Gedung Sekolah Tempat Lahirnya Tentara Genie Pelajar di Malang Oleh : Muhammad Aqib Nur Habibi

Tentara Genie Pelajar
Monumen Tentara Genie Pelajar (TGP) didedikasikan untuk perjuangan personil TGP mempertahankan kemerdekaan Indonesia. (Terakota/Eko Widianto).

Terakota.id – Salah satu tempat bersejarah di Kota Malang adalah Gedung Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bina Cendika YPK di Jalan Semeru nomor 42. Gedung itu menjadi saksi bisu keterlibatan para tentara pelajar pada masa revolusi fisik memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Gedung sekolah ini dibangun pada 1932 dan mulai digunakan pada 1937 untuk Meer Uitgbreide Lager Onderwijs atau MULO pada 1937. MULO merupakan sekolah setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), demikian Tim Ahli Cagar Budaya atau TACB Kota Malang dalam Bangunan Cagar Budaya di Kota Malang yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang (2018:80).

Tentara Genie Pelajar
Prasasti Tentara Genie Pelajar Kota Malang. Foto diambil pada 10 November 2018 (Dokumen Pribadi M Aqib NH)

Saksi Lahirnya Tentara Genie Pelajar
Gedung SMK Bina Cendika menjadi saksi sejarah berdirinya Tentara Genie Pelajar (TGP) pada 1947. Sebuah prasasti yang berada di lorong gedung utama menjadi buktinya. Memasuki lorong koridor utama bangunan, terpampang jelas logo TGP yang terdiri dari bintang, Arca Ganesha, padi-kapas, pelita, roda gigi senapan dan bulu sebagai lambang pena. Sedangkan di sebelah kiri lorong, terukir prasasti yang tertulis “di tempat ini pada tanggal 2 Pebruari 1947 terbentuk TGP (Tentara Genie Peladjar) sebagai kelanjutan perjuangan pelajar tehnik Jawa Timur-Jawa Tengah-Jawa Barat”.

Perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dilakukan banyak pihak, salah satunya adalah para pelajar. Baik yang masih sekolah lanjutan tingkat pertama maupun tingkat atas yang baru berusia belasan tahun. Mereka ikut aktif berjuang dan bertempur melawan Sekutu – Belanda. Para pelajar pejuang itu diwadahi dalam berbagai kesatuan. Di antaranya Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP), Tentara Pelajar (TP) dan Tentara Genie Pelajar (TGP).

TGP disebutkan beranggotakan para pelajar dari sekolah lanjutan teknik. Di antaranya, para pelajar Sekolah Menengah Teknik Tinggi (SMTT), Sekolah Teknik (ST), Sekolah Radio dan Sekolah Pertukangan. Mereka bergabung membentuk kesatuan TGP.

Tentara Genie Pelajar
Bendera TGP dipasang di pintu masuk gedung sekolah. Foto diambil pada 10 November 2018 (Dokumen Pribadi M Aqib NH)

Lahirnya TGP
Menurut Moehkardi dalam Pelajar Pejuang TGP 1945-1950 (1983:59-61), ide pembentukan organisasi TGP sebenarnya telah tercetus ketika para pelajar teknik masih sekolah di Lawang, saat SMTT dan ST masih menumpang di Sekolah Dasar yang terletak di depan Stasiun Lawang. Soenarto dan kawan-kawannya sering membicarakan ide itu. Ide semakin menguat ketika mereka pindah asrama Jalan Ringgit, Malang. Pada waktu itu para pemuda bekas siswa SMTT/ST Surabaya terbagi menjadi dua kelompok.

Pentolan kelompok pertama, Abdoel Sjoekoer, berpendapat bahwa di masa revolusi, tugas utama para pelajar adalah memelopori perjuangan di bidang senjata dan berjuang di garis terdepan. Ia mengecam teman-temannya sebagai “Enak-enak belajar di garis belakang, sementara di front pemuda lain masih harus bertempur melawan Belanda”. Sedangkan kelompok kedua, berpendapat bahwa untuk berjuang bagi tanah air, tidak selamanya harus ditempuh melalui perjuangan bersenjata. “Dengan belajar yang baik agar nanti menjadi tenaga terdidik, merekapun bisa pula berbakti bagi pembangunan Indonesia merdeka”, tulis Moehkardi.

Soenarto dan kelompoknya menawarkan konsep sebagai jalan tengah di antara dua kelompok yang berselisih pendapat. Memegang dua prinsip tugas belajar dan berjuang. Sebagai pelajar tidak mengabaikan sekolah, sebagai pejuang tidak berpangku tangan ketika negara dalam bahaya.

Setelah bersepakat dengan wadah yang bercirikan genie, menjelang kepindahan SMTT dari Lawang menuju Malang (di Malang SMTT mula-mula menumpang di gedung Sekolah Corjesu, kemudian pindah ke Christelijke MULO di Jalan Semeru) Sunarto dan sejumlah temannya seperti Hadi Sujatno, Hari Arbianto dan Sujitno Gurkha, menemui Mayor Pirngadi, Kepala Detasemen Genie Divisi VII/Untung Suropati. Mereka menyampaikan gagasan tersebut, tetapi sayang ditanggapi dingin.

Ketika sudah pindah ke Malang pada awal 1947, mereka kembali menghubungi Mayor Pirngadi. Ketika itu situasi militer di front sudah berubah. Pada 24 Januari 1947 Belanda berhasil merebut Sidoarjo dalam usaha menguasai Delta Brantas. Peristiwa itu ikut mempercepat proses kelahiran TGP. Dalam pertemuan kedua, Sunarto cs berhasil meyakinkan Mayor Pirngadi sehingga ide pembentukan TGP disetujui. Keputusan itu terjadi pada 2 Februari 1947 yang kemudian dianggap sebagai tanggal resmi terbentuknya Tentara Genie Pelajar (Moehkardi, 1983:62).

Pengumuman pembentukan TGP ini dilakukan oleh Sunarto cs dalam suatu rapat pelajar SMTT/ST di ruang kelas tingkat atas di Jalan Semeru 42, Jum’at 7 Februari 1947 setelah berlangsungnya pelajaran. Rapat secara aklamasi menyetujui pembentukan TGP dan memilih Sunarto sebagai ketuanya. Ketika Sunarto melaporkan keputusan itu kepada kepala sekolah, para guru pun menyetujuinya meskipun dengan berat hati.

Salah seorang guru mereka ada yang berkomentar: “Kalau nanti pelajaranmu terganggu dan kalian tidak lulus ujian, jangan salahkan hal itu kepada kami!”. Pernyataan itu spontan dijawab oleh para pelajar: “Itulah risiko perjuangan pak dan kami akan rela menerimanya!” (Moehkardi, 1983:65).

Sebagai pengingat perjuangan TGP, dibangunlah monumen yang berada di depan sekolah. Menurut Brahmantyo, dalam Perwara Sejarah (1998:79), monumen yang terletak di bunderan Jalan Semeru dan Jalan Tangkuban Perahu itu diresmikan pada 14 Oktober 1989. Monumen ini terdiri dari dua patung prajurit TGP sambil membawa senjata api dan mortir, sedangkan di bawahnya terdapat nama-nama anggota TGP yang gugur sebanyak 61 orang sejak 1945 hingga 1949.

Muhammad Aqib Nur Habibi

**Setiap artikel menjadi tanggungjawab penulis. Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan melalui surel : redaksi@terakota.id. Subjek : Terasiana_Nama_Judul. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini