Terdepan Terluar Tertinggal: Mengelabuhi sambil Membius

terdepan-terluar-tertinggal-mengelabuhi-sambil-membius

Terakota.idBuku berjudul Terdepan Terluar Tertinggal (3T) telah memakan korban. Begitu tampak seperti antologi tapi sebenarnya novel. Sebenarnya novel tapi sama sekali tidak diakui novel, bahkan oleh penulis dan penerbitnya. Dengan itu saja, menurut saya, dia sudah menuntut untuk dibicarakan.

Tanpa dibicarakan, dia hanya akan menjadi kejutan yang tidak akan bertahan. Di zaman ketika kita memilih untuk membaca yang kita ingin baca, ketika kita bisa memblokir yang tak ingin kita dengarkan. Buku 3T ini sangat berpotensi untuk diabaikan karena orang mungkin akan mendapatinya ganjil dan kemudian diabaikan saja untuk mencari hal-hal lain yang lebih akrab.

Tapi, kalau buku ini sudah ada di hadapan Anda dan Anda dipaksa untuk menikmatinya. Maka Anda akan terpapar pada tiga risiko, karena buku ini berpotensi 3 M (mengelabuhi, menjerumuskan, membius).

Mengelabuhi

Yang perlu disampaikan di awal adalah binatang apa buku ini. Binatang jalangkah? Mungkin. Dia punya anak judul “Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045.” Pembaca pada umumnya akan dengan wajarnya menerima buku ini sebagai buku “antologi puisi” (bahkan mungkin dengan mengabaikan kata “obskur” dan “1945-2045” yang ganjil itu.

Di dalam kita akan menemukan daftar isi, prakata dari penyunting, biografi penyair, contoh puisi dari penyair yang bersangkutan dan diakhiri dengan catatan penutup. Oke. Eh, tapi di sampul belakang masih ada lagi kutipan dari penyunting dan penulis epilog serta deskripsi buku sambil kategorisasi buku (sebagai puisi) yang menurut saya masih bagian dari cerita. Begitulah kira-kira gambaran buku ini dari sampul depan sampai sampul belakang.

Tapi, menurut saya, buku ini adalah novel. Dia adalah sebuah cerita fiksi. Dia adalah cerita fiksi yang menggunakan gaya bercerita tidak lazim, bukan bercerita sebagaimana novel pada umumnya, yang menggunakan narasi prosaik (dengan bahasa seperti kita berbicara) dan dalam bentuk bab-bab dengan narator dan dialog dalam bentuk kalimat langsung.

Dia tidak menarasikan cerita tapi menunjukkan objek-objek. Apa objek-objek itu? Ya pengantar, biografi penulis, puisi, epilog, kutipan, dan seluruh buku ini. Dengan mempersepsi objek itu (atau objek-objek itu kalau kita menganggap setiap bagian buku sebagai satu objek terpisah) kita bisa membangun sendiri dunia fiksinya di kepala kita sendiri. Kalau saya boleh bombastis, buku ini adalah novel tanpa narasi. Tidak ada narasi yang membantu kita lebih menciptakan dunia fiksi itu di kepala kita.

Tentu 3T bukan buku pertama semacam itu (kalau Anda peduli soal kebaruan atau terobosan). Buku Martin sebelumnya, Kiat Sukses Hancur Lebur adalah buku semacam ini juga. Dia adalah buku yang berisi novel (yang berjudul Kiat Sukses Hancur Lebur karya Anto Labil). Kalau ingin, kita bisa mengapresiasi novel Kiat Sukses Hancur Lebur karya Martin Suryajaya atau Kiat Sukses Hancur Lebur karya Anto Labil.

Karya fiksi lain di Indonesia tidak sedikit yang melakukan ini, misalnya cerpen “Rumah Kopi Singa Tertawa” karya Yusi Avianto Pareanom yang berisi percakapan-percakapan di kafe itu juga begitu. Ini satu contoh saja yang kebetulan terlintas. Kalau di luar Indonesia, fiksi yang memiliki masuk dalam logika fiksi semacam ini tentu tak terhitung jumlahnya, mulai Jorge Luis Borges yang membuat cerpen fenomenal berbentuk entri ensklopedia berjudul “Tlon, Uqbar, and Obis Tertius,” sampai yang lebih tua yang pernah menjadi konvensi novel, yaitu novel epistolari, yang berbentuk saling berbalas surat.

Yang ingin saya tegaskan adalah bahwa ini adalah novel, sebuah karya fiksi. Dalam novel ini, tokoh utama kita adalah Sulaiman H, sang editor antologi puisi Terdepan Terluar Tertinggal dan tokoh penting kedua Laura Putri Lasmi, penulis epilog. Di dalamnya, ada tokoh-tokoh penyair yang punya cerita sendiri tapi juga membantu kita mereka-reka karakter si Sulaiman H.

Kalau kita menggunakan istilah teknis di bidang sastra, peran para penyair ini mirip “foil,” tokoh yang tugasnya membantu menyingkap karakter. Tapi tentu saja para penyair ini tidak hanya begitu karena, seperti akan kita lihat nanti, mereka ini memberi keasyikan sendiri kepada kita pembaca. Jadi begitulah, mulai saat ini saya akan tanpa sungkan-sungkan menyebut buku ini sebagai novel. Saya tidak akan terkelabuhi oleh judulnya, strukturnya, dan bahkan label dari penerbitnya sendiri.

Menyindir sambil Menjerumuskan

Selanjutnya, kalau kita masuk ke dunia film novel 3T ini, kita akan menemukan karnaval tema, karakter, dan suara. Kita akan melihat berbagai tema yang bisa kita lihat sebagai kerlingan atau bahkan olok-olok terhadap sejumlah hal di perpuisian Indonesia, mulai dari cara ungkap, tema puisi, kehidupan para penyair, hingga kajian terhadap puisi di Indonesia. Segala hal tentang penyair mendapat bagian dimainkan.

Upaya mengumpulkan puisi-puisi obskur ini sendiri mengandung kritik. Sulaiman H, penyunting kita, adalah seorang sejarawan yang punya keprihatinan terhadap para penyair obskur. Seperti definisi kamus masa depan yang diambil oleh Sulaiman H., obskur adalah samar-samar. Para penyair obskur ini begitu samar-samar, sehingga kadang diketahui tapi kadang juga tidak.

Mungkin mereka ini derajatnya di bawah “penyair medioker,” satu frase yang saya ingat sering dipakai oleh Nirwan Dewanto pada era 90-an dan 2000-an. Sulaiman H mengumpulkan mereka karena mereka ini adalah “semacam nadi tersembunyi bangsa Indonesia dalam rentang satu abad agar kita dapat melihat betapa denyut samar itu masih ada dan terus bersama kita, bahkan sampai hari ini, seratus tahun setelah para penyair berkebangsaan Indonesia menuliskan sajak-sajaknya” (halaman 14). Sulaiman H. menyadari nilai bahkan dari para penyair obskur yang puisinya tidak masuk ke dalam antologi-antologi terhormat itu.

Kritik utamanya di sini adalah tentang kanonisasi, yang bisa berubah pengumpulan karya-karya “tonggak” ke dalam buku-buku antologi. Seberapa pentingnya kanonisasi itu? Baru beberapa bulan yang lalu kita melihat persoalan pembuatan antologi yang digagas oleh Ahmad Yulden Erwin yang bermasalah karena penyertaan dan pengabaian penyair-penyair tertentu.

Sebelumnya ada diskusi hebat pasca penerbitan buku 33 Tokoh Berpengaruh dalam Sastra Indonesia yang juga tidak terlepas dengan isu kanonisasi. Banyak argumen tentang penting tidaknya sebuah kanonisasi. Saya di sini ingin sedikit menyitir komentar sambil lalu Fredric Jameson dalam esai “Third World Literature in the Age of Multinational Capitalism” di mana dia mempertanyakan perlu tidaknya kanonisasi.

Jameson menghardik, apa untungnya pembuatan daftar buku-buku terbaik yang di masyarakat Amerika, misalnya, hanya membuat perhatian pembaca lebih tersedot ke buku-buku dalam daftar tersebut dan tidak semakin mendekatkan pembaca ke buku-buku yang ada di luar daftar itu. Misalnya buku-buku karya para penulis dunia ketiga? Dengan logika tentang dampak negatif kanonisasi itu, maka upaya “kanonisasi” banding yang dilakukan oleh Sulaiman H ini adalah sebuah komentar untuk kecenderungan kanonisasi (dan juga periodisasi) di perpuisian Indonesia. Nadi tersembunyi itu adalah sesuatu yang perlu ditunjukkan.

Kritik kedua yang menarik adalah terkait penggunaan tokoh yang tak bisa diandalkan. Sulaiman H, terlepas dari cita-cita mulianya di atas, atas seorang yang sulit kita terima sepenuhnya. Tidak jadi soal dia seorang sejarawan yang mengkaji sastra. Tapi, tampaknya cara dia memahami karya sastra juga relatif salah fokus. Dia lebih bisa cerita lebih banyak tentang para penyairnya daripada puisi-puisi mereka.

Ketika berbicara tentang penyair Gladys Suwandhi (yang tentu mengingatkan saya juga ke Jeffrey Waworuntu), dia banyak berbicara tentang kemakmuran hidup Gladys Suwandhi tapi tampak abai dengan fakta bahwa puisi-puisi Gladys Suwandhi mengisyaratkan kesepiannya sebagai ibu rumah tangga yang menjalankan peran sebagai pendukung saja jalannya keluarga. Di tempat lain, ketika berbicara tentang Ircisor Gulagat, dia menyatakan bahwa secara bentuk (yang karena berima) puisi Ircisor Gulagat adalah puisi liris biasa, tanpa mengetahui isinya sama sekali.

Ketidakandalan juga bisa kita temukan pada penulis epilog, Laura Putri Lasmi. Kritikus kita ini memang piawai dalam menyampaikan kritikan yang memadukan argumen dan emosi. Dia juga punya poin yang cukup penting terkait kecenderungan Jawa-sentris dan kurangnya keterwakilan penulis perempuan. Namun, kita bisa melihat bagaimana dia juga terlalu ekstrimis dalam memilih landasan kritiknya.

Menyikapi kuatnya persoalan “lokasi dan lokalitas” dalam penyusunan antologi ini, Laura Putri Lasmi menggugat Sulaiman H karena huruf “l” yang mengawali “lokasi dan lokalitas” itu beraliterasi dengan “laki-laki,” yang artinya itu memperkuat kecenderungan patriarkal dalam penyusunan antologi ini. Hal ini didukung dengan mencatut seorang kritikus fiksional Kanyike Mbape Sylvia yang dalam bukunya mengajak kita menemukan jejak-jejak diskriminasi gender bahkan pada yang tampaknya tidak masuk akal sekali pun.

Melihat dua fakta karikatural tokoh yang tidak bisa diandalkan ini (dua dari dua tokoh penting yang terlibat dalam penyusunan buku ini), tak urung saya jadi bertanya: setinggi itukah konsentrasi orang-orang yang bergerak di bidang sastra Indonesia yang tidak bisa diandalkan? Memang tidak sulit kita mencari komentar tentang para komentator sastra yang dianggap tidak kuat pijakannya. Tapi, apakah sebanyak itu? Bagi pengajar di bidang sastra, saya harus pertama-tama menganggap itu benar dulu saja daripada langsung reaktif.

Selain dua kritikan tersebut, banyak juga hal-hal kecil lainnya terkait kehidupan perpuisian Indonesia yang dikritisi oleh buku 3T ini. Tapi tentu saja tidak pada tempatnya kalau saya bahas semuanya di sini. Baiknya saya singgung saja dua lainnya sebagai penutup bagian ini. Yang pertama adalah tentang kecenderungan penyair yang meromantisir kehidupan perpuisian mereka, yang bisa kita temukan pada puisi-puisi Bambang Lokajaya, yang hidupnya terbilang susah (tapi puisinya asyik dan eksplorasi atas tubuhnya tentu banyak mengingatkan kita ke puisi-puisi Joko Pinurbo).

Singgungan lainnya adalah pada populernya kegiatan mengikuti residensi, yang di sini tampak pada penyair Siti Sundari yang berbeda dengan para penyair lain yang gemar mengikuti residensi (tapi dia menolaknya dengan alasan yang di luar konteks sastra–silakan baca sendiri bukunya untuk mengetahui alasannya).

Intinya, terkait isinya, buku ini menyinggung banyak hal dalam kehidupan perpuisian Indonesia. Kalau saja saya punya cukup bukti, mungkin saya akan mengatakan bahwa tokoh utama buku ini sebenarnya adalah dunia perpuisian Indonesia. Tapi, daripada ikut-ikutan membuat klaim bombastis tanpa sempat mendukungnya dengan bukti untuk menjadi argumen yang kokoh, saya memilih untuk tidak berargumen seperti itu. Cukuplah kita katakan bahwa isi menyindir berbagai aspek perpuisian Indonesia tapi berpotensi menjerumuskan pembaca yang terlalu percaya dengan kedua kutub penulis yang terlibat di sana, yaitu Sulaiman H dan Laura Putri Lasmi.

Membius

Akhirnya, kita masuk ke hal ketiga yang asyik tentang buku ini. Satu keunikan dari buku 3T ini, yang juga bisa ditemukan di buku Kiat Sukses Hancur Lebur, adalah kejutan-kejutan yang hadir di sepanjang cerita, dan itu menjadikan membaca buku-buku ini terasa nikmat dan relatif tanpa paksaan. Kedua buku ini menyiratkan indikasi satu kecenderungan estetika “flow,” satu estetika dominan di era yang disebut Jay David Bolter sebagai zaman “keberlimpahan digital” atau (digital plenitude) ini.

Martin adalah penulis fiksi yang jenaka, penuh main-main, dan tanpa beban. Dengan nama-nama orang terkenal, dia suka main plesetan dan menghasilkan sesuatu yang mungkin menjengkelkan bagi yang namanya diplesetkan, tapi terus nama membuat nyengir orang yang membacanya (ada Sutardji Djoko Damono, Sapardi Calzoum Bachri, Aan Masyhur, dan sebagainya).

Dengan kalimat, dia suka patuh secara sintaksis tapi mempermainkan pragmatiknya (silakan baca buku Kiat Sukses Hancur Lebur dan Anda akan temukan 95 persen buku itu memainkan ini). Hal yang sama juga bisa kita temukan dalam buku 3T, yang mengandung keasyikan-keasyikan karena komentar di setiap karya masing-masing penyair yang ditampilkan di sana.

Dampak dari hal ini adalah hadirnya cerita yang bisa dinikmati tanpa membayangkan akan seperti apa klimaks dan kemudian akhir ceritanya. Pembaca bisa tersenyum-senyum atau bahkan tergelak membaca keganjilan dalam kisah hidup para penyair, gaya berpuisi para penyair yang seperti berusaha meniru para penyair nasional tapi gagal, dan komentar-komentar Sulaiman H yang tidak mudah biasa. Pembaca bisa menikmati bagian demi bagian ini tanpa harus menunggu-nunggu apa yang akhirnya akan terjadi pada buku ini di akhir.

Nah, yang unik adalah, keasyikan ini sangat mirip dengan keasyikan lazim zaman ini yang oleh Jay David Bolter disebut “estetika flow.” Konsep flow di sini diambil dari konsep “kenikmatan optimal” dari ahli psikologi Mihalyi Csikszentmihalyi, yang berargumen tentang adanya sebuah pengalaman kebahagiaan optimal konstan yang dirasakan seseorang ketika melakukan hal-hal yang kita senangi.

Menurut Bolter, di era “keberlimpahan digital” ini, kita mendapati kecenderungan estetika yang ditandai dengan kenikmatan yang terjadi secara konstan sepanjang kita mengalami sebuah karya atau bentuk budaya. Estetika semacam ini berbeda dengan yang sudah sangat lazim sejak dulu, yaitu “estetika katarsis,” yang dicirikan dengan penciptaan kenikmatan secara berangsur-angsur dan berpuncak pada sebuah klimaks yang memberikan pembebasan.

Contoh estetika flow ini bisa kita temui misalnya dalam karya-karya video game, di mana pemainnya bisa mendapatkan kenikmatan bermain secara optimal sejak awal hingga akhir ketika dia menyelesaikan permainan itu. Penikmatan atas karya seperti ini tentunya berbeda dengan karya budaya yang lebih konvensional, misalnya film, di mana pada umumnya penonton digiring untuk akhirnya sampai pada satu titik klimaks yang memberi penonton kepuasan puncak.

Sedikit gambaran singkat tentang kondisi “flow” bisa ditemukan di video ini:

 

Membaca 3T atau Kiat Sukses Hancur Lebur, yang sekilas bahasanya hancur lebur itu, sangat bisa memberikan kenikmatan konstan seperti disinggung di atas. Kelucuan-kelucuan, kegetiran-kegetiran tersembunyi, dan perusakan-perusakan logika bahasa–semua ini pada akhirnya membuat pembaca terus bisa menikmati buku ini. Tak jadi soal apa ini diniatkan atau tidak oleh Martin Suryajaya, pada kenyatannya hal tersebut bisa ditemukan pada buku ini.

Kita mungkin akan mengatakan bahasa dalam Kiat Sukses Hancur Lebur itu memang hancur lebur tidak benar-benar bisa dipahami. Tapi ketika kita membacanya dan menemukan kelucuan-kelucuan di dalamnya, tak urung mendapatkan kenikmatan itu. Begitu juga dengan puisi-puisi dan penyair-penyair fiktif yang dihadirkan di sini; segala permasalahan para penyair ini dan bagaimana mereka menuangkan itu ke dalam puisinya adalah hal-hal yang terus memberi kenikmatan sepanjang buku ini. Di situlah kita bisa menikmati apa yang disebut Csikszentmihalyi sebagai “flow” atau pengalaman optimal. Di situlah dia membius kita.

Akhirnya, untuk menutup tulisan ini, perlu saya tekankan lagi bahwa buku 3T ini berpotensi 3M. Pertama, dia bisa mengelabuhi kita sehingga menyebutnya sebagai buku antologi puisi, padahal novel. Kedua, ada hal-hal yang berpotensi menjerumuskan kita karena adanya tokoh-tokoh utama yang sebenarnya tidak bisa diandalkan. Tapi, ketiga, dia bisa membius kita dengan kenikmatan flow yang bisa kita dapati sepanjang membaca buku ini.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini