Ta’ruf dengan Kue Klepon, Tak Kenal maka tak Islami

mencicipi-klepon-gempol-pasuruan
Kue klepon khas Gempol, Pasuruan. (Foto : Lokalkarya.com)

Terakota.id–Tepat pada hari Selasa, 21 Juli 2020, media sosial Twitter digegerkan dengan sebuah postingan meme yang disebar oleh akun @memefess, yang bertuliskan “Klepon Tidak Islami: Yuk tinggalkan jajanan yang tidak Islami dengan cara menjadi jajanan Islami, aneka kurma yang tersedia di toko syariah kami … Abu Ikhwan Aziz”. Tidak mengherankan setelah tweet itu diunggah, tweet “klepon” (31,1K Tweets) dan “Abu Ikhwan Aziz” (1,205 Tweets) langsung menjadi trending di Twitter.

Tidak jelas pula apakah postingan itu hanya mencari sensasi agar ramai di lini masa Twitter atau memang benar ada toko kurma dengan nama Abu Ikhwan Aziz yang memang menuliskannya demikian. Akan tetapi ada baiknya kita menggali asal usul kue klepon ini dari tradisi lisan, apakah benar akhlak kue ini memang tidak Islami atau malah sebaliknya. Simak ulasan berikut ini.

Kue klepon terbuat dari tepung beras ketan yang diadoni, lalu dibentuk bulat-bulat kecil, diisi gula merah, kemudian direbus dalam air mendidih. Setelah matang ditiriskan, lalu digelindingkan pada parutan kelapa muda. Kue klepon juga dapat kamu jumpai pada penjual jajanan pasar. Selain dari beras ketan, kue klepon dapat dibuat dari bahan lain seperti ubi ungu, hasilnya menjadi klepon ubi ungu. Varian lain selain gula merah, isian kue klepon juga dapat diganti dengan bahan lain, misalnya cokelat, keju, dan susu1.

Secara etimologi linguistik, jika kita cermati, kata “klepon” adalah bentuk perubahan bunyi. Kata klepon jelas bukan bentuk asli dari pengucapan kata itu. Harusnya ia berasal dari kata “kalapun”. Dalam pengucapan lidah orang Jawa huruf vokal “a” sebelum konsonan biasanya lesap dan dibaca “ê” (dibaca ‘e’, pada ‘lelah’). Sedangkan huruf vokal “u” ketika bertemu huruf konsonan bisanya dibaca “o” (misalnya, mulih=pulang, dibaca moleh). Sehingga perubahannya demikian “kalapun” → “kelepon”. Kemudian huruf “e” setelah huruf konsonan menjadi lesap lesap (misalnya, tegal=ladang diucapkan tgal), maka kata “kelepon” diucapkan menjadi → “klepon”.

Akar kata/bunyi klepon secara linguistik diatas telah kita ketahui, akan tetapi hal ini belum manjawab permasalahan kita darimana kata ini berasal. Setelah melakukan studi pustaka di dunia maya karena keterbatasan literatur, penulis menemukan sebuah artikel yang sangat menarik. Artikel itu berjudul “Asal Mula Kue Kelepon” di tulis oleh Dina Yulinda, alumni Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Pendidikan (FKIP) Sejarah Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin (2005-2009).

Artikel diatas adalah hasil literasi untuk mengabadikan cerita rakyat lisan dari Kota Martapura di Provinsi Kalimantan Selatan. Artikel itu diunggah pada laman blog pribadi Dina Yulinda di www.dinayulinda.wordpress.com, pada tanggal 12 Juni 2008 (diakses 22/07/2020:

09.29 WIB), dan telah banyak di copy paste di banyak laman-laman internet. Berikut ini kami lampirkan rangkuman singkat mengenai cerita rakyat Kota Martapura mengenai asal usul dari panganan klepon yang sedang viral tersebut.

Cerita Rakyat Martapura : Asal Usul Kue Kalapun (Klepon)

Dahulu kala, hidup “Seorang Janda” bersama putrinya bernama Galuh di suatu daerah di “Martapura”. Sang janda mempunyai kebiasaan yaitu senang membuat kue, kebiasaan ini di jalaninya sejak sang suami masih hidup hingga suaminya meninggal dunia. Sang janda juga membuat kue tersebut juga untuk dijual demi membantu ekonomi keluarga mereka.

Kue buatannya pun sangat lezat dan digemari banyak orang. Oleh karena itu sang janda banyak mempunyai pelanggan. Orang pada zaman dulu hanya bisa membuat kue sederhana yang disebut “wadai”, misalnya kue buatan sang janda hanya dibuat dengan memasukkan beras kedalam lesung. Semua bahan dihaluskan hingga jadi satu dan agak mengeras di dalam lesung. Karena hawa di lasung yang panas, kue tersebut seperti dimasak.

Karena kondisinya yang sudah mulai tua membuat fisik sang janda tak sekuat dulu, ia pun mulai sering didera sakit–sakitan. Pada suatu malam sang janda sakit dan ingin sekali memakan kue (wadai) yang masak langsung dari lesung. Galuh, sang anak, di lubuk hati terdalamnya sangat sedih melihat keadaan ibunya yang terbujur sakit dan tak berdaya. Walaupun hari telah malam, melihat keinginan kuat dari ibunya yang sedang sakit untuk makan kue (wadai). Galuh pun segera pergi ke dapur untuk membuat kue (wadai). Ternyata lesung yang baru saja dicuci dengan air dan ditengkurapkan guna mengeringkan air tersebut terdapat seekor kalajengking. Galuh pun terkejut dan takut. Ibunya yang sedang terbaring istirahat ditempat tidur pun ikut terkejut mendengar teriakan Galuh.

Sang janda itu pun kemudian menanyakan apa yang terjadi, namun Galuh berusaha menyembunyikan apa yang sudah ia temukan di lesung, karena tak ingin ibunya terbarbangun dan menuju ke dapur. Galuh pun terpaksa berbohong dengan mengatakan tak ada apa–apa. Sang janda menyadari ada yang ganjil karena Galuh sudah sangat lama berada di dapur namun tak juga ada bunyi lesung terdengar di tumbuk. Sang janda memanggil, “Luh, lambatnya, kenapa?” (“Luh, kenapa (kamu) lama?”) … “Hadang, pun” (tunggu, iya), sahut Galuh.

Sang ibu sedikit jengkel dengan jawaban anaknya, sang ibu memanggil kembali “Luh, balum haja kah?” (“Luh, belum juga kah?”).

Galuh yang tengah berkonsentrasi hingga berhasil mengusir kalajengking tersebut dari lesung, Galuh pun tidak fokus mendengar pertanyaan ibunya sehingga ia menyahut “Kalapun” saking gugupnya (keterangan: maksudnya Galuh ingin memberitahu secara tersirat bahwa ada “kala”-jengking tetapi Galuh terburu-buru menyahut pertanyaan ibunya dengan kata “pun” yang berarti iya).

Akhirnya Galuh pun bergegas membuat kue tersebut sebisanya. Adonan beras dari itu kemudia ia bentuk bulat dengan memasukan cairan gula merah di dalamnya. Setelah adonan bulat berisi gula merah cair itu selesai, Galuh memberinya topping parutan kelapa dan segera menghidangkannya kepada ibunya. Akan tetapi tak berselang lama tetangga mereka datang kerumah mereka. Dengan sigap Galuh dan ibunya mempersilahkan masuk dan memberikan hidangan kue buatan galuh barusan. Tetangganya langsung suka dengan kue buatan Galuh itu dan bertanya apa nama kue itu. Melihat Galuh terdiam sejenak, sang ibu segera menjawab “KALAPUN”, karena kata itu tadi terucap dari Galuh.

Singkat ceriat kue itu dikenal dengan nama “kalapun” dan rasa enaknya menyebar dari mulut ke mulut. Galuh pun menjual kue yang akhirnya laris itu kepada para tetangganya untuk menopang ekonomi keluarga. Kue tersebut langsung terkenal dan membuat galuh bisa membiayai kebutuhan keluarganya dikala ibunya semakin uzur. Kini kue kalapun telah menjadi salah satu jajanan rakyat paling terkenal di Kalimantan Selatan2.

Kisah diatas dikuatkan pula oleh inventarisasi makanan tradisional di Kalimantan Selatan dalam buku “Makanan: Wujud, Variasi dan Fungsinya serta Cara Penyajiannya di Daerah Kalimantan Selatan”. dalam buku tersebut dijelaskan bahwa kue kalapun (dalam buku tersebut disebut ‘kalalapun’) adalah jenis makanan papuluran atau makanan kecil yang disajikan dalam piring. Makanan ini dikenal diseluruh lapisan sosial masyarakat suku Banjar di seluruh Kalimantan Selatan, namun yang paling terkenal makanan ini berasal dari daerah Martapura3.

Jacinthe Bessière dari University of Toulouse le Mirail, Kota Toulouse, Perancis, dalam artikelnya yang berjudul “Local Development and Heritage: Traditional Food and Cuisine as Tourist Attractions in Rural Areas” (1998)4 menjelaskan bahwa makanan tradisional tidaklah sekedar makanan biasa. Makanan tradisional dapat berfungsi sebagai “simbol” baik simbol sosial dan juga sebagai simbol hubungan erat antar kemanusian.

Tepat seperti yang dikatakan Jacinthe Bessière bahwa makanan yang dalam hal ini adalah klepon, tidak hanya sekedar makanan tradisional saja melainkan ia telah menjelma menjadi salah satu simbol makanan tradisional masyarakat Kalimantan Selatan (bahkan juga di Jawa). Tidak hanya itu jika kita runut dari tradisi lisan cerita rakyat diatas, telah jelas bahwa klepon telah menjadi “simbol” cinta kasih dan bakti sang Galuh sebagai seorang anak terhadap ibundanya di usia senja sebagai “produk karya” untuk menopang hidup dan ekonomi keluarga.

Tentunya hal tersebut sesuai dengan semangat ajaran Islam untuk menghormati dan memuliakan seorang ibu. Seperti yang diriwayatkan dalam sebuah hadist Nabi Muhammad Saw, sebagai berikut: Dari Abu Hurairah, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi menjawab,

‘Kemudian ayahmu.’” (HR Bukhari).

Dengan demikian maka kita patut bertanya kepada Abu Ikhwan Aziz sisi mana dari si mungil klepon yang tidak Islami? Jika tidak bisa dibuktikan secara empiris maka bukankah “fitnah lebih kejam dari pembunuhan?” sehingga jika ia yang melemparkan fitnah secara agama Islam ia akan terhalang untuk masuk surga dan tidak mendapat syafaat nabi di hari akhir?. Ah, mungkin semua ini demi traffic seperti yang dilakukan seorang youtuber beberapa saat lalu yang melakukan prank dengan memberikan sembako berisi sampah kepada seorang transpuan. Ya beginilah akhir zaman di masa kaliyuga, ada baiknya sebelum kiamat kita menikmati klepon di warung tertua di malang yakni “Putu Lanang Celaket”, yang berdiri sejak tahun 1935 di sudut Celaket merenungi orang-orang yang mulai gila di akhir zaman …

Sumber :

1 Paskalina Oktavianawati. (2017). Jajanan Tradisional Asli Indonesia. Hal. 09-12. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMENDIKBUD).

2 Dina Yulinda. (2008). Asal Usul Kue Kelepon. (Daring). Diunggah pada tanggal 12 Juni 2008. Diakses dari www.dinayulinda.wordpress.com, diakses 22/07/2020: 09.29 WIB.

3 Syarifuddin R., Attabranie Kasuma, B.A., Sabrie Hermantedo, Syahrir. (1993). Makanan: Wujud, Variasi dan Fungsinya serta Cara Penyajiannya di Daerah Kalimantan Selatan. Hal. 100-101. Jakarta: Proyek Penelitian Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

4 Jacinthe Bessière. (1998). ‘Local Development and Heritage: Traditional Food and Cuisine as Tourist Attractions in Rural Areas’. Hal. 21-34. Dalam Journal of The European Society for Rural Sociology Sociologia Ruralis, Vol. 38, No. 1, Edisi 1998. Oxford-Malden: Blackwell Publishers

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini