Kolom BELANTARA TEATER-#1 Teater Kita : Di Antara Pandemi dan Kecanggihan Teknologi  

Ilustrasi : nederlanderworld.com

Terakota.idPandemi Covid 19 masih terus melanda. Virus yang mematikan itu masih belum berkurang, apalagi menghilang. Dan dunia pun belum terhenti terguncang.

Berbagai lini kehidupan pun menjadi ‘terkacaukan’. Terutama lini kehidupan ekonomi dan sosial. Namun lini-lini kehidupan yang lain pun tak luput dari dampak negatif wabah yang sedang dan masih terus melanda dunia ini. Lini kehidupan pendidikan, keagamaan, transportasi, pariwisata, kesenian dan kebudayaan, serta lini-lini yang lainnya pula.

***

Di tengah wabah pandemi Virus Corona yang mematikan ini, ‘keputusasaan’ memang tak boleh terjadi. Untuk menghadapi pagebluk yang cukup memporak-porandakan kehidupan manusia di seluruh belahan dunia ini, kita masih harus memilki daya tahan dan semangat hidup yang positif dan optimis.

Pagebluk yang sedang mengharu-biru umat manusia ini bukanlah semata-mata malapetaka yang harus menghentikan atau menghancur-leburkan kehidupan anak keturunan Adam dan Hawa. Pagebluk yang berupa Covid 19 ini haruslah tetap kita hadapi dengan sikap yang bijak dan sabar, serta positive thinking yang bisa membuat kita menjadi tidak kehilangan harapan. Wabah pandemi yang sedang mencekam dan mencengkeram kita ini, haruslah kita jadikan pelajaran dan tantangan hidup kita, serta sebagai ujian dari Tuhan, yang pasti mengandung hikmah besar pula di balik semuanya.

Mungkin, ini merupakan salah satu cara Tuhan dalam mengatur keseimbangan kehidupan manusia di muka bumi. Atau mungkin selain sebagai bentuk ujian dari Tuhan agar kita bisa banyak memetik pelajaran dari wabah pagebluk yang satu ini, bisa jadi  wabah pagebluk virus Corona yang sangat  menakutkan ini, adalah sejenis peringatan dari Tuhan bagi umat manusia.

Ya, mungkin saja ini semua merupakan peringatan bagi kita, bangsa manusia, yang sedang merasa berada dalam puncak “kebanggaan” dan “keterhanyutan” pada arus kecanggihan teknologi.

Seperti yang sedang kita saksikan dan rasakan sekarang ini, arus perkembangan canggihnya teknologi, memang telah dan sedang terjadi. Namun dampak dari semua itu, telah terjadi pula pergeseran dan perubahan tatanan kehidupan manusia ke realitas tatanan yang baru. Dan beberapa (banyak) dampak dari arus kehidupan dunia baru, atas nama zaman teknologi canggih ini, telah terjadi. Tak hanya dampak positif, dampak negatif pun tak sedikit yang membuat kenyamanan dan kualitas kehidupan manusia menjadi menurun (sulit diraih).

Nah,di tengah kebanggan atas kecanggihan teknologi yang kadang terasa nyaris “terdewakan” ini, mungkin Tuhan sedang ingin mengingatkan manusia. Bahhwa di balik kecanggihan teknologi yang dianggap sebagai salah satu puncak kehebatan peradaban manusia, Tuhan telah menurunkan satu hal yang sangat kecil bagi ‘Kuasa’ Tuhan, namun tak bisa teratasi oleh kecanggihan teknologi.

***

Terlepas dari semua hal di atas, yang jelas kita, bangsa manusia, tak boleh berkecil nyali, tak boleh terlalu panik dan kehilangan semangat atau pun harapan.

Pandemi Covid 19, tak boleh membuat kehidupan kita berhenti, macet, atau kalang-kabut tak teratasi. Dalam berbagai lini kehidupan, tak boleh ada yang terhenti. Tak ada yang harus terbiarkan mati atau tidak berfungsi.

Pandemi virus Corona ini harus menjadi momentum penataan kembali, harus menjadi saat untuk mengkoreksi diri, serta harus membuat kita makin terkuatkan hati dan ketahanan diri.

Berbagai lini kehidupan yang kita alami, lini apa pun itu, termasuk lini kesenian dan kebudayaan, terkhusus lagi bidang teater, harus tetap berjalan. Harus tetap bertahan dalam eksistensi. Harus tetap ada dan berfungsi. Tetap berguna dalam kehidupan ini.

***

“Di tengah pandemi seperti sekarang ini, karya dan kreativitas teater harus terus berjalan”.

“Pamdemi tak boleh bikin teater kita mati!”

“Meski wabah Corona masih meraja lela, eksistensi teater harus tetap terjaga”.

Itulah beberapa jargon penyemangat bagi kelompok teater, yang mungkin sempat kita baca, dengarkan, atau dapatkan.  Dan berbagai upaya pun kita dapati. Ada webinar teater, pertunjukan virtual, pertunjukan luring yang divirtualkan, ada kegiatan-kegiatan jambore teater, FGD teater, fasilitasi teater, dan sebagainya, dan sebagainya.

Semua upaya itu, tak lain adalah sebentuk realisasi dari semangat yang tersimpan dari jargon-jargon kebertahanan untuk tetap eksis dan berjalan dalam kreativitas dan berkarya. Dalam kondisi terserimpung oleh segala keterbatasan akibat pandemi, kecanggihan teknologi IT nyaris menjadi satu-satunya tempat berpijak dan berekspresi.

Hal itu memang boleh terjadi. Lazim terjadi. Atau bahkan harus terjadi. Namun masalahnya, apakah bentuk ‘migrasi’ ke media canggihnya teknologi. Ke alam ‘maya’. Ke dunia baru yang tak terbatasi oleh ruang dan waktu. Semua itu benar-benar telah (akan) menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Atau setidaknya menjadikan teater kita menjadi bertahan secara eksistensi, dan berprogres secara kualitas dan fungsi?

Jangan-jangan, semua itu, yang mungkin telah terjadi dan berjalan selama ini, tak banyak memberi arti. Jangan-jangan hanya semacam kondisi euforia, yang hanya menghasilkan ‘kesemarakan’ atau bahkan ‘keriuhan’ suasana, nihil pada kualitas, dan kurang berdampak pada bertambahnya kekuatan eksistensi.

Bagaimana tidak? Banyak berkata-kata (forum-forum dialog/diskusi), banyak tampil tapi kurang intensitas berlatih yang memadahi, berbondong-bondong bermigrasi dan lempar karya ke media baru digitalisasi (alam maya), ternyata belum banyak berdampak pada perkembangan dan kualitas teater kita.

Pandemi yang ternyata mengharuskan kita terbatasi atau membatasi diri dalam berproses dan beraktivitas, membuat kita kurang intensitas latihan. Sementara kecanggihan teknologi, yang mendorong kita untuk berduyun-duyun memigrasi panggung teater (on stage) ke media baru (on streaming) sering membuat kita mengabaikan banyak hal, termasuk kualitas tampilan dan esensi dari ‘teater’ itu sendiri.

Dua hal yang sedang mengepung teater kita itu, jika tidak kita sikapi scara tepat dan bijak, sangat dimungkinkan akan bisa menggerus eksistensi dan esensi teater kita. Baik dalam kualitas kelompok maupun para person (pribadi). Atau baik dalam kualitas proses maupun dalam kualitas berkarya.

Coba kita pertimbangkan dua gambaran kenyataan berikut ini.

Jika pada saat pandemi, kita menjadi sangat terbatasi aktivitas dan gerak kita untuk latihan, lalu syahwat kita untuk pementasan lebih mengedepan, kira-kira kualitas pementasan dan kualitas tetater yang bagaimanakah yang akan kita hasilkan?

Dan jika nafsu untuk melempar karya ke media baru (media virtual/digital) menggebu-gebu tanpa kita ikuti dengan kualitas karya dan strategi bermedia digital, dampak apa yang akan kita peroleh, kecuali hanya akan menambah ‘sampah’ digital

Kalau pandemi Covid 19 yang datangnya tiba-tiba, kita anggap sebagai wabah yang sangat berbahaya. Tapi kenapa hadirnya ‘dunia maya’, yang sanga massif dan telah “mencandui” sebagian banyak umat manusia, tak kita waspadai juga sebagai hal yang bisa jadi tak kalah ‘sangat berbahayanya’?

Cobalah kita renungkan sekali lagi, tak hanya sekedar untuk kehidupan teater kita, tapi untuk kehidupan kita sebagai umat manusia.

Lebih baik mana, ketika kita sedang menghadapi mala petaka, lalu kita sangat didesak (sangat diharuskan) untuk berhati-hati, waspada, dan juga harus berupaya mencari cara/solusi agar bisa selamat dari mala petaka itu.

Atau, ketika kita sedang merasa ‘gembira’ sebab kita sedang merasa pada puncak peradaban teknologi canggih, sehngga semua serba terasa sangat mudah dan cepat,tidak ribet, tidak perlu banyak buang energi, hingga kita pun terlena dan termanjakan oleh semua itu.

***

Waspadalah dengan Kecanggihan Teknologi! Sebab, kalau yang canggih itu ‘teknologinya’, maka manusia penggunanya sedang ‘mengalami kemunduran’ kualitas dirinya.

Teater kita, juga jangan sampai makin menurun kualitasnya dan rapuh eksistensinya, justru akibat kecanggihan teknologi dan karena segala keterbatasan akibat ancaman pandemi.

Tanpa tangan kita kotor, tak dapat kita ciptakan itu firdaus”. Itu kata Rendra.

Teater, mestinya bikin hidup lebih hidup!” kalau itu, kata saya.■■■

Tegalgondo, 19_Jan_2021

Penulis adalah: Sutradara, Aktor, & Pemimpin Umum Teater IDEōT

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini