Testimoni dalam Empirisisme

Terakota.id–Selama PPKM ini, kalau sedang merasa sumpeg di rumah, saya kadang berpamitan kepada istri untuk pergi ke warung Pak D., warung tetangga kami di perumahan. Kadang memang karena ada kebutuhan, semisal untuk membeli ini-itu atau menukar gas masak. Namun, kadang kepergian saya itu menjadi dalih belaka karena tujuan sesungguhnya saya datang ke warung Pak D. adalah untuk ber-ghibah dengannya. Di rumah kami, tidak hanya istri yang boleh berbelanja kebutuhan sehari-hari, termasuk sayur dan lauk, serta ber-ghibah. Saya pun kebagian tugas dan hak yang secara tradisional diperuntukan bagi kaum hawa tersebut.

Salah satu topik populer dalam per-ghibah-an Pak D. dan saya adalah soal jamu herbal untuk menangkal corona. Saya biasanya lebih sering menyediakan telinga kalau soal ini, karena Pak D. tampaknya punya referensi yang jauh lebih luas daripada saya. Pemakaian herbal saya sebatas wedang jahe campur temulawak dan serai yang setiap dua sore sekali istri saya buatkan untuk kami sekeluarga. Sementara Pak Dadang terlihat seperti pendekar yang sudah lama malang-pelintang di dunia perherbalan.

Bak pedagang jamu di pasar tradisional, Pak D. bercerita tentang Om T, yang sakit gulanya sempat kambuh sampai kakinya bengkak, tetapi bisa mengempes dan mengering dengan sendirinya setelah minum cem-ceman herbal dari Pak Tr. Atau tentang Ny. M yang bisa lolos dari terkaman corona meski seluruh keluarganya terbukti positif berkat ketekunannya minum herbal tertentu. Atau tentang dirinya sendiri yang sejak muda rajin minum ramuan ini-itu sehingga sekarang, di usianya yang sudah lebih dari kepala lima, masih kuat berjalan menanjak sejauh 4 kilometer.

Apa yang disampaikan oleh Pak D. kepada saya itu termasuk ‘testimoni’ atau ‘kesaksian’. Lema ‘testimoni’ didefinisikan sebagai ‘bukti yang diberikan saksi di pengadilan’ dan ‘pengakuan’ oleh KBBI daring. Testimoni juga banyak digunakan dalam dunia pemasaran atau marketing. Biasanya, testimoni hadir dalam bentuk komentar positif mengenai suatu produk atau brand yang bertujuan mendorong orang lain untuk membeli, menguatkan kredibilitas brand, serta menciptakan rasa percaya diri konsumen (www.glints.com). Sebagai pengakuan, testimoni bersifat subjektif dan tidak selalu didasarkan pada pengujian yang rigid dan ilmiah.

Barangkali karena alasan kesubjektifan dan kurang teruji secara ilmiah inilah, misalnya, kesaksian tidak dianggap sebagai alat pembuktian yang kuat. Secara khusus di dunia kedokteran dan kesehatan, yang termasuk dalam ranah ilmu pasti, testimoni tidak digolongkan sebagai bukti yang meyakinkan. Maka, ketika beberapa tahun lalu di televisi dan media sangat populer testimoni dari para pasien di klinik-klinik herbal, itu dianggap sebagai sebuah ‘pembodohan masyarakat’ dengan cara memanfaatkan atau ‘mempermainkan psikologi orang sakit’ (Indriasari, 2015).

Di dunia hukum pun, baik dalam hukum pidana maupun perdata, kesaksian yang termasuk dalam alat bukti yang dapat diterima di pengadilan, bisa dengan gampang mental jika barang bukti lain yang lebih kuat membuktikan yang sebaliknya (Baskara, 2021). Barang bukti lain tersebut biasanya berupa dokumen resmi atau hasil laboratorium atau rekaman digital.

Testimoni dan Empirisisme

Meskipun testimoni dipandang lemah sebagai bukti, dalam kenyataannya banyak dari yang kita yakini sekarang ini merupakan hasil dari testimoni. Selain dalam menentukan barang-barang yang kita beli, testimoni juga muncul dan memiliki fungsi dalam hidup beragama kita.

Dalam tradisi Kristiani, testimoni itu dapat kita baca dalam kesaksian yang diberikan oleh para murid dan pengikut Yesus serta dikisahkan di dalam kitab-kitab Perjanjian Baru. Mereka ini menceritakan kepada kita, memberi kesaksian bagi para pembacanya, apa yang diajarkan oleh Yesus, mukjizat-mukjizat yang dibuatnya, dan apa yang terjadi setelah wafatnya. Apakah kesaksian mereka itu sahih dan benar, bukan urusan kita di sini.

Sama kasusnya dengan kisah Nabi Muhammad SAW dan kesaksian yang diberikan oleh sahabat-sahabatnya. Atau kisah kehidupan Sidharta Gautama. Satu hal yang pasti: kesaksian atau testimoni, betapa pun sucinya, senantiasa bersifat subjektif dan tidak dapat kita telusuri atau buktikan sekarang ini, kecuali dengan sikap keimanan.

Kritik terhadap testimoni serta bagaimana testimoni tidak dapat diandalkan sebagai jalan untuk mencapai pengetahuan serta kebenaran merupakan salah satu fokus dari kritik filsafat empirisisme. Empirisisme sendiri juga merupakan kritik terhadap aliran filsafat yang muncul sebelumnya, yaitu rasionalisme, yang mementingkan rasio atau nalar manusia dalam mencapai pengetahuan. Ini tidak berarti bahwa testimoni adalah bagian dari rasionalisme. Empirisme mengkritik keduanya semata-mata karena keduanya bertentangan dengan prinsip dasarnya.

Empirisisme sebagaimana diusung oleh salah satu penggagasnya yang paling ternama, David Hume (1711-1776), berpandangan dasar bahwa pengetahuan yang paling baik dan ideal diperoleh bukan dari atau melalui penalaran, karena penalaran dapat bengkak-bengkok dan ‘tersesat’ dalam labirin permainan kata dan logika.

Pengetahuan sebaik-baiknya diperoleh dari kesan atau impresi yang didapat secara langsung dengan menggunakan indera atau sensory. Sampai kadar tertentu, pengetahuan yang sejati mesti dapat diamati dan diindera. Dan, alangkah baiknya jika impresi atau kesan itu lantas bisa dikuantifikasi dengan angka. ‘Apa yang tidak dapat dikuantifikasi sebaiknya dibuang saja’, kurang-lebih begitu yang diajarkan oleh empirisisme.

Impresi atau kesan inilah yang diwaktu selanjutnya terakumulasi dalam ingatan dan menghasilkan apa yang Hume namakan sebagai ide atau gagasan. Dengan kata lain, ide atau gagasan adalah ingatan akan kesan. Sebagai ingatan, ide atau gagasan tentu saja tidak sekuat kesan. Dan ingatan tentang kesan seringkali tidak sama dengan kesan itu sendiri.

Ide terdiri dari dua kategori: ide tunggal dan ide kompleks. Seperti dapat ditebak, ide tunggal merujuk pada ingatan akan satu kesan, sedangkan ide kompleks merupakan ingatan akan akumulasi kesan-kesan. Tuhan, dalam pengategorian ini, masuk ke dalam ide kompleks, karena gagasan akan Tuhan (yang mewujud dalam agama) merupakan akumulasi dari ingatan akan kesan.

Mungkin kesan itu diperoleh di keluarga di mana bapak adalah sosok yang keras, tegas, namun adil, dan itu lantas kita proyeksikan kepada ide Tuhan sebagai bapa surgawi yang keras, tegas, namun adil. Atau bisa juga ide Tuhan kita dapat dari ingatan akan kesan yang kita cerap saat melihat semesta yang indah, teratur, mengandung kebijakan, dan seterusnya. Maka ide Tuhan pun dipenuhi oleh ingatan akan kesan-kesan tersebut.

Bagi kaum empiris, apa yang tidak dapat dialami dan diamati sebagai pengalaman inderawi atau impresi bisa berarti banyak hal, dan salah satunya adalah hal tersebut tidak benar. Ketidakbenaran dari hal-hal non-inderawi tersebut disebabkan oleh beberapa kemungkinan. Salah satunya adalah karena belum berkembangnya ilmu pengetahuan yang secara ilmiah mencoba mengamati dan menyelami dunia tersebut secara empiris.

Demikianlah, empirisisme dapat dikatakan sebagai cikal-bakal ilmu pengetahuan ilmiah modern. Dalam ilmu ilmiah modern, semuanya mesti dapat diindera, diamati, dan dikuantifikasi. Ada aturan ilmiah yang baku dan rigid yang mesti dipatuhi dan dijunjung tinggi. Hal-hal yang di luar itu dipandang sebagai bagian dari ide atau gagasan kompleks yang kemungkinannya (1) memang menyimpang dari hukum alam dan tidak dapat dijelaskan secara empiris atau (2) ilmu pengetahuan ilmiah modern belum sampai ke sana dan begitu sampai ke sana, terungkaplah ‘kebenaran’.

Testimoni atau kesaksian tidak memiliki tempat di dalam ilmu ilmiah modern yang empiris dan positivistis. Atau, kalau menduduki suatu posisi, tempatnya di paling bawah. Testimoni tentang khasiat herbal seperti yang Pak D. ceritakan kepada saya, atau testimoni tentang Yesus atau Nabi Muhammad atau siapa pun itu, bahkan testimoni tentang keagungan Tuhan tidak dapat dibuktikan secara empiris. Maka, testimoni semacam itu tidak dapat dijadikan sandaran yang solid bagi pengetahuan.

Saya sempat berdebat kecil dengan seorang teman dokter yang doktor. Sebagai seorang yang tumbuh dalam tradisi ilmiah empiris dan positivistis, dia sangat skeptis terhadap herbal dalam menangkal corona. Apalagi hal tersebut belum dibuktikan secara klinis. Saya yang tumbuh dan besar dalam beragam tradisi pemikiran, dan sampai kadar tertentu juga curiga pada empirisisme, dengan santai menjawab: kadang yang tidak bisa dibuktikan oleh secara empiris, itu yang membuat kita tetap waras.

Ada terlalu banyak hal yang membutuhkan kewarasan dan kalau kita kehilangan kewarasan (baik fisik, terutama mental dan psikologis) karena overwhelmed oleh banyaknya hal yang tidak dapat kita buktikan secara empiris, hidup tidak ada keindahannya. Dengan kata lain, saya sendiri sedikit menyukai empirisisme, tetapi juga menyukai rasionalisme, dan apa pun yang datang sebelum dan setelah keduanya. Cari nyamannya saja.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini