Sebuah Titik Balik; Kenapa Saya Membenci Kristen?

Aan Anshori (Dok. Pribadi)

Oleh : Aan Anshori

Terakota.id – Tulisan ini adalah pengalaman individual atas bagaimana imaji kekristenan (termasuk Katolik) bersinggungan dengan lini masa historik saya sejak masih kanak hingga dewasa. Saya masih ingat cukup tekun membaca dan mencatat ‘kontradiksi biblikal’ ala Ahmad Deedat atau Kiai Abdullah Wasian, setiap kali naik naik bus dari Mojoagung ke Universitas Darul Ulum Jombang sekitar tahun 1995.

Ketekunan tersebut tentu saja bukan dalam kerangka akademik rekonsiliatif. Sebalik, hal itu semata untuk mencari titik lemah kekristenan melalui kontradiksi antar ayat. Entahlah, ada semacam perasaan bahagia menemukan kesalahan tersebut. Ada aliran kebanggaan tak terkira meyakini agama saya, Islam, sebagai yang paling benar –dengan cara menuding kompetitor lain salah.

Bagi saya kala itu, dogma Islam sebagai the only right path mengharuskan pemeluknya untuk mewirid sebanyak mungkin kesalahan Kristen. Ada kesan kuat semakin kita membenci kekristen, semakin tinggi kualitas keislaman kita. Cara pandang ini tidak pernah dikoreksi oleh komunitas tempat saya tumbuh. Saya sendiri besar di wilayah Kauman kecamatan Mojoagung. Seratus persen penduduknya muslim, dan hampir semuanya beretnis Jawa. Mitos steril-Kristen dan Tionghoa di desa saya masih diugemi hingga sekarang — persis seperti politik kepemilikan tanah di Jogja yang emoh Tionghoa.

Setelah menamatkan madrasah ibtidaiyyah, saya menghabiskan 7 tahun ke beberapa pesantren di Jombang, Mojokerto dan Pare sembari menyelesaikan SMP dan SMA.

Konteks geososiologis di mana saya dibesarkan tidak memungkin saya bergaul secara lebih intensif dengan orang Kristen. Saat kecil, setiap kali melihat mereka di jalan, kesinisan adalah respon default yang masih saya ingat. Saya seperti melihat kenajisan — sang penghuni neraka.

Yang aneh, orang tua saya tidak pernah mengajari membenci mereka. Ibu saya, perempuan muslim taat yang berbisnis sendiri di Pasar Mojoagung, malah kerap menyuruh saya weweh (membagi makanan ketika ada perayaan Islam) kepada salah satu pelanggan tokoya –seorang perempuan tua yang hidup di belakang gereja GKJW Ngemplak Utara.

Setiap kali weweh saya selalu mencuri pandang ke salib yang terpasang di dinding rumahnya. Ada perasaan bersalah, seperti melihat perempuan mandi telanjang –merasa berdosa namun tak kuasa.

Salib — belakangan saya bisa memformulasikan modus operandi kebencian terhadap Kekristen– merupakan simbol utama yang dikreasi sedemikian rupa agar ghiroh (gairah) kebencian tersulut. Posisinya persis seperti simbol palu arit dalam wajah perpolitikan Indonesia. Atau, warna merah bagi banteng dalam dunia matador. Dua simbol itu adalah alasan untuk marah dan benci.

Salib dalam ingatan saya selanjutnya dikelilingi aneka macam cerita negatif yang berfungsi sebagai perangsang setiap muslim agar marah dan merasa terintimidasi –untuk selanjutnya dikunci dengan kewajiban menunjukkan superioritas sebagai ‘The right one’, dengan cara destruktif sekalipun.

Saya merasa terdapat dua nalar kebencian yang dikreasi, ditelusupkan dan dirawat agar salib tetap angker dan menjadi semacam Islamic common enemy. Pertama, ia dianggap sebagai representasi penentangan atas konsep ketauhidan (monoteisme). Sekuat apapun Kristen meyakini dan meyakinkan keesaan Tuhan namun konsepsi Trinitas sungguh tidak mudah dipahami banyak muslim yang kerap bernalar biner. Apalagi teks al-Quran sendiri dicitrakan menyindir pedas ketritunggalan ini.

Serasional apapun //tafsir alternatif tritunggal sebagaimana pernah ditulis Mun’im Sirry http://geotimes.co.id/memahami-kritik-al-quran-terhadap-kristen hampir tidak akan pernah diajarkan dalam sistem pendidikan Islam dari SD hingga SMA. Alasannya simpel, hal itu berpotensi mendangkalkan akidah dan berpotensi melucuti prasangka terhadap Kristen.

Anda boleh percaya atau tidak, dalam Ta’lim al-Muta’llim, kitab panduan bagi pelajar Islam yang menjadi buku wajib di banyak pesantren, tersebut jelas larangan melihat salib (atau hal-hal yang menyerupainya). Jika dilanggar, ingatan pelajar bisa mudah erosif. Semoga ada riset soal ini.

Saya baru menyadari bahwa penguatan akidah di lingkungan Islam mengambil pola meninggikan tembok dan mempertebal garis demarkasi, bukan bertumpu pada ‘memperbanyak jembatan Islam-Kristen’. Cara ini barangkali mengkonfirmasi kenapa saya dan jutaan siswa muslim tidak pernah sekalipun diajak –katakanlah– melakukan kunjungan Islam-Kristen selama berproses sejak SD hingga kuliah.

Nalar kedua yang dioleskan dalam salib adalah simbol agresivitas atas apa yang disebut sebagai Kristenisasi -suatu proses konversi sistematis untuk menjadi Kristen. Nalar kedua yang memang punya //justifikasi pengalaman historis di Indonesia http://geotimes.co.id/sabuga-dan-duta-wacana-di-bawah-apeknya-ketiak-kdrt-islam-kristen/ ini tak kalah ampuhnya memaksa muslim menggeneralisir kekristenan sebagai pihak yang sangat bernafsu menggerogoti Islam. Apalagi jika nalar ini dipadupaksakan dengan ayat ‘favorit’ QS. 2:120. Ayat inilah yang saya gelorakan saat didapuk mengisi acara khithobah –latihan pidato– ketika kelas III Tsanawiyah akhir 80-an.

Di hadapan seluruh siswa sekelas, sembari mengangkat PB dan PL yang berhasil saya dapatkan secara tidak etis dari salah satu rumah sakit, saya berapi-api menunjukkan berbagai modus kristenisasi bersumber dari selebaran yang beredar terbatas di kalangan pesantren.

Titik Balik
Jika Gus Dur, menurut Mahfud MD, mengalami titik balik saat membaca Nicomachean Ethic karya Plato, saya justru mengekor sikap dan sepak terjang Gus Dur. Jangan dibayangkan kala itu saya sepenuhnya memahami apa maksud GD bertindak nyleneh –misalnya datang dan membuka acara malam puisi Yesus Kristus di salah satu Gereja.

Entah, meski tidak cukup paham saya ikuti saja GD karena dalam tradisi NU, posisi sulung Kiai Wahid Hasyim ini laksana Nabi Khidir –cara berfikirnya 3-4 kali lebih maju dari orang awam.

Memang banyak yang tidak suka terhadap GD, namun privilege-nya sebagai cucu hadratusy syaikh Hasyim Asy’ari –ditambah keyakinan adanya konsep khariqul ‘adah di kalangan aristokrat pesantren– membuatnya bisa bebas menerjang keghaliban yang ada, termasuk bermesraan dengan kelompok yang harusnya diserang.

Saya merasa nyaman dengan pikiran-pikiran kosmopolitnya, serta kagum ia bisa lolos cumlaude dari pengadilan para kiai atas sikap nylenehnya (Hamzah & Anam 1989). “Cuk, wong iki pancen sakti” begitu gumam saya.
Selain GD, saya juga harus akui tertolong oleh ide-ide keislaman Nurcholis Majid — sang perpustakaan berjalan yang ayahnya, Kiai Madjid, masih berelasi dekat dengan Tebuireng.

Bahu dua raksasa van Jombang ini saya jadikan sandaran menemukan jawaban kenapa saya harus membenci kekristenan –yang sayangnya saya malah menemukan hal sebaliknya; humanisme. Keduanya menghantarkan saya secara imajiner untuk percaya diri menelisik sejarah, mencari tahu dan untuk bisa berlaku adil.

Percayalah, sungguh tidak mudah menelisik serta memahami liukan logika-berlapis Athanasius saat mengerangkai ketauhidan Kristen melalui konsep trinitas –dibanding cara Arianus yang relatif lebih sederhana dan binerik (L Bierkhof 1969). Namun jika seandainya umat Islam memikirkan secara mendalam terdapat banyak jalan menuju tuhan sebagaimana kata Ibnu Rusyd (N Madjid 1984) niscaya bukanlah sesuatu yang sulit memahami agama lain –semudah memahami alasan kenapa kita bersujud puluhan kali sehari menghadap ke batu hitam di dalam Ka’bah.

Hibriditas Persaudaraan
Terdapat banyak aspek positif pada agama lain. Misalnya, yang saya anggap menonjol dalam kekristenan adalah ajaran cinta-kasih terhadap sesama. Saya menggabungkannya dengan konsep rahmatan lil ‘alamin dalam Islam. Penggabungan seperti ini adalah keniscayaan sebagaimana pernah disinggung Cak Nur sebagai hibriditas ajaran atau budaya.

Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, hibriditas ini mirip dengan prinsip al-muhafadzoh ala qadim al-shalih wa al-akhdu bi al-jadid al-ashlah –menjaga tradisi/nilai lama yang baik dan mengambil tradisi/nilai baru yang lebih baik.

Saya memahami sepenuhnya gagasan mulia dibalik pembentengan akidah dengan model konservatif sebagaimana yang saya alami belasan tahun lalu. Akan tetapi setiap orang perlu menyadari bahwa telolet alarm merah intoleransi sudah dibunyikan jauh-jauh hari oleh Wahid Institute, PUSAD Paramadina, Setara Institute atau Komnas HAM.

Saya membayangkan gagasan besar yang diusung Gus Dur maupun Cak Nur bisa disinkronkan ke dalam sistem pendidikan nasional, lebih-lebih Islam. Dunia pendidikan kita, dalam diskursus agama-agama, perlu menerapkan jargon “semakin kita berbeda, semakin jelas di mana letak kesamaan kita”.

Mengakhiri refleksi ini, saya akan mengutip pidato Presiden Abdurrahman Wahid pada perayaan natal bersama 27 Desember tujuh belas tahun silam, saya kira masih sangat relevan dengan situasi saat ini, ” Kalau ada yang memisahkan kita, kita harus sadar persaudaraan yang lebih besar memanggil kita bersama-sama untuk meyakini Tuhan masing-masing dengan cara sendiri-sendiri.”

Selamat Natal dan Tahun Baru.
* Penulis bergiat di Jaringan Islam AntiDiskriminasi (JIAD) Jawa Timur dan Koordinator GurDurian Jawa Timur

3 KOMENTAR

  1. Tidak aku sangka ada pengalaman kristalisasi Iman yang menyejukkan.
    “TITIK BALIK”
    Sungguh penghayatan yang luar biasa menemukan dan mengakui bahwa Cinta kasih tak lain dan tak bukan adalah Rahmatan Lil’alamin. P.Kamto FIS UM.

Tinggalkan Pesan