Teater Kaki Langit Persembahkan Karya Digital di Tengah Pandemi

Terakota.id--Teater Kaki Langit Surabaya merespons pandemi Corona (Covid-19) dengan meluncurkan karya digital ODP (Ora Duwe Panggung). Diluncurkan Jumat, 24 April 2020 dengan biaya akses Rp 15 ribu untuk tiga karya.

“Hasil tiket akan didonasikan untuk masyarakat terdampak Covid-19,” kata Manajer Divisi Produksi Teater Kaki Langit Surabaya sekaligus Produser ODP Rekha Aqsoliafitrosah dalam siaran pers yang diterima Terakota.id.

Sebagian diinvestasikan untuk pentas tahunan yang tertunda. Untuk menonton pertujukan secara daring silakan ikiti akun Instagram @teaterkakilangit. Calon penonton bisa reservasi untuk mendapatkan link atau tautan akses karya digital melalui surat elektronik.

Penonton bisa mengakses dan menonton berulanh kali. Namun, dilarang mengedarkan dan atau memperjualbelikan ketiga video tersebut tanpa izin dari pihak Teater Kaki Langit. Serta dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hak cipta dan pelakunya dapat dikenakan sanksi hukum yang berlaku di Indonesia.

Penampilan secara daring ini merupakan inovasi sejak terjadi kebekuan pergerakan kesenian. Terutama teater di Surabaya karena pembatasan ruang publik untuk mencegah penyebaran virus corona.
Sebagai sebuah kolektif independen, Teater Kaki Langit berupaya membangun kerangka kuratorial pementasan menjadi lebih terbuka dan menyajikan alternatif kerja dramaturgi.

“Teater Kaki Langit agar tidak kehilangan kesadaran, semangat, dan kreativitas saat pandemi Covid-19,” katanya.

Lewat ODP, Teater Kaki Langit berusaha menghidupkan ruang-ruang sepi yang hampir mati dalam dunia seni akhir-akhir ini. “Pergerakan berkesenian akan berubah seiring perkembangan teknologi dan semangat zaman. Jadi, Kaki Langit mulai melangkah ke sana, ke arah pola kerja yang tidak terduga,” ungkap Rekha.

Dengan demikian, seni akan tetap hidup di volume ruang yang berbeda tanpa harus mengurangi substansi kualitas ruh di dalamnya. Melalui Ora Duwe Panggung, selain menghargai seni, Teater Kaki Langit berharap masyarakat tetap bisa menikmati karya seni di rumahnya masing-masing.

Para pekerja seni diharapkan bisa bertahan hidup dan menghidupkan ruang kesenian. Kelompok kesenian independen yang berdiri sejak 1999 di Surabaya ini menilai ruang alternatif pertunjukan lebih ampuh digalakkan, ketimbang ruang kolektif yang akan memicu munculnya masalah baru.

“Kalau pulang kampung, selain kesulitan menemukan teman yang bisa diajak berkarya, saya takut mendapat stigma negatif dari masyarakat karena berkuliah di Surabaya,” ungkap salah seorang sutradara ODP, Agra Hadi.

Sutradara ODP asal Ponorogo ini memilih karantina mandiri di kantor komunitas teater daripada pulang kampung. Bersama Sutradara “Di Rumah?” M. Alief Sahrul Ashar dan Sineas ODP Nayoko Bagus Priyanggono, Agra menilai tak sekadar kantor ataupun komunitas seni biasa, Teater Kaki Langit merupakan rumah kedua yang perlu dirawat dan dijaga bersama-sama.

Sedangkan Nayoko bersyukur bisa berproses bersama anggota lain. Serta memutuskan tetap tinggal di Surabaya untuk berkarya selama masa karantina.
Melalui ODP, menghasilkan tiga karya digital yakni “Isolasi” karya Agra Hadi, “Di Rumah?” karya M. Alief S. A, serta “Lonceng, Kubus, dan Kisah yang Belum Ditemukan” karya Yusril Ihza.

Ora Duwe Panggung didukung para aktor antara lain M. Imam Lukman M (Penyair Rembang), Fitria Rahayu Lestari alias Chaca (Mahasiswa Institut Kesenian Jakarta), Anggi Firma Damayanti (Mahasiswa asal Bogor), Ibni Sohibil Yuddi serta beberapa anggota Teater Kaki Langit lainnya. Didukung Rere Bayu Pancari sebagai manajer artistik dan M. Faried alias pakde sebagai tim peninjau lokasi ODP.

Pengamat teater asal Bojonegoro, Hembing Kriswanto melakukan kurasi ketiga karya sebelum ditampilkan secara daring. Menurut Hembing, Teater Kaki Langit tidak secara spesifik membicarakan dampak pandemi, namun wabah dalam makna yang lebih dekat dan pekat.

“Teater disuguhkan lewat daring akibat pandemi merupakan sebuah solusi, agat penonton bisa menikmati teater melalui medium lain. Menonton teater di rumah,” katanya. ODP, katanya, merupakan karya bermutu yang layak dinikmati berapa pun nilai yang harus dibayar.

Salah seorang sutradara ODP, Yusril Ihza menjelaskan jika proses berteater saat pandemi memang kurang maksimal. Namun, pemberontakan terhadap pembodohan publik harus dilakukan agar kesenian tidak mati.

“Sebagian seniman, hidupnya bergantung dari panggung. Jadi, kalau panggung kosong, tentu perut juga ikut kosong”, ujar Yusril. Alumni penulis Residensi Komite Buku Nasional 2019 itu mengatakan kemalasan berpikir dan berkarya akan lebih berbahaya dari masa depan sebuah karya seni.

Sementara itu, Manajer Pemasaran ODP Rizki Amir mengatakan, resistensi dalam berkesenian harus terus dibangun. Sebab, tidak ada yang pernah tahu kapan pandemi Covid-19 akan berakhir.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini