This Is Not a Film, Perlawanan Sebuah Filem Dokumenter

Salah satu adegan dalam film "This Is Not A Film." (Sumber: https://beyondasiaphilia.com)

Oleh: Selma Theofany*

Terakota.id–Salah satu bentuk film yang berperan signifikan dalam membentuk cara pandang adalah film dokumenter. Film ini dibuat berdasarkan riset. Ia menceritakan fenomena-fenomena sosial secara nyata dengan kemasan sinematografi. Menurut Willard Van Dyke dalam “The Documentary Film” (1950: 123-124), pembuat film dokumenter memiliki misi untuk mencoba mengubah sikap-sikap yang sebelumnya kurang tepat. Terdapat kesadaran bahwa film yang mereka buat mengandung informasi. Maka informasi tersebut diupayakan untuk mengambil bagian dalam memberikan gambaran mengenai suatu isu agar dapat disikapi dan dipecahkan dengan cara yang baik.

Salah satu film dokumenter yang menarik adalah “This Is Not A Film” atau “In Film Nist.” Film ini dibuat oleh dua orang berkebangsaan Iran. Yaitu, Jafar Panahi dan Mohtjaba Mirtahmasb. Film ini telah mengikuti berbagai festival. Diantaranya adalah Cannes Film Festival 2011, New York Film Festival, dan Warsaw International Film Festival. Bahkan, pemutaran perdana film ini dilakukan dalam salah satu festival tersebut, yaitu Cannes Film Festival 2011.

Dari segi judul, film ini sudah terlihat unik dengan membuat nomenklatur yang berlawanan dengan status kebendaannya, “This Is Not A Film.” Film ini menceritakan seorang pembuat film yang menjalani masa tahanan. Ia menjadi tahanan rumah. Bukan hanya itu, ruang gerak pada sisi intelektualitas dan kreativitasnya pun dibatasi. Dia—Jafar Panahi—mendapatkan pelarangan pembuatan film selama 20 tahun dan 6 tahun sebagai imprisonment. Hukuman tersebut ditimpakan karena dia dianggap melakukan propaganda melawan rezim yang berkuasa. Namun, secara tersembunyi dia membuat film dengan bantuan teman di rumahnya.

Film ini memiliki pesan bahwa kreativitas tidak dapat dibungkam. Aspirasi merupakan sesuatu yang harus diperjuangkan untuk didengar. Film ini juga meyakinkan bahwa setiap individu memiliki daya untuk mengubah keadaan. Tergantung bagaimana tindakan yang dia usahakan. Film ini juga menegaskan kembali bahwa film tidak sekedar karya seni. Tetapi terdapat banyak cara pandang yang dapat dipelajari di dalamnya.

Oleh karena itu, penulis tertarik menganalisis film dokumenter ini. Perspektif yang digunakan bersumber dari disiplin ilmu-ilmu sosial. Seperti hukum, antropologi, dan sosiologi. Sedang obyek analisa adalah individu pembuat film, rezim dan politik Iran, serta kelompok-kelompok terkait.

Hukum Sebagai Alat Kekuasaan

Untuk menganalisis dari segi hukum, landasan konseptual yang digunakan penulis adalah konsep subyek hukum modern bangsa oleh Philip C. Jessup dalam “A Modern Law of Nations” (1959). Konsep ini menjelaskan perubahan doktrin fundamental hukum yang yang telah lama diterima dan dilaksanakan sebelumnya ke dalam modifikasi baru dari bentuk tradisional tersebut. Konsep hukum lainnya yang saya gunakan adalah profesi di ranah hukum, yaitu pengacara. Pada review ini, tugas pengacara merupakan acuan yang digunakan. Tugas ini menjelaskan legalitas pengacara di dalam pengadilan dan adversarial system.

Dalam buku “A Modern Law of Nations,” terdapat sebuah kutipan yang menarik. Buku tersebut menuliskan, “Politis has graphically said: “Formerly the sovereign State was an iron cage for its citizens from which they were obliged to communicate with the outside world, in a legal sense, through very close-set bars.” Pernyataan tersebut dapat menjadi titik awal analisis film ini dari sudut pandang hukum.

Panahi, tokoh di dalam film ini mendapatkan hukuman setelah melakukan aksi propaganda melawan rezim yang berkuasa. Hukuman tersebut berupa pelarangan pembuatan film dan penahanan. Jangka waktu hukuman tersebut tergolong lama. Sebagai seorang pembuat film, dua puluh tahun pelarangan untuk berproduksi merupakan hukuman yang berat. Selama ini film yang dia buat merupakan media yang dia gunakan untuk berkomunikasi dengan dunia luar. Dengan adanya hukuman tersebut, dia mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dengan dunia luar.

Selain itu, ia juga ditahan. Meskipun hanya tahanan rumah, tapi telah membatasi ruang geraknya. Dari penjabaran tersebut terlihat bahwa negara telah menciptakan sebuah sangkar besi bagi rakyatnya, yaitu Panahi. Sangkar besi ini digunakan secara represif untuk membungkam penyuaraan aspirasi atas rezim yang berkuasa. Tindakan ini mendapatkan justifikasi secara legal karena mereka adalah penyelenggara negara. Close-set bars yang mereka tetapkan dirasa sah.

Sebenarnya, terdapat penyimpangan atas penjatuhan hukuman yang diberikan kepada panahi. Penulis melihat penyimpangan dari pihak yang terlibat dalam penjatuhan hukuman. Penulis merefleksikan pihak penyelenggara negara berdaulat yang seharusnya berwenang dalam menentukan hukuman merupakan perangkat negara di bidang hukum, seperti hakim dan jaksa yang menggerakkan pengadilan.

Salah satu adegan dalam film tersebut, yaitu percakapan Panahi dengan pengacaranya mengungkapkan bahwa hukuman yang diterima dia merupakan campur tangan pihak-pihak politik, tidak sepenuhnya peran pihak yang legal. Pengacara Panahi pun mengatakan, “Since the rulings aren’t legal rulings at all, that’s why our legal arguments were not heard.”

Tentu saja karena pihak-pihak politik tersebut mempunyai kepentingan politis. Yaitu melanggengkan kekuasaan rezim. Salah satu cara pelanggengan tersebut adalah menyingkirkan pihak-pihak yang melakukan perlawanan. Hal ini dengan memberlakukan suatu hukuman yang melanggar hak berpendapat melalui film. Poin ini menarik, hukum memiliki wajah sebagai pembatas hak dan di sisi lain melindunginya.

Di dalam “A Modern Law of Nations” juga tertulis, “…Yielding to the logic of events, the bars are beginning to open. The cage is becoming shaky and will finally collapse. Men will then be able to hold free and untrammeled communication with each other across their respective frontiers.”

Penulis melihat bahwa film ini merupakan upaya untuk menggoyahkan sangkar besi tersebut. Meskipun hukuman yang diberikan telah membatasi gerak Panahi, tetapi hal itu tidak menghalanginya untuk berbuat sesuatu. Dia berpikir secara logis. Bahwa ada suatu tindakan yang dapat memberikan atau mengembalikan kebebasannya. Meskipun kebebasan tersebut tidak secara harfiah. Paling tidak, dia masih dapat berkarya.

Pembuatan film ini merupakan tindakan logis dan rasional yang dipilih. Dari percakapannya dengan pengacara, terdapat pandangan bahwa tuntutan dan hukuman yang diberikan pemerintah dapat berkurang dengan adanya tekanan berupa reaksi internasional dan permintaan di dalam negeri. Film ini dapat mempersuasi masyarakat domestik dan internasional sehingga memberi tekanan kepada pemerintah untuk mengurangi atau bahkan meghapuskan hukuman.

Kedua aspek tersebut merupakan aspek yang berada di luar batas pemerintah. Ada citra yang dipertaruhkan di dalam reaksi yang mereka berikan. Hal ini memengaruhi hukum yang berlaku.

Upaya tersebut membawa Panahi ke dalam kebebasa secara bertahap. “The New York Times” melansir, “Today, he lives in a legal limbo and would face six years in prison if authorities decided to charge him with violating the ban. His passport was confiscated, but contrary to some media reports, he has not been under house arrest, people in contact with him say.”

Bahkan, setelah film ini, dia telah membuat beberap film, yaitu Closed Curtain dan Taxi. Kebebasan ini merupakan hasil dari reaksi berbagai pihak yang akan dijelaskan lebih lanjut pada analisa dari segi sosiologi.

Beralih ke sisi yang lain. Film ini menampakkan salah satu komponen dalam hukum, yaitu pengacara. Pada film ini digambarkan bahwa pengacara berupaya melakukan advokasi untuk kebebasan Panahi. Dalam percakapan melalui telepon, dia berulang kali menyatakan malu dengan keterbatasan advokasi yang dia berikan kepada Panahi. Ada rasa tanggung jawab terhadap klien dan integritas untuk menegakkan keadilan.

David W. Scott Q.C. mengatakan, “The  Bar  is  independent  of  the  State  and  all  its  influences.  It  is  an institutional  safeguard  lying  between  the  ordinary citizen  and  the power   of   the   government.   The   right   to   counsel,   which   as mentioned, is inter-related with the law of privilege, depends for its efficacy on independence.”

Hal ini menunjukkan keterbatasan pengacara, terutama di dalam arena pertempurannya, yaitu pengadilan. Dia berada di antara dua kekuatan dengan karakter masing-masing yaitu ordinary citizen dan pemerintah. Pada awal cerita, dominasi pemerintah sangat besar di dalam lingkup peradilan karena memiliki legitimasi untuk memengaruhi aspek hukum di dalam negara yang independen. Oleh karena itu, kepentingan Panahi tidak dapat diakomodasi secara maksimal oleh pengacaranya.

Analisis di atas menunjukkan bahwa dari perspektif hukum, film ini menggambarkan fenomena sosial dengan dimensi hukum. Legalitas merupakan kata kunci di dalam tinjauan This Is Not A Film. Legalitas tersebut menggambarkan bentuk dari hukum itu sendiri.

Dimensi Antropologisdalam This Is Not a Film

Analisis film ini akan dilakukan menggunakan sisi sosial atau kemanusiaan dari antropologi. Analisis dalam perspektif ini akan dilakukan penulis dengan menyoroti personalitas Panahi. Penulis akan menganalisis perwujudan tokoh dari sudut pandang kepribadian menurut antropologi.

Koentjaraningrat mengatakan, “kepribadian adalah unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan tingkah-laku atau tindakan dari tiap-tiap individu manusia itu”.

Penulis tertarik menganalisis dari sudut pandang tersebut karena terdapat penilaian indikasi narsisisme atau mungkin egosentris yang terdapat di dalam film tersebut dengan menjadikan pembuat film sebagai figur yang mendominasi sepanjang film (hanya sesekali menyorot tokoh lain) dan keingintahuan penulis mengenai penjelasan secara ilmiah mengenai kenyataan tersebut.

Penggambaran individu Panahi terlihat sebagai seorang cenderung melawan. Kepribadian tersebut terbentuk dari unsur kepribadian pengetahuan. Terbentuk sebuah konsep di dalam dirinya bahwa aspirasi yang dia tuangkan melaui film tidak dapat dihentikan oleh siapa pun, termasuk pemerintah. Dia membandingkan kebebasan para pembuat film di luar sana, terutama di luar negaranya, dengan keadaan dirinya saat itu.

Dia merasa bahwa kebebasan tersebut juga dapat dia peroleh dengan melakukan tindakan yang dapat mengubah keadaan, seperti pembuatan film yang mencitrakan pengungkungan dirinya yang dapat mendatangkan perhatian masyarakat. Oleh karena itu, sisi keakuan dirinya sangat ditonjolkan dalam setiap adegan untuk memusatkan perhatian kepada dirinya.

Upaya pembuatan film ini juga dipengaruhi unsur perasaan. Unsur ini bersifat subyektif dengan adanya unsur penilaian yang menciptakan kehendak di dalam kesadaran seorang individu. Subyektifitas tersebut dari penilaiannya terhadap implementasi hukuman yang dia rasakan. Subyektifitas tersebut memunculkan kehendak untuk melakukan perlawanan. Hal ini terlihat bahwa dia memiliki keinginan untuk membuat film.

Keinginan tersebut juga dipertegas dengan beberapa adegan yang menceritakan rencana tentang film-film yang ingin dia buat. Selain itu, emosinya juga menjadi pembentuk kepribadian yang melawan. Emosi yang tergambar merupakan ekspresi kekecewaan dan sarkasme akan keadaan.

Dia berujar,”… 20 years ban from film-making, 20 years ban from writing screenplays, 20 years ban from leaving the country, 20 years ban from having interviews. Acting and reading screenplays were not mentioned. Thanks God.”

Unsur dorongan naluri tidak luput dalam pembuatan film ini. Dorongan untuk bergaul dan berinteraksi dengan sesama manusia menjadi faktor kepribadiannya. Oleh karena itu, dia ingin segera memperoleh kebebasan. Lalu, dia membuat film ini. Namun, sikap ini memperoleh penolakan dari beberapa pihak. Mereka merasa bahwa upaya yang dia lakukan dapat membahayakan perfilman Iran karena pemerintah dapat memberlakukan hukuman yang dia terima ke rekan lainnya. Pihak ini lebih setuju jika dia melakukan konformitas atas hukuman yang dia peroleh.

Unsur-unsur tersebut saling berkaitan dalam membentuk kepribadian Panahi. Kecenderungan melawan berasal dari pengetahuan, perasaan, dan dorongan naluri yang ada pada dirinya. Fenomena yang paling menarik dari film ini menurut sudut pandang antropologi adalah apersepsi dia terhadap hukuman yang dia jalani sehingga membuat dia menjadi muak dan sarkas. Kedua hal tersebut diwujudkan ke dalam perlawanan.

Para Pembuat Film yang Terpasung

Menggunakan sudut pandang sosiologi, penulis menganalisis aktor yang terlibat di dalam cerita. Aktor yang dimaksud adalah kelompok sosial yang direpresentasikan oleh rezim yang berkuasa dan kelompok pembuat film Iran. Teori yang digunakan adalah teori kekuasaan untuk menganalisa rezim serta teori nurani. Teori sifat dan hakikat kekuasaan yang digunakan adalah asimentris.

Kekuasaan digambarkan sebagai bentuk penundukan terhadap perintah dan terdapat pertentangan antara mereka yang tidak sejajar kedudukannya. Untuk menganalisa kelompok pembuat film Iran, penulis menggunakan teori representasi kolektif. Representasi kolektif merupakan simbol yang mengacu kepada suatu konsep kolektif maupun kekuatan-kekuatan sosial.

Panahi mendapatkan hukuman karena dianggap melakukan propaganda melawan suatu rezim, rezim yang berkuasa saat itu berada di bawah kekuasaan Muhammad Ahmadinejad. Rezim ini dikuasasi oleh seorang yang berwatak keras. Rezim ini memiliki kemampuan untuk memengaruhi pihak lain dan memaksakan kehendak mereka untuk dipenuhi melalui jalur peradilan.

Kepentingan rezim ini menjadi dasar penjatuhan hukuman terhadap Panahi. Upaya ini dilakukan agar terwujud kepatuhan masyarakat dan melanggengkan kekuasaan. Sesuai dengan konsep kekuasaan Max Weber, rezim ini menggunakan kesempatan yang mereka miliki untuk menyadarkan masyarakat bahwa tindakan perlawanan akan direspon secara represif. Hal ini dengan memberikan dua jenis hukuman kepada Panahi yang notabene melawan sebagai contoh kepada masyarakat lainnya.

Namun, tidak dipungkiri bahwa cara yang dilakukan oleh rezim tersebut merupakan cara yang sah. Sebagai penyelenggara negara mereka memiliki kewenangan karena secara formal negara melaksanakan kekuasaan tertinggi. Sebagai the rulling class, kedaulatan negara berada di tangan mereka. Pihak ini pada praktiknya menuai ketidakpuasan dari Panahi. Ketidakpuasan tersebut digambarkan ke dalam sebuah film (The Circle) dan dipertegas dengan film lainnya (This Is Not A Film) sebagai bentuk protes terhadap pembungkaman yang dihasilkan dari hukuman film sebelumnya.

Tindakan Panahi yang diwujudkan dengan pembuatan film This Is Not A Film dapat dikategorikan ke dalam bentuk representasi kolektif. Secara simbolis dia menyuarakan pengekangan terhadap para pembuat film karena pembuat film yang mendapatkan hukuman ini bukan hanya dia. Ada suatu kehendak kelompok pembuat film Iran yang dia pikul karena asosiasi pembuat film Iran pun tidak memiliki posisi yang memungkinkan sebagaimana yang dia ucapkan di dalam film.

Namun, hal ini juga menjadi bumerang. Panahi yang dianggap merepresentasikan para pembuat film pun tindakannya diperhitungkan sebagai tindakan kolektif sehingga akibat dari tindakan tersebut dapat diberlakukan kepada kelompok.

Kesimpulan

This Is Not A Film merupakan film dokumenter yang memiliki dinamika yang menggambarkan fenomena-fenomena sosial di Iran. Film merupakan sebuah media yang memiliki power dalam bentuk persuasi, terkadang manipulasi, dan sering pula exchange dengan karakter yang dimiliki. Film dapat membentuk suatu pandangan mengenai suatu permasalahan secara soft dengan persuasi. Begitu pun film ini dapat dipandang secara ilmiah untuk menghasilkan pandangan yang lebih masuk akal.

(Sumber: Dok. Pribadi)

*Mahasiswa FISIP UGM

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini