Taman Miniatur Budaya, Belajar Toleransi dari Suku Dayak

Oleh: Marliana Eka Fauzia*

“Indonesia ada karena keberagaman,” Gus Dur.

Sampit merupakan salah satu kota yang berada di Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah. Secara administrasi, Sampit menjadi ibu kota dari Kabupaten Kotawaringin Timur. Dan menjadi kota terpenting, karena memiliki letak yang strategis dan salah satu daerah yang relatif maju apabila dilihat dari sisi ekonominya (kotimkab.go.id). Sebagaimana kita ketahui, di Provinsi Kalimantan penduduk masyoritas adalah Suku Dayak, tak terkecuali di Kota Sampit.

Apabila berkunjung di Kota Sampit, kita akan disungguhi bentangan sungai Mentaya yang menjadi sungai utama. Berbagai situs-situs sejarah dan kebudayaan yang ada di Kota Sampit juga turut memanjakan kunjungan. Salah satu tempat atau situs bersejarah dan kebudayaan yang wajib dikunjungi adalah “Taman Miniatur Budaya.” Terletak di Jalan Pramuka berdekatan dengan Tugu Perdamaian dan Islamic Center.

Taman Miniatur Budaya merupakan konsepan dari pemerintah Kotawaringin Timur untuk membuat rumah-rumah adat mini (miniatur) suku yang ada di Kotawaringin Timur. Ada sejak tahun 2001. Dengan luas lahan ± 1 hektar. Kondisi Taman Miniatur Budaya saat ini masih proses perbaikan setiap tahunnya, dan penambahan beberapa situs budaya lainnya. Untuk memasuki Taman Miniatur Budaya, pengunjung harap lapor kepada pihak pengelola, tujuannya untuk mengantisipasi perilaku pengujung yang susah dikendalikan atau akan berbuat negatif di lingkungan Taman Miniatur Budaya.

Memasuki kawasan Taman Miniatur Budaya, kita akan disuguhi bangunan rumah-rumah adat dayak dan tiga balai keramat (tempat memanggil roh-roh leluhur yang menjaga di beberapa penjuru di Kabupaten Kotawaringin Timur). Tiga balai keramat tersebut memiliki tiga warna; kuning, putih dan merah. Ketiganya memiliki fungsi masing-masing. Balai keramat warna putih disebut jata, merupakan penguasa alam air. Balai keramat berwarna merah, disebut patahu, penguasa kampung. Dan balai keramat berwarna kuning disebut sangumang, sebagai penguasa rejeki atau dapat ngetes umat manusia menurut kepercayaan orang Dayak.

Baca juga :  Tarian Sufi di Bukit Zaitun

Selain tiga balai keramat tersebut, juga ada tempat ibadah Suku Dayak yaitu Balai Basarah. Ada juga Rumah Retang, Rumah Adat Dayak, Rumah Banjar, serta rumah adat lainya dari suku asli di Indonesia dan tempat pementasan seni. Taman Miniatur Budaya sendiri juga memiliki kegiatan khusus setiap tahunnya yaitu upacara ritual pembersihan kampung yang rutin dilakukan oleh pemerintah daerah setempat. Dalam upacara ritual pembersihan kampung juga lengkap dengan sesajen yang sesuai dengan permintaan leluhur, seperti sapi, babi, ayam, dll.

Balai Keramat. Balai Keramat warna Putih disebut jata, Warna merah disebut Patahu dan wrna kuning disebut Sangumang. (Dok. Penulis)

Selain bangunan rumah adat suku asli Kotawaringin Timur, di sana juga akan dibuat apotek hidup. Menurut penuturan salah satu penjaga Taman Miniatur Budaya sekaligus rohaniawan Hindu Kaharingan yaitu pak Santo, “bahwa Taman Miniatur Budaya akan ditanami kayu-kayu yang bisa menjadi obat sehingga menjadi apotik hidup, seperti pasak bumi, akar kuning yang menurut pengetahuan orang-orang pedalaman bisa sebagai obat.“

Pembuatan apotek hidup menjadi rancangan kedepan. Mengiringi perbaikan Taman Miniatur Budaya serta penambahan bangunan rumah adat lainya dari suku asli Indonesia. Saat ini bangunan rumah adat selain dari khas dayak ada bangunan rumah adat Jawa yaitu Joglo, dan rumah adat Bali. Pihak pengelola pun akan menambahkan bangunan miniatur rumah adat khas suku asli Indonesia lainnya.

Menurut leluhur, membangun rumah-rumah adat selain rumah adat Dayak, adalah bukti bahwa Suku Dayak bisa hidup berdampingan. Hidup berdampingan di tengah perbedaan suku, budaya dan agama juga dapat dibuktian dalam kehidupan sosial masyarakat setempat. Sebagaimana yang dituturkan oleh Santo, sebagai penduduk asli Kota Sampit, “Di Sampit memang unik beragam suku dan agama. Bahkan satu rumah bisa ada semua agama (penghuni satu rumah memeluk agama yang berbeda-beda). “

Baca juga :  Jeritan Jiwa Pekerja Freeport

Santo mencontohkan, keluarganya yang memeluk agama berbeda. Santo sendiri memeluk agama Hindu Kaharingan, tapi memiliki keluarga yang beragama Islam, kristen, dan Katolik. Mesi berbeda, mereka tetap hidup aman dan tentram. Saat ini untuk pengelompakan suku pun juga sudah susah dicari kerena semua sudah berbaur menjadi satu.

Mereka hidup beragam tanpa adanya rasa perbedaan. Ditambah dengan adanya bangunan yang menyimbolkan hidup berdampingan dalam keberagaman. Seperti yang disimbolkan Taman Miniatur Budaya tersebut, yaitu bentuk penerimaan akan keberagaman. Ahmad Syafii Maarif (2010:18) mengatakan bahwa, keberadaan bangunan tersebut sekaligus menunjukkan adanya pluralisme etnis, bahasa lokal, agama dan latar belakang sejarah. Kesemuanya merupakan kekayaan kultur, sehingga tercipta taman sari Indonesia yang akan memberikan keamanan dan kenyamanan untuk siapapun yang menghirup udara di nusantara ini.

Marliana Eka Fauzia (Dok. Pribadi)

* Mahasiswa Pascasarjana Universitas Airlangga dan Pegiat FNKSDA Surabaya

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini