Tetesan Madu dari Kayangan

Ilustrasi : wordpers.id

Terakota.id–17 Juni 1915, Douwes Dekker dalam Leeuwarder Courant, sebagaimana dikutip Prof. Dr. Djoko Marihandono dalam salah satu makalahnya tentang Ki Hadjar Dewantara, menyarankan agar Soewardi Soerjaningrat tidak lagi membuat onar di bidang politik. Pernyataan Douwes Dekker tersebut terlontar setelah Soewardi Soerjaningrat menamatkan pendidikannya di Lager Onderwijs (Sekolah Guru), yang diselenggarakan oleh Kementerian Dalam Negeri Belanda di Den Haag. Pada 12 Juni 1915, ia memeroleh ijazah Akte van bekwaam als Onderwijzer (Ijazah Kepandaian Mengajar).

Imbauan Douwes Dekker itu  tidak pernah dihiraukannya. Ia tetap menulis artikel-artikel yang dimuat di koran-koran Belanda. Soewardi, kata Prof. Djoko, sependapat dengan istrinya bahwa perjuangan dapat dilakukan tidak hanya dengan berperang, atau tindakan kekerasan lainnya. Perjuangan dapat dilakukan dengan mempersiapkan bangsanya untuk merdeka melalui pendidikan.

Belajar di pengasingan, itulah yang dialami oleh Soewardi Soerjaningrat. Ia diasingkan ke Belanda setelah sebelumnya menjalani hidup di dalam penjara tanah air. Ia dalam tulisannya yang berjudul Een voor allen, mar ook allen voor een (Satu untuk semua, tetapi juga semua untuk satu), terbit 28 Juli 1913, dianggap bermuatan penghinaan terhadap pemerintah kolonial Belanda.

Soewardi Soerjaningrat yang sejak tahun 1922 dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara itu adalah tokoh pergerakan yang lebih banyak berjuang melalui reformasi pendidikan. Nama Ki Hadjar Dewantara lekat dengan semangat nasionalismenya untuk mengembalikan pendidikan menjadi milik kaum pribumi. Pada zaman kolonial, pendidikan diabdikan untuk kepentingan Belanda, bukan untuk pribumi.

Sekalipun Ki Hadjar Dewantara telah menjadi ikon pendidikan Indonesia, namun dalam kenyataannya ide-ide briliannya hanya sebatas kembang pidato, dan sangat sepi dalam praktiknya. Pada zamannya, Ki Hadjar Dewantara telah melakukan lompatan-lompatan besar untuk pendidikan kita. Lompatan-lompatan itu lahir dari gagasan orang yang konsisten dalam berjuang, bukan seorang pengecut. Jika hari ini Ki Hadjar Dewantara masih hidup pasti ia akan sangat bangga. Gagasan yang digaungkan seabad silam itu, baru menemukan bentuknya yang nyata pada abad ini.

Pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan yang tersebar di pelbagai surat kabar, majalah, pidato, dan brosur-brosur berhasil dikumpulkan oleh Panitia Penerbitan Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa yang diketuai oleh Moch. Tauchid pada tahun 1961. Sebagian dari ide-idenya ternyata baru dapat diwujudkan dalam serangkaian program yang dicanangkan oleh pemerintah saat ini.

Dua hari lalu (15 Juni 2021) Mendikbudristek, Nadiem Anwar Makarim, dalam “Festival Kampus Merdeka,” menyatakan bahwa kita diingatkan lagi tentang pentingnya merdeka belajar bagi pelajar dan mahasiswa Indonesia. Saat ini perubahan global terjadi sangat cepat dan tidak terduga. Jadi tantangan yang kita hadapi, kata Nadiem, berbeda dengan apa yang dihadapi orang tua atau yang kita hadapi di masa lalu.

Pernyataan Mas Menteri yang disiarkan langsung via YouTube Kemendikbud R.I. tersebut selaras dengan apa yang diucapkan Ki Hadjar Dewantara 81 tahun silam. Dalam pidato radio pada 14 januari 1940 Ki Hadjar Dewantara mengatakan bahwa hidup itu selalu maju. Manusia pada zaman sekarang berbeda sekali sifatnya dengan nenek moyang kita pada zaman purbakala. Di sinilah bedanya hidup manusia yang berkultur dengan hewan yang tidak mempunyai kultur.

Dalam tulisannya tentang belajar sambil bekerja dan berlatih mengabdi masyarakat, Ki Hadjar Dewantara memrotes keras sistem pendidikan yang hanya mementingkan ijazah dan gelar. Menurutnya, pemerintah nampak lebih menghargai kecerdasan umum yang berdasarkan ijazah di atas kepandaian vak (sisa zaman kolonial dengan kleinambtenaarsdiploma). Suara keras Ki Hadjar Dewantara itu digaungkan kembali oleh Nadiem Makarim dalam banyak kesempatan, bahwa gelar tidak menjamin kompetensi.

Menurut Ki Hadjar Dewantara, sistem pendidikan dan pengajaran sejak adanya kekuasaan penjajahan bangsa Belanda sampai zaman kemerdekaan Indonesia memiliki tiga sifat, yakni intelektualistis, individualistis, dan materialistis. Sifat-sifat itu memiliki makna berpikir semata-mata (tahu hanya untuk mengetahui dan tidak untuk diamalkan); mengagungkan hidup diri dan tidak mementingkan hidup bersama; mengutamakan kenikmatan hidup kebendaan dan tidak menghargai nilai-nilai kebatinan.

Perlawanan terhadap tiga sifat pendidikan kita di masa lampau itu dilakukan oleh Mas Menteri dalam wujud Program Kampus Merdeka. Program ini, kata Nadiem saat Bincang Kampus Merdeka di Istana Negara yang juga dihadiri Presiden Joko Widodo, adalah upaya memerdekakan perguruan tinggi dari pelbagai sekat. Sekat-sekat itu adalah antara akademia dan industri, riset dan pembelajaran, sekat antar fakultas, dan sekat antara prodi. Harus diciptakan sistem perguruan tinggi yang berkilaborasi, gotong royong tanpa adanya dinging.

Pemerintah mendorong perguruan tinggi untuk melakukan perubahan itu. Program ini memaksimalkan jumlah mahasiswa keluar dari kampus, mendapatkan pembelajaran dari kampus lain, proyek sosial, kewirausahaan, magang di industri dan perusahaan nirlaba. Pada dasarnya, menurut Mas Menteri, diharapkan semua mahasiswa bisa “berenang di lautan terbuka.”

Melakukan perubahan seperti yang dilakukan oleh Nadiem pasti banyak tantangan. Pada zamannya, Ki Hadjar Dewantara juga mendapatkan banyak perlawanan, terutama dari pemerintah kolonial. Semangat yang sangat progresif dari sosok Ki Hadjar Dewantara, lebih banyak diwarnai dan memperoleh inspirasi dari sistem pendidikan bangsa kita di masa lalu, sebelum era kolonial Belanda.

Bangsa Indonesia, kata Ki Hadjar Dewantara dalam “Pendidikan dan Kususilaan” yang dimuat dalam harian Asia Raja, 2 dan 10 Februari 1943, mulai dahulu kala telah mempunyai sistem pendidikan dan pengajaran, walaupun karena sangat terdesaknya oleh semangat kolonialisme Belanda, kini hanya nampak sebagai bayang-bayang yang suram atau terus hidup sebagai tradisi (adat), yang tak dapat memberi faedah yang cukup bagi masyarakat maupun kebudayaan kebangsaan.

Ki Hadjar Dewantara memberi contoh sistem itu yang terdapat dalam cerita-cerita, baik dalam kitab-kitab kebangsaan maupun dalam pertunjukan wayang. Hampir semua kitab-kitab kita dari zaman dahulu, kata Ki Hadjar Dewantara, selalu mengandung maksud pendidikan, baik cerita babad (riwayat) maupun ceritera roman atau ceritera lainnya, tentu mementingkan pendidikan budi pekerti. Seringkali ceriteranya agak dialahkan, yaitu diubah, diganti, ditambah atau dikurangi menurut keperluan pendidikan.

Gagasan Mendikbudristek tentang Kampus Merdeka menempatkan kearifan lokal sebagai basis pembelajaran etika dan penghargaan terhadap keberagaman. Nadiem menyatakan bahwa kita sebagai generasi muda yang akan menentukan masa depan bangsa, memiliki tugas menjaga kekuatan dan ketangguhan itu. Untuk itulah Kemendikbudristek menghadirkan program pertukaran mahasiswa merdeka bagi mahasiswa di seluruh Indonesia.

Program ini bertujuan membuka ruang-ruang pertemuan bagi mahasiswa untuk berjumpa, bercerita dan berbagi. Kemudian dari pertemuan dan perkenalan tersebut mahasiswa akan bersama-sama belajar menghargai perbedaan dan merasakan keberagaman. Dan semua itu, kata Mas Menteri, dilakukan oleh mahasiswa sambil mengikuti perkuliahan.

Semula ide-de Mas Menteri banyak mendapatkan cibiran orang, atau bahkan beberapa programnya diserang habis-habisan oleh beberapa kalangan. Mereka, tidak hanya dari ormas-ormas besar dan kelompok-kelompok yang berseberangan dengan pemerintah saja, namun tidak sedikit “orang dalam” turut bermain di dalamnya. Para penentang itu adalah mereka yang telah lama menikmati kemapanan dan anti perubahan. Gagasan-gagasan baru dianggap sebagai pikiran liar yang harus diabaikan. Bahkan tiap kali ada wacana resuffle, nama Nadiem Anwar Makarim paling santer yang diusulkan untuk keluar dari kabinet Jokowi.

Fenomena semacam ini dikarenakan mayoritas masyarakat kita masih selalu berpikir berdasarkan pakem dan norma tertentu. Norma-norma itu pada dasarnya lahir dari uapaya panjang untuk melanggengkan kemapanan golongan tertentu. Ketidakberanian kita untuk menjadi liar itu, kata Romo Sindhunata dalam Petruk Jadi Guru  (Penerbit Buku Kompas, 2006), tampaknya tidak hanya karena hambatan psikis dan aturan sopan santun. Kita terhukum untuk tidak berani liar karena kita tidak hidup dalam sebuah kosmos yang Werden (menjadi), melainkan kosmos yang Sein (berada). Nafas kosmos yang kita hirup hanya membuat kita sekadar berada sebagai manusia, bukan membuat kita sebagai manusia.

Petruk Jadi Guru yang dibahas Romo Sindhu merupakan cerita carangan, yakni lakon wayang yang tidak berdasarkan pakem. Petruk, yang dalam cerita wayang berperan sebagai punakawan, dalam lakon ini menggantikan kekuasaan Batara Guru di Kayangan. Petruk memerintah dengan caranya sendiri. Suatu saat ia mengajak para dewa untuk minum arak. Di tengah asyiknya pesta itu, araknya tumpah dan menetes ke dunia, dan mengenai manusia-manusia penghuninya.

Sulasno, yang mengangkat lakon ini ke dalam lukisannya, kata Romo Sindhu, menginterpretasikan Petruk Jadi Guru sebagai kesederhanaan dan kecupetan rakyat bawah. Apa pun yang dilakukan di Kayangan (kalangan atas, penguasa) akan berimbas pada rakyat. Jangan salahkan rakyat mencuri ayam, karena pejabatnya juga gemar melakukan tindak korupsi. Kesalahan rakyat jelata adalah tetesan dosa dari atas. Rakyat adalah korban miskinnya teladan baik dari orang-orang yang bisa dianggap sebagai pengayomnya. Bagaimana seorang yang mengritik tindak pungutan liar yang justru dipenjarakan, sementara pelaku punglinya sendiri bisa melakukan aksinya tanpa sanksi.

Program Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka saat ini sangat diharapkan mengembalikan budi pekerti sebagai basis pendidikan kita. Pendidikan yang tak hanya mampu mencetak manusia yang sekadar menguasai ilmu pengetahuan, namun sepi dari pengamalan. Semoga analogi Romo Sindhu tentang tetesan arak dari Kayangan itu segera berubah menjadi tetesan madu yang didambakan oleh semua orang. Jangan biarkan Program Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka yang sangat baik itu dijalankan oleh orang-orang yang “mabuk arak.” Biarkanlah Ki Hadjar Dewantara berhenti menulis, karena cita-citanya seabad silam nyaris terwujud di depan mata.

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini