ada pencucian berkali- kali dalam sehari.

Padasan, tempayan tempat air untuk berwudhu. Ditempatkan di depan rumah. Tak hanya budaya Jawa, padasan juga dikenal dalam budaya Betawi. (Foto : Kemayoranheritage)

Demikian pula pada agama agama lain, yang menyertakan besuci dalam ritusnya. Dalam kompleks bangunan suci di Bali misalnya terdapat fasiltas untuk bercuci dan bersuci, yang dinamai “beji”. Pada masa lalu, bangunan candi sebagai rembat ibadah juga dilengkapi dengan kolam air suci, yang dinamai “patirthan”.

Sebenarnya, fasiltas bercuci juga ada hampir di setiap rumah tinggal semenjak amat lama. Bahkan, kedapatan pula di lingkungan etnik pada daerah- daerah pedalaman Nusantara. Indikator tentang itu adalah penyedian wadah air yang berupa genthong tanah liat atau keramik di depan rumah.

Terkandung pesan,”cuci tangan dan kaki sebelum masuk ke rumah”. Mencuci kaki dipandang perlu mengingat bahwa organ tubuh yang berada di bawah ini rentan bersentuhan dengan hal kotor. Terlebih lagi, dulu orang tidak terbiasa memakai alas kaki (diistilahi “nyeker”) ketika berlalu-lalang. Demikian pula dengan tangan, yang bisa jadi telah menyentuh benda kotor. Terkadang, lingkup bercuci hingga meliputi muka, yang disebut “basuh muka (raup)”.

Dengan pertimbangan untuk menyediakan fasilitas bersih-bersih diri (reresik), konon di lingkungan masyakat Jawa ada kebiasaan untuk menempatkan sumur pada halaman depan rumah tinggal — bukan pada halaman belakang. Terkandung maksud sebelum dari padanya “sebelum masuk ke rumah, terlebih dahulu lakukan bersih-bersih diri”.

Acap pula dilengkapi dengan genthong atau daun yang bercerai, sehingga air yang ada di dalamnya bisa mengalir keluar lewat pacuran (varian sebutan “panthuran”) yang berupa cerat itu. Wadah air yang demikian, dalam hubungan dengan berwudlu, disebut dengan “padasan”. Itulah kiranya yang dimaksud dengan bercuci dengan menggunakan “air mengalir”, yakni cara bercuci yang terbaik.

Pada tempat-alamiah terdapat yang nanamai “kucur (pancuran air)”, yang digunakan baik untuk mencuci (wisuh, umbah-umbah) atau bahkan untuk mandi. Kata “pancuran” telah kedapatan dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan untuk mrnyebut pancuran air yang profan ataupun yang sakral. Prasasti Cunggrang (929 Masehi) yang dikeluarkan oleh Pu Sindok misalnya, memuat kalimat “umahaywa pancuran ini panitia”, yang amat boleh jadi menunjuk kepada pancuran air di Patirthan Belahan.

Candi Sumber Tetek atau Candi Belahan terletak di lereng timur Gunung Penanggungan, di ketinggian 300 mdpl, berjarak sekitar 7-8 km dari Jalan Raya Surabaya-Malang.
Air memancar dari payudara patung Dewi Laksmi di Candi Belahan atau Sumber Tetek, di Dusun Belahan, Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Pasuruan, Jawa Timur, 12 Januari 2017. Candi Belahan dibangun atas perintah Prabu Airlangga, Raja Kerajaan Kahuripan sekitar tahun 1019 Masehi.

Gambaran pancuran air bayak dijumpai di relief candi, seperti pada panil relief di sisi belakang kaki Candi Jawi, padamana orang mandi untuk bersihkan diri. Adapun pada panil di sisi selatan tergambar orang mengisi kendi (kundi) dari pancuran,, sebagai bekal perjalanan. Bahkan, di panil relief Panji pada Pendapa Teras Kendalisodo terdapat suatu pancuran bambu yang dibuat bersusun.

Pancuran air konon sering digunakan untuk “reresik”, sebab airnya mengalir. Air mengalir  baik untuk bercuci dan bersuci. Kata “resik” dari kata ulang “reresik (bersih- bersih)” telah kedapatan di dalam bahasa Jawa Kuna dan Tengahan, dalam arti : bersih. Kata jadiannya “maresik, aresik, arsik” yang menunjuk pada : keadaan bersih, terpelihara baik, cemerlang, atau murni.

tradisi-mencuci-kini-jadi-lebih-diyakini-digdayagunanya-cuci-tangan
Seorang warga mengambil air dari pancuran payudara patung Dewi Laksmi di Candi Belahan di Dusun Belahan, Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Pasuruan, Jawa Timur, 12 Januari 2017. Air di petirtan Candi Belahan dimanfaatkan warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan minum dan mandi.

Adapun kata jadian “resikan” Memuat arti: membersihkan, mencuci (Zoetmulder, 1995: 945). Perihal ini memiliki jadi petunjuk bahwa pola hidup bersih telah dikenal oleh leluhur manusia Jawa. Bahkan, tindakkan bercuci masuk ke dalam kategori “tindakkan mulia”. Secara simbolik, tindakkan membasuh kaki orang tua, kaki guru, kaki orang pejabat, dsb. mengandung makna ” Penghormatan, atau pemuliaan”.

Galang Cuci Tangan untuk Cegah Virus Corona

Sebenarnya, jauh sebelum virus Corona mewabah di penjuru dunia, berbagai lembaga kesehatan, dan tidak terkecuali, 0rganusasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), telah menggalakkan “cuci tangan”. Mencuci tangan menggunskan sabun selama 20 detik merupakan salah satu upaya untuk pencegahan virus, termasuk virus Corona. Untuk meningkatkan perhatian publik, khususnya anak- anak, ada upaya sosialisasi (desiminasi) metode cuci tangan 20 detik ini dengan menyanyikan lagu ‘Happy Birthday’ sebanyak 2 kali, yang ketika lagu kedua berhenti dinyanyikan jatuh tepat 20 detik.

Adalah seorang siswa SMA di Northamptonshire, Inggris, bernama William Gibson, menciptakan situs web yang bisa menentukan suatu lirik lagu populer, yang tepat berhenti di detik ke-20. Pemuda berusia 17 tahun itu terinspirasi membuat situs tersebut yang ia temukan di internet. Namun,  sebenarnya “Happy Birthday’ bukanlah satu-satunya lagu untuk  cuci tangan selama 20 detik.

Prnggalakan bercuci tangan itu pun memperoleh sambutan hangat di Indonesia. Antara lain, ada beberapa pihak yang menciptakan lagu mengenai cara bercuci yang baik dan benar, seperti syair lagu “6 Langkah Cuci Tangan”, yang diciptakan oleh Tim PPI RSPC. Selain itu, Gedung Kemuning RS Hasan Sadikin di Bandung juga mempelopori terciptanya lagu enam angkah cuci tangan dengan judul “Mari Cuci Tangan” untuk mensosialisasikannya kepada pegawai, pasien, keluarga pasien, dan pengunjung lain agar diaplikasikan di rumah tinggalnya masing- masing.

Kampanye untuk rajin cuci tangan juga mendorong penyanyi cilik Faiha, yang sempat populer lewat lagu “Enak Susunya”, merilis sebuah lagu berjudul “Cuci Tangan”. Bernyanyi yang disertai gerak (praktik) dan dipandu oleh poster merupakan pembiasaan hidup bersih yang menurut Dr. Zulaehah Hidayati sebagai “salah satu molel pembelajaran dengan memakai otak kanan selain otak kiri”  Pembelajaran yang dilakukan dengan menerangkan, lantas mencontohkan, dan selanjutnya melakukan gerakan bersama sama merupakan metode audio, visual, dan drkslus kinestetik secara simultan, yang bisa mencapai hasil pembelajaran lebih optimal.

Pengendalian infeksi virus Corona antara lain dapat dilakukan dengan cuci tangan. Cuci tangan dengan enam langkah itu menurut WHO bisa meminimalisir terjadinya sebaran infeksi di Rumah Sakit maupun di lingkungan tempat tinggal masing-mading. Hand hygiene (kebersihan tangan) bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu (a) hand washing dan (b) hand rub.  Cuci tangan bisa dilaksanakan dengan sabun atau hand sanitizer, sebelum lakukan aktivitias. Mencuci tangan adalah cara yang mudah serta paling efektif untuk mencegah penyebaran kuman.

Tangan yang bersih dapat hentikan penyebaran kuman dari satu orang ke orang lain. Adapun caranya adalah sbb. ;(1).Basahi tangan dengan air bersih — lebih baik air yang mengalir (hangat atau dingin), matikan keran, dan oleskan sabun; (2) Lapisi tangan dengan cara menggosoknya bersama sabun. Sisir bagian belakang tangan, disntara jari-jari dan di bawah kuku; (3) Gosok tangan setidak-tidaknya selama 20 detik; (4) Bilas tangan dengan air bersih yang mengalir; dan (5) Keringkan tangan dengan handuk bersih atau keringkan dengan tisu. Mencuci tangan dengan sabun dan air adalah cara terbaik untuk menghilangkan kuman di sebagian besar situasi. Apabila sabun dan air tidak tersedia, dapat menggunakan pembersih tangan berbasis alkohol yang mengandung setidaknya 60 persen alkohol.

Demikianlah tulisan ringkas ini dibuat dengan harapan dapat menambah pengetahuan dan. membuka kesadaran bahwa mencuci tangan penting artinya untuk dilakukan, terlebih pada kondisi darurat sebagaimana sekarang ketika wabah Corona mengepung kita. Para leluhur telah meneladankan mengenai “hidup bersih”, dengan cara “bercuci” dan “bersuci”. Semoga membawa kefaedahan Nuwun.

 

Sangkaling,  27 Maret 2020

Griya Ajar CITRALEKHA

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini