Tanpa Cinta Kecerdasan Itu Berbahaya

BJ Habibie menyakini bahwa kecerdasan itu tak ada arti, bahkan berbahaya kalau tak dilambari cinta. Bahwa ilmu pengetahuan, kecerdasan, iman dan takwa harus bersatu. Ungkapan bijak sang negarawan dan guru bangsa ini penting menjadi renungan kita semua.

Terakota.idIni salah satu quote almarhum Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie (BJ Habibie) yang dikutip Presiden Joko Widodo selaku inspektur upacara pemakaman jenazah mantan Presiden RI ketiga itu. BJ Habibie menyakini bahwa kecerdasan itu tak ada arti, bahkan berbahaya kalau tak dilambari cinta. Bahwa ilmu pengetahuan, kecerdasan, iman dan takwa harus bersatu. Ungkapan bijak sang negarawan dan guru bangsa ini penting menjadi renungan kita semua.

Di negeri ini tak sedikit orang cerdas. Tak kekurangan cerdik pandai. Namun tak semua orang yang tergolong cerdas dan pandai itu menggunakan ilmunya dengan cinta. Tak jarang kecerdasan dan kepandaian digunakan untuk menipu orang lain. Sering kali kecerdasan dan kepandaian itu menjadi kecerdikan untuk mengelabui orang lain. Kecerdasan menjadi berbahaya, karena hanya akan bikin celaka.

Tak ada guna sebuah kecerdasan kalau akhirnya hanya bikin masalah. Sejatinya tak perlu orang pinter apalagi keminter kalau kehadirannya hanya memicu masalah. Kecerdasan itu mustinya berbalut cinta, demi rasa damai dan kebaikan bersama. Siapa yang punya kecerdasan dan mendasarinya dengan cinta, maka kebahagiaan bakal bisa dicipta. Maka jadilah kecerdasan itu tak lagi berbahaya, beda ketika kecerdasan itu tak disertai cinta.

Kecerdasan dan Cinta

Antara kecerdasan dan cinta memang idealnya menyatu. Kecerdasan tanpa cinta hanya akan menjadikan ilmu pengetahuan disalahgunakan. Ilmu pengetahuan yang dikembangkan dan digunakan tanpa cinta hanya akan merusak dan merugikan orang lain. Kecerdasan dan ilmu yang dimiliki orang-orang perakit bom misalnya. Bila pengetahuan para perakit bom itu tak didasari cinta maka mereka hanya akan membuat kerusakan dengan meledakkan bom di mana-mana.

tanpa-cinta-kecerdasan-itu-berbahaya
Xanana Gusmao (Tokoh Timor Leste) menangis di samping Habibie, Presiden RI yang memberikan kesempatan Timor Timur untuk menentukan nasibnya sendiri. (Sumber: http://poskotanews.com).

Kalau kecerdasan yang dimiliki seseorang hanya untuk melanggengkan jalan untuk menjadi koruptor misalnya, maka jelas itu kecerdasan tanpa cinta. Orang yang menebar cinta pasti tahu bahwa korupsi itu perbuatan yang merugikan orang lain, hingga patut dicela. Kecerdasan dan ilmu pengetahuan yang tak bersandar pada iman dan ilmu agama hanya akan menjadi malapetaka semata.

Menjadi cerdas yang dibarengi cinta memang tak mudah. Cinta dalam konteks ini bukan sekedar cinta seperti layaknya kekasih yang sedang berpacaran. Cinta dalam arti yang universal. Cinta antara sesama manusia, sesama makhluk ciptaan Tuhan. Cinta itu soal kemanusiaan. Cinta juga urusan perdamaian, kebersamaan, perduli, toleransi, saling menghargai, yang kuat merangkul yang lemah, yang berada bisa menjadi sandaran yang tak berpunya.

Cinta itu sejatinya anugerah, dan hidup bisa sengsara bila tak punya cinta. Maka orang berilmu, orang cerdik pandai, dan orang-orang yang cerdas sungguh beruntung bila punya rasa cinta. Segala pengetahuan yang dibalut dengan cinta, maka pengetahuan itu akan mampu memberi kemanfaatan bagi sesama. Cinta dan kasih sayang akan mampu menundukkan kesobongan ilmu pengetahuan. Karena tak jarang orang berilmu tinggi yang menjadi ujub, pamer dan sombong. Cinta mampu meredam arogasi orang-orang berilmu hingga menjadi tawadu’.

Tawadu’ adalah sebaik-baik sikap yang harus dikedepankan bagi siapa saja, termasuk orang berilmu. Orang berilmu yang tawadu’ biasanya punya perilaku rendah hati, terhindar dari sifat sombong, angkuh, congkak, besar kepala, dan takabur. Sungguh demikian ini sangat berbahaya, karena kecerdasan dan ilmu pengetahuan hanya dipakai sebagai gagah-gagahan belaka. Sifat-sifat tercela yang muncul pada orang yang berilmu karena mereka melupakan cinta.

Pesan Albert Einstein

Albert Einstein, seorang ilmuwan Yunani pernah berpesan bahwa “ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh”. Dari penyataan Einstein ini betapa pentingnya agama dalam melambari ilmu pengetahuan dan kecerdasan. Di samping itu juga diperlukan ilmu dalam pengamalan agama. Kedua hal, antara ilmu dan agama saling melengkapi dan bersinergi. Tak bisa hanya salah satunya saja yang unggul. Paduan keduanya bakal mampu mencipta harmoni.

Hampir serupa dengan apa yang dikatakan almarhum BJ Habibie, apa yang dipesankan Albert Einstein sejatinya menekankan pentingnya menjalankan ilmu pengetahuan dengan dasar agama dan cinta. Semua agama mengajarkan cinta dan kasih sayang. Demikian halnya dengan esensi kehadiran ilmu pengetahuan yang sejatinya untuk kemanfaatan semua manusia yang hal ini adalah esensi dari perwujudan cinta terhadap sesama.

Menuntut ilmu memang kewajiban semua orang. Tanpa kenal usia dan sampai di mana. Sesungguhnya orang-orang berilmu itu akan naik derajatnya. Orang-orang berilmu itu mulia di sisi Tuhan dan di tengah masyarakat. Namun ketidakmampuan menjaga diri sebagai orang berilmu juga bisa menjerumuskan seseorang ke dalam kehinaan. Ketika ilmu hanya digunakan untuk tujuan kejahatan maka sang pemilik ilmu itu sejatinya telah merendahkan derajat dirinya.

Kecerdasan dan Ilmu pengetahuan itu sangat dekat dengan kemanusiaan, sekaligus juga tak berjarak jauh dengan kejahatan. Tak sedikit kasus kejahatan yang pelakuknya orang-orang cerdik dan berilmu. Semua sangat terggantung pada sang pemilik ilmu dan kecerdasan itu. Kalau orang-orang yang cerdas dan berilmu mampu menjaga diri dari sifat sombong, tamak, dan serakah, maka ketenteraman dan kedamaian bakal mampu tercipta.

Ilmu pengetahuan dan agama itu ibarat kendaraan dan setir. Mobil tentu tak bisa melaju selamat kalau tanpa kemudi. Setirpun juga harus dikemudikan dengan ilmu sehingga laju kendaraan tetap terkendali. Ilmu pengetahuan dan agama tak boleh dipisahkan dan dipertentangkan. Keduanya harus berjalan seiring sejalan, saling membangun dan melengkapi. Ada wilayah-wilayah dari ilmu pengetahuan yang tak mampu di jawab oleh ilmu pengetahuan itu sendiri. Agama adalah jawaban atas keterbatasan ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia.

1 KOMENTAR

  1. […] Terakota.id— Ini salah satu quote almarhum Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie (BJ Habibie) yang dikutip Presiden Joko Widodo selaku inspektur upacara pemakaman jenazah mantan Presiden RI ketiga itu. BJ Habibie menyakini bahwa kecerdasan itu tak ada arti, bahkan berbahaya kalau tak dilambari cinta. Bahwa ilmu pengetahuan, kecerdasan, iman dan takwa harus bersatu. Ungkapan bijak sang negarawan dan guru bangsa ini penting menjadi renungan kita semua. […]

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini