Tari Topeng Gunungsari Jabung Bertahan 100 Tahun Lebih

Terakota.Id-Kelompok Wayang Topeng di Jabung melampaui usia 100 tahun lebih bergantung pada sosok Mbah Kangsen. Dia yang menyambung sejarah Wayang Topeng dari masa Rusman, yang akrab disapa Kek Tir karena anaknya bernama Tirtonoto.

Wayang Topeng Jabung pada masa Rusman berlangsung antara 1915 sampai 1958. Setelah Rusman meninggal, tongkat estafet Wayang Topeng beralih ke tangan Kangsen sebagai dalang. Sedangkan tari dipegang Samoed dan Tirtonoto. Setelah Samoed meninggal pada 1974 disusul Tirtonoto, dan terakhir Kangsen pun meninggal.

Sepeninggalnya para tokoh topeng di Jabung, tradisi Tari Topeng Jabung dilestarikan melalui dua kelompok Tari Topeng Malangan antara lain kelompok Wiro Bhakti pimpinan Supardjo Desa Argosari  dan Darmo Langgeng pimpinan Darmaji Desa Gunungjati.

Rekaman sejarah panjang tradisi tari topeng Malang ini terungkap saat Kampung Budaya Polowijen, Blimbing, Kota Malang berkunjung ke perajin dan sanggar tari topeng Malangan di Jabung. Penggagas Kampung Budaya Polowijen, Isa Wahyudi yang biasa disapa Ki Demang menjelaskan kunjungan ke Jabung merupakan usaha menimba ilmu dari sesepuh pelaku tari topengan Malangan.

“Di Jabung ada tokoh topeng diantaranya Mbah Kari, Misdi, Suparjo, Tajab dan Tamat,” katanya. Meerka merupakan anak dan murid Mbah Kangsen. Sedangkan Polowijen,merupakan kampung Ki Tjondro Suwono alias Mbah Reni sebagai penemu atau pencipta topeng Malangan.

Pimpinan sanggar Tari Topeng Gunungsari Jabung Wartaji menuturkan peralatan gamelan untuk seni pertunjukan dilengkapi dikumpulkan dengan susah payah. Tujuannya untuk menghidupkan kembali Wayang Topeng Malangan Gunungsari yang pernah moncer di era 1960-an sampai 1980-an.

“Setidaknya setiap tahun selalu mengadakan gebyak dan ritual bersih desa. Warga mentari topeng gunungsari dan kami mulai sering menerima pagelaran dari acara-acara dari pemerintahan atau hajatan.” ujarnya. Wartaji yang juga suami Kepala Desa Jabung Anik Sri Hartatik ini kini rengah mendidik generasi muda untuk menari, menabuh gamelan dan membuat topeng.

Wartaji bersama Mbah Kari, Misdi, Suparjo, Tajab dan Tamat melestarikan tradisi yang dirintis kakeknya, Mbah Kangsen yang juga Kepala Desa Jabung pada 1970-an. Mbah Kangsen merupakan cucu Ki  Tjondro Suwono alias Mbah Reni dari Polowijen.

Warga Kampung Budaya Polowijen juga bertemu Mbah Kari salah satu tokoh penari topeng Gunungsari yang berusia 90-an. Tari topeng Gunungsari menceritakan tokoh ksatria dalam wayang topeng yaitu Raden Gunungsari. Beberapa gerakan yang terakhir seperti gerakan merak ngombe, merak geber, merak ngigel sangat berat dan dibutuhkan kekuatan.

“Ini tarian turun-menurun dan menjadi ciri khas pertunjukan wayang topeng di Jabung. Pernah tampil di Yogya, Jakarta, Kediri, dan Madura,” tuturnya sambil mempraktekkan Tari Gunungsari. Setelah mengajari menari Mbah Kari mengeluarkan buku catatan dan sesekali memperagakan Tari Topeng Gunungsari.

Gerak tari topeng Gunungsari Jabung meliputi unsur gerak terdiri dari unsur gerak kepala, tangan, badan, dan kaki. Motif gerak tari topeng Gunungsari terdiri dari motif gerak statis dan motif gerak dinamis. Motif gerak statis terdiri dari sikap tanjak, bapangan, sembahan, sikap Gunungsari.

Motif gerak dinamis terdiri dari geberan, bukak slambu, lembehan, labas, ngrawit golengan, kencak, nggelap, pogukan lamba, pogukan rangkep, sowangan,kopyokan, pogukan ukel, wiletan, semarangan, sembahan, sowangan jengkeng, merak ngombe, merak geber, merak ngigel, gejegan dan menjangan ranggah.

Studi banding Kampung Polowijen ke Jabung setidaknya menambah khasanah seni tradisi, tari dan wayang topeng Malangan . “Wayang topeng Malangan yang indigeous-nya berasal dari kearifan lokal, katanya, diangkat dari cerita-cerita jaman dahulu yang tidak terkontaminasi budaya luar dan patut di pertahankan,” kata Ki Demang.

Tinggalkan Pesan