TempoInteraktif, SPC dan Bengkel Muda Surabaya Obituari Hari Nugroho (Harnug)

Hari Nugroho (Harnug) saat tengah menyelesaikan video dokumenter. (Foto : koleksi pribadi).

Terakota.idBuletin TempoInteraktif.com sempat mendapat perhatian pembaca dari kalangan mahasiswa. TempoInteraktif adalah media internet pertama di Indonesia. Berdiri awal tahun 1996 untuk menggantikan majalah Tempo yang dibredel pemerintah Soeharto. Awalnya, pola pemberitaan TempoInteraktif mirip majalah Tempo, terbit sepekan sekali dengan menyajikan satu topik berita dalam bentuk laporan panjang — terdiri beberapa tulisan – yang dilengkapi tulisan wawancara sejumlah nara sumber dan tulisan kolom.

Karena media internet saat itu masih langka dan belum muncul smartphone seperti sekarang, TempoInteraktif.com hanya bisa diakses kalangan terbatas, yakni mereka yang mempunyai komputer yang dilengkapi modem internet. Karena langka itu, saya bersama Hari Nugroho — salah satu aktivis Surabaya Press Club dan seniman Bengkel Muda Surabaya — meminta bantuan Heri Akhmadi untuk mengunduh berita TempoInteraktif dari internet.

Heri Akhmadi, mantan aktivis 1978. Di rumah Heri di kawasan Ketintang tersedia komputer yang dilengkapi modem internet. Heri selepas kuliah dari ITB meneruskan kuliah di Amerika dan di sana dia merangkap menjadi koresponden Jawa Pos di New York. Tahun 1995 Heri dan keluarganya kembali ke Surabaya.

Sejak tinggal di Surabaya Heri terlibat dalam sejumlah kegiatan Surabaya Press Club (SPC), antara lainnya menjadi editor buku Ilusi Sebuah Kekuasaan yang diterbitkan atas kerjasama Institut Studi Arus Informasi dan Pusat Studi HAM Universitas Surabaya. Buku ini kumpulan makalah seminar kebebasan pers yang diselenggarakan SPC, ISAI dan Pusham Ubaya.

Dari berita TempoInteraktif yang diunduh Heri Akhmadi ini saya dan Hari Nugroho minta bantuan Arief A. Gani – biasa dipanggil Cecep, salah satu seniman BMS untuk me-layout ulang agar mudah dicetak dalam bentuk buletin. Di markas BMS yang terletak di belakang gedung Balai Pemuda itu ada satu ruangan seperti loteng yang tersedia satu buah komputer. Untuk ke ruangan terbuka ini saya harus naik tangga kayu.

Di sinilah Cecep mengerahkan keahliannya. Saya dan Hari duduk di belakang Cecep untuk memberi saran tampilan TempoInteraktif yang cocok untuk buletin. Untuk pekerjaan layout ini Cecep kami beri uang rokok sebesar Rp. 50 ribu. Dari hasil kerja Cecep itu, kami membawa disket yang berisi bahan TempoInteraktif ke percetakan di dekat kampus Unair, di daerah Karang Menjangan.

Di kalangan netter atau pengakses berita internet, TempoInteraktif dikenal dengan sebutan TI, singkatan TempoInteraktif. TI cukup terkenal karena dia satu-satunya portal berita politik di Indonesia saat itu. Dalam sehari TI diakses 5 ribu netter atau 150 ribu sebulan. TI juga dikenal pejabat dan karenanya sejumlah pejabat pemerintah dan ekonom seperti profesor Emil Salim dan Mohammad Sadli gampang dihubungi wartawan TI.

“Saya tahu TempoInteraktif dibaca 150 ribu orang,” kata Haryono Suyono, menteri kependudukan di era pemerintahan Soeharto (bundel TempoInteraktif terbitan PDAT tahun 1996). Tentu, netter TI kalah jauh dari pesaingnya. Saat awal berdiri — Juli 1998, Detik.com dikunjungi sekitar 30 ribu netter.

TempoInteraktif.com edisi cetak saya edarkan secara terbatas ke kalangan aktivis, seniman dan dosen. TI edisi cetak ini saya jual dengan harga murah, untuk mengganti beaya cetak saja. Tetapi ada yang saya bagikan secara gratis, terutama kepada dosen FISIP Universitas Airlangga. Sejumlah buletin TempoInteraktif saya letakkan begitu saja di meja dosen.

Ilustrasi : bendel TempoInteraktif.com

Selain mencetak TempoInteraktif, saya juga menjadi kontributor berita di media ini, antara lain membuat laporan tentang campur tangan pemerintah dalam pembentukan pengurus PDI Jawa Timur. Saya mendapatkan tugas dari Toriq Hadad, redaktur TempoInteraktif – kini Toriq Hadad menjabat direktur utama PT Tempo Inti Media — untuk mewawancarai Latief Pujosakti ketua PDI Jawa Timur pro pemerintah dan Sucipto, ketua PDI pro Megawati Soekarnoputri. Laporan saya itu dimuat dalam laporan utama TempoInteraktif edisi 30 Maret 1996 dengan judul : Menjatuhkan Gubernur atau Menghalangi PDI ?

Selama tahun 1996, saya hanya dua atau tiga kali mengirimkan berita untuk TI. Selain berita konnflik PDI, saya juga membuat berita soal dua wartawan di Surabaya yang mendapatkan tindakan kekerasan dari aparat militer saat meliput demonstrasi aktivis pro Megawati (promeg) yang memprotes penyerbuan kantor PDI di Jakarta yang saat itu dikuasai kelompok Megawati. Insiden penyerbuan ini terkenal dengan sebutan kudatuli, kepanjangan peristiwa 27 Juli 1996.

Kami mencetak buletin TI hanya sebentar, mungkin tidak sampai setahun karena saya sibuk menjadi koresponden majalah D&R yang juga dikelola wartawan eks Tempo. Mencetak TempoInteraktif juga banyak merogoh kocek saya karena buletin TI lebih banyak saya berikan secara gratis ketimbang saya jual.

Saya menganggap, menerbitkan buletin TI sebagai salah satu usaha untuk memperjuangkan kebebasan pers. “TI kita cetak untuk menyebarkan informasi alternatif meski harus dilakukan secara underground,” kata Hari Nugroho. Mencetak dan mengedarkan TI juga tidak mudah. Semula buletin TI dicetak di sebuah percetakan di kawasan Karang Menjangan. Tetapi entah sebab apa, percetakan ini tidak bersedia mencetak TempoInteraktif lagi.

Lalu saya dan Hari berusaha menghubungi dua percetakan di daerah Kedungdoro tetapi mereka juga menolak mencetak. “Mereka tidak mau mencetak TI sejak Jawa Pos menurunkan berita tentang media-media bawah tanah di halaman pertama,” kata Hari Nugroho. Sejak itu, penerbetin buletin TempoInteraktif kami hentikan.

Sebenarnya pembaca TempoInteraktif di kota Surabaya cukup lumayan. Saya lupa berapa eksemplar TempoInteraktif dicetak. Pembacanya terbanyak dari kalangan mahasiswa. Salah satu distributor TempoInteraktif juga mahasiswa, yakni Herman Hendrawan, mahasiswa Unair, aktivis dan salah satu pendiri Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi. Pada 12 Maret 1998, Herman menghilang setelah menghadiri jumpa pers di gedung YLBHI Jakarta. Herman satu di antara 13 aktivis prodemokrasi yang diculik menjelang ambruknya pemerintahan Soeharto, dan tidak kembali hingga sekarang.

Kelak kemudian hari, setelah presiden Soeharto jatuh pada Mei tahun 1998, pada bulan Okober 1998 majalah Tempo terbit kembali. Sedangkan TempoInteraktif.com berubah menjadi Tempo.com dan terakhir berubah menjadi Tempo.co seperti sekarang. Beritanya bukan terbit mingguan seperti awal TempoInteraktif berdiri, tetapi terbit setiap saat atau yang disebut breaking news.

Catatan: Artikel ini dimuat di blog penulis zedabidien.wordpress.com

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini