Terpaku di Jabal Juljuta

Khalil Gibran. Ilustrasi : India Today

Terakota.id–Kalian banyak dan aku sendirian, kalian dapat melakukan padaku apa yang kalian ingini. Serigala-serigala memangsa anak domba, tapi noda-noda darahnya tetap tinggal di bebatuan di lembah-lembah fajar tiba, dan matahari menyingkapkan kejahatan itu pada semua orang.” Begitu bunyi salah satu paragraf Kahlil Gibran dalam Yuhana al-Majnun.

Yuhana al-Majnun menceritakan tentang seorang pemuda bernama Yohanes (Arab: Yuhana) yang merasa risau melihat praktik beragama para imam yang sudah tidak sesuai lagi dengan ajaran kitab suci. Mereka telah menyelewengkan warisan kehidupan yang suci demi menyembunyikan kejahatan-kejahatannya.

Melalui tokoh Yohanes, Gibran mengekspresikan kritikannya terhadap institusi keagamaan, kehidupan mewah para imamnya beserta tempat ibadah dan biara yang megah, sementara mereka menutup mata terhadap kemiskinan yang terjadi di sekitarnya. Mereka lebih mementingkan kesalihan ritual dibandingan dengan kesalihan sosial. Yohanes adalah imajinasi Gibran dalam menafsirkan reformasi akhlak yang dilakukan oleh tokoh pujaannya, As-Sayid al-Masih.

Seorang sahabat sekaligus salah satu “guru ngaji” saya, Dr. Bambang Noorsena, M.A. menerjemahkan karya-karya Kahlil Gibran berbahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Yesus yang Disalib (Komunitas Nisita, 2003). Di samping terjemahan Yasu’ al-Mashlub dalam buku ini dimuat pula terjemahan Yuhana al-Majnun, Masa’ al-Ied, Surah al-Qubur, dan Al-Mawakib.

Nama Kahlil Gibran sudah tidak asing lagi bagi publik Indonesia. Karya-karya Gibran telah diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa, dan mengalami cetak ulang berpuluh kali di banyak negara. Gibran memeroleh perhatian yang sangat luas baik dari akademisi maupun pencinta sastra tanah air. Sejumlah skripsi, tesis, dan disertasi bidang sastra lahir dari karya Gibran. Gibran menjadi salah satu pengarang dunia yang karya-karyanya paling banyak dibicarakan, baik dalam forum ilmiah maupun sekadar diskusi santai di taman-taman kampus.

Sebagai orang Kristen Arab, kata Bambang Noorsena dalam pengantar terjemahannya, Gibran tidak hanya membaca Alkitab, tetapi Quran juga turut memerkaya penziarahan spiritualnya. Di samping keduanya,  gaya sastra Gibran juga dipengaruhi oleh pustaka suci Buddhisme, dan legenda-legenda Lebanon yang sangat dibanggakannya.

Dari sinilah, ketika kita membaca karya Gibran, kita dihadapkan pada hikmat yang mengalir dari aneka sumber. Sumber-sumber itu berasal dari Dzat yang sama, namun memiliki warna yang beragam. Hanya ketamakan manusialah, karya Tuhan diporak-porandakan. Gibran berkata: Tanaman anggur yang Kau tanam dengan tangan kanan-Mu telah dimakan oleh ulat-ulat kerakusan, dan batang-batangnya telah terinjak-injak di tanah. Anak-anak perdamaian-Mu terpecah-belah di antara sesamanya sendiri, dan bertikai antara yang satu dengan yang lain.

Saya tak pernah merasa bosan membaca karya-karya Kahlil Gibran. Beberapa karyanya bahkan harus saya baca berulang kali. Tiap kali membaca sebuah karya sastra, sebelum saya terhubungkan baik sengaja maupun tak sengaja dengan peristiwa di sekitar saya, biasanya secara otomatis saya langsung teringat tentang kehidupan pribadi saya.

Tiap kali mengulang membaca karya Gibran, ada hal baru yang menyentuh kemanusiaan saya. Mungkin bagi beberapa orang, apa yang saya alami dianggap terlalu sentimental. Namun itulah, tiap karya sastra mengandung kebenaran, karena ia diciptakan dari hati nurani yang bersih. Saya percaya bahwa dalam diri para sastrawan, separuh karyanya adalah ekspresi pribadinya secara utuh, separuh yang lain adalah kehadiran Tuhan dalam dirinya. Sastrawan yang bersih hatinya selalu dibimbing oleh Roh Kudus.

Kadangkala saya sering merasakan bahwa karya-karya yang saya baca itu memang sengaja diciptakan untuk saya, sekali pun antara masa penciptaan karya itu dan masa kehidupan saya terpaut jarak dan waktu yang amat jauh. Tentunya hanyutnya perasaan saya adalah ketika saya berada di luar kesadaran bahwa karya sastra memiliki universilitas yang dapat menembus ruang, waktu dan aneka latar budaya.

Sebagai seorang akademisi di bidang sastra, saya juga manusia biasa, yang tak selalu mengandalkan logika berpikir ketika berhadapan dengan teks lalu menganalisisnya secara ilmiah, namun tak dapat dipungkiri bahwa seringkali perasaan saya mengembara dan turut larut menyelam dalam kedalaman hati sang pengarangnya.

Pada saat seperti itu teks sastra tidak melulu sebagai objek kajian akademis. Saya bahkan lebih banyak mengalami sebagai pembaca awam dibandingkan dengan orang yang terpaku pada teori-teori yang seringkali membelenggu. Pada saat seperti itu saya hanyalah seorang pembaca setia, pecinta sastra, dan pengagum berat pengarangnya. Momentum seperti itulah yang sangat membahagiakan saya, karena beroleh kesempatan untuk menimba pengalaman batin tanpa dibebani sejumlah teori yang terkadang terkesan dipaksakan sekalipun mungkin tidak terlalu cocok.

Kutipan yang saya tulis di awal tulisan ini, misalnya, setidaknya mengingatkan saya kembali di tahun 2019 ketika saya dihadapkan pada persidangan dengan tuduhan pencemaran nama baik. Ketika saksi pelapor dihadirkan ke pengadilan negeri, sejumlah orang dengan berseragam organisasi profesi guru memenuhi ruang sidang, ruang tunggu, dan halaman pengadilan itu.

Sesaat sebelum sidang dimulai mereka membubarkan diri lantaran takut dilaporkan ke instansinya, karena pada jam kerja, mereka justru meninggalkan tugasnya sebagai guru hanya untuk turut serta ambil bagian dalam membuat tekanan psikologis kepada saya. Saya merasa seperti tokoh Yuhana sebagaimana dikisahkan oleh Kahlil Gibran. Dalam kesendirian, saya hanya mengandalkan Sang Pelindung Setia.

Dalam banyak situasi yang tak menentu, saya justru harus membesarkan hati istri dan anak-anak saya. Mereka masih terlalu muda untuk memahami liku-liku kehidupan bapaknya. Mereka terpukul, mereka menangis, bahkan terkadang tak bisa menangis lagi. Dadanya sesak, namun air mata sudah tak bisa keluar lagi dari matanya yang lugu itu. Hanya kata-kata penghiburan yang bisa saya ucapkan untuk mereka: penderitaan ini tidak sebanding dengan apa yang dialami oleh para utusan Tuhan.

Para nabi dan orang-orang pilihan Tuhan itu mulanya juga seorang diri. Mereka difitnah, dibenci, dicaci-maki, diludahi, dilempari, dipukul, diusir, dicambuk, disalib, dan masih banyak deretan kata kerja pasif yang tak enak didengar. Saya harus mengucapkan berulang-kali kepada istri dan anak-anak bahwa kebenaran tak bisa ditentukan oleh suara mayoritas. Hanya kebenaran palsu yang tunduk pada tekanan, dan dapat dibeli dengan kepingan logam.

Kisah-kisah para nabi menjadi santapan anak-anak saya untuk mengisi ruang-ruang sunyi di hati mereka. Pengorbanan para nabi menjadi spirit kami untuk tetap selalu bangkit dan pantang menyerah. Kehidupan harus tetap berlanjut seperti biasanya. Sabar menjadi kata kunci yang tiap saat harus saya gemakan untuk melawan ketidakadilan.

Kebenaran harus diperjuangkan, sekalipun hanya untuk sekadar menunjukkan jati dirinya, sebab kebenaran tetaplah menjadi kebenaran sekalipun berjuta orang berusahan untuk menyangkal dan menutupinya. Namun penutup kebenaran harus disingkapkan. Bila tembok penutup kebenaran itu tak pernah kita jebol, maka siapakah orang yang akan tercerahkan oleh kebenaran itu.

Dalam pekan ini saudara-saudara kita umat Kristiani mengenang masa sengsara Yesus, mulai ditangkap di Taman Getsemani, diadili, disalib di Jabal Juljuta (Bukit Golgota), hingga kebangkitannya. Atas nama nafsu dan kesalehan palsu, seorang utusan Tuhan dibantainya dalam gelap mata. Hari ini saya tanyakan kepada istri dan anak-anak saya: Buat apa Yesus harus mengalami masa sengsara yang begitu hebatnya bila tidak diabdikan bagi menyingkap kebenaran?

Diperlakukan bak seorang penjahat, Sang Mesias terpaku di palang salib. Sang Ibunda menangis di kakinya, pada saat banyak orang-orang dekat menyangkal kenabiannya. Kahlil Gibran menggambarkan peristiwa itu dalam Yasu’ al-Mashlub sebagai: Pada hari ini tiap-tiap tahun, kemanusiaan terjaga bersama kesadaran musim semi, dan berdiri meratap di bawah lelaki Nazaret yang menderita, lalu menutup matanya dan menyerahkan dirinya kepada kelelapan tidur.

Sembilan hari lagi 90 tahun yang lalu Kahlil Gibran wafat. Pengarang berdarah Arab bernama asli Jubran Khalil Jubran ini lahir di desa Bishari, Libanon, pada tanggal 6 Januari 1883. Ia berasal dari keluarga Kristen Maronit. Maronit adalah denominasi Kristen terbesar di Lebanon. Gibran wafat di New York, Amerika Serikat pada tanggal 10 April 1931 dalam usia 48 tahun.

Seperti dituturkan Bambang Noorsena, Gereja Maronit yang dulu memandang curiga, bahkan mempertimbangkan untuk menjatuhkan ekskomunikasi (pengasingan) kepadanya dikarenakan karya-karyanya dalam Al-Arwah al Mutamarridah berisi kritikan yang sangat tajam, namun saat pemakamannya justru dipimpin sendiri oleh pemimpin gereja itu, Uskup Moubarak.

Jauh sebelum Gibran wafat, ia telah memaafkan orang-orang yang membencinya, sebagaimana Sayidina Isa Al-Masih memaafkan mereka yang menyalibnya: Ya Abatah, aghfirlahum liannahum la ya’lamun maadza yaf’alun! Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat (Lukas 23:34).

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini