Tiga Taman Heritage di Kota Malang

Alun-alun Tugu Malang, salah satu cagar budaya di Kota Malang (Terakota/Zainul Arifin).

Terakota.id –Ada sisi romantis di setiap arsitektur dan tata ruang Kota Malang. Pemerintah Kolonial Hindia Belanda punya andil penting menyuguhkan rasa itu.  Mengembangkan tata kota ini dengan orientasi city garden atau kota taman yang nyaman di masa depan.

Pemerintah Belanda menetapkan gementee atau Kotamadya Malang pada 1914. Sejak itu, dibagi VIII tahap perencanaan kota atau bouwplan hingga 1942. Menata jaringan jalan, gedung, permukiman dan lainnya. Mengembangkan sebuah kota dengan corak kolonial.

Merancang Kota Malang dengan konsep kota taman. Satu cirinya, di tiap permukiman dilengkapi fasilitas taman bergaya eropa yang dibagi jadi tiga jenis berdasarkan fungsinya. Pertama, park (taman) terdapat pohon pelindung, tanaman hias, penataan rumput, bangku dan gazebo.

Kemudian plein (pelataran berumput) difungsikan penyegar kawasan sekaligus penanda titik peralihan jalur. Serta boulevard, menghadirkan nuansa eropa, jalan lebar yang di jalur tegahnya terdapat taman bunga dengan di sisi jalan.

“Belanda saat itu menata Malang dengan orientasi sebagai kota taman yang nyaman untuk ditinggali,” kata Sekretaris Tim Cagar Budaya Kota Malang, Agung Buana.

Tim Cagar Budaya Kota Malang menginventarisir ada 20 ruang terbuka hijau yang masuk kategori heritage, warisan era kolonial Belanda. Namun di tahun ini baru tiga taman yang sudah dimasukkan dalam Sistem Registrasi Nasional. Yakni Alun – alun Malang, Alun – alun Tugu serta Taman Cerme.

“Tiga taman itu berstatus heritage, dibangun pemerintah kolonial Belanda saat menata Malang,” kata Agung.

Tiga taman kota warisan kolonial itu telah berubah dari masa ke masa. Semula berupa tanah terbuka dengan pepohonan, kini semakin dilengkapi berbagai fasilitas umum dan modern. Berikut sejarahnya pembangunannya

Alun – alun Malang

Bentuk awalnya berupa tanah lapang terbuka. Deretan pohon beringin tumbuh ada di sekeliling. Serta ada dua pohon beringin tumbuh tegak di bagian tengah lapangan. Ini adalah salah satu ruang terbuka hijau tertua di Kota Malang. Saat ini lebih biasa disebut Alun – alun Merdeka.

Pemerintah Kolonial Hindia Belanda membangun Alun – alun Malang pada tahun 1882. Menjadi penanda Belanda menancapkan kekuasaannya di Malang. Di sekitarnya berdiri beberapa bangunan penting. Kantor Bupati Malang ada di sisi timur, di sisi selatan ada kantor Asisten Residen Malang atau kantor wakil Belanda.

Pemerintah Kolonial Hindia Belanda membangun Alun – alun Malang pada tahun 1882. Menjadi penanda Belanda menancapkan kekuasaannya di Malang. (Terakota/Zainul Arifin).

Berjarak beberapa langkah ada Gedung Societeit Concordia. Klub eksklusif bagi warga Eropa kongko, bermain kartu, berdansa dan hiburan lainnya. Gedung ini sekarang berubah jadi Sarinah Plaza. Masjid Jami’, Gereja Protestan dan Gereja Katolik di bangun beriringan di sisi barat.

Maklumat dari Pemerintah Hindia Belanda kerap disampaikan di Alun – alun Malang. Tempat ini juga jadi ruang berkumpul warga, penjual makanan keliling biasa menjajakan dagangannya di sini. Menjadi salah satu ruang beraktivitas favorit warga saat itu.

Pada awal 1900an, Alun – alun Malang lazim disebut warga dengan Alun – alun Kotak. Sebab, beberapa tahun kemudian ada Alun – alun Bundar, tepat di depan Balai Kota Malang. Tepat setelah Belanda mendirikan gementee atau Kotamadya Malang.

Modernisasi Alun – alun Malang dimulai pada masa orde baru, tepatnya pada 1982. Pemerintah Kota Malang merenovasi total dengan menebang dua pohon beringin yang ada di tengah. Menggantinya dengan bangku beton, lampu taman sampai kolam air mancur. Pada 2014 direvitalisasi lagi dengan berbagai fasilitas modern.

Taman Tugu Malang

Jan Pieterszoon Coenplein atau lapangan J.P Coen adalah nama taman ini di masa kolonial. Sebagai penghormatan terhadap Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Jaan Pieterzoen Coen. Jadi kawasan utama Pemerintah Hindia Belanda menetapkan gementee atau Kotamadya Malang pada 1914.

Di masa itu, warga biasa menyebutnya Alun – alun Bundar. Sebab awalnya berupa tanah lapang terbuka berbentuk bulat atau bundar. Balai Kota Malang, hotel, sekolah dan gedung lainnya berdiri di kawasan ini. Menjadi penanda wajah baru pemerintahan Belanda.

Kolam air mancur di tengah alun – alun baru dibangun sekitar tahun 1931. Saat bouwplan atau perkembangan tata Kota Malang tahap kedua. Sedangkan Tugu Proklamasi Kemerdekaan dibangun pada 17 Agustus 1946. Sebagai penanda, Republik Indonesia merdeka dari penjajahan Belanda.

Alun-alun Tugu Kota Malang. Tugu Kemerdekaan dibangun pada 17 Agustus 1946. Sebagai penanda, Republik Indonesia merdeka dari penjajahan Belanda. (Terakota/Zainul Arifin).

Alun – alun Tugu Malang sempat dihancurkan Belanda saat Agresi Militer I 1947. Setelah itu, Tugu Malang diperbaiki lagi pada 1950. Bunga teratai merah dan putih ada di dalam kolam, sebagai lambang bendera Indonesia. Alun – alun Tugu diresmikan pada 20 Mei 1953 oleh Presiden Soekarno.

Sejak saat itu lebih sering disebut sebagai Alun-alun Tugu. Kawasan ini menjadi salah satu taman paling cantik di Indonesia. Salah satu landmark di Kota Malang yang paling banyak dijujug oleh wisatawan. Bunga – bunga plastik yang menyala kala malam hari dipasang di taman ini.

Taman Cerme

Tjerme Plein atau Taman Cerme. Salah satu fasilitas taman yang disediakan Pemerintah Kolonial Belanda saat membangun bergenbuurt, sebuah kawasan permukiman elit bangsa Eropa yang banyak menggunakan nama gunung sebagai nama jalan.

Taman ini dibangun pada masa bouwplan atau perencanaan tata Kota Malang tahap kelima sekitar tahun 1924-1925. Tjerme Plein sekaligus berfungsi sebagai penanda titik peralihan jalur transportasi antar kawasan. Gedung Maconnieke Lodge, tempat perkumpulan dengan keanggotaan tertutup atau Free Masonry dibangun di depan taman ini pada 1935.

Gedung itu sekarang ini jadi sebuah hotel. Taman Cerme masih jadi aset pemerintah kota, tapi untuk perawatannya diserahkan pada manajemen hotel tersebut. Taman yang terletak di persimpangan Jalan Cerme ini semakin cantik.

Tjerme Plein sekaligus berfungsi sebagai penanda titik peralihan jalur transportasi antar kawasan. (Terakota/Zainul Arifin).

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini